FanFic “Adora” #1


Adora 1

Adora #1 – Return?

Author : Arni Kyo

Main cast : Kim Sunwoo (The Boyz) | Park Yeonhi (OC) | Kim Younghoon (The Boyz) | Wu Kimi (OC) | Park Chorong

Support Cast : Luhan | Wu Yifan | Park Jinyoung | Park Jiyeon Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

~oOo~

“siapa orang yang paling kau cintai? Selagi aku bertanya tentang itu, diam-diam aku berharap kau akan menyebutkan namaku sebagai jawaban”.

Pagi hari di SMA Daeil, hari dimana hasil ujian keluar. Murid berdatangan dari berbagai arah, menyapa guru olahraga yang hari ini bertugas memeriksa kerapian murid didepan gerbang. Memasuki lobi sekolah, beberapa murid berhenti untuk melihat papan mading disana.

Sebuah kutipan yang ditulis dan ditempel oleh anggota redaksi sekolah memang cukup menjadi perhatian. Tak jarang kutipan tersebut menjadi tren disetiap kelas. Seperti yang tertempel hari ini.

“bisakah kau bawa kartu bus mu sendiri? Kenapa terus-terusan menumpang dengan kartuku?”. Oceh seorang gadis dengan tag nama ‘Wu Kimi’ pada temannya.

21224164_114661262602384_7838190104018419712_n

Wu Kimi. Anak bungsu dari 3 bersaudara. Punya dua orang kakak laki-laki. Memiliki pesona tersendiri.

Kim Younghoon tak merespon apapun. Ya, selalu. Jika Kimi memarahinya, ia tidak mengatakan apapun. Bahkan seperti bukan dia yang sedang dimarahi. Kaki panjang Younghoon melangkah mendekati papan mading.

DFEO755VYAAEJpy

Kim Younghoon, berteman dengan Wu Kimi sejak masih kanak-kanak hingga SMA. Ia berencana akan terus mengikuti Kimi hingga ke Universitas. Ketua Redaksi Sekolah, dan ia sangat bangga dengan wajah tampannya.

“wooo… siapa orang yang paling kau cintai?”. Ujar Younghoon. Ia menoleh dan mendapati Kimi juga sudah berdiri disebelahnya. Membaca kutipan yang tertempel dengan kertas berwarna putih dan ditulis dengan tinta merah.

“orang tuaku”. Jawab Kimi lalu tersenyum.

Younghoon mendengus. Tanpa berkata apapun ia melangkah pergi. Meninggalkan Kimi dibelakangnya. Kimi sampai harus berlari kecil menyusul Younghoon menuju kelas mereka.

Kelas sudah ramai. Kelas 11-A memang selalu ramai.

Kelas yang disebut-sebut memiliki murid dengan tipe yang lengkap. Mulai dari murid dengan peringkat tertinggi hingga terendah, murid terpopuler, tercantik, dan paling tampan, ketua OSIS serta ketua redaksi sekolah semua tipe itu ada dikelas ini.

“kenapa juga aku harus menjawab pertanyaanmu?”. Park Yeonhi sewot ketika Kim Sunwoo menanyainya tentang ‘siapa orang yang paling kau cintai?’. Kedua orang ini memang sering terlihat berdebat.

17884631_1870208116565251_2470766743066170272_n

Park Yeonhi. Penulis yang baik dan sering menulis berita yang kontroversional tetapi ia tidak ingin menjadi author.

“kau yang menulisnya, kenapa kau malah tidak mau menjawab ketika kutanya? Menyebalkan sekali”. Balas Sunwoo tak kalah sewotnya. Yeonhi hanya membalas dengan mengernyitkan hidungnya.

Sunwoo melirik bedak milik Yeonhi yang berada diatas meja, lalu dengan cepat Sunwoo mengambil bedak itu. Sengaja mengisengi Yeonhi. “ya! Kim Sunwoo!”. Pekik Yeonhi segera bangkit dan mengejar Sunwoo.

DEDP5W7UAAEGJ8ecrop

Kim Sunwoo, bercita-cita untuk menjadi idol. Bergabung dengan redaksi sekolah karena tidak tahu harus ikut club mana setelah dikeluarkan dari club sepak bola.

“berhentilah memakai make up, kau terlihat mengerikan!”. Ejek Sunwoo sambil terus berlari – menghindari Yeonhi. Ia mengangkat tinggi-tinggi bedak milik Yeonhi yang ia ambil tadi.

Yeonhi menjinjit berusaha mengambil kembali bedak miliknya. Namun tangannya tak sampai dan Sunwoo tidak menyerah begitu saja untuk mengembalikan bedak Yeonhi. “cepat kembalikan! Aku baru membelikan kemarin!”. Rengek Yeonhi.

Kimi melihat kedua temannya saling berebut sesuatu didepan kelas orang lain. Kimi hanya bisa berdecak. Masih pagi sekali dan Sunwoo sudah mengganggu Yeonhi, pikirnya. Younghoon telah lebih dulu memasuki kelas dan duduk nyaman dikursinya. Kimi memasuki kelasnya, duduk dikursinya yang berada tepat didepan kursi Younghoon. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Mencari seseorang.

Tak lama kemudian Park Chorong muncul dari pintu kelas. Gadis itu langsung tersenyum pada Kimi yang kebetulan melihatnya.

ikhh6navlvkf7tumdqyoolajhxmz4zm5_hq

Park Chorong. Anak satu-satunya dari Direktur SMA Daeil.

Chorong duduk dikursinya. Menoleh kebelakang dan mendapati kursi Yeonhi kosong tetapi tasnya digantung disamping meja. Chorong menoleh pada Kimi. “Hiyi?”.

“bersama Sunwoo”. Kimi menoleh kearah pintu, member kode pada Chorong jika kedua orang itu berada diluar kelas.

Chorong hanya mengangguk. Hanya dengan sedikit bicara saja ia sudah mengerti apa yang Kimi maksud. Mereka terbiasa seperti ini. apalagi jika sudah menyangkut Yeonhi dan Sunwoo. Chorong tahu – semua orang dikelas tahu tentang kedua orang itu.

Sementara itu, Sunwoo masih tidak mengembalikan bedak milik Yeonhi. Hampir saja gadis itu menyerah dan ingin kembali ke kelas saja. Memalukan sekali merengek dikoridor demi sebuah bedak. Tapi ia mengurungkan niatnya ketika Sunwoo menurunkan tangannya dan hendak mencoba bedak itu.

“Sunwoo’ya~”. rengek Yeonhi.

“’oppa juseyooo’ haebwa”. Ujar Sunwoo menyuruh Yeonhi aegyo.

Yeonhi mendengus. “menggelikan sekali, sungguh”.

Tanpa Sunwoo sadari, seseorang mengambil bedak yang ia pegang dari belakang nya. Dapat. Dan – “ini”. ujarnya. Bang Jaemin – siswa kelas 11-B yang merupakan kekasih Wu Kimi. Jaemin memberikan bedak itu pada Yeonhi.

Buru-buru Yeonhi mengambil barang miliknya itu lalu menjulurkan lidahnya pada Sunwoo. “terima kasih, Jaemin’ah”. Ujar Yeonhi kemudian berlarian kembali ke kelasnya.

Sunwoo berdiri sambil berkacak pinggang. Kesal sekali karena Jaemin membantu Yeonhi. Sedangkan Jaemin hanya tersenyum penuh arti pada Sunwoo. “eishh… apa-apaan dia?”. Umpat Sunwoo.

Jaemin memasuki kelas 11-A tentu saja untuk menemui Kimi. Tanpa ragu ia melangkah menuju kursi Kimi. “Kimi’ah”. Sapanya..

aigoo ~ masih pagi sekali dan kalian sudah ingin pamer kemesraan?”. Ujar Sunwoo sewot sendiri. Ia baru saja kembali ke kelas dan langsung menyela orang.

“diam kau”. Dengus Kimi. “ada apa?”. Tanya Kimi pada Jaemin. Suara nya langsung berubah ketika berbicara dengan Jaemin.

“pulang sekolah nanti temani aku, ya?”. ajak Jaemin.

Kimi tersenyum lebar. “baik –“.

andwae!”. Seru Younghoon. berhasil membuat teman-temannya heran. Kimi sampai menganga, berlum sempat ia menyelesaikan kata-katanya dan Younghoon menyeru. Younghoon diam sejenak, menoleh pada teman-temannya yang menatapnya heran.

Yeonhi menggerakkan tangannya seolah bertanya ‘kenapa?’.

“Younghoon’ah”. Kimi hendak protes. Merasa jika Younghoon melarangnya barusan.

“tidak bisa, Jaemin’ah. Tidak hari ini ataupun besok karena kami harus rapat”. Ujar Younghoon.

Sunwoo menoleh dengan raut wajah bingung. “rapat apa? rasanya kita tidak ada jadwal rapat dalam seminggu ini”. ujarnya lalu menoleh pada Chorong yang merupakan sekretaris redaksi.

Chorong mengerti lalu membuka buku catatannya. Memeriksa jadwal yang ia tulis sesuai dengan kesepakatan. “benar. tidak ada rapat minggu ini”. ujar Chorong.

Younghoon memutar matanya. “itu – ya, terserah padaku. aku kan ketuanya, pokoknya hari ini kita akan rapat jadi, Kimi, kau tidak bisa pergi hari ini”. balas Younghoon.

Kimi mendengus kesal. Bibirnya melengkung kebawah. “bagaimana kau bisa bertindak sesukamu seperti itu?!”. Geramnya.

“tidak apa-apa, Kimi’ah, lain kali saja”. Ujar Jaemin sambil tersenyum. Lalu ia pun pergi dari kelas 11-A.

Begitu pula dengan Younghoon. Lelaki bertubuh tinggi itu beranjak dari kursinya. “ya! mau kemana? Sebentar lagi bel masuk”. Ujar Sunwoo.

“Sunwoo’ah, sudahlah”. Sahut Yeonsung sambil menggeleng pelan. Memberitahu agar Sunwoo tidak usah ikut campur. Untunglah Sunwoo menurut saja kali ini, ia kembali menghadap ke depan dan menyalakan handy fan.

Luhan kembali kesekolah lamanya.

Sebagai seorang guru. Meskipun usianya sudah menginjak 28 tahun, Luhan tetap terlihat tampan. Dengan kacamata menghiasi wajahnya. Kemeja lengkap dengan dasi dan jas, khas seorang guru. Luhan berjalan dengan penuh keyakinan bersama wali kelas 11-A yang akan ia masuki hari ini.

Luhan mendongak melihat papan kelas yang dipasang diatas pintu. Ia tersenyum. Pintu kelas dibuka oleh Pak Lee. Seketika murid-murid diam. kedua pria itu memasuki ruang kelas. Beberapa siswi terlihat menganga melihat Luhan.

Pak Lee menggelengkan kepalanya melihat ekspresi murid-muridnya. “seperti yang kalian ketahui, guru bahasa Mandarin yang lama telah pindah ke sekolah lain, jadi hari ini saem membawa pengganti guru bahasa Mandarin”. Ujar Pak Lee, menoleh pada Luhan.

Luhan tersenyum lalu membungkuk. “selama pagi semuanya, saya Luhan, guru bahasa Mandarin yang baru”. Luhan memperkenalkan dirinya dengan bahasa Mandarin.

“baiklah”. Ujar Pak Lee sambil mendesis. Lalu matanya menangkap sosok Yeonhi yang tampak tak memperhatikan ke depan. Gadis itu malah menatap ke luar jendela. “Park Yeon”. Panggil Pak Lee.

Seketika Luhan tersentak. Senyumannya pudar. Menoleh pada Pak Lee yang saat itu tengah menatap kearah belakang kelas. Luhan mengikuti pandangan Pak Lee. Disaat yang bersamaan, Yeonhi menoleh karena namanya dipanggil.

Mata Luhan membelalak. Napasnya tercekat ditenggorokan. Jantungnya berpacu dengan cepat. Gadis itu – Park Yeon?

ne, saem?”. Sahut Yeonhi.

“kemana kau melihat? Ada guru yang sedang berbicara dan kau malah menatap keluar jendela. Apakah jodohmu ada diluar sana?”. Oceh Pak Lee.

Seketika ruang kelas menjadi riuh. Yeonhi tersenyum manja. “aku sedang menunggu superman lewat saem”. Jawab Yeonhi. Para murid tertawa mendengar jawaban itu.

Pak Lee berdecak. Ia sudah biasa bercanda dengan murid-muridnya jadi ia bisa menerima gurauan Yeonhi. Lagipula ia tidak mau terlalu sering mengoceh pada murid pintar dengan penuh percaya diri seperti Yeonhi.

“Lu saem, kau bisa memulai pelajaran. Aku permisi”. Ujar Pak Lee. Membuyarkan lamunan Luhan.

“b-baiklah, terima kasih, saem”. Luhan membungkuk pada Pak Lee sebelum pria itu keluar dari kelas. “baiklah, em, kalian sudah belajar sampai dimana?”. Tanya Luhan.

saem, karena ini hari pertamamu mengajar, kenapa tidak perkenalan saja dulu untuk mendekatkan diri?”. Ujar Kimi.

Murid yang lain menyetujui saran dari Kimi. Luhan tersenyum hampa. Sesekali matanya melirik pada Yeonhi. Tangannya membolak-balik lembaran buku namun tatapannya tak bisa lepas dari gadis itu.

“baiklah, sebaiknya aku mengabsen kalian dulu”. Luhan membuka buku daftar siswa dan mencari nama Park Yeon disana. Ia menemukannya. “Park Yeonhi”. Gumamnya.

Benar-benar mirip. Gadis bernama Park Yeonhi itu benar-benar mirip dengan Park Yeonsung. bahkan Luhan berkali-kali menyadarkan dirinya. Barangkali ia berkhayal karena kembali ke sekolah lamanya dan kembali mengingat Park Yeonsung. sempat terpikir olehnya mungkinkah Yeonsung sedang menghukumnya sekarang dan membuat wajah Yeonhi seolah mirip dengan Yeonsung dalam pandangan Luhan.

saem, apa kau sudah punya kekasih? Istri?”. Celetuk salah seorang siswi.

“kalaupun tidak ada, memangnya kau mau apa?”. sahut Sunwoo.

“eish… kau ini menyebalkan sekali”.

Luhan terkekeh. Lalu ia melirik sebuah cincin yang melingkar dijari manisnya. “aku sudah bertunangan”. Jawab Luhan kemudian.

Para siswi melenguh mendengar jawaban itu. Seolah orang yang mereka tanyai adalah kakak kelas yang super keren. Dimana jika misalnya Luhan single maka mereka bisa mendaftar untuk menjadi pacar atau setidaknya berkencan.

Luhan menyusuri lorong yang diapit rak buku. Ia pergi mengunjungi perpustakaan setelah kelas selesai. Luhan mencari buku tahunan siswa disana. Ia menarik sebuah buku tahunan dari deretan buku lainnya. Dengan cepat Luhan membuka buku itu. Mencari poto Yeonsung disana.

Nihil.

Luhan tidak menemukan poto Yeonsung disana. Tentu saja tidak. Karena Yeonsung tidak bertahan hingga lulus dari sekolah. Luhan tahu ia tak akan menemukan poto gadis itu disana. Namun ia merasa harus memastikannya sendiri. Luhan kecewa, ia hendak mengembalikan buku tersebut ke rak.

Lalu sebuah lembaran terjatuh. Luhan memungut kertas tersebut. Ternyata itu adalah sebuah poto.

“Park Yeon”. Gumam Luhan.

Luhan membalikkan poto tersebut dan menemukan coretan disana. ‘aku menyelipkan ini karena aku tahu dia tidak ada didalam poto tahunan siswa. Park Yeonsung – 10-B’. Luhan mencelos membaca tulisan itu.

“siapa yang melakukan ini?”. gumamnya. Siapapun itu, Luhan berterima kasih. Ia memandangi poto tersebut. Poto saat Yeonsung pertama kali masuk SMA. Ia benar-benar polos dengan senyum simpulnya itu. Luhan tertawa pelan.

Setelah puas memandangi poto tersebut, Luhan mengembalikannya ke dalam buku. Bagaimanapun ia tak ingin merusak tujuan dari si pelaku yang menyelipkan poto ini didalam buku tahunan siswa. Pasti orang tersebut ingin agar Park Yeonsung juga masuk ke dalam sebuah kenangan meskipun ia sudah tiada.

saem”. Sapa seseorang.

Luhan menoleh. Terkejut bahkan hampir berlonjak. “kau mengagetkanku”.

Yeonhi menatap intens pada Luhan. Sambil melangkah mendekat, ia melirik deretan buku tahunan yang ada dihadapan Luhan. “kau alumni dari sekolah ini?”. Tanya Yeonhi.

“ah, itu, iya. Aku lulusan sekolah ini”. jawab Luhan.

Yeonhi hanya mengangguk. Lalu ia berbalik menghadap rak buku yang ada dibelakangnya. Memilih-milih buku disana. “kenapa kami harus belajar bahasa Mandarin?”. Tanya Yeonhi tanpa menoleh pada Luhan.

“apa?”.

“nilai bahasa Korea saja masih dibawah target, kenapa kami harus belajar bahasa asing?”. Tanya Yeonhi lagi. Tangannya memegang sebuah buku puisi.

“sebelum hangul ditemukan, kerajaan menggunakan huruf piyin. Mungkin karena itu”. Jawab Luhan.

Yeonhi mengerutkan keningnya. Lalu ia tertawa pelan. “baiklah, mungkin benar karena itu”. Ujarnya kemudian. Yeonhi melangkah pergi.

Luhan terus menatap gadis itu. Benar-benar mirip dengan Park Yeonsung. hanya saja, Park Yeonsung tidak berbicara dengan nada seperti itu. Gadis itu aneh. Selalu menggunakan sarkasme untuk menjawab orang lain dan Yeonsung memiliki tatapan polos seperti seorang anak kecil.

Ruangan redaksi sekolah. Sejak tadi Younghoon duduk diam dikursinya dengan mata terpejam namun tidak tidur. Sedangkan Kimi menghadap ke papan tulis sambil mengumpat kesal. Bagaimana tidak kesal? Younghoon berkata akan ada rapat pengurus redaksi sekolah setelah pulang sekolah. Kimi bahkan dilarang pergi bersama Jaemin. Dan faktanya. Tak ada rapat. Mereka bahkan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing diruangan ini sekarang.

“Hiyi’ah, bagaimana jika minggu nanti kita pergi?”. Tawar Sunwoo setelah bosan dengan ponselnya.

Saat itu Yeonhi sedang sibuk membaca buku yang tadi ia pinjam dari perpustakaan. “tidak”.

“kau sudah menolak ku puluhan kali. Padahal jika kita berkencan, Younghoon tidak akan melarang”. Celetuk Sunwoo.

Kaki Yeonhi bergerak reflek menginjak kaki Sunwoo dengan cukup keras hingga lelaki itu meringis. “akh! Kenapa kau menginjak kakiku?”.

Yeonhi menoleh, menatap Sunwoo lalu tersenyum tanpa dosa. “maaf, kupikir tikus dibawah sana”. Jawabnya dengan penekanan nada. Mengkode agar Sunwoo tidak bicara soal kencan saat ini.

“aku harus les sekarang”. Ujar Chorong sambil menatap jam tangannya. Ia menatap Younghoon berharap si ketua mendengar perkataannya.

“benar. pergilah les”. Jawab Younghoon masih dengan mata tertutup.

Kimi langsung menoleh, matanya seperti seekor singa lapar yang siap menerkam mangsanya. “bagaimana denganku?”. Tanya Kimi.

Younghoon membuka matanya. “kau? Kenapa?”. Younghoon balik bertanya seolah tidak pernah tahu tentang ajakan Jaemin kepada Kimi hari ini. “Chorong’ah, pergilah les. Jika kau bolos les, aku akan kena masalah”.

Chorong bangkit dari tempat duduknya, menyampirkan tasnya di pundak. “aku pergi dulu, ya”. pamitnya lalu bergegas meninggalkan ruangan. Kimi hanya bisa menatap sedih ketika Chorong pergi tanpa hambatan.

“aku juga harus pergi Younghoon’ah”. Rengek Kimi.

“kemana?”.

“bersama Jaemin”.

Younghoon berdehem, lalu ia meletakkan tangannya diatas meja. “kupikir Jaemin sudah pergi sejak tadi, tinggallah disini, rapat akan mulai”. Ujar Younghoon sambil mengetukkan jarinya dimeja, member isyarat agar Kimi duduk dikursinya.

Dengan perasaan yang teramat kesal. Kimi duduk dikursinya. Yeonhi menutup buku sastranya karena berpikir rapat akan dilaksanakan. “Hiyi, kau punya materi?”.

ne?”.

“tidakkah kau punya sesuatu yang harus kau sampaikan pada kami hari ini?”.

Yeonhi diam sejenak, berpikir apa ada yang harus ia sampaikan. Sampai ia teringat akan sesuatu. “ah, Lu saem. Tidakkah kalian merasa jika dia melihatku dengan tatapan yang eerrr…”.

“maksudmu dia melihatmu dengan tatapan ‘suka’ seperti itu?”. Potong Sunwoo.

“tidak, sih”. Sanggah Yeonhi. “kalian tidak lihat? Dikelas saat mengajar dia sering melirikku, aku jadi takut”.

Younghoon menganggukkan kepalanya seolah benar-benar mengerti permasalahan Yeonhi. Sementara Kimi hanya diam dan melirik teman-temannya dengan tangan terlipat dibawah dada.

“kau saja yang kegirangan”. Ujar Sunwoo lagi dengan nada kesal.

“aku tidak kegirangan seperti yang kau katakan”. Selah Yeonhi. Sunwoo tersenyum miring, ingin membuat Yeonhi mengamuk.

“menurut informasi yang kudapatkan, Lu saem ternyata alumni dari sekolah ini”. ujar Younghoon.

Yeonhi menunjuk-nunjukkan jarinya. “benar. dia memang alumni sekolah ini, tadi aku bertemu dengannya di perpustakaan dan dia sedang melihat album tahunan”.

“nanti saja kita selidiki masa lalunya. Rapat selesai”.

“apa?”. Kimi menautkan alisnya. Tak percaya. Younghoon tak bergeming, ia berdiri dan menyampirkan tasnya. “ya! kau bercanda? Rapat – apa-apaan?”.

Younghoon meraih tas milik Kimi, lalu merangkul gadis itu. Mereka meninggalkan ruangan redaksi. Kimi benar-benar kesal. Rapat hanyalah alasan agar ia tidak pergi dengan Jaemin. Ia hanya tidak mengerti mengapa Yeonhi, terutama Younghoon tidak suka dengan hubungannya dan Jaemin.

Kimi membuka payungnya, untung saja ia membawa payung. Tadi pagi, kakaknya – Wu Yifan berkata jika hari ini hujan, jadi ia memberikan payung pada adiknya.

“biar aku yang pegang”. Ujar Younghoon, belum mendapat ijin dari Kimi saja ia langsung merebut payung yang Kimi pegang.

“ya!”.

“ayo pulang nanti hujan semakin deras”. Younghoon melangkah turun dari tangga didepan lobi.

Kimi tak mau kehujanan dan ia hanya bawa satu payung. Jadi mau tak mau ia berjalan dibawah payung miliknya yang dipegang oleh Younghoon. “besok bawa payung sendiri. Menyebalkan sekali, selalu saja menumpang denganku”. Umpat Kimi.

Kedua orang itu berjalan semakin jauh. Tinggallah Yeonhi dan Sunwoo yang masih berdiri didepan lobi sekolah. Yeonhi mengulurkan tangannya, membiarkan tetesan air hujan membasahi jemarinya. Sunwoo melihat apa yang Yeonhi lakukan, lantas ia juga mengulurkan tangannya.

“sepertinya hujan akan turun hingga malam”. Ujar Yeonhi. Ia menoleh pada Sunwoo dan memberikan payungnya pada lelaki itu.

“cih…”. Sunwoo menatap sekilas payung biru yang Yeonhi berikan. Lantas ia mengeluarkan payung miliknya dari dalam tas. “lihat, aku bawa sendiri”. Ujarnya.

“oh, begitu”.

Sunwoo membuka payungnya. “kau pikir aku akan menerima payungmu lalu membiarkanmu pulang dalam hujan lagi?”.

Yeonhi membelalakkan matanya. “bagaimana kau tahu –“.

“tentu saja aku tahu”. Sunwoo mengangkat dagunya, berlagak sombong karena tahu hal yang Yeonhi sembunyikan. Ketika hujan turun, Yeonhi akan memberikan payungnya pada Sunwoo. Mengatakan jika ia akan pulang dijemput oleh kakak perempuannya. Namun faktanya, Yeonhi pulang kehujanan.

“Hiyi’ah”. Panggil Chorong ketika Yeonhi baru saja masuk ke lobi sekolah. Gadis berparas cantik itu melambaikan tangannya ke Yeonhi, menyuruh Yeonhi untuk segera datang padanya.

“ada apa?”. Tanya Yeonhi ketika tiba didepan Chorong.

Chorong menunjuk papan pengumuman. “nama-nama untuk murid yang akan ikut kelas khusus sudah diumumkan”. Ujar Chorong.

Dengan semangat Yeonhi menengok ke papan pengumuman itu. Matanya teliti membaca satu per satu nama dari 20 murid terpilih yang ada didaftar. Senyumannya pudar, namanya tidak ada didalam daftar itu. “Chorong’ah, apakah ini benar daftarnya?”.

“benar. aku melihat sendiri wakil kepala sekolah menempelkan kertas ini disini”. Jawab Chorong.

Yeonhi menggigit bibirnya sendiri. Bagaimana bisa namanya tidak ada didaftar? Yeonhi meneliti sekali lagi. Ia menemukan nama Wu Kimi, Park Chorong dan Kim Sunwoo disana. Dahinya berkerut bingung.

“oh? Sedang melihat apa?”. Sunwoo yang baru saja tiba langsung menghampiri kedua gadis ini. tak ada seorangpun yang menjawabnya, lantas Sunwoo melihat kertas yang tertempel di papan pengumuman. “huh? Kenapa namaku tertulis disana?”. Sunwoo kebingungan.

“tsk!”. Desis Yeonhi. Tanpa mengatakan apapun gadis itu melangkah pergi. Menuju lantas atas.

“Hiyi’ah”. Panggil Chorong.

“ini pasti ulah ibuku”. Sunwoo buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menelpon ibunya. “eomma”. Sunwoo berjalan menjauh keluar dari gedung sekolah agar bisa leluasa berbicara dengan ibunya ditelpon.

Chorong menoleh kekiri dan kanan, kedua temannya pergi dari sana.

Tanpa permisi. Park Yeonhi membuka pintu ruangan kepala sekolah. Sontak kepala sekolah yang saat itu sedang ada tamu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Direktur sekolah ini, langsung menoleh ke arah pintu. Yeonhi telah berdiri disana seperti penampakan. Sesaat kemudian Yeonhi melangkah masuk dan kembali menutup pintu.

“tidak sopan. Bagaimana bisa kau masuk seperti itu?”. Oceh kepala sekolah.

“apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin kau tidak menuliskan namaku didalam daftar murid untuk kelas khusus?”. Tanya Yeonhi langsung pada intinya.

Pak kepala sekolah Shin berdiri. Tak percaya jika Yeonhi berbicara padanya seakan menantang. “lihat dengan siapa kau bicara sekarang, Park Yeonhi!”. Amuk Pak Shin.

“Shin songsaengnim, tinggalkan kami berdua. Aku perlu bicara dengan gadis ini”. ujar Direktur Park.

“Tapi –“.

“tidak apa-apa”.

Mau tak mau kepala sekolah Shin keluar dari ruangannya itu. Membiarkan Direktur Park berbicara dengan Park Yeonhi. Barangkali gadis itu akan mendengar jika Direktur yang berbicara langsung dengannya.

“syaratkan mendapat nilai tertinggi setiap ujian dan pretest, lalu mengapa aku tidak masuk ke kelas khusus?”. Lagi, Yeonhi bertanya.

Direktur Park tersenyum simpul. “aku suka karena kau gadis yang pintar. Tetapi, siapa peduli dengan syarat formalitas?”.

“apa?”.

“Park Yeonhi, orang tuamu tidak ikut komite”. Ujar Direktur Park. Yeonhi tersentak. “seharusnya tetap bisa bersekolah disini, kau bersyukur. Terbebas dari biaya sekolah dan malah mendapatkan uang”. Tambah pria itu.

Yeonhi mengepalkan tangannya erat. Sorot mata tajamnya menatap geram pada Direktur Park yang saat ini malah dengan santainya menyeruput teh tanpa gula yang dihidangkan untuknya. “kau tahu putrimu tergantung padaku, kau tahu jika aku ingin masuk ke Universitas Sogang”.

“aku tahu”. Pak Park mengangguk. “tapi, untuk masalah ini benar-benar tidak bisa. Semua orang tua yang ikut komite sudah rapat dan membayar agar anak mereka masuk ke kelas khusus ini”.

“aku akan melaporkan semua ini ke departemen pendidikan”.

“silahkan saja. Kau tidak punya bukti”. Pak Park berdiri, merapikan jasnya. “jika kau bahkan melaporkan masalah ini, mereka akan menganggapmu sebagai siswi yang memberontak. Melaporkan sekolahnya sendiri tanpa bukti yang jelas. Nilai evaluasimu juga berpengaruh”.

“aku tidak akan meneruskan pertemananku dengan Chorong. Terserah kau saja, sajangnim”. Desis Yeonhi. Ia melangkah pergi.

“bagaimana jika –“. Ujar Pak Park. Langkah Yeonhi kembali terhenti. “kau masuk ke kelas khusus untuk membantu Chorong belajar”.

Yeonhi menoleh, menatap Pak Park dengan heran. Ia tak bergeming. Memikirkan tawaran tersebut.

Yeonhi keluar dari ruangan kepala sekolah. Ia melangkah mendekati jendela koridor yang berhadapan langsung dengan lapangan sekolah. Senyuman miring terukir diwajahnya. “dengan seragam yang sama kita pergi ke sekolah ini. status kita semua sama, seorang murid. Namun mengapa menjadi berbeda jika sudah berbicara soal keluarga. Sialan”.

Tanpa Yeonhi sadari, Luhan baru saja tiba dan hendak pergi ke ruang guru melihatnya dari jarak 10 meter. Seperti déjà vu ketika Luhan melihat gadis itu berdiri didekat jendela dan memandang keluar. “Park Yeon?”. Gumam Luhan.

Yeonhi bergerak. Hendak beranjak dari tempatnya sekarang. Namun ia berhenti ketika melihat Luhan berdiri tak jauh darinya. Dengan tatapan yang tidak bisa ia definisikan. Ada siratan rindu dan kesedihan disana.

TBC

Sekian dulu untuk chapter pembuka. Ohya sedikit pendek ya? hehehe.. tunggu saja chapter selanjutnya.

 

 

 

10 thoughts on “FanFic “Adora” #1

  1. What what … ???
    Ini lanjutan cerita dari iaokim 😱😱😱😱😱
    Demi apa setelah sekian lama tak punya kuota buka web kak arni dapet cerita baru 😆😆😆😆😆
    Uyeeeaah. Aku seperti baru keluar dari cangkang 🙌🙌

  2. Aigooo, Joha deh sama ff ini,
    Sekilas aku kayak nonton drama Korea deh, ada permainan yang melibatkan uang, harta, keluarga dan teman disini.
    Cast nya bagus yaa buat kesehatan mata,, neomu Joha

  3. Waaaaaa flasback bikin miris bacanya. Kasian luge yeonhi kaya rengkarnasinya si yeonsung gituya eonn. Pas bngt baca part ini smbil dngerin lagunya luge yg mellow. Ayo ayo next chap eon aku udah penasaran bnget hehe

  4. Q baru baca, bacanya agak hati2, soalx castnya baru.. Heheheh…msh bLm hafal…apa mngkn ceritanya ky dl lg, tp lebih fresh, flash back, Semoga yeonhi Jd pengobat rindu lu han gege

  5. ko aku jadi suka nya ke kimi sama younghoon ya.kkk~
    mereka lucu imut gimana gitu.hahaha
    kimi nya gak nyandar juga lagi, saking polosnya.
    jangan terlalu mandangin hiyi begitu ge nanti di sangka guru mesum.hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s