FanFic “Skinny Love” #1


SONY DSC

Skinny Love

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC) | Jang Yongjoon [NO:EL] (rapper)

Other cast : Wu Kimi (OC) | Bang Jaemin [Amond] (rapper) | Kim Hyoram (KpopStar 4) |

Genre  : Teen Romance, School Life

Length : Oneshoot
[Roh Kyungjoo as Yeonsung FC | LOONA Heejin as Wu Kimi FC]

~oOo~

“Wu Kimi!!”. Seru seorang siswa lelaki sambil berlarian dari arah gerbang menuju lapangan sekolah. Wajahnya tampak cerah dengan senyuman merekah indah diwajah tampannya itu. Kedua tangannya terangkat, menggenggam hadiah yang akan ia berikan pada gadis bernama Wu Kimi pagi ini.

Gadis yang namanya terpanggil, menoleh kearah siswa lelaki itu. Dengan tangan terlipat dibawah dada. Ia menghela napas. “baru saja kupikirkan, ia sudah muncul”. Gumamnya.

Bang Jaemin, siswa lelaki yang akan memberikan hadiah pada Kimi tiba dihadapan gadis itu sekarang. Senyumannya tak pudar malah semakin merekah meskipun ia terengah. “Happy White Day”. Ujarnya sambil menyodorkan kedua hadiah yang ia bawa. Sebuah boneka Pikachu dan sekotak permen benang.

Kimi menatap kedua hadiah itu, lalu tersenyum. “terima kasih, ya”. ujarnya lalu mengambil kedua hadiah tersebut. “ah, kenapa kau memberiku boneka Pikachu di hari putih?”.

“bonekanya bukan kumaksudkan sebagai hadiah balasan dari coklat Valentine yang kau berikan, itu hadiah ulang tahunmu”. Jawab Jaemin.

Keduanya pun kembali berjalan, berdampingan menuju gedung sekolah. “ulang tahunku?”.

“benar, aku tidak memberimu hadiah saat kau ulang tahun waktu itu”. Ujar Jaemin. Berharap Kimi memaklumi dan memaafkannya. Kimi hanya berdehem.

Dari arah lain sebuah mobil pribadi dengan cat hitam mengkilap melaju perlahan. Jaemin menarik lengan Kimi yang tampaknya sedikit tidak konsentrasi. Jaemin tahu sedikit berlebihan jika mengira Kimi akan tertabrak mobil yang jelas-jelas akan berhenti didepan lobi sekolah. Tapi setidaknya ia mencegah mobil itu menekan klakson yang akan membuat perhatian warga sekolah.

Pintu kemudi terbuka, seorang pria dengan setelan jas hitam keluar dari mobil. Ia berjalan dengan cepat menuju pintu belakang. Hendak membukakan pintu mobil bagi sang penumpang. Namun belum sempat ia membukakan pintu, penumpangnya telah lebih dulu membuka pintu.

agashi –“.

wae? Aku bukan putri kecil lagi, tidak perlu repot-repot membukakan pintu mobil untukku, ahjussi”. Ujar penumpang mobil itu. Yang merupakan putri majikannya. Gadis itu menggendong tasnya dan menutup kembali pintu mobil.

Tak lama kemudian sebuah mobil pribadi dengan jenis yang sama pun berhenti. Sepasang suami istri yang merupakan orang tua gadis berambut pink ini keluar dari dalam mobil. Pasangan itu tampak serasi dan memakai setelan yang juga serasi. Mereka tak mengajak putri mereka untuk masuk ke dalam sekolah, hanya ibunya yang memberi kode agar putrinya segera mengikuti mereka.

“siapa, sih? Murid baru?”. Gumam Kimi yang sejak tadi menatap kedatangan gadis yang menurutnya terlalu mencolok itu.

“sepertinya”. Jawab Jaemin. “sudahlah, ayo masuk. Kau bertugas membersihkan kelas hari ini”. ujar Jaemin lalu ia menarik Kimi dengan-tangannya-yang-sejak-tadi belum terlepas dari lengan Kimi. Mau tak mau Kimi melangkah mengikuti Jaemin tanpa berkata apapun.

Setibanya dikelas, ketua kelas langsung menghampiri Kimi dan memberikan sebuah sapu kepada Kimi. Jaemin memasuki kelas lebih dulu, ia membuka tasnya dan memberikan sekotak coklat pada seorang gadis bernama Kim Hyoram. Gadis itu kegirangan mendapat balasan coklat dari Jaemin.

aigoo ~ apa bangganya mendapatkan hadiah balasan dari Jaemin? Aku juga akan memberikan hadiah”. Sahut seorang siswa lelaki yang sejak tadi seolah tak memperhatikan sekitarnya. Sibuk dengan earphone dan komiknya.

Hyoram yang kebetulan duduk didepannya segera berbalik. “benarkah? kau akan membalas coklat Valentine dariku? Whoa ~ baru terjadi selama aku mengenalmu kau membalas hadiah Valentine”. Ujar Hyoram heboh.

“tentu saja”. Siswa lelaki itu, Jang Yongjoon melepaskan earphonenya. Tangan kanannya merogoh laci mejanya. Lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. Tuk. Ia meletakkan hadiah balasan White Day diatas meja dengan sedikit membanting.

Jaemin terkekeh geli melihat hadiah yang akan diberikan oleh Yongjoon. Ia pun pergi ke tempat duduknya. Menonton Kimi yang tengah menyapu dikoridor sambil memegangi pinggangnya. Mata Jaemin menyipit melihat paha Kimi yang terekspos dengan sempurna. Ia berdecak, kesal. Kenapa rok gadis itu harus sependek itu hingga dalamannya hampir terlihat jika ia menunduk sedikit dalam lagi?

“kau benar-benar baik, Yongjoon’ah. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa karena mendapat hadiah darimu”. Ujar Hyoram.

“aku memang yang terbaik”. Jawab Yongjoon sambil meletakkan jarinya yang membentuk tanda pistol di bawah dagu. “nanti ulang tahunmu akan kuberikan sekardus sebagai hadiah”. Tambah Yongjoon.

“ah, tidak, tidak. Untuk ulang tahunku, bahkan aku tidak berniat untuk mengundangmu”. Balas Hyoram.

“ya! wae? Aku memberimu hadiah yang kau butuhkan”. Sewot Yongjoon.

Hyoram berbalik menghadap depan lagi. Mendengus kesal karena tingkah Yongjoon. “aku sama sekali tidak butuh, menyebalkan sekali”.

“kau membutuhkannya, Hyoram’ah. Susu kotak akan membuatmu ‘tumbuh’, percaya padaku”. Yongjoon semakin sewot ia bahkan membacakan kandungan gizi yang tertulis dikotak susu itu.

Bel masuk berbunyi beberapa menit yang lalu, para guru mulai memasuki kelas. Guru Lee Donghae keluar dari ruang kepala sekolah, bersama dengan gadis yang tadi pagi diantar oleh kedua orang tuanya. Ia telah menyelesaikan urusan administrasi dan sudah resmi terdaftar disekolah ini bahkan sejak tiga hari yang lalu. Namun ia baru datang hari ini. Gadis itu memasang tag nama barunya, Park Yeonsung.

Yeonsung berjalan dibelakang waki kelas barunya, Lee Donghae. Melewati koridor untuk menuju kelasnya. Sepanjang koridor, beberapa murid bisa melihatnya dari jendela kelas. Mereka mulai berbisik ‘siapa?’ ‘apakah dia idol?’ ‘mungkinkah trainee?’ ‘rambutnya memalukan’ ‘pink?’. Kelas menjadi sedikit ricuh.

“apa-apaan mereka?”. Gumam Yeonsung, kesal.

Satu kelas dilewati. Dua kelas dilewati. Tiga kelas dilewati. Hingga mereka tiba dikelas paling ujung dari bangunan ini. Kelas 2-1. Guru Lee membuka pintu kelas, kebetulan hari ini ia akan mengajar di jam pertama. Semua murid langsung diam dan tertib, padahal tadi suara mereka bisa terdengar dari koridor.

“beri salam”. Ketua kelas berdiri untuk memimpin warganya memberi salam pada Guru Lee.

“ah, sudahlah, sudahlah”. Ujar Guru Lee. Pria berparas tampan yang lebih cocok menjadi actor daripada guru itu segera meletakkan bukunya dipodium guru. “hari ini kita kedatangan murid baru”. Ujar Guru Lee.

“ah ~ benar, tadi pagi ada seorang gadis yang baru pertama kali kulihat datang kemari”. Gumam Kimi.

“masuklah”. Ujar Guru Lee. Park Yeonsung memasuki kelas itu. Ia berjalan sedikit ragu, namun akhirnya tiba di tengah kelas, ia berdiri disebelah Guru Lee. “perkenalkan dirimu”.

annyeonghaseyo, Park Yeonsung imnida. Aku berasal dari pulau Jeju”. Ujarnya. Menatap seisi kelas yang tampaknya menyambutnya dengan senang hati.

“Park Yeonsung berbeda dari kalian, ia tidak bisa ikut pelajaran olahraga karena fisiknya yang terlalu lemah. Jadi bersikap baik lah padanya. Mengerti?”. Ujar Guru Lee. Muridnya menyahut meng-iya-kan perkataan Guru Lee. “Yeonsung kau bisa duduk dikursi kosong dibelakang”.

Yeonsung melihat kursi yang ditunjuk oleh Guru Lee. “uh, ssaem, bisakah aku memilih tempat duduk? Aku ingin duduk dikursi depan”. Pinta Yeonsung.

Guru Lee melihat kearah muridnya. Kursi depan sudah terisi semua. “adakah yang mau bertukar kursi?”.

Seseorang mengangkat tangannya. “aku bersedia, ssaem”.

“ah, bagus sekali, Taeha. Kalau begitu kau bisa duduk disana, Yeonsung”. suruh Guru Lee.

Yeonsung mengangguk. Ia berjalan menuju tempat duduknya. Menunggu hingga siswa bernama Min Taeha itu selesai membereskan barangnya dan pindah dari sana. “silahkan”. Ujarnya mempersilahkan Yeonsung untuk duduk.

“terima kasih”. Ucap Yeonsung lalu duduk.

Cukup strategis. Pikir Yeonsung. Tempat duduk barunya didekat jendela, mendapat mencahayaan yang bagus dari luar sana. Sekolah ini memakai sistem murid duduk sendiri tanpa ada teman sebangku, kebetulan sekali, dan orang yang berada disebelah Yeonsung adalah ketua kelas. Yeonsung bersyukur. Berharap bisa belajar dengan baik disini.

Bel istirahat berbunyi.

Akhirnya pelajaran berakhir dan saatnya untuk makan siang. Yeonsung menatap sekelilingnya, murid lain mulai pergi meninggalkan kelas. Dan ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Yeonsung membuka tasnya dan mengambil sebuah buku dari dalam sana.

“ya!”. Seseorang menginterupsi, membuat Yeonsung terperanjat dan langsung cepat-cepat menyimpan kembali buku itu. “tidak pergi ke kafetaria?”. Tanya Kimi.

Yeonsung menoleh dan melihat Kimi sudah berdiri didekatnya. “a-aku akan pergi kesana, sebentar lagi”. Jawab Yeonsung.

“ingin pergi bersama?”. Tawar Kimi.

“eishh… dia tidak akan mau pergi bersamamu, bahkan kau tidak memperkenalkan diri”. Selah Yongjoon dari belakang kelas. Lelaki itu menghampiri Kimi dan Yeonsung. Dengan penuh dramatisir ia mengulurkan tangannya pada Yeonsung. “Jang Yongjoon, lelaki terkeren seantero sekolah ini. Ingin pergi makan siang bersama?”. Ujar Yongjoon bak seorang pangeran yang akan mengajak putrinya berdansa atau semacamnya.

Yeonsung sampai melongo dibuatnya. Berbeda dengan Kimi yang merasa ingin melemparkan Yongjoon keluar jendela saat ini juga. Kimi berharap Yeonsung tidak menyambut tangan Yongjoon begitu saja.

“terima kasih”. Ujar Yeonsung lalu berdiri. Ia berjalan melewati Yongjoon, mengabaikan tangan itu. Mengabaikan Kimi yang tadi mengajaknya pertama kali. Yeonsung memilih untuk pergi sendirian.

“eishh… kau benar-benar mengacaukan suasana”. Dengus Kimi, menyalahkan Yongjoon.

Yongjoon menatap tangannya yang tadi ia ulurkan pada Yeonsung, tangan yang diabaikan oleh gadis baru itu. Yongjoon menarik kembali menarik tangannya. “jangan menyalahkanku, kau sendiri tidak mengajaknya dengan baik”. sahut Yongjoon membela dirinya.

“ah, molla. Aku lapar, apa menu makan siang hari ini, ya?”. gumamnya lalu meninggalkan Yongjoon, menghampiri kedua temannya yang sudah menunggu dibelakang kelas. Jaemin dan Hyoram.

Tadinya mereka hendak pergi makan siang, namun, si kandidat calon ketua dewan siswa – Wu Kimi, melihat si murid baru – Park Yeonsung yang nampak tak diajak oleh siapapun pergi ke kafetaria. Lantas ia menghampirinya. Tidak disangka, Yeonsung malah menolak.

Yeonsung duduk sendirian didekat lapangan sekolah. Sambil mengunyah roti coklat sebagai makan siangnya. Dari tempatnya duduk ia dapat melihat Yongjoon dan teman-temannya pergi kearah kafetaria. Jujur saja ia belum tahu nama tiga orang lainnya yang bersama Yongjoon, karena ia tidak sempat berkenalan satu-persatu dengan teman sekelasnya yang baru.

“sudahlah, tidak usah pikirkan”. Ujar Yeonsung menenangkan dirinya sendiri. Ia merogoh dompet bercorak hitam putih sapi yang selalu ia bawa. Mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. Yeonsung mengaktifkan ponselnya.

Sebuah poto dirinya bersama seorang lelaki tampan menjadi gambar layar kunci. Yeonsung menggambar pola untuk membuka kunci ponselnya. Lalu ia disambut oleh poto seorang bayi lucu yang tengah tidur sebagai gambar depan.

“aku ingin mengganti wallpaper ini”. Gumam Yeonsung kemudian.

Bel masuk akan berbunyi beberapa menit lagi. Yeonsung bergegas kembali ke kelasnya. Ia sadar jika ia sedang menjadi perhatian saat ini. Karena warna rambutnya yang mencolok, baby pink. Tapi Yeonsung tidak peduli. Tangan kanannya memegang susu pisang yang sedang ia minum, lalu tangan kirinya memegang dompetnya. Kakinya berhenti melangkah, merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya di mading.

“dewan siswa?”. Gumamnya. Dilihatnya ketiga kandidat yang mencalonkan diri sebagai ketua dewan siswa. Ia hanya mengenal satu. “hm… jadi namanya Wu Kimi”. Tambahnya lagi.

“kau juga harus ikut memilih ketua dewan siswa”. Sahut seseorang. Yeonsung menoleh dan melihat Guru Lee berdiri didekatnya. Gadis itu membungkuk sedikit. “pemilihannya akan diadakan sabtu minggu depan”.

ssaem, kudengar disekolah ini ada kelompok belajar khusus. Bisakah aku ikut dengan mereka?”. Yeonsung mengalihkan pembicaraan.

“kelompok belajar khusus? Kurasa memang ada, nanti akan kucaritahu mengenai mereka”. Jawab Guru Lee.

“baiklah, terima kasih, ssaem”. Yeonsung membungkuk lalu berbalik hendak pergi ke kelasnya.

“Park Yeonsung”. panggil Guru Lee, membuat gadis itu mau tak mau kembali menghentikan langkahnya dan menoleh pada gurunya. “jika kau ingin konsultasi mengenai kandidat mana yang harus kau pilih nanti, temui saja aku”. Ujar pria itu.

Yeonsung hanya mengangguk menanggapi tawaran gurunya. Dibenaknya berpikir, mengapa juga ia harus ikut berpartisipasi dalam pemilihan ketua dewan siswa? Hal yang pernah ia lakukan disekolah lamanya. Yeonsung jadi memiliki prinsip untuk tidak melakukan hal yang sama – lagi.

Kimi dan teman-temannya tiba bersamaan dengan Yeonsung, mereka bertemu lagi didepan pintu masuk kelas. Namun sepertinya Yeonsung tak berniat untuk menyapa teman sekelasnya itu. Berlalu begitu saja, masuk ke dalam kelas tanpa tersenyum atau semacamnya setelah mengabaikan tawaran baik mereka tadi. Membuat Hyoram merasa sedikit dongkol pada Yeonsung.

“apa-apaan, sih, dia itu?”. Dengus Hyoram. “ya! Jangan berteman dengannya”. Tambah Hyoram kemudian berjalan memasuki kelas mendahului teman-temannya.

Kimi diam saja. Tidak – mereka semua diam. Tak ada yang menyetujui ataupun tidak menyetujui ucapan Hyoram untuk ‘jangan berteman dengannya’. “kenapa? Kau berpikir untuk menyapa gadis itu lagi?”. Tanya Jaemin seolah tahu isi pikiran Kimi.

“tidak, aku hanya menjalankan apa yang Lee ssaem katakan untuk bersikap baik padanya”. Jawab Kimi.

“benar juga, sih. Tapi, Hyoram tampak tak suka dengannya”.

“Hyoram siapa? Kau siapa? Dan gadis itu siapa? Jangan bergantung pada orang lain, buat keputusanmu sendiri”. Balas Kimi. Ia pun memasuki kelas. Meninggalkan Jaemin dan Yongjoon.

Puk puk.

Yongjoon menepuk-nepuk pundak Jaemin, merasa kasihan pada temannya itu. Sepertinya Kimi kesal tadi. “buat keputusan sendiri, Jaemin’ah”. Ujar Yongjoon.

Jam demi jam berlalu hingga hari semakin sore. Kelas berakhir pukul 3 sore. Pelajaran terakhir hari ini adalah bahasa Mandarin. Guru Chiang sejak tadi menjelaskan pelajaran. Yeonsung teringat akan sesuatu, lalu ia menuliskan dua kata dengan huruf Piyin dibukunya.

“Wu Kimi, bisa bantu aku menuliskan ini di papan tulis”. Pinta Guru Chiang.

“baiklah”. Kimi menyahut, entah mengapa Yeonsung reflek menoleh untuk melihat kearah Kimi. Gadis itu berjalan melewati lorong kelas, menuju ke depan kelas dan mengambil buku yang diberikan oleh Guru Chiang.

“Wu Kimi?”. Gumam Yeonsung. Ia terlihat sedang berpikir akan sesuatu. “ah, jadi dia gadis Tiongkok”. Tambahnya.

Kelas berakhir. Para murid mulai membereskan perlengkapan mereka sebelum pulang. Murid yang bertanggung jawab piket kelas pun membersihkan kelas setiap pulang sekolah. Yeonsung membereskan barang-barangnya ketika Jongkook menghampirinya.

“Park Yeonsung, ini kunci loker mu. Tadi aku lupa memberikannya”. Ujar lelaki itu sambil memberikan sebuah kunci pada Yeonsung. “lokermu nomor 9, dan Lee ssaem menyuruhmu menemuinya”. Tambah Jongkook kemudian.

“oh, terima kasih”. Ujar Yeonsung. Ia bangkit dari tempat duduknya, menghampiri loker miliknya. Yeonsung hendak membuka lokernya dan meletakkan beberapa buku disana.

Brakk

Orang disebelah kirinya tiba-tiba menutup pintu loker dengan membanting, Yeonsung sampai terperanjat namun ia tahu orang itu sengaja untuk membuatnya menoleh. “kita bertetangga”. Ujar Yongjoon sambil tersenyum kuda.

Yeonsung tak menjawab, hanya mengangguk. Canggung. Meskipun Yongjoon terlihat ramah dan baik padanya, tapi tetap saja, Yeonsung tak ingin memulai pertemanan.

“berhenti mengganggunya”. Ujar Kimi yang ternyata sudah berdiri disebelah kanan Yeonsung.

“aku tidak mengganggunya”. Elak Yongjoon.

“cih… kau membuatnya tidak nyaman, tidakkah kau sadar Yongjoon’ah?”. Sewot Kimi kemudian. “jangan dengarkan dia, dia memang sering mengganggu seperti lalat. Ngomong-ngomong loker kita bertetangga”. Kimi beralih berbicara dengan Yeonsung.

“ya! Wu Kimi, kau atau Yeonsung yang merasa tidak nyaman? Ey ~ kau cemburu? Kau masih menyukaiku, ya?”. Yongjoon memasang wajah penuh selidik, dengan tatapan intens menatap Kimi.

Kimi berkacak pinggang. “jangan sembarangan bicara”.

Hampir terjadi perdebatan diantara kedua orang itu, hingga akhirnya Yeonsung jengah dan memilih untuk pergi dari sana. Ya, ia masih harus menemui guru Lee sebelum pulang. Di depan pintu kelas, Yeonsung bertemu dengan Hyoram. Meskipun belum saling bertegur sapa, entah mengapa Hyoram menatap Yeonsung dengan tatapan tak suka. Yeonsung sadar akan hal itu.

“aku ke toilet dulu”. Seorang gadis dengan seragam sekolah berpamitan pada kekasihnya, mereka berasal dari sekolah yang sama. Gadis itu – Park Chorong beranjak dari tempat duduknya, tak lama setelah pelayan kafe meninggalkan mereka.

“oh, baiklah”. Jawab kekasihnya – Luhan.

Hari ini mereka berkencan sekaligus merayakan hari jadi mereka yang bertepatan dengan White Day. Sebenarnya tadi di sekolah Luhan telah memberi hadiah untuk Chorong, bahkan hadiah luar biasa yang membuat siapapun iri. Luhan terlalu romantis dan perhatian. Menjadi bak pangeran di sekolah. Chorong menyukai perasaan iri setiap gadis padanya.

Ponsel Luhan berdering. Sebuah telpon dari temannya, teman yang sangat ia andalkan. Segera ia mengangkat telpon tersebut, karena tahu telpon itu pasti penting. Temannya tak akan menelpon jika tidak benar-benar penting.

“kau mendapat informasinya?”. Tanya Luhan.

ya, seperti yang kau tebak. Catatlah nomor ponselnya, aku tak mau menyebabkan masalah antara kau dan pacarmu jika aku mengirim nomornya lewat pesan”.

Luhan segera menarik penanya yang ia jepitkan di saku alamamaternya. Ia pun menuliskan nomor ponsel yang disebutkan oleh temannya itu di pergelangan tangan almamaternya, kebetulan sekali almamaternya berwarna putih.

“kau tahu keberadaannya sekarang?”. Tanya Luhan lagi setelah selesai mencatat nomor ponsel dan mengembalikan penanya ke dalam saku.

kupikir nomor ponsel saja cukup untuk sekarang, nanti ku telpon lagi. Aku harus pergi. Bye”. Sambungan telpon berakhir.

Park Chorong kembali ke tempat duduk dimana Luhan menunggunya. Buru-buru Luhan meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu membalikkan tangannya untuk menutupi nomor ponsel yang ia catat tadi. “siapa yang menelpon?”. Tanya Chorong.

“temanku, dia bilang akan mengadakan party”. Jawab Luhan. Otot pipinya seperti tertarik dengan sendirinya, hingga ia tampak sumringah.

Chorong berdehem, lalu meminum es kopi yang sudah tiba dimeja mereka. “jangan terlalu bersantai lagi, kita sudah kelas 3 sebentar –“.

“sebentar lagi ujian akhir dan kita harus masuk ke Universitas bagus”. Potong Luhan. Ah, Chorong sudah ratusan kali mengatakan kalimat itu hingga Luhan hafal. Setiap hari ia selalu mengatakan kalimat yang sama. Melarang Luhan untuk melakukan ini dan itu. Persis seperti ibunya. Cerewet.

“bagus kau akhirnya sadar”. Ujar Chorong sambil tersenyum senang.

Jika tak ingin menuruti kemauan Chorong untuk pamer dengan teman-temannya, Luhan tak akan mau pergi kencan sepulang sekolah. Tepatnya, keinginannya untuk menghabiskan waktu bersama Chorong hari ini sirna sudah. Ketika ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan selama beberapa bulan belakangan ini.

“kau masih menyukaiku, kan, Luhan?”. Tanya Chorong sambil memotong kue nya dengan garpu, tak menatap Luhan sedikitpun namun bibirnya tersenyum simpul.

Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Chorong. Gadis itu menunggu jawabannya. “tentu saja. Kau bertanya hal yang tak perlu ku jawab”.

“hanya memastikan. Bagaimanapun, aku yang lebih dulu menjadi kekasihmu. Aku tidak peduli dengan gadis lain yang menyukaimu meskipun perasaannya lebih besar dari yang kumiliki”. Oceh Chorong lalu menyuap kue ke dalam mulutnya.

“begitulah resiko memiliki pacar tampan sepertiku”.

“dan player”. Tambah Chorong. Gadis itu mengusap pelan sudut bibirnya dengan tisu.

Luhan memainkan ujung jari telunjuknya di pinggiran cangkir kopi. Luhan sadar jika Chorong tahu Luhan mendapatkan kembali informasi mengenai gadis yang ia rindukan saat ini. “kau mulai tidak percaya diri, ya?”.

“tidak juga”. Chorong meletakkan kedua tangannya di atas meja dan melipat tangannya.

“kalau begitu berhenti mencurigaiku, lagipula Yeonsung sudah tidak berada disini”.

“huh?”. Chorong memasang wajah terkejut yang ia buat-buat, tangan kanannya menutup mulutnya sendiri. “jadi benar karena dia?”.

Luhan menghela napas berat. Bagaimanapun juga ia tak bisa mengelak. Chorong bahkan seantero sekolah tahu tentang dirinya dan Yeonsung sewaktu Yeonsung masih bersekolah disekolah yang sama dengan mereka.

“tidakkah kau ingin mengakhiri hubungan ini? Aku sudah muak, sungguh”. Ujar Luhan kemudian.

Chorong terkekeh pelan. Tangannya terulur untuk memegang tangan Luhan. Tangan yang sedang menyembunyikan nomor ponsel Yeonsung. Dengan pelan ia mengusap-usap tangan mengepal lelaki itu. “aku tidak memikirkannya sungguh. Lagipula dia hanya pelarian, jadi untuk apa mengkhawatirkannya”.

Malam itu, Wu bersaudara pergi ke toko serba untuk membeli keperluan mereka. Selagi kedua orang tua mereka berada di Guangzhou, kakak-beradik itu harus membeli kekurangan dirumah. Karena dirumah mereka tidak disediakan pembantu rumah tangga, jadi mereka terbiasa mandiri ketika ditinggal sendirian.

“selamat datang”. Sapa penjaga toko. “oh? Kimi. Wu Yifan hyung, annyeonghaseyo”. Bang Jaemin membungkuk kepada kakak Kimi, Wu Yifan.

annyeong, ah, kapan kau akan menyapaku dengan bahasa Mandarin?”. Protes Yifan. “tidakkah kau ajari dia bahasa Mandarin, Kimi? Itu salah satu syarat untuk memacarimu”. Goda Yifan pada adiknya.

ge!”. Pekik Kimi kemudian mencubit lengan kakaknya. Yifan hanya tersenyum kuda kemudian pergi dengan keranjang belanja ditangannya. “kau menjaga toko lagi? Dimana abeonim?”. Tanya Kimi sambil memilih-milih coklat didepan meja kasir.

“pergi sebentar, dia bilang mau membeli sesuatu untuk dimakan”. Jawab Jaemin.

Kimi mengangguk. Lalu meletakkan coklat yang ia pilih dimeja kasir. “aku harus belanja, hitung ini bersama belanjaanku nanti, ya?”.

Jaemin mengangguk. Dengan begitu, Kimi bisa pergi menghampiri kakaknya. “ge, kelas kami kedatangan murid baru”. Ujar Kimi sambil memilih barang yang ada didaftar belanjaan.

“lelaki?”.

“tidak, seorang gadis”. Jawab Kimi kemudian memasukkan enam bungkus ramen. “rambutnya berwarna pink, kau tahu?”. Tambah Kimi sedikit heboh.

“pindahan darimana? Cantik tidak?”.

Kimi berdecak, ia berpindah untuk memilih makanan ringan. “dari pulau Jeju, cantik sih. Ya, aku lebih cantik”.

“hm, jauh sekali dari Jeju”. Gumam Yifan seadanya. “oh, ya, siapa namanya?”. Tanya Yifan kemudian.

Kimi memasukkan makanan ringan yang ia pilih ke dalam keranjang belanja yang dibawa Yifan. “kau ingin menggodanya, ya?”. Kimi menatap dengan mata kecurigaan.

Yifan menggeleng. Tidak mengerti mengapa adiknya selalu curiga Yifan akan berpacaran atau semacamnya. Baiklah, baiklah, pria tinggi nan tampan ini memang sudah memiliki kekasih. Makanya Kimi selalu curiga pada kakaknya. Tak ingin kakaknya menjadi seorang player. Tidak cocok saja, menurutnya.

“aku hanya bertanya, lagipula kau memberitahuku lebih dulu”. Yifan membela dirinya. Mereka pun beriringan menuju meja kasir. “beri aku rokok menthol”. Ujar Yifan.

ge, ku bilang jangan merokok dirumah”. Protes Kimi.

“aku akan keluar jika mau merokok”. Yifan membujuk Kimi. Gadis itu tak bergeming. “kalau begitu kau juga tidak boleh makan coklat”.

“ya!”.

Jaemin diam saja melihat kedua bersaudara ini debat dihadapannya. Selalu, setiap kali mereka berbelanja bersama pasti perdebatan akan terjadi. Lalu Jaemin memutuskan untuk menghitung belanjaan temannya dan kakak temannya ini. “mau pakai kantung plastik tidak?”.

“kami tidak bawa mobil atau sepeda, tolong kantung plastiknya”. Jawab Yifan. Tadinya mereka memang sengaja berjalan kaki, karena jarak dari rumah ke toko serba Jaemin tidak begitu jauh.

Jaemin memasukkan belanjaan ke dalam kantung plastik. Lalu Yifan menyodorkan selembar uang 50 ribu won kepadanya. “ini kembaliannya”. Jaemin menyerahkan uang kembalian.

“terima kasih, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok”. Kimi berpamitan pada Jaemin.

“ah, sampai lupa, siapa nama murid baru dengan rambut pink dikelasmu?”. Tanya Yifan setelah Kimi keluar dari toko.

“oh, dia – Park Yeonsung”. Jawab Jaemin. Yifan menganga mendengar nama itu. Mungkinkah? Tapi – Yeonsung berambut coklat. “ada apa, hyung?”.

gege ~ cepatlah. Kau lama sekali”. Kimi kembali membuka pintu, berteriak merengek. Yifan tahu pasti Kimi sudah kelaparan sekarang.

“ey, berisik sekali suaramu itu”. Yifan mengibas-ngibaskan tangannya. Kemudian ia beranjak, keluar dari toko tersebut. Tanpa menjawab pertanyaan Jaemin. Ingin ia bertanya lagi pada Kimi mengenai gadis bernama Park Yeonsung itu. Namun ia putuskan untuk tidak bertanya. Kimi pasti akan mengoceh panjang lebar, jika tahu, jika tahu kakaknya menyimpan poto gadis lain diponsel.

Sudah lewat tengah malam ketika Yongjoon dan Hyoram keluar dari basemant, tempat dimana mereka sering tampil berdua. Kedua orang ini bisa dibilang artis jalanan, namun sekarang setelah salah satu kenalan Yongjoon menawarkan mereka untuk tampil di kafe miliknya, mereka tidak lagi bernyanyi dipinggir jalan. Tetapi di sebuah kafe di basemant yang terletak di Hongdae.

Yongjoon seorang rapper. Dan Hyoram penyanyi, suaranya sangat indah bahkan ia pernah mengikuti berbagai kontes.

“antar aku pulang”. Hyoram menarik jaket Yongjoon ketika lelaki itu hendak pergi kearah lain. Ya, karena memang rumah mereka berbeda jalur.

“aku lelah sekali, sungguh”. Tolak Yongjoon.

“antar aku ke halte, setidaknya temani aku sampai aku naik bus, memangnya kau tega –“.

“melihatmu digoda oleh pria asing atau mungkin diculik dan diperkosa”. Yongjoon melanjutkan ucapan Hyoram. Gadis itu hanya terkekeh tanpa dosa. “baiklah, baiklah. Cepat jalan”.

Sebenarnya, halte bus tempat dimana Hyoram dan Yongjoon duduk sekarang ini tidaklah sepi. Ada beberapa orang lainnya yang menunggu bus disana. Hanya saja, Hyoram terlalu manja. Dan ia juga merasa senang jika berada didekat kedua teman lelakinya. Jaemin dan Yongjoon. Seperti saudaranya sendiri.

“besok ada tugas tidak?”. Tanya Yongjoon. Selalu teringat soal sekolah besok ketika ia selesai mengisi acara di kafe.

“sepertinya ada, tapi kau kan sudah membuatnya tadi di Yaja”. Jawab Hyoram setelah mengingat kembali mengenai sekolah besok.

Yongjoon mengangguk. “dia membuat tugas tidak, ya?”.

Hyoram menoleh, menatap Yongjoon yang saat ini menatap jalanan sambil kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaketnya. “siapa?”. Tanya Hyoram. “Kimi? Sudah pasti –“.

“Yeonsung”. Jawab Yongjoon. Berhasil membungkam mulut Hyoram. “dia kan murid baru, pasti dia tidak tahu kalau besok ada tugas karena tugas ini diberikan minggu lalu”. Ujar Yongjoon.

“aku tidak mengerti mengapa kalian semua harus peduli padanya”. Gumam Hyoram. Ia berdesis sambil memikirkan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Menurutnya, dilihat dari sisi manapun, Yeonsung terlihat tidak bersahabat.

“Lee ssaem menyuruh kita bersikap baik padanya. Ah, aku baru ingat, dia juga bilang Yeonsung mempunyai fisik yang lemah”. Ujar Yongjoon sambil memiringkan kepalanya. “ia sakit atau apa. Kasihan sekali, kan?”.

Hyoram diam saja. Sampai sebuah bus berhenti didepan halte. Gadis itu berdiri dengan cepat, ia memasuki bus tersebut. “aku pulang duluan. Terima kasih sudah menemaniku”. Pamitnya.

oke, sampai besok”. Yongjoon melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Yongjoon kembali berjalan. Sebenarnya, ia membawa motor. Hanya saja Hyoram tidak tahu. Yongjoon memarkirkan motornya cukup jauh dari kafe tempat mereka bertemu. Yongjoon berjalan menuju tempat parkir motornya, ditelinganya tertempel earphone. Dari tempatnya berdiri sekarang, Yongjoon bisa melihat seorang gadis berambut pink baru keluar dari game station. Masih memakai seragam sekolahnya.

“Yeonsung, bukan, ya?”. Gumam Yongjoon.

Lalu gadis berambut pink itu menoleh ke kanan dan kiri. Hingga Yongjoon bisa mengkonfirmasi jika yang ia lihat benar-benar Yeonsung. Gadis itu membawa boneka ditangannya. Juga mengkonfirmasi jika ia baru selesai bermain di game station. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti didepan gadis itu. Langsung saja ia membuka pintu penumpang dan masuk.

Yongjoon hanya melihat saja. Hingga mobil itu berlalu didepannya. Yeonsung juga tampak tak mengenali dirinya.

Kebahagiaan tersendiri bagi seorang Wu Kimi, ketika Wu Yifan mau mengantarnya ke sekolah dengan motor sport super keren miliknya. Bukan Kimi yang memaksa agar diantar, tetapi Yifan yang menawarkan tumpangan. Berdalih jika ia ada urusan di dekat sekolah adiknya pagi ini maka Kimi bisa menumpang motornya.

“…rambutnya berwarna pink…”.

Teringat ucapan Kimi minggu lalu, lantas Yifan memelankan laju motornya ketika mendekati sekolah adiknya. Ia mengawasi sekitar, mungkin saja melihat seorang gadis dengan rambut pink. Sementara Kimi menepuk-nepuk punggung Yifan, menyuruh kakaknya untuk menghentikan motor.

“ada apa, sih?”. Protes Yifan lalu menghentikan motornya didepan gerbang.

“kau ingin mengantarku sampai ke dalam sekolah? Tidak boleh”. Jawab Kimi. Kemudian gadis itu turun dari motor, melepas helm nya dan memberikan helm pada Yifan. “kau kemari untuk melihat-lihat gadis di sekolahku, ya?”.

“jangan sembarangan, aku tidak tertarik pada anak kecil”. Sahut Yifan sambil mengaitkan helm yang dipakai Kimi.

Kimi melipat tangannya di bawah dada, menatap intens pada Yifan. “benarkah? Sepertinya kau mencari seseorang”.

“tidak”. Balas Yifan.

“Wu Kimi!!”. Panggil Jaemin – lelaki itu mengayuh sepedanya kearah Kimi berdiri sekarang. Lalu berhenti setelah sampai didekat Kimi. “hyung, annyeonghaseyo”. Sapanya pada Yifan.

“oh, kau lagi. Bisa kau bawa Kimi masuk sekarang?”. Pinta Yifan.

gege”. Kimi ingin protes lagi. Namun Yifan menghela napas dan menggeleng. “baiklah, segera pergi setelah aku masuk ke sekolah. Mengerti?”.

Yifan hanya mengangguk menjawab Kimi. Adiknya itu – benar-benar tak mau jika kakaknya sampai melirik gadis lain selain kekasih yang ia miliki saat ini. Akhirnya Kimi menyerah, ia naik ke boncengan sepeda Jaemin. Lelaki itu mulai mengayuh lagi sepedanya. Hingga mereka tiba di parkiran, Kimi terus melihat kearah gerbang. Yifan terlihat kembali melajukan motornya.

Tapi, siapa sangka jika pria itu tidak benar-benar pergi? Yifan berhenti didekat gerbang dan menunggu setidaknya hingga bel masuk berbunyi. Ia ingin memastikan gadis berambut pink  yang Kimi katakan.

Hingga sebuah mobil pribadi berwarna hitam mengkilap berhenti didekat gerbang. Yeonsung turun dari mobil yang mengantarnya. Yifan melihat sendiri dengan mata kepalanya. Wajah yang masih sama seperti yang ia ingat, hanya saja rambutnya yang berubah warna. Kaki panjang Yifan melangkah menghampiri Yeonsung. Tanpa permisi ia meraih tangan kanan Yeonsung.

“ya!”. Yeonsung hendak marah karena tangannya dipegang – tidak, lebih tepatnya dicengkram secara mendadak. Namun segera setelah melihat siapa gerangan yang mencengkram tangannya, Yeonsung terdiam.

“Park Yeon, ini benar-benar kau”. Ujar Yifan dengan suara sedikit serak.

ge, apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Yeonsung, panik.

“ternyata benar-benar kau”. Lagi – Yifan mengatakan hal yang sama. Ia masih tak menyangka akan menemukan Yeonsung ketika ia tidak mencarinya.

Yeonsung memalingkan wajahnya. Merasa tidak enak karena beberapa orang yang melihat mereka didepan gerbang mulai menggunjing. “lepaskan, ge, aku harus masuk sekarang”.

“Park Yeon, jika kau ada waktu –“.

“aku tidak punya waktu. Sungguh. Aku minta maaf, tapi aku harus fokus pada sekolah ku”. Yeonsung menarik tangannya, cengkraman Yifan melemah hingga dengan mudah Yeonsung dapat melepaskan tangannya dari Yifan. Yeonsung kembali berjalan.

“Park Yeon, tidakkah kau tahu jika ada orang yang mengkhawatirkanmu?”.

Ucapan Yifan membuat Yeonsung menghentikan langkahnya. Mengkhatirkanku? Pikirnya. “aku tidak bisa menemui mereka lagi. Katakan pada mereka untuk tidak memikirkanku”. Ujarnya.

Yeonsung tahu mungkin perkataannya akan menyakiti Yifan, tapi ia tidak punya pilihan saat ini. Berharap Yifan akan mengerti keadaannya dan tidak menemuinya lagi. Setelah melihat Yifan, Yeonsung teringat akan seseorang. Maka ia buru-buru pergi ke kelasnya. Didalam kelas teman-temannya sudah ramai. Yeonsung berjalan menuju lokernya. Sebenarnya tak ingin mengambil apapun dari sana.

“Wu Kimi, ya?”. Gumamnya ketika melihat stiker nama yang tertempel di pintu loker milik Kimi. “mungkinkah –“. Yeonsung mencoba menerka sesuatu.

“ya ~”. Kimi menghampirinya. Lagi-lagi gadis itu bersikap ramah padanya. Jika sampai Yeonsung tak menanggapinya dengan baik, maka reputasinya sebagai murid baru akan di cap buruk. “kau melupakan sesuatu?”. Tanya Kimi, melihat tingkah Yeonsung yang sedikit aneh. Hanya berdiri didepan lokernya tanpa melakukan apapun.

“ah, tidak”. Jawab Yeonsung lalu membuka pintu lokernya. Ia melihat sebuah buku berwarna putih dengan dot hitam didalam lokernya. Kimi, apa kau punya kakak laki-laki bernama Yifan? “Kimi’ya. Bolehkah aku bertanya padamu?”.

Kimi diam sejenak, lalu ia tersenyum simpul. Senang karena akhirnya Yeonsung mau berinteraksi dengannya. Meskipun jika pertanyaan Yeonsung tidak penting untuk dijawab, tapi ini adalah langkah awal yang bagus untuk memulai pertemanan. Pikir Kimi.

“silahkan, tanyakan saja padaku”.

Yeonsung menarik napas panjang sebelum mulai mengeluarkan suaranya untuk bertanya pada Kimi.

TBC

Haii….

Memulai awal tahun dengan cerita baru.. hahahhaa

FF lama ngga tau deh, kali lanjut kali engga XD mian mian…

HanYeon? YY Couple? Belom bisa dipastikan ya :”v

skinny love

denah kelas :3

 

 

9 thoughts on “FanFic “Skinny Love” #1

  1. Couple hanyeon? Udah ga terlalu ngefel sih kak. You knowlah, gara Luhan dating (hati patah)#gak. ga nyambung bgt deh ah.
    Yeon ama Yifan aja kak 😆😆😆😆
    Boleh tuuh. Wkwk
    Kak itu rambutnya si Yeon emng sengaja di cat atau karna gen?

      • Emang boleh yah sekolah rambutnya diwarnain .
        (Apa sih Dil kepo banget, ya biarin lah namanya jg ff)
        Emang aku suka gitu kak kadang nanya absurd. Yaudah lah iyain aja biar fast.
        Kak update lagi dong. (Nglunjak nih)/gak
        Udah pengen tau next chapt nya (yaudah lah kamu bayangin sendiri aja)
        Bayangin aja kak aku ngomonh sendiri jawab sendri. 😆😆😆

      • boleh kok di Koriya.. ada sekolah yg ngebolehin rambut diwarnain, pake make up dan rok pendek.. ada jg yg nggak, kea sekolah kejuruan itu ngga boleh. kalo sekolah seni ato sekolah tertentu boleh2 aja XD
        belom bisa apdet ya, masih sibuk nyusun skripsi nih… hehehe

      • Eeeh kk pejuang sekripsi??
        Aku juga (gak nanya)
        Eeetdaaah masih bisa kasih waktu buat ff. Daebaaaaak 😍😍😍
        Semangaat kaaak 🍫🍫🍭

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s