FanFic “Adora” #2


Adora 1

Adora #2 – Return Part 2

Author : Arni Kyo

Main cast : Kim Sunwoo (The Boyz) | Park Yeonhi (OC) | Kim Younghoon (The Boyz) | Wu Kimi (OC) | Park Chorong (OC)

Support Cast : Luhan | Wu Yifan | Park Jinyoung | Park Jiyeon Others

Genre  : Romance, School Life

Length : Multi Chapter

~oOo~

Sunwoo memasuki ruang kelasnya setelah menyelesaikan urusannya dengan ibunya di telpon. Ia sedikit kesal karena tiba-tiba harus masuk ke kelas khusus untuk persiapan ujian. Sunwoo langsung duduk dikursinya. Lalu menoleh kebelakang setelah meletakkan tasnya dimeja.

“Hiyi?”. Tanya nya pada Kimi yang sibuk membaca buku.

Kimi mengangkat kedua bahunya. “sejak aku datang ia tidak ada”.

Sunwoo mengangguk. Matanya tertuju pada buku yang dibaca oleh Kimi. “acting lagi? Seharusnya kau masuk sekolah seni saja”. Ujarnya.

“jika aku masuk ke sekolah seni, kau tidak akan bertemu dengan gadis semanis aku”. Jawab Kimi sambil mengedip-ngedipkan matanya.

“astaga, aku sampai merinding mendengarnya”. Ujar Sunwoo sambil mengusap-usap lengannya satu sama lain. Kemudian ia berbalik menghadap ke depan, tak pelak Kimi menendang-nendang kursinya dari belakang.

Dari arah pintu belakang, beberapa orang gadis memasuki ruangan kelas. Menghampiri Younghoon yang sedang tidur dimejanya. Kimi hanya melirik para gadis itu lalu melanjutkan membaca bukunya.

“Younghoon’ah”. Panggil salah seorang dari mereka. Gadis berambut coklat dengan tag nama Lee Umji itu seraya menepuk pelan pundak Younghoon.

Orang yang dipanggil pun terbangun. Matanya masih segaris ketika berusaha mengenali siapa yang telah membangunkannya. “biarkan aku tidur sampai bel masuk berbunyi”. Gumam Younghoon.

“aku kemari untuk menawarkanmu peran pangeran –“.

“aku tidak bersedia, cari orang lain saja”. Ujar Younghoon lalu kembali membenamkan kepalanya diantara tangannya diatas meja.

Umji menghela napas. Sudah berapa kali ia menawari Younghoon untuk menjadi pangeran dalam teater yang akan ditampilkan saat Festival Seni nanti. Tapi Younghoon selalu menolak. Matanya menatap tajam pada Kimi yang terlihat menahan tawanya. Umji pun pergi dengan perasaan kesal.

“aku heran mengapa mereka tidak menawariku?”. Ujar Sunwoo kemudian.

Kimi menutup bukunya. “kau mau ikut teater nanti?”. Tanya Kimi. Selain bergabung dengan redaksi sekolah, Kimi juga merupakan anggota club teater. Gadis ini menyukai acting dan bercita-cita menjadi aktris suatu saat nanti.

“benarkah bisa?”. Sunwoo berbalik dengan raut wajah bersemangat.

“jika kau mau, perannya mudah, kau bisa menjadi property dipanggung”. Jawab Kimi.

“sialan”. Dengus Sunwoo. Berhasil membuat Kimi tertawa puas.

Luhan kembali dengan dua kotak susu pisang ditangannya. Ia menatap sejenak sosok gadis yang tengah menunggunya, duduk di meja bekas dibelakang sekolah. Benar-benar seperti Park Yeonsung, pikir Luhan.

“jadi –“. Gumam Yeonhi ketika Luhan berdiri disebelahnya. Yeonhi mengangkat kepalanya. “dimana dia sekarang?”. Tanya Yeonhi tiba-tiba.

“siapa?”. Luhan balik bertanya dengan wajah bingung.

Yeonhi mengambil sekotak susu pisang dari tangan Luhan. “gadis itu. Kau sedang merindukan seseorang, kan, saem?”.

Luhan diam. tidak menyangka jika Yeonhi bisa menebaknya. “sudah tidak ada”. Jawab Luhan sambil berusaha tersenyum.

“ah, maaf, aku tidak tahu”. Ujar Yeonhi lalu mengemut sedotannya. Ia jadi tidak enak karena telah menanyakan hal yang seharusnya tidak ia tanyakan, apalagi pada gurunya sendiri.

“tidak apa. jangan merasa jika kau telah mengingatkanku padanya hanya karena kau bertanya”. Ujar Luhan. Yeonhi mengangguk pelan, tak menjawab ucapan Luhan barusan. “karena tanpa kau bertanya, kau telah mengingatkanku padanya”. Gumam Luhan kemudian.

Membuat Yeonhi menatapnya bingung.

Niatnya, Park Chorong kemari untuk mencari Yeonhi yang ia ketahui telah menemui ayahnya perkara murid yang masuk ke kelas khusus. Lalu Chorong mencari Yeonhi untuk membicarakan hal itu. Bagaimanapun, Chorong tak mau kehilangan satu-satunya temannya. Namun ketika berhasil menemukan Yeonhi, Chorong malah melihat Yeonhi sedang bersama guru mereka, Luhan.

Lantas ia bersembunyi dan menguping pembicaraan Luhan dan Yeonhi dari balik tembok.

“ada banyak orang yang datang dari masa lalu, tapi jika terus mengingatnya, masa depan tidak akan datang dengan mudah”. Ujar Yeonhi seraya menatap langit.

“seperti itukah?”.

saem, anggap saja aku tidak mirip dengannya”. Yeonhi turun dari atas meja. Lalu tersenyum pada Luhan. “kau punya tunangan, jadilah pria yang baik”.

Luhan tak menjawab. Ia hanya tidak tahu harus berkata apa. Yeonhi adalah muridnya, dan gadis itu malah berbicara seolah sedang berbicara dengan teman. Dalam hal lain karena Yeonhi terlalu mirip dengan Yeonsung.

“terima kasih susu pisangnya, saem”. Yeonhi melangkah pergi melewati Luhan.

“Park Yeonhi”. Panggil Luhan. Yeonhi langsung berhenti dan menoleh pada Luhan. Pria itu pun menoleh pada Yeonhi. “ini bukan suatu kebetulan aku bertemu denganmu”. Ujarnya.

Yeonhi diam. detik berikutnya ia menyunggingkan sebuah senyuman seolah ia juga ingin berkata tentang hal yang sama pada Luhan.

Sejak tadi Yeonhi diam didepan notebook nya yang menampilkan lembar kosong Ms. Word. Bahkan selama pelajaran ia tidak berkonstentrasi seperti biasa. Sepulang sekolah, hal yang biasa bagi anggota redaksi sekolah untuk berkumpul diruang redaksi. Namun saat ini hanya ada dirinya dan Sunwoo.

Sunwoo sibuk dengan dunianya sendiri. Ia memasang hairclip yang ia temukan ditas Yeonhi ke rambutnya. Setelah selesai, ia pun mengambil gambar dirinya dengan berpose imut. “Hiyi’ah, bagaimana menurutmu?”. Tanyanya.

Dengan malas Yeonhi menoleh. Dan gadis itu langsung melotot pada Sunwoo. “berhenti memakai barang milikku, Sunwoo’ya”. ujarnya.

“kau sendiri tidak memakainya, jadi aku pakai”.

“cih… lepaskan. Kau membuatnya kusut”.

“jangan pelit, Hiyi’ah”.

“lepaskan sebelum aku menjambakmu”. Peringat Yeonhi. Sunwoo mendengus. Dengan kesal ia melepaskan hairclip dari rambutnya lalu menyusunnya diatas meja. Yeonhi menatapnya dengan mata menyipit. “seharusnya aku yang kesal, kenapa malah kau yang terlihat kesal”.

“aku kesal karena kau tidak pernah mau pergi denganku”.

Yeonhi melipat tangannya dibawah dada, dengan dagu sedikit terangkat. “aku pernah menerima ajakanmu, jangan berpura-pura lupa”.

Sunwoo memutar bola matanya. Yeonhi benar tentang menerima ajakannya waktu itu. Tapi gadis itu malah mengajak teman-temannya yang lain. Jadi lebih bisa disebut sebagai hang out daripada dating.

“katakan padaku kenapa kau tidak bisa menyukaiku?”. Tanya Sunwoo. Kali ini ia serius.

Yeonhi diam. Memikirkan jawaban yang pas. Agar Sunwoo tidak bertanya terus-menerus. Dengan penuh harap, Sunwoo menunggu jawaban Yeonhi. Tiba-tiba gadis itu berbalik menghadap Sunwoo, mendekatkan wajahnya ke wajah Sunwoo. Sontak saja, lelaki itu panik dan dengan cepat menahan bahu Yeonhi agar tidak lebih dekat lagi dari jarak 10 cm ini.

“kenapa kau menghentikanku?”. Tanya Yeonhi dengan wajah tanpa ekspresi seperti tidak terjadi apapun.

“Hiyi’ah, kau aneh”.

“aneh? Tidak. Aku tidak aneh. Aku hanya sedang mencari jawaban atas pertanyaanmu barusan”.

“apa?”.

Klik

Pintu ruang redaksi terbuka. Younghoon datang bersama Kimi. Ya, mereka datang dan langsung melihat kedua orang yang selama ini sering bertengkar kini berada dalam jarak yang sangat dekat. Seperti orang yang akan berciuman.

“ewh… shit”. Gumam Kimi. Dari pandangannya sekarang, ia bisa menebak siapa yang ‘menyosor’ lebih dulu.

“whoa”. Gumam Younghoon. Ia langsung mengambil gambar itu dengan kamera yang kebetulan mengalung dilehernya sekarang.

Kimi masuk dan langsung duduk di kursi di depan Yeonhi. Gadis itu sudah kembali ke posisinya semula. Seperti tidak terjadi apapun, ia langsung mengetik di notebook nya. Berbeda dengan Sunwoo yang terlihat shock.

“itu tadi tidak seperti yang kalian pikirkan, sungguh”. Sunwoo berusaha menjelaskan.

“aku tahu. Memang berbahaya meninggalkan gadis ini berdua saja dengan seorang lelaki”. Sahut Kimi.

“Hiyi’ah, bisa kupinjam notebook nya?”. Pinta Younghoon.

Sambil tersenyum manis, Yeonhi menyodorkan notebook kearah Younghoon. Mereka baru saja kembali dari meliput club yang akan berpartisipasi diacara Festival Seni nanti. Dan harus segera membuat berita soal kegiatan yang dilakukan menjelang festival.

“jangan tersenyum seperti itu, kau terlihat seperti jalang”. Ujar Kimi.

“kenapa, sih? Aku kan tidak tersenyum pada kekasihmu”. Jawab Yeonhi.

“dia tersenyum seperti itu pada Jaemin, aku melihatnya”. Timbal Sunwoo.

“apa? kapan? jangan memfitnahku, kau ingin melihat pertemanan kami hancur, huh?”.

Kimi tersenyum melihat kedua orang ini kembali rebut. Masalah sepele yang selalu bisa menjadi bahan perdebatan mereka. Tentang perkataan kasar yang kadang terlontar diantara Kimi dan Yeonhi, merupakan hal biasa. Tentu saja tidak serius karena seperti inilah cara mereka berteman.

Pintu ruang redaksi terbuka lagi. Kali ini Chorong datang dengan dua kantung plastik belanjaan dari toko. Ia tersenyum ketika masuk, namun tak ada seorangpun yang menoleh padanya.

Chorong pun meletakkan kantung belanja nya ditengah-tengah meja. Ketika itu, barulah Yeonhi sadar. “ah, kau sudah datang rupanya”. Ujar Yeonhi sambil memeriksa isi kantung plastik. Ia bahkan langsung mengambil makanan ringan dari dalam sana.

“kau memang gadis terbaik disekolah ini Chorong’ah”. Puji Sunwoo. Membuat Chorong tersipu. Tangannya bergerak mengambil makanan ringan dari dalam bungkus yang sudah dibuka oleh Yeonhi.

Yeonhi melihat gerakan tangan Sunwoo, dengan santai tanpa dosa ia mengambil satu demi satu lalu memasukkannya ke dalam mulut. “ambilan makanan yang lain, kenapa mengambil milikku?”. sewot Yeonhi.

“kau ini pelit sekali”.

“aku tidak pelit, kau menyebalkan, jadi aku tidak mau baik padamu”.

Brakk

Kimi memukul meja secara tiba-tiba, yang berhasil membuat semua orang didalam ruangan itu terdiam. Mengira jika Kimi sedang marah. Sekedar memberitahu saja, gadis itu mengerikan ketika sedang marah. Bahkan lebih mengerikan daripada ketika Chorong yang notabene adalah atlet Taekwondo sedang marah.

“aku baru lihat pengumuman”. Ujarnya kemudian.

“mengagetkan saja, kupikir kau akan mengamuk”. Ujar Younghoon. Lalu kembali fokus pada pekerjaannya mengedit poto.

Kimi berdesis. “Hiyi, mengapa namamu tidak ada didaftar murid kelas khusus?”. Tanya Kimi kemudian.

Sunwoo melotot pada Kimi, memberi kode pada Kimi agar tidak bertanya soal kelas khusus. Namun Kimi tidak peka. Sedangkan Yeonhi belum menjawab dan malah melirik Chorong.

“aku sengaja membiarkanmu duduk di posisi 1 agar bisa masuk kelas khusus dan lulus dengan nilai terbaik, tapi kenapa, kenapa namamu tidak ada? Aku malah menemukan nama kunyuk ini disana”. Kimi memanyunkan bibirnya, menunjuk Sunwoo.

“kau pikir aku mau masuk ke kelas itu? Cih”. Sahut Sunwoo.

Younghoon menjentikan jarinya. “aku tahu ada yang tidak beres dengan sekolah ini”. ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari notebook.

“ya ~ kau kan putrid Direktur, kau pasti tahu sesuatu”. Ujar Kimi pada Chorong yang sejak tadi diam. berharap Kimi tidak sadar jika ia ada didalam ruangan ini.

“ah, itu, aku –“.

“aku sudah tidak ingin masuk ke kelas khusus, jadi biarkan saja”. Potong Yeonhi.

Chorong hanya bisa menghela napas lega. Entah merasa lega untuk apa. namun disisi lain, Kimi menatap kedua orang temannya ini dengan meneliti. Sadar jika ada yang tidak beres diantara keduanya. Belum lagi kenyataan bahwa Chorong adalah anak dari Direktur sekolah, pasti Chorong maupun Yeonhi telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disekolah ini.

“ah, lapar sekali. Aku sekarat”. Ujar Yeonhi sambil memegangi perutnya.

Jam istirahat makan siang, para murid berhamburan keluar dari kelas untuk makan siang di kafetaria. Begitu juga dengan kelompok ini, mereka selalu pergi ke kafetaria bersama-sama. Yeonhi mengamit lengan Kimi. “haruskah aku memberikan sepatuku untuk camilanmu selama perjalanan menuju kafetaria?”. Tanya Kimi.

“itu kejam sekali, sungguh! Akan kulaporkan kau ke Kementrian HAM”. Balas Yeonhi lalu tertawa licik.

“Ham? Hamburger. Ah, jadi ingin makan hamburger”. Sahut Sunwoo.

“ayo pergi makan hamburger sepulang sekolah”. Ajak Younghoon. Jelas saja teman-temannya menyahut setuju. “Kimi yang akan mentraktir kita”. Sambungnya kemudian lalu tersenyum kuda pada Kimi.

“ya! kau yang mengajak berarti kau yang membayar”. Sewot Kimi.

Dan, yah, mereka terlalu asik dengan obrolan mereka sampai melupakan Chorong yang berjalan dibelakang mereka. Berjalan dengan jarak, tidak seperti biasanya. Biasanya ia akan bergandengan dengan Yeonhi. Tapi setelah pengumuman daftar nama murid untuk kelas khusus, Chorong seolah merasa bersalah dan tertekan karena Yeonhi tidak masuk ke dalam daftar.

Semalam ia mencoba berbicara pada ayahnya, tapi ayahnya pun tidak bisa menolong kali ini.

“sinar mataharinya silau sekali”. Keluh Yeonhi didalam barisan antrian masuk ke kafetaria. “Younghoon’ah, berdirilah disampingku agar aku tidak kena matahari”. Pinta Yeonhi sambil menarik Younghoon.

“kau ini makhluk apa sebenarnya? Vampire?”. Tanya Younghoon dengan wajah datar.

“astaga, rasanya ingin pingsan”. Keluh Yeonhi lagi.

“mati saja, Hiyi’ah, kami tidak akan peduli”. Sahut Kimi.

Yeonhi berdecak. Rasanya ingin sekali ia memukul wajah Kimi dengan keras. Apalagi melihat wajah menyebalkan gadis itu. Tanpa merasa canggung, Kimi malah berdiri bersama Jaemin. Oh, baiklah, memang hal yang biasa. Tapi entah mengapa, Yeonhi merasa risih melihatnya.

“kudengar sekelompok murid telah melakukan ritual memanggil arwah”. Ujar salah seorang murid dari barisan belakang. Berhasil mengundang perhatian bagi Younghoon dan teman-temannya yang berdiri didepan orang itu.

“jaman apa ini? memangnya masih ada ritual macam itu? Hantu millennium? Cih”. Sahut temannya sambil tertawa remeh.

“jangan seperti itu, nanti kau yang dihantui”.

“aku tidak takut. Walaupun sepuluh hantu yang muncul dihadapanku”.

“bagaimana kalau mereka memanggil sebelas hantu?”.

Sunwoo membalikkan wajah Yeonhi agar tidak terus-terusan menengok kebelakang, menengok pada orang yang sedang bergosip tentang pemanggilan arwah atau semacamnya itu. “menu hari ini, udang goring”. Ujar Sunwoo.

“apa?”.

“berikan udangmu padaku, kau kan alergi udang”.

Yeonhi menautkan alisnya. “sejak kapan aku alergi udang? Chorong yang –“. Yeonhi melihat sekelilingnya. Tadinya ia akan menunjuk pada Chorong. Namun ia baru sadar jika Chorong tidak ada disana. Mungkin tertingal disuatu tempat, pikir Yeonhi.

“materi yang harus kita selesaikan untuk mengisi tabloid sekolah bulan ini adalah masa lalu Lu saem, kebenaran tentang kelas khusus, dan arwah yang dipanggil sekelompok orang”. Ujar Younghoon sambil menuliskan materinya di papan tulis.

“bagus, setelah itu kita akan dikeluarkan dari sekolah”. Sahut Yeonhi. “ah, sepertinya hanya aku yang akan dikeluarkan”. Tambahnya lagi.

“kenapa begitu penting untuk memasukan Lu saem ke dalam tabloid kita?”. Celetuk Sunwoo. Tapi ia bukan asal bertanya, tapi memang penasaran.

Younghoon kembali ke tempat duduknya. “kupikir ini akan bisa menjadi hot topic”.

“kupikir selama ini kau tidak memikirkan jika artikel kita menjadi hot topic atau tidak”. Sahut Kimi.

“sesekali mencoba jadi hot topic kan tidak apa-apa”. jawab Younghoon lalu tersenyum kuda. Sedangkan teman-temannya menatapnya dengan datar. Younghoon bertepuk tangan sekali. “baiklah, siapa yang mau menemaniku mengumpulkan berkas?”.

“haruskah malam ini?”. Tanya Yeonhi tak percaya jika mereka harus bergegas menyusun tabloid dimalam hari.

Younghoon mengangguk pasti. “batas akhir penyusunan tabloid hanya seminggu, kita belum mengumpulkan data sama sekali”.

Kimi dan Yeonhi saling menatap, Kimi menggeleng pelan, lalu dibalas dengan anggukan oleh Yeonhi. “kau saja pergi bersama Sunwoo, biar kami yang menunggu disini”. Ujar Kimi.

Sekolah sudah sepi dimalam hari, murid yang masih belajar pergi ruangan khusus yang terpisah dari gedung kelas dan gedung club. Sunwoo dan Younghoon berjalan beriringan menyusuri lorong sepi dimana hanya ada lampu dari koridor sementara ruangan sudah gelap.

“ah, canggung sekali berjalan bersama lelaki hanya berdua”. Gumam Sunwoo.

“mau bagaimana lagi, para gadis itu mau menemani kita. Lagipula mereka pasti takut jika salah satu ikut dan tinggal”. Ujar Younghoon.

Sunwoo mengangguk. “tapi, memang apa yang ditakuti oleh Hiyi? Bahkan ia bisa membunuh tikus dan kecoa tanpa takut”.

“aku juga tidak mengerti dia itu makhluk apa dan kenapa juga dia harus berteman dengan gadis seperti Kimi?”.

“mungkin karena mereka datang dari planet yang sama”.

Obrolan tidak jelas yang hanya akan muncul ketika kedua orang ini merasa sebal pada para gadis di redaksi sekolah. Menemani mereka hingga tiba digudang belakang sekolah. Younghoon berkata jika ia sudah menyelidiki isi gudang ini dan menyatakan bahwa didalam gudang ada berkas yang mereka perlukan.

“apa harus kita mencarinya didalam hari seperti ini?”. Tanya Sunwoo sambil menerangi kardus yang sedang diperiksa oleh Younghoon dengan lampu flash ponselnya.

“ya, mau bagaimana lagi”.

Setelah memasukan berkas yang dicari ke dalam kardus lain, Younghoon dan Sunwoo keluar dari gudang. Atas intruksi dari Younghoon, maka Sunwoo tidak mengunci pintu gudang. Karena kemungkinan mereka akan kembali lagi kesini nantinya.

“aku mulai mengantuk”. Keluh Sunwoo sambil menguap.

Lihatlah bahkan ia membiarkan ketua redaksi membawa sendiri kardus berisi kertas-kertas usang itu. Sunwoo mengucek matanya. Lalu kembali menatap kearah depan. Diujung koridor, ia dapat melihat seorang gadis berdiri didekat jendela. Surai hitam gadis itu bergerak pelan tertiup angin dari luar. Perlahan gadis itu menoleh dan tersenyum pada Sunwoo.

“Younghoon’ah”. Panggil Sunwoo. Sontak orang yang dipanggil menghentikan langkahnya.

“apa, sih? Kalau mau ke toilet, pergi saja sendiri. Aku tidak sudi menemanimu”. Sahut Younghoon.

“kau tidak melihat –“. Sunwoo kembali menoleh kearah gadis itu berdiri tadi dan sudah tak menemukannya disana. “tadi aku melihat seseorang berdiri disana”. Ujar Sunwoo berusaha untuk tetap tenang.

“aku tidak melihat siapapun. Jangan ngawur, cuci muka sana”. Younghoon kembali berjalan.

Buru-buru Sunwoo menyusul Younghoon – tidak, ia malah berlari mendahului Younghoon. Entah mengapa, bagi Sunwoo koridor ini terasa lebih panjang dari sebelumnya. Dan ketika ia melewati belokan tangga, Sunwoo melihat gadis itu lagi. Berdiri diujung tangga. Sunwoo terkejut, jelas saja ia terkejut.

Gadis itu – seolah memperlambat waktu. Ia membuat Sunwoo seolah melayang perlahan agar bisa melihat dengan jelas wajah pucatnya yang sangat kontras dengan rambut hitam panjangnya itu.

“apa-apaan ini?”. gumam Sunwoo.

Gadis itu kembali tersenyum pada Sunwoo. Sebelum akhirnya Sunwoo jatuh tersungkur kelantai.

Ketika Younghoon dan Sunwoo kembali ke ruang redaksi. Disana sudah ada Chorong, yang mereka sadari sejak makan siang tadi tidak berkumpul bersama. Sunwoo masuk terlebih dahulu. Wajahnya pucat dan berkeringat. Ia langsung menghambur menuju shofa yang berada didekat jendela.

“aku melihatnya”. Ujar Sunwoo dengan napas tercekat.

“siapa?”. Tanya Kimi heran.

Bruukk

Younghoon meletakkan kardus berisi berkas keatas meja. Lalu ia berkacak pinggang. “Sunwoo berkata ia melihat hantu yang sedang hangat dibicarakan orang”.

“benarkah? dimana?”. Kimi mendadak bersemangat untuk melihat hantu itu.

“jangan menakutiku, jika begini bagaimana bisa pulang nanti”. Timbal Chorong.

Yeonhi mendekati Sunwoo setelah melihat sikut lelaki itu terluka. Ia pun mengambil kotak obat untuk sekedar mengobati luka yang tidak seberapa itu. “kau berlari sampai terjatuh? Aigoo”.

Sunwoo mengambil posisi duduk. Ia memperhatikan dengan seksama wajah Yeonhi dari sini. “Hiyi’ah, tersenyum”.

“apa?”.

“aku ingin melihatmu tersenyum”.

“kau gila?”. Yeonhi tiba-tiba jadi kesal yang tanpa sadar ia menekan kapas obat antiseptic diluka Sunwoo dengan keras. Berhasil membuat lelaki itu meringis kesakitan. “rasakan”. Dengus Yeonhi kemudian bangkit.

“hantu itu mirip sekali denganmu”. Ujar Sunwoo kemudian.

Hening.

“ya ~ mengapa kau berkata buruk seperti itu pada Hiyi?”. Ujar Chorong. Mereka mengira jika Sunwoo sedang mengoda Yeonhi sekarang.

Yeonhi kembali menoleh pada Sunwoo. Dengan mata penuh selidik. “mirip sekali?”. Tanya Yeonhi.

“kau boleh memukulku, tapi aku tidak berbohong. Hantu itu mirip denganmu, tadinya ku kira itu kau. Tapi rambutnya berwarna hitam”. Jawab Sunwoo. Ia menarik napas. “makanya aku memintamu tersenyum, karena hantu itu dua kali tersenyum padaku. hanya untuk memastikan”.

“Younghoon’ah, apakah saat digudang tadi anak ini terbentur sesuatu atau semacamnya?”. Gumam Kimi dengan tatapan kasihan pada Sunwoo.

“sepertinya tidak, kupikir ia salah makan tadi siang”. Jawab Younghoon.

“apakah mungkin –“. Yeonhi mengusap dagunya sendiri. Menebak-nebak kemungkinan hantu yang berhasil dipanggil oleh sekelompok murid adalah hantu dari gadis yang dirindukan oleh Luhan saem. “tapi mengapa dia bisa muncul disekolah ini?”.

“kau berkata seolah kenal dengan hantu itu”. Celetuk Sunwoo.

“benar, apa sebaiknya aku berkenalan dengannya, ya?”. Yeonhi menjentikkan jarinya.

Sunwoo berdecak. Tak habis pikir, Yeonhi bisa begitu bersemangat ingin berkenalan dengan hantu. “terserah kau saja. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Oh, ya, dia memakai seragam sekolah ini. selebihnya jangan tanyakan lagi”.

“jadi itu hantu”. Gumam Younghoon sambil mengusap-usap dagunya. Sebenarnya ia juga melihat gadis berwajah pucat dengan rambut hitam panjang, namun tidak mengira jika itu hantu. Karena ia mengenakan seragam yang sama dengan mereka.

Sepulang sekolah setelah merundingkan kembali apa saja yang akan mereka bahas ditabloid nanti, Yeonhi mampir ke kedai pinggir jalan langganannya. Ia masih memikirkan tentang kebenaran perkataan Sunwoo, mengenai hantu yang dilihatnya. Benarkah itu adalah hantu dari gadis yang dirindukan Luhan? Atau hanya hantu nakal yang meniru wajahnya?

ahjumma, tteokbeokki”. Ujar Yeonhi pada bibi penjual.

eo? Hiyi’ah, kau baru pulang? Sudah larut sekali”. Ujar bibi itu.

Yeonhi duduk disalah satu kursi disana. “aku ada kegiatan disekolah, makanya pulang terlambat”. Jawab Yeonhi. Satu porsi kue beras pedas dihidangkan dihadapannya. Dengan segera Yeonhi menyantap makanannya.

Setelah selesai makan kue beras pedas dan membawa satu porsi yang dibungkus. Yeonhi keluar dari kedai tersebut. Bertepatan ketika rombongan pria ingin masuk kesana. Melihat Yeonhi yang telah lebih dulu keluar dari pintu, rombongan pria tersebut berhenti. Yeonhi mengangkat kepalanya.

“Park Yeon”.

Sontak saja, teman Luhan yang lain membelalak melihat Yeonhi. Malam itu, Luhan mengajak teman-teman lamanya untuk berkumpul sekedar minum bersama. Dan yang bisa datang adalah Jihoon, Youngmin, dan Minho.

Yeonhi melihat satu per satu wajah teman Luhan yang sedang menatapnya dengan tatapan ngeri dan terkejut. “kenapa menatapku seperti itu?”. Tanya Yeonhi.

“jadi kau serius soal gadis yang mirip dengan Yeonsung”. gumam Youngmin.

“benar-benar mirip”. Sahut Minho.

“bagaimana bisa gadis ini menyerupai Yeonsung?”. ujar Jihoon.

Yeonhi tidak peduli tentang apa yang mereka katakan. Maka ia berjalan hendak pergi. Namun Luhan memanggilnya. “kau bisa pulang sendiri?”.

“aku sudah 18 tahun, bagaimana mungkin aku tidak bisa pulang sendiri?”. Ujar Yeonhi. “dan juga, saem, haruskah aku bertingkah seperti seorang murid jika berada diluar sekolah?”. Tanya Yeonhi.

Tak sempat Luhan menjawab, Yeonhi telah pergi lebih dulu. Sambil melempar senyum penuh arti pada Luhan. Mimik wajah yang tak akan pernah muncul dari wajah Yeonsung.

Luhan kembali menapakan kakinya menyusuri lorong diantara deretan kursi panjang gereja. Ia ingat, sangat ingat datang kemari delapan tahun yang lalu. Untuk melangsungkan pernikahan dengan Yeonsung.

Luhan duduk dikursi paling depan. Lalu mengepalkan kedua tangannya. Berdoa dengan mata terpejam.

Musim semi delapan tahun lalu. Hari dimana pengumuman kelulusan diumumkan. Luhan lulus dengan nilai terbaik seperti harapan. Sesuatu yang sudah bisa diprediksi sebenarnya, dengan otak jeniusnya itu tentu saja ia akan mudah lulus dan mendapat nilai terbaik.

“Luhan cepatlah”. Jihoon melambaikan tangannya pada Luhan dari gerbang sekolah.

Luhan harus berpoto dengan beberapa gadis yang menyebut diri mereka fans. Sebelum akhirnya Jihoon memanggilnya dan Luhan sadar sudah waktunya untuk pergi. Luhan berlarian menghampiri Jihoon.

“yang lain sudah menunggumu, kita harus cepat”. Jihoon melepaskan toga dari tubuh Luhan, lalu ia membantu Luhan memakai tuxedo putih ala pengantin pria.

“taksi”. Luhan memanggil taksi yang lewat.

Dengan cepat ia dan Jihoon memasuki taksi yang sudah berhenti itu. Semoga saja mereka yang sudah menunggu ditempat yang dijanjikan tidak protes karena Luhan terlambat datang.

Setibanya disana, gereja tersebut sepi. Sengaja memilih gereja dipinggir kota yang tidak ramai pengunjung. Dimana Luhan akan menikah dengan Yeonsung. Didepan gereja, Chanyeol menunggu Luhan, ditangannya membawa guci abu milik Yeonsung.

“lama sekali, sialan”. Umpat Chanyeol lalu memberikan guci putih tersebut pada Luhan.

Luhan hanya tersenyum tanpa dosa pada Chanyeol. Sebelum memasuki gereja, ia merapikan tuxedo nya. Jihoon dan Chanyeol membukakan pintu gereja. Didalam sana, tamu yang terdiri dari Yunbi, Seungri, Youngmin dan Minho pun berdiri.

Luhan kembali membuka matanya seusai berdoa. Ia menghela napas berat. “kau ingin menghukumku atau apa? ini semakin berat bagiku. Melihat seseorang yang bahkan memiliki wajah yang sangat mirip denganmu. Park Yeon”.

Kimi masuk dengan tergesa ke dalam ruang redaksi. Ia kehilangan pulpen pemberian Jaemin yang ia yakini tertinggal diruang redaksi semalam. Saat itu hanya ada Yeonhi yang tengah terbaring tak berdaya dishofa. Ia mengaku sakit perut dan harus pergi ke klinik sekolah, namun nyatanya ia malah tidur diruang redaksi.

“dimana, ya?”. gumam Kimi sedikit panik sambil mengobrak-abrik isi laci dimeja. Tidak menemukan apa yang ia cari disana, Kimi beralih ke bawah meja. Disana juga tidak ada.

Sambil berkacak pinggang ia mendekati Yeonhi. Lalu membalikkan tubuh gadis itu hingga terjatuh kelantai dengan cukup keras.

“aakhh! Pinggangku”. Ringis Yeonhi. Dengan malas membuka matanya. Melihat Kimi berdiri diatasnya sekarang. “ya! sialan, kau menjatuhkanku?”.

Kimi hanya melihat kearah Yeonhi sekali lalu pergi begitu saja. Yeonhi mendengus kesal. Iapun terjaga. Kimi masih sibuk mencari pulpen nya kesana kemari. “aku menemukannya”. Ujarnya dengan sebuah pulpen ditangannya.

“cih… kenapa, sih, dia?”. Ujar Yeonhi lalu kembali naik ke shofa.

Namun rupanya Kimi menemukan hal lain selain pulpennya. Tadinya ia mau langsung kembali ke kelas. Tetapi ada sesuatu dibawah lemari penyimpanan yang menarik perhatiannya. Sebuah flashdisk berbentuk diamond berwarna biru. Kimi meraih benda itu keluar.

“Hiyi’ah, apa ini milikmu?”.

Lagi – Yeonhi membuka matanya dengan malas, melihat ke arah Kimi. “bukan”. Jawabnya tanpa tahu dengan pasti benda apa yang ditunjukkan oleh Kimi barusan.

“untukku saja kalau begitu”. Gumam Kimi. Ia pun duduk dimeja dan menyalakan notebook. Kemudian memasukan flashdisk yang ia temukan itu.

Kimi ingin memeriksa isi dari flashdisk, jika tidak ditemukan data pemilik dan isi yang penting maka ia akan mengambil hak kepemilikan atas flashdisk ini. Kimi langsung disambut oleh data yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Seperti data keuangan sekolah, komite dan lainnya. Lalu Kimi sadar jika pemilik flashdisk ini adalah Park Chorong. Yang menyimpan data berharga milik sekolah.

TBC

Bersambung dulu ya, late update mungkin kedepannya karena author persiapan skripsi nih :”) tetap sabar menanti ya ^^

6 thoughts on “FanFic “Adora” #2

  1. I’am first,
    Pas di part Luhan ngumpul sama Youngmin, JiHoon, dan Minho seketika aku ingat YongJoon, aku ngomong gini “Lah Youngjoon kok nggak di tambahin”
    Trus langsung sadar “Eh! Youngjoon udah mati dengan, aku lupa,”
    Ff ini benar-benar bikin kangen IAOKIM.😢
    Dan yang terakhir. . . . Jadi Luhan nikah sama abunya Yeonsung?? Heoll

  2. jahat banget chorong sama hiyi, sepertinya chorong di sekolah tidak punya teman makanya hiyi jadi korban.hiks
    dan ouhhh yeonsung hadir lagi. sedih banget inget yang dulu.huhuu

  3. Luge kasian bgt smpe nikah sama abunya yeon. Udh bingung mau ngomen gimana ff eoni bnr2 bikin spclss bgt. Sukak bngt pokoknya aku bca smpe brulang ulang ga bkl bosen pokoknya. Btw tunangan luge siaoa wehh, aa tmbh pnsran. Next chap ditunggu okay .hwaitingggg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s