FanFict “Iaokim” #12


Iaokim 3

Iaokim #12

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Oh Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12

~oOo~

Tak ada yang bisa ia lakukan saat jam olahraga, duduk dipinggir lapangan dan melihat teman-temannya bermain bola. Yeonsung berpura-pura sakit – sebenarnya, tidak berpura-pura karena ia memang sedang tidak enak badan. Dan guru olahraga juga mengijinkannya untuk tidak ikut pelajaran.

Tuk

Seseorang meleparkan batu krikil dan mengenai lengan Yeonsung. sontak gadis itu menoleh kearah semak-semak dimana krikil itu berasal. Dan Yeonsung menemukan Luhan disana. Luhan melambaikan tangannya. ‘kemari’. Ucapnya tanpa suara, Yeonsung bisa membaca gerakan bibirnya.

Uh…

Bibir itu yang menciumnya dengan hangat saat ia menangis malam itu. Yeonsung melirik guru olahraga yang masih sibuk bermain bola bersama anak laki-laki. Merasa aman, lantas Yeonsung mengendap-endap keluar dari lapangan dan menghampiri Luhan.

“ada apa?”.

“aku membolos kelas”.

“bagus. Semoga kau tidak lulus nanti”. Yeonsung hendak berdiri dari jongkoknya, namun Luhan menahan tangan Yeonsung hingga gadis itu kembali berjongkok.

“aku membolos karena kau”.

Yeonsung mendengus. “jika untuk alasan yang buruk, tolong jangan jadikan aku sebagai alasan”. Ujar Yeonsung dengan nada tak suka.

“baiklah, maaf, aku membolos karena bosan. Lagipula aku jenius jadi aku akan lulus dengan nilai terbaik”. Ucap Luhan sombong.

“aku bisa kena masalah jika tiba-tiba menghilang”. Yeonsung memberi kode jika ia tak nyaman berbicara seperti ini dibalik semak-semak dengan pelaku kejahatan seperti Luhan. “pergilah, temui orang lain saja”. Usir Yeonsung.

“Park Yeon”. Luhan enggan membiarkan Yeonsung pergi. Begini kan yang Seungri maksud? Maka Luhan tak akan ragu lagi. Ia akan merangkul – tidak, Luhan ingin memeluk gadis itu tanpa ragu. “nanti malam kau ada acara tidak?”.

Beberapa baju dikeluarkan dari lemari dan kini berserakan diatas tempat tidurnya. Yeonsung sibuk memilih baju yang akan ia pakai untuk pergi menemui Luhan. Berkali-kali ia mencoba baju kemudian berganti lagi, lagi, dan lagi. Hingga ia tersadar.

“kenapa aku harus bersiap seperti ini, astaga”. Yeonsung melempar baju yang hendak ia pakai. Menatap dirinya didepan cermin.

Akhirnya ia memutuskan untuk memakai baju yang biasa saja. Lagipula ini bukan kencan. Luhan hanya mengajaknya pergi bukan untuk kencan. Setelah bersiap, segera Yeonsung pergi dari rumah. Ia tahu jika sudah telat, tapi tidak apalah jika pria yang menunggu.

Ketika Yeonsung tiba ditaman dekat rumahnya, Luhan sudah menunggu disana. Sendirian. Duduk diatas ayunan.

“ya!”. seru Yeonsung.

Luhan menoleh lalu tersenyum. Tanpa mengatakan apapun, Luhan melambaikan tangannya pada Yeonsung, menyuruh Yeonsung mendekat.

Kaki nya bergerak reflek mendekati Luhan, ia pun duduk diatas ayunan disebelah Luhan. “kau lama sekali, kupikir kau tidak akan datang”.

“aku tertidur tadi”.

Tiba-tiba Luhan mengulurkan tangannya, mengusap sudut bibir Yeonsung dengan ibu jarinya. “pasti mengantuk sekali sampai kau memakai lipstick meleset seperti ini”. ujar Luhan.

Wajah Yeonsung memanas. Ia tak berani menebak apakah wajahnya memerah atau tidak sekarang. “ah, ya, begitulah. Luhan, ngomong-ngomong aku lapar”.

“aku memang akan mengajakmu makan, sekalian temani aku bertemu dengan seseorang”.

Seperti biasa, seperti tak pernah jera, Euina pergi ke tempat karaoke malam ini. sendirian. Sengaja tidak mengajak temannya. Karena ia tidak punya uang lagi setelah ibunya mengambil ATM dan kartu kreditnya. Maka Euina pergi, berharap mendapat uang setidaknya mendapat traktiran dari pelanggan di tempat karaoke.

Euina sedang bernyanyi bersama beberapa lelaki yang tidak ia kenal. Ia tampak begitu senang sampai Yongjoon masuk ke dalam ruangan itu. Euina belum menyadari kehadiran Yongjoon. Secara bersamaan pria yang bernyanyi bersama Euina keluar dari ruangan.

oppa eodieka?”. Euina berusaha menahan pria yang menyanyi bersamanya. “kyaaa!”. Pekiknya ketika menoleh dan melihat Yongjoon.

Tinggallah Yongjoon dan Euina saja berdua didalam sana.

Dengan santai Yongjoon duduk dikursi. Membuka kaleng beer lalu menyeruputnya. “kenapa kau berhenti menyanyi?”. Tanya Yongjoon dengan tatapan mengejek.

“apa yang kau lakukan disini?”.

“aku tidak tahu sekarang kau beralih profesi jadi pemandu karaoke”. Ujar Yongjoon.

Euina berdecak, ia meraih tas nya dan hendak pergi. Tapi ketika ia berusaha membuka pintu, ternyata pintu sudah dikunci dari luar. “apa yang kau inginkan Yongjoon’ah?”.

“aku tahu kau yang berupaya mencelakaiku. Aku mendapat cidera dibahu, sakit sekali, kau tahu? Untung saja aku tidak mati”. Ujar Yongjoon.

“aku memang tidak ingin kau mati, karena kau seharusnya menderita terlebih dulu sebelum akhirnya mati”. Balas Euina.

Yongjoon berdiri. Mendekati Euina. Membalikan tubuh gadis itu lalu memojokkannya. Euina hanya diam dengan tubuh terpojok didepan pintu ruangan. “kau kurang belaian, ya? ingin aku meniduri mu, huh?”.

“tidak sudi”. Desis Euina.

“padahal aku sedang ‘ingin’”.

Euina tersenyum miring. “dimana pelacurmu? Apa dia sudah bosan melayanimu? Oh – atau mungkin ‘milikmu’ sekecil ini?”. Euina mengangkat tangannya, mengacungkan jari tengahnya pada Yongjoon.

Plakk

Tanpa ragu Yongjoon melayangkan sebuah tamparan pada Euina. Gadis itu terhuyung ke samping. “aku sudah cukup bersabar, Euina’ya”. Yongjoon mencengkram rahang Euina dengan kuat.

Euina tertawa sinis. “Yongjoon’ah, jangan katakan jika sekarang kau menyerah pada Yeonsung dan mulai menyukainya”.

“itu urusanku”.

“jadi benar”. Euina menepis tangan Yongjoon darinya. “ternyata kau lemah. Bagaimana bisa kau menyukai gadis yang tidak seberapa itu?”.

“Euina!”.

Euina melipat tangannya dibawah dada. Memasang pipinya, siap untuk dipukul lagi. “kenapa? Kau marah karena perkataanku benar? jadi kau sudah lupa jika awalnya kau hanya menganggap gadis itu mainan? Kupikir kau cukup tega untuk mempermainkannya”.

“tutup mulutmu, jalang!”.

Plakk

Sekali lagi Yongjoon melayangkan sebuah tamparan. Kali ini Euina benar-benar jatuh tersungkur kelantai. Dari selah rambutnya, Euina dapat melihat bagaimana Yongjoon marah saat itu.

“kau pernah bilang jika ibumu sering memukulmu. Itu berarti kau bisa menahan sakitnya ketika dipukul, bukan”. Ujar Yongjoon.

Setelah itu ia mengetuk pintu memberi kode agar dibukakan. Tak lama pintu dibuka. Yongjoon pun keluar dari ruangan itu. Ia berhasil menjebak Euina. Ya, setidaknya bisa membalas perbuatan Euina meskipun tidak setara dengan apa yang telah Euina lakukan.

Seseorang yang ingin Luhan pertemukan dengan Yeonsung adalah ayahnya, Lu Hwang. Mereka makan malam bersama di sebuah restoran China. Yeonsung tidak tahu harus berkata apa, sejak tadi ia hanya duduk diam sambil menunggu makanan datang.

“jadi, kau Park Yeonsung?”. Tanya Lu Hwang.

“ya, appa ku yang memberikan nama itu”.  Jawab Yeonsung.

Lu Hwang mengangguk. “aku tahu appa mu sudah tiada, jadi maukah kau memanggilku ‘baba’ seperti Luhan memanggilku?”.

Yeonsung menoleh pada Luhan seolah meminta jawaban. Tapi Luhan malah mengindikkan bahunya. “jika aku memanggilmu ‘baba’ itu berarti aku dan Luhan bersaudara. Tapi, aku tidak mau bersaudara dengan orang seperti dia”.

“ya~”. Luhan hendak protes.

“aku juga, sebenarnya tidak mau punya anak seperti dia”. Sahut Lu Hwang. Ikut mem-bully Luhan.

baba”.

Lu Hwang tertawa bahagia. Menggoda Luhan benar-benar kebahagiaan tersendiri baginya. “lebih baik aku punya anak perempuan saja daripada anak lelaki yang nakal seperti kau”. Ujar Lu Hwang lagi.

“eish… aku pergi saja”. Luhan berdiri.

“jadi, Yeonsung, umur mu berapa sekarang?”.

“17 tahun, sebentar lagi aku ulang tahun”.

“kau punya minat dan bakat? Atau hobi mungkin?”.

Luhan kembali duduk. Meminum air putih dari gelasnya. Menatap kesal pada ayahnya yang acuh padanya.

“aku suka musik, aku pemain Cello”.

Lu Hwang mengangguk. Cello? Mengingatkannya pada istrinya. Tetapi Lu Hwang tidak mengungkapkan perasaannya itu didepan Luhan dan Yeonsung. ia beralih menoleh pada Luhan. “kau tidak jadi pergi?”.

“jadi kau ingin aku benar-benar pergi? Cih… tega sekali. Aku sudah membawa Yeonsung kemari, lalu kau dengan kejamnya menyuruhku pergi?”. Oceh Luhan.

“bukankah tadi kau sendiri yang ingin pergi?”. Lu Hwang memasang wajah datarnya. “benar, kan, Yeonsung? tadi dia sendiri yang berkata akan pergi”.

Yeonsung mengangguk pasti. “benar. tadi dia sendiri yang ingin pergi tapi malah duduk lagi”.

Luhan mendengus kesal. Malam ini ia malah dikerjai oleh dua orang ini. seolah sudah sekongkol sebelumnya, mereka bersama-sama mem-bully Luhan. Meskipun ia kesal karena sikap ayahnya, tapi Luhan merasa lega dan senang. Melihat Yeonsung dapat tertawa. Wajahnya sumringah dengan mata berbinar, apalagi ketika makanan yang mereka pesan dihidangkan.

Lalu Luhan berpikir. Seandainya Hyerin mengakui keberadaan Yeonsung. mungkin suasana ini akan terus berlangsung. Mungkin apa yang telah terjadi pada Yeonsung, tidak pernah terjadi. Mungkin Luhan tak akan bisa mencium bibir cherry gadis itu. Mungkin Chanyeol juga akan merusak suasana.

Terlalu banyak hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Luhan yang kemungkinan akan terjadi, jika saja Hyerin melakukan hal yang berbeda diawal.

Yunbi sedang mencoba tidur ketika sebuah pikiran mengganggunya. Matanya kembali terbuka. Menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Kemarin ia memang sengaja mengikuti Yeonsung ketika Yongjoon menemui gadis itu dikelasnya. Tapi Yunbi tidak menyangka akan mendengarp percakapan yang seperti itu.

“Yeon’ah, kenapa?”. Gumamnya.

Akhirnya Yunbi bangkit dari tempat tidurnya. Dengan gontai ia melangkah keluar. Sekedar untuk membasuh tenggorokannya dengan segelas air putih. Sialnya ia lupa menyediakan air putih dikamar.

Lampu dapur masih menyala waktu itu. Ternyata Jinyoung belum tidur, pria itu masih menonton di ruang tengah sambil menyantap ramyun nya. Yunbi berjalan turun dari kamarnya, tanpa menyapa Jinyoung ia melenggan ke dapur.

“kau belum tidur atau terbangun?”. Tanya Jinyoung dari ruang tengah.

“terbangun”. Jawab Yunbi. Lalu ia menenggak air putihnya.

“Yunbi’ah, ambilkan aku air minum”. Titah Jinyoung.

Dengan malas Yunbi menuruti permintaan Yunbi. Ia datang dengan segelas air putih ditangannya. Jinyoung melihat gelas yang Yunbi bawa. “mana es nya?”. Tanya Jinyoung.

“astaga! Kau ambil sendiri saja, menyebalkan sekali”. Kesal Yunbi.

Jinyoung malah terkekeh. Mau tak mau ia menerima air yang Yunbi bawakan walau tanpa es. Yunbi tahu Jinyoung suka minum air es apalagi dimusim panas seperti ini. tapi ia lupa memasukan es ke dalam air minum Jinyoung.

“Kpop Star?”. Gumam Yunbi setelah melihat siaran televisi yang tengah ditonton oleh Jinyoung. “suka sekali menontonnya, seperti kau akan ikut saja”.

“memangnya kenapa? Kau tidak lihat kembaran ku menjadi juri disana?”. Jinyoung menunjuk televisi, menunjukkan Park Jinyoung yang merupakan salah juri diacara hits tersebut yang juga seorang CEO perusahaan Entertainment.

“jangan bermimpi terus”. Ejek Yunbi. Ia hendak kembali ke kamarnya. “oppa, jika kau menyelidiki kasus Yeonsung, apa mungkin ia bisa memenangkan persidangan dengan bukti lengkap dan benar?”.

“kenapa tiba-tiba bertanya?”.

Yunbi diam. ia juga bingung mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu pada Jinyoung. “tidak, hanya bertanya saja”.

“aku tidak bisa memastikan menang atau tidak, tapi apa salahnya mencoba”. Jawab Jinyoung. “kau sudah membuka hatimu dan ingin mengatakan semuanya, Yunbi’ah?”.

Yunbi tertegun, siap kah ia jika harus mengatakan kebenaran tentang kejadian itu? Yunbi menguap. “mengantuk sekali. Besok saja kita bicara lagi”. Dengan cepat gadis itu melesat kembali ke kamarnya. Sebelum Jinyoung menginterogasinya.

Luhan mengantar Yeonsung pulang hingga didepan pintu rumah gadis itu. Hingga Yeonsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Luhan masih berdiri disana. “kenapa kau masih disini?”. Tanya Yeonsung seolah mengusir Luhan.

“memastikan kau selamat sama rumah”.

“aku sudah selamat, pulanglah”.

Luhan tersenyum kuda. Tentu saja sebenarnya, ia punya keinginan lain. Ya ~ night kiss misalnya. Lantas Luhan memajukan tubuhnya. Yeonsung peka pada apa yang akan terjadi, maka dengan cepat ia menutup pintu.

Blaamm

“akh –“. Ringis Luhan.

Bukannya mencium Yeonsung seperti yang ia bayangkan, ia malah mencium pintu. Oh – bibir berharga Luhan. Mendengar suara ringisan itu, Yeonsung kembali membuka pintu rumahnya. Padahal ia yang berniat memberi pelajaran pada Luhan, malah sekarang ia tampak khawatir.

“Lu, kau tidak apa-apa?”. Yeonsung segera melihat keadaan Luhan yang sedang memegangi bibirnya yang terasa ‘pedas’ sehabis mencium mesra pintu rumah Yeonsung.

“Ugh…”. Luhan masih meringis.

“ya ~”. Yeonsung semakin khawatir, ditambah lagi Luhan yang enggan membuka tangannya yang menutupi bibirnya. Bukan apa-apa, ia hanya takut wajah tampan Luhan rusak karenanya. Lalu Yeonsung harus membiayai operasi plastik nanti.

“um…”.

Gerakan Luhan terlalu cepat, jadi kali ini Yeonsung tak bisa menghindar lagi. Luhan berhasil mendapatkan night kiss nya. Luhan segera melepas ciumannya lalu tersenyum penuh kemenangan. Jika saja bisa, ia ingin lebih lama sebenarnya. Tapi melihat situasi dimana mereka berada sekarang. Bagaimana jika ada orang yang memergoki mereka.

“cih… licik sekali”. Desis Yeonsung.

“tapi tadi itu benar-benar sakit”.

“harusnya aku meninggalkanmu sa –“. Belum sempat Yeonsung menyelesaikan kalimatnya. Luhan memeluknya erat. “Lu –“.

“sebentar saja”. Luhan menepuk-nepuk punggung Yeonsung pelan. Matanya terpejam. Seharusnya ia seperti ini sejak dulu. Padahal ia tahu gadis seperti Yeonsung tidak punya daya upaya untuk terus melakukan perlawanan. Luhan menyesal karena telah ragu untuk melindungi Yeonsung.

Luhan melepaskan pelukannya. “masuklah, aku tidak akan menahanmu lagi”. Suruh Luhan.

Yeonsung kembali masuk ke dalam rumahnya. Sebelum pintu ditutup. Yeonsung tersenyum pada Luhan. “selamat malam, Lu”. Ujarnya pelan.

Yongjoon mengikuti langkah Yeonsung dari belakang gadis itu. Tadi Yeonsung mengiriminya pesan dan mengajaknya pulang bersama seusai belajar mandiri. Tapi sekarang ia malah terlihat seperti seorang guard.

“sampai kapan kau akan berjalan dibelakangku?”. Yeonsung menghentikan langkahnya – menoleh dengan wajah cemberut.

“kupikir kau tidak mau berjalan berdampingan denganku”. Yongjoon mendekat, lalu mereka kembali melangkah.

“jika kau tidak pakai baju atau semacamnya, mungkin saja aku tidak mau jalan disebelahmu”. Jawab Yeonsung dengan santai.

Yongjoon terkekeh. Benar juga. Jika dulu, ia suka berjalan dibelakang seorang gadis hanya untuk melihat dalaman gadis tersebut, apalagi ketika sedang naik tangga. Yongjoon tidak seperti itu lagi sekarang – kecuali jika tidak sengaja.

“kau belum ingin pulang? Tidak lelah?”.

Yeonsung berhenti ditempat pedang aksesoris dipinggir jalan. Ia melihat-lihat berbagai aksesoris yang ada disana. “setelah aku menemukan yang kucari, baru aku akan pulang”. Yeonsung meraih sebuah gelang. “kau ingin pulang? Duluan saja”. Suruh nya.

“tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian, bodoh”. Sahut Yongjoon. Ia pun ikut melihat-lihat.

“kemari”. Yeonsung langsung menarik tangan Yongjoon, memasangkan sebuah gelang tali dipergelangan tangan Yongjoon.

“itu gelang pasangan, ini pasangannya”. Penjual aksesoris memberikan satu gelang lagi.

“whoa, kebetulan sekali”. Sahut Yeonsung lalu mengambil pasangan gelang yang dipakai oleh Yongjoon. “aku mau yang ini”. ujarnya lalu memberikan uang kepala penjual.

“Yeonsung, kau serius membeli barang pasangan untuk kita?”. Yongjoon tak percaya. Yeonsung hanya mengangguk.

Sepasang gelang benang dengan mainan gembok dan kunci.

Keduanya duduk disebuah kursi permanen setelah membeli es kopi. Yeonsung sibuk memasangkan sesuatu di gelang Yongjoon dan tidak memperbolehkan Yongjoon melihat apa yang sedang ia pasang disana.

“masih lama tidak?”.

“sudah selesai, kau boleh lihat”.

Perlahan Yongjoon membuka matanya, mengangkat tangan kirinya yang terpasang gelang. Sebuah liontin yang ia kenal menggantung disamping mainan asli gelang itu. “kau mendapatkan ini dimana?”.

Liontin Y yang ia berikan waktu itu. Seingat Yongjoon, ia sudah membuangnya ketika Yeonsung berkata bahwa ia tak akan memberikan hatinya kepada siapapun.

“aku mencarinya ditempat kau melemparnya waktu itu”. Jawab Yeonsung lalu meminum es kopinya.

“kenapa kau memungutnya lagi? Bukankah sudah ku buang?”.

“bagaimana pun kau sudah membelinya, dan aku tidak mungkin menyimpan dua kalung dengan liontin yang sama”. Yeonsung mengangkat tangan kanannya. “aku sudah memasangkan liontin milikku disini”. Ujar nya lalu tersenyum.

Yongjoon tersenyum miring. “kau adalah gadis paling jahat yang pernah kutemui”.

“aku pulang”. Yeonsung langsung berdiri dan berjalan. Yongjoon segera menyusulnya, tanpa ijin ia langsung menggenggam tangan Yeonsung. “ya!”. Yeonsung terkejut. Tentu.

“aku antar”. Ujar Yongjoon. “motor ku diparkir didekat sini”.

Entah apa yang dipikirkan oleh teman-temannya hingga menyuruh Yeonsung membereskan bola yang dipakai saat kelas olahraga tadi sendirian. Gadis itu hanya melakukan apa yang disuruh karena ia tidak ikut kelas olahraga selama dua minggu ini.

Memungut bola lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah itu membawa keranjang itu ke ruang perlengkapan olahraga. Untung saja keranjangnya mempunyai roda, jadi hanya perlu didorong atau ditarik.

“kemana temanmu yang lain?”. Jihoon tiba-tiba menghampiri Yeonsung dan langsung membantu gadis itu mendorong keranjang bola.

Nampaknya Jihoon baru saja dari toko untuk membeli camilan. Terlihat ia membawa sebotol air mineral dan beberapa makanan ringan.

“berganti pakaian”. Jawab Yeonsung dengan polosnya.

“oh, kau bawa ini saja biar aku yang mengembalikan bola ke ruang perlengkapan”. Jihoon memberikan makanan yang ia beli kepada Yeonsung. lantas ia mendorong keranjang bola dengan cepat.

Yeonsung tidak bisa berjalan secepat itu. Jadi ia mengikuti Jihoon dari belakang dengan perlahan. Yeonsung belum tiba diruang perlengkapan ketika Jihoon sudah kembali. Pria itu mengambil kembali camilannya dari Yeonsung.

“terima kasih, sunbae”. Ujar Yeonsung.

“um… kau juga harus cepat berganti pakaian sebelum kelas selanjutnya dimulai”. Balas Jihoon.

“baiklah, aku akan segera kembali ke kelas”. Yeonsung berbalik dan hendak pergi.

“Yeonsung”. panggil Jihoon. Membuat Yeonsung kembali menoleh. Jihoon berjalan mendekat. “permen?”. Jihoon mengulurkan tangannya, diatas telapaka tangannya terdapat sebungkus permen karet.

“apakah tidak apa-apa jika kau memberiku permen?”. Tanya Yeonsung sebelum menerima permen pemberian Jihoon.

Jihoon memiringkan kepalanya. Bingung mengapa Yeonsung bertanya seperti itu. Apakah maksud pertanyaannya adalah ‘Jihoon memasukan sesuatu di dalam permen itu?’.

“Hanabi… dia selalu ada dan melihat, dia tahu banyak hal. Aku takut jika kau memberiku sesuatu akan membuat Yunbi marah”. Ujar Yeonsung lagi.

“kau ini bicara apa? terima saja, tidak akan menjadi masalah”. Jihoon menarik tangan Yeonsung dan meletakkan permen itu diatas telapak tangan Yeonsung. “lagipula, bukankah Hanabi memihak padamu? Tidak mungkin ia memberitahu hal yang tidak-tidak tentangmu”.

Yeonsung melirik kearah lantai. Ia dapat melihat bayangan seseorang dibalik dinding. Sepertinya tengah menguping pembicaraannya dan Jihoon. “entahlah, aku tidak tahu apakah dia musuh atau teman”. Balas Yeonsung kemudian.

“aku yakin dia teman. Yasudah kalau begitu aku kembali ke kelas sekarang”. Jihoon berpamitan dan meninggalkan Yeonsung sendirian disana. Masih menatap lantai dimana bayangan orang itu terlihat.

“sebenarnya kau siapa, Hanabi?”. Gumam Yeonsung.

Tak lama setelah itu terlihat bayangan orang itu berjalan meninggalkan tempatnya. Yeonsung masih berdiri ditempatnya. Menggenggam permen karet yang diberikan oleh Jihoon tadi. Ia tak berani mengejar si penguping. Hanya tidak mau menerima kenyataan jika Hanabi adalah orang yang ia kenal dekat.

Jam makan siang di kantin.

Yeonsung masih dengan kebiasaannya duduk dipojok ruangan. Tempat yang tidak terjangkau oleh murid kebanyakan. Yongjoon duduk dihadapannya saat ia tengah menikmati makan siangnya. Yeonsung menoleh ke kiri dan kanan. Mencari keberadaan Luhan. Hari ini pria itu tidak terlihat di kantin.

“tak akan diumpatkan oleh orang lain, kau kan sudah sering terlihat bersamaku”. Ujar Yongjoon seakan mengerti jika Yeonsung masih tetap khawatir jika ada orang yang melihatnya.

“tapi akhir-akhir ini kau tidak makan siang bersamaku”. Jawab Yeonsung sambil kembali menyumpit nasihnya.

“karena Luhan sialan itu bersamamu, ah, menyebalkan sekali”. Jawab Yongjoon.

Ah, Yeonsung baru ingat jika Luhan mulai berani dan tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang lain tentang nya. “salahmu sendiri, lamban”. Ejek Yeonsung.

“Yeonsung, apa sekarang kau sedang menantangku untuk bersaing dengan Luhan?”.

Yeonsung mengemut sumpitnya. Memutar matanya, memikirkan jawaban. “tidak juga. Tapi jika kau ingin, silahkan saja saingan dengan Luhan”. Ujar Yeonsung. “tapi jangan jadikan aku taruhannya, saingan saja untuk memperebutkan gadis yang lebih pantas”. Tambahnya lagi.

“tutup mulutmu, memang kau cukup pantas untuk dijadikan taruhan”.

“Yongjoon’ah, jika aku menutup mulut, bagaimana aku makan?”.

Nyaris saja Yongjoon menyemburkan makanan yang sedang ia kunyah. Apalagi ketika ia mengangkat kepalanya, matanya langsung disambut oleh wajah datar Yeonsung. protes karena disuruh menutup mulut ketika ia sedang asik memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“makanlah, makan. Yang banyak”. Suruh Yongjoon seraya meletakkan sayur dari nampan nasinya ke nampan nasi Yongjoon.

“aku tidak suka wortel”. Yeonsung mengembalikan wortel kepada Yongjoon.

“ya ~ wortel itu baik untuk mata”. Nasihat Yongjoon. Padahal pada kenyataannya ia tidak suka sayur, makanya mentransfer sayur nya ke Yeonsung.

Yeonsung menggeleng cepat. “lebih baik aku rabun. Jika penglihatanku normal nanti aku sadar betapa jeleknya kau itu”. Jawab Yeonsung.

Yongjoon mendengus. Tanpa sadar ia menyumpit sayur dan memakannya. Yeonsung terlalu lucu untuk dimarahi, sungguh! Ia menyesal baru sadar. Ah, sebenarnya bukan dirinya saja yang baru sadar. Hanya saja, Yeonsung yang baru sempat menunjukkan dirinya yang asli.

Satu persatu murid menyelesaikan makan siang mereka. Lalu pergi dari kantin. Yongjoon melihat sekitarnya. Memastikan jika tak banyak orang yang melihat kearah mereka. Kemudian dengan cepat ia meletakkan 1 buah apel didekat tangan Yeonsung diatas meja.

“aku duluan”. Yongjoon beranjak dari kursinya. Pergi begitu saja tanpa banyak bicara.

Euina mengendap-endap masuk ke dalam kamar ibunya. Ia benar-benar butuh uang sekarang. Ia harus menebus ponselnya yang sedang diperbaiki oleh kenalannya. Jika ia bisa menunjukkan video itu pada Yeonsung, maka ia akan mendapat uang lagi. Maka Euina nekad mencuri uang ibunya saat ibunya pergi ke pasar.

Setelah berhasil mengambil seluruh uang yang disimpan didalam laci ibunya, Euina segera pergi ke tempat kenalannya.

“data ponselmu sudah berhasil ku salin”. Ujar pria itu sambil menyodorkan ponsel Euina yang menjadi korban kekerasan Yongjoon.

“benarkah? semuanya?”. Tanya Euina dengan sumringah.

Pria itu – Jimin, mendengus seakan menertawakan pertanyaan Euina. “tidak semuanya, aku tidak tahu sih, silahkan kau periksa sendiri”. Lalu Jimin memberikan kartu memori pada Euina.

Buru-buru Euina mengambil kartu memori itu, memasangnya diponselnya yang baru. Ia menunggu dengan sabar sampai semua data didalam kartu memori terdeteksi.

“sebenarnya susah untuk mengambil semua data, karena ponselmu rusak parah. Tapi kurasa mendapatkan semua data yang ada didalam memori itu sudah lebih dari cukup”. Ujar Jimin.

Euina membuka berkas diponselnya. Mencari ke setiap folder yang ada. Dengan teliti ia membuka tanpa melewatkan satupun. Tapi – nihil, Euina tidak menemukan satupun video yang akan menjadi sumber uang baginya.

“tidak ada”. Gumamnya kecewa.

“data yang kau inginkan tidak ada?”. Tanya Jimin tak percaya.

Euina mengangguk, menelan kenyataan jika video itu benar-benar sudah lenyap. Dan ia tak akan bisa pulang karena pasti ibunya akan mengamuk jika tahu Euina telah mencuri uang. “apakah benar-benar tidak bisa dicari lagi? Salin saja semua data yang ada diponselku”. Pinta Euina.

“ah ~ kemampuanku juga terbatas”. Jawab Jimin lalu menadahkan tangannya meminta bayaran atas jasanya.

Dengan kesal Euina memberikan uang bayaran. Setelah itu ia beranjak pergi dari tempat Jimin. Meskipun dengan kekecewaan yang teramat sangat. Dan Euina bingung harus bagaimana sekarang.

Semuanya tenang terkendali. Bahkan Yeonsung hampir mendapatkan kehidupan SMA yang normal. Hingga bulan Juni yang panas berakhir dan berganti dengan Juli. Hari ini, awal Juli yang disambut dengan hujan. Yeonsung baru saja akan bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia sudah siap dengan payung ditangannya.

Ponselnya bergetar sejak tadi. Karena terganggu dengan pesan yang terus masuk, Yeonsung akhirnya membuka pesan tersebut.

“enyah saja kau, pelacur!”.

“sialan, apa kau bercita-cita menjadi seorang pemain film biru atau semacamnya?”.

“lepaskan seragam mu saat kau melacurkan diri”.

“memalukan sekali, mati saja”.

“milikmu besar juga, berapa aku harus membayar untuk memegangnya?”.

Terlalu banyak pesan cibiran yang ia terima hingga Yeonsung buru-buru menutup tab pesan tersebut. Jantungnya berdegup kencang, apa yang telah terjadi hingga ia harus mendapatkan makian seperti ini lagi?

Yeonsung pun tertarik untuk membuka sebuah link yang dibagikan padanya berkali-kali. Dengan hati yang was-was, siap hancur kapan saja ketika link itu terbuka. Sebuah video. Takut-takut Yeonsung memutar video tersebut.

Yeonsung mengeram tertahan. Ingin berteriak ketika video tersebut diputar. Itu adalah dirinya. Bukan hanya satu video, tapi ada 4 video yang masuk kedalam playlist, dibuat khusus untuk video dirinya. Bahkan dalam keterangan video itu memberitahu nama sekolahnya.

Kepalanya pening. Tanpa sadar ia menjatuhkan ponselnya kelantai.

Yang ia pikirkan adalah menemui Yongjoon sekarang juga. Dengan cepat Yeonsung keluar dari rumahnya tanpa mengenakan alas kaki. Ia membuka payung yang ia bawa, berlari menembus derasnya hujan. Ditengah perjalanan Yeonsung melemparkan payungnya. Membiarkan hujan membasahi tubuhnya.

“Yongjoon, brengsek”. Desisnya sepanjang jalan.

TBC

Comment? Tq.

Chapter 13 di protect ya… yg mau passwordnya silahkan chat aku di line/wa : 085268552629 ato email : arniseptiyani@gmail.com

syarat berlaku 🙂 apa syaratnya? comment dari chapter 1 ^^ dicek :3

Iklan

11 thoughts on “FanFict “Iaokim” #12

  1. Aaaa euina jahat bgt sumpah pngn aku jambak rambutnya. Nnt nasib yeon gimana cobak. Penasaran bgt endingnya sm luhan ato yj kah..aku chat autor lewat wa yakk

  2. aduh jgn blang klo video yeongsung sma yongjoon trsbar di internet.
    pdhal lgi adem”y prmslah’y yeonsung, mlah tba” dtg mslah yg lain.
    ngomong” tmben bgt jihoon brni ymperin yeongsung tdi 😀

  3. Jimiiiin pelaku nya? 😤😤😤😤😤😤😤
    Oemjiii kenapa ada aja masalah buat yeonsung 😭😭😭
    Padahal baru di buat bahagia karna yeon udah deket ama yongjoon . Eh udah di bikin nyesek lagi 😣😣

  4. aish aku kira data nya benar2 sudah hilang.
    apa jimin yang menyebar luas kan nya?
    luhan sweet banget sih sama lu hee
    suka lahhh. kalau boleh minta pw dong thor.
    oh ya aku sedikit bingung pas awal apa kira2 di chap 11 yang di skf gak semua di publish ya soalnya tiba2 aneh saja antara yeon sama lu aku coba baca chap 11 di sini deh.

  5. Cieeeeee ketauan yeon suka sma luge,,
    Ya olloh bru jg mau damai tentram keadaan ny,eh muncul msalah baru,,jd kpan bhagia yeon ny kyo???

  6. Aku nyari” ff ini dan akhirnya ketemu, di SKF cuma sampe chap 11 dan aku Udah frustasi dan gak rela klo misalnya gak ketemu dan berhenti cuma sampe chap 11 aja. But finnaly akhirnya ketemu😭😭😭 terhura,,
    Eonnie aku kangen,, eeeaaakk
    Ini yg nyebarin videonya siapa huh?? Terkutiklah engkau wahai hatersnya Yeonsung,,,😡

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s