FanFict “Iaokim” #11


Iaokim 3

Iaokim #11

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Oh Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11

 

~oOo~

Pintu rumah terbuka sedikit. Yeonsung mengintip keluar untuk melihat siapa gerangan yang datang kerumah nya. Diluar sana, Luhan tersenyum lebar ketika Yeonsung membuka pintu. Tetapi seketika senyuman itu memudar melihat keadaan Yeonsung.

“kenapa kau kemari?”. Tanya gadis itu – masih bersembunyi dibalik pintu.

“aku tidak melihatmu disekolah beberapa hari ini, jadi aku kemari”. Jawab Luhan. “boleh aku masuk?”.

Tanpa menjawab, Yeonsung membuka pintu dengan lebar. Menandakan jika Luhan boleh masuk ke dalam. Luhan lega karena Yeonsung mengijinkannya untuk masuk. “apa kau sedang sakit?”. Tanya Luhan.

Yeonsung mengangguk. Ia pun berjalan menuju dapur. Merasa jika harus menyuguhkan segelas minuman untuk Luhan, tanpa disuruh Luhan mengikuti Yeonsung. dengan tidak tahu malu ia duduk dimeja makan. Sedangkan Yeonsung menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.

Yeonsung menyuguhkan gelas berisi jus jeruk kehadapan Luhan. Iapun duduk di kursi seberang. Luhan meminum jus yang Yeonsung berikan. “aku bahkan tidak mandi sudah tiga hari”.

Hampir saja Luhan menyemburkan isi mulutnya mendengar ucapan Yeonsung. untung saja ia bisa menahan diri. “memangnya kau sakit apa?”. Tanya Luhan setelah berhasil menelan jus nya dengan berat.

“tidak tahu”.

“sudah ke dokter?”.

“aku tidak separah itu hingga harus pergi ke dokter”.

“tapi, Park Yeon –“.

Yeonsung kembali berdiri. Membuka lemari pantry. “kau ingin makan tidak?”. Tanya Yeonsung. berusaha mengalihkan pembicaraan. Tak nyaman ketika Luhan terus menanyainya.

“kau punya kimchi?”.

“tentu. Jika kau mau aku bisa memasak ramyun untukmu”. Yeonsung mengeluarkan sebungkus ramyun dari dalam lemari.

Luhan mengangguk menyetujui ide Yeonsung untuk makan ramyun. Jujur saja, Luhan jarang makan mie khas Korea itu. Karena menurutnya tidak sehat. Tetapi terkadang ia makan jika sedang bersama dengan teman-temannya. Rasanya lebih nikmat jika dimakan bersama-sama.

Sudah setengah jam dan Yongjoon hanya terduduk ditempatnya dengan raut wajah malas. Jarinya memutar-mutar sebatang rokok yang belum dibakar. Malam itu ia pergi ke tempat dimana ia bisa menghibur diri bersama Minho dan teman-teman rapper nya yang lain. Tetapi hari ini ia berbeda dari Yongjoon yang biasanya.

“jangan diam saja seperti itu, kau seperti orang kerasukan”. Ujar Minho sambil melempari Yongjoon dengan kacang.

“jangan menggangguku”. Ujar Yongjoon tanpa melihat kearah Minho sedikitpun.

“kenapa? Soal Yeonsung lagi?”. Terka Minho.

“jangan menyebut namanya”.

Minho terkekeh. Benar dugaannya. Yongjoon galau karena Yeonsung. hal itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Minho. “kau selalu seperti itu. Nanti juga – beberapa hari lagi pasti kau akan mencarinya”. Ujar Minho dengan santai lalu meminum minuman sodanya.

Barulah Yongjoon melirik kearah Minho. “aku tidak tahu harus bagaimana sekarang”.

“jika kau tidak menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak bisa membantumu”.

“aku juga tak ingin kau bantu”. Sewot Yongjoon. Ia pun berdiri, melemparkan rokok yang ia pegang ke asbak. Lalu beranjak pergi.

“ya! brengsek, kau mau kemana?”. Seru Minho.

Yongjoon tak menjawab, malah mengangkat tangannya dengan jari tengah yang berdiri. Minho membelalak, lantas melemparkan kaleng minuman kosong. Sayang sekali kaleng itu tidak kena ke Yongjoon.

Siapa sangka Yongjoon akan pergi ke rumah Yeonsung.

Bukan untuk bertamu. Sebaliknya ia malah berdiri didepan pagar, menatap jendela kamar Yeonsung yang tirainya terbuka separuh. Lampu kamarnya juga masih menyala. Pertanda si pemilik rumah belum tidur, Yeonsung biasanya akan tidur dengan lampu yang dimatikan.

Terbesit rasa bersalah dihatinya jika ia mengingat bagaimana gadis itu menangis karenanya beberapa waktu lalu.

Semakin lama melihat rumah itu, semakin hati nya terasa sakit. Maka Yongjoon memutuskan untuk pergi. Tak berselang lama setelah ia pergi, Yeonsung keluar dari rumah. Hendak membuang sampah.

“Yongjoon?”. Gumam Yeonsung. ia melihat Yongjoon berjalan menjauh dari sana. Namun Yeonsung tak mau mengejar pria itu dan membiarkannya pergi.

Hyerin masuk ke kamar Luhan saat pria itu sedang mandi. Selama beberapa waktu hubungan mereka tidak baik. sekarang Luhan tak terlalu sering berbicara dengan ibu tirinya. Meskipun begitu, Hyerin tetap memperhatikan segala kebutuhan Luhan.

Lantas ia berinisiatif untuk membereskan kamar Luhan. Ditengah kegiatannya, Hyerin menemukan sesuatu yang Luhan letakkan dibawah ponselnya. Hyerin mengambil tiket pertunjukkan kontes Cello itu dari bawah ponsel Luhan.

“kontes Cello? Mungkinkah –“. Hyerin menebak-nebak siapa yang mengikuti kontes hingga Luhan harus datang kesana.

Tepat saat itu pula Luhan selesai mandi. Ia sibuk mengusap-usap rambutnya dengan handuk lalu melihat Hyerin tengah memegang tiket gratisnya. “jangan sentuh itu!”. Seru Luhan, panik.

Buru-buru ia mendekati Hyerin. Merebut kembali tiketnya lalu menyimpan tiket tersebut kedalam laci.

“ah, Luhan, aku hanya –“.

“bisakah kau tidak menyentuh barang-barangku? Jika ada yang hilang memangnya kau akan menggantinya? Tiket yang kau pegang sangat berharga, jangan menyentuhnya lagi”. Oceh Luhan. Kesal.

Hyerin menghela napas. Sebenarnya ia lelah bersikap baik terus pada Luhan. Tetapi ia juga tak ingin dicampakkan oleh Lu Hwang. Sebelum menikah, Hyerin sudah berjanji akan menggantikan ibu Luhan dan mengurus anak nakal itu dengan baik.

“baiklah, maaf, aku tidak tahu”.

“jika tidak tahu seharusnya kau jangan asal menyentuh barang-barangku”. Luhan beranjak dari hadapan Hyerin. Ia membuka lemari dan mencari baju yang akan ia pakai.

“Luhan’ah, tidak bisakah kau bersikap seperti Luhan yang dulu padaku?”.

“tidak bisa”.

Hyerin mencelos. Luhan tak mau memaafkannya sampai Hyerin mau mengajak Yeonsung tinggal bersama dirumah ini, setidaknya mengakui keberadaan Yeonsung maka Luhan tak akan bersikap seperti ini lagi padanya.

“Yeonsung, ikut denganku”. Yongjoon langsung menarik Yeonsung sesaat setelah gadis itu turun dari bus. Ia sengaja menunggu Yeonsung tiba disekolah hanya untuk ‘menculiknya’.

“ya! lepaskan, aku tak mau ikut denganmu”. Yeonsung melakukan perlawanan. Membuat beberapa orang melihat kearah mereka sambil mengumpat.

Yongjoon berbalik, menatap tajam pada Yeonsung. “ikut saja! Apa susahnya menuruti ku kali ini?”.

Yeonsung tak menjawab, malah diam membatu. Yongjoon kembali menarik gadis itu untuk menjauh dari sekolah. Tepat saat Yongjoon masuk ke dalam sebuah taksi bersama Yeonsung, Luhan tiba disekolah. Luhan sempat melihat ketika Yongjoon masuk ke dalam taksi itu.

“gadis itu benar-benar gila. Apa sih yang sudah ia lakukan hingga semua pria disekolah ini mendekatinya?”. Beberapa gadis mengumpat.

“namanya saja gadis murahan, kalau bukan menyerahkan tubuhnya, apa lagi?”. Mereka tertawa. Mengumpatkan Yeonsung benar-benar menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka.

Sementara itu…

Yeonsung duduk diam disebelah Yongjoon didalam taksi yang membawa mereka. Jemarinya saling meremas. Selama perjalan, Yongjoon pun tak mengatakan apapun. Mereka hanya saling diam hingga tiba disebuah rumah sakit.

“kenapa kita kemari?”.

“untuk melakukan apa yang kau inginkan”.

Yeonsung menatap tajam pada Yongjoon. “apa? apa yang kuinginkan?”.

“hidupmu sudah cukup sulit, jangan membuat hidupmu semakin sulit dengan bayi itu”.

Hidung Yeonsung mengernyit. “kau tahu apa soal hidupku? Jangan bertingkah seolah kau tahu segalanya setelah kau merusak hidupku, sialan!”.

Yongjoon menghela napas. Mencoba untuk bersabar. “hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu. Tolong hargai”.

“tidak. Tidak akan pernah”. Jawab Yeonsung dengan tegas. Lantas ia berbalik dan berjalan hendak pergi. Namun Yongjoon menahan lengannya. Yeonsung menepis tangan Yongjoon. “jangan menyentuhku! Pergi kau!”.

“ya!”. bentak Yongjoon. Tanpa rasa takut sedikit pun Yeonsung menatap mata Yongjoon. “aku tidak tahu, harus bagaimana menghadapi semua ini? Park Yeonsung, aku menyukaimu. Aku harus bagaimana?”. Yongjoon mengerang frustasi.

Sebulir airmata mengalir turun dari pelupuk mata Yongjoon. Marah, kesal, sedih, perasaannya bercampur menjadi satu hingga ia tak tahu cara menunjukkan perasaannya saat ini.

Yeonsung menatap kosong kearah jalanan. Setelah bertengkar dengan Yongjoon, akhirnya pria itu memutuskan untuk mengajak Yeonsung pulang saja. Yongjoon tertidur dipundaknya sekarang. Sama seperti dirinya, Yongjoon juga tak bisa tidur dengan nyenyak beberapa hari belakangan.

“kau benar-benar tak bisa datang?”. Tanya Chanyeol, entah untuk keberapa kalinya. Ia kecewa ketika Yeonsung mengatakan tak bisa datang ke acara pernikahannya sekedar menjadi tamu undangan.

Yeonsung menggeleng. “aku menyesal karena tidak bisa datang, oppa, tapi tenang saja, aku akan mengirimimu kado pernikahan”.

“cih… memangnya kau punya uang untuk membelikan aku kado?”.

“kenapa tidak punya?”.

Chanyeol menyerah, mungkin memang Yeonsung sangat sibuk saat hari pernikahannya nanti jadi tidak bisa datang. Pria tinggi itu menyimpan tangannya didalam saku celana. Yeonsung sudah tumbuh menjadi seorang gadis, jika berjalan dengannya seperti sekarang ini, maka orang akan mengira jika mereka sedang berkencan.

“uh…”. Yeonsung menghentikan langkahnya didepan sebuah kedai es krim. “ingin belikan aku es krim tidak?”. Tanya Yeonsung dengan wajah memelas.

“tentu saja jika kau ingin”. Chanyeol pun masuk ke dalam kedai, diikuti Yeonsung yang meloncat kegirangan dibelakangnya.

“senangnya bisa menikah”. Ujar Yeonsung tiba-tiba sembari menikmati es krimnya.

Chanyeol mengangkat kepalanya, ia tersenyum malu mendengar ucapan Yeonsung. “kau juga harus menikah nanti”.

“tidak mau. Aku tidak akan menikah”. Jawab Yeonsung.

“kenapa? Memangnya kau tidak mau memiliki suami dan anak dan sebuah keluarga baru?”.

Yeonsung mengemut sendok es krimnya, memutar matanya memikirkan perkataan Chanyeol. “kenapa orang harus menikah untuk mendapatkan bayi?”.

Tuk

Chanyeol melayangkan sendoknya menjitak kepala Yeonsung. gadis itu memanyunkan bibirnya sambil mengusap keningnya bekas jitakan sendok Chanyeol. “gadis nakal, jangan melakukan hal bodoh seperti itu. Aku tahu hal itu cukup biasa di Negara kita, tapi aku tak ingin kau mengalaminya. Mengerti?”.

Yeonsung berdecak. “bagaimana ya, diusiaku yang sekarang ini sulit sekali untuk menahan godaan yang seperti itu”. Sahut Yeonsung lalu terkekeh tanpa dosa.

“siapa? Siapa laki-laki brengsek yang berani menggodamu? Katakan padaku, aku akan menghajarnya”.

“menjijikan sekali melihat sikapmu yang sok pahlawan itu”. Jawab Yeonsung. “belikan aku seporsi lagi”. Yeonsung menyodorkan mangkuk es krim nya yang sudah kosong. Meminta agar Chanyeol membelikan es krim lagi.

Sebagai kakak yang baik, Chanyeol langsung berdiri dan memesan satu porsi es krim lagi untuk Yeonsung. sementara itu Yeonsung menatap punggung Chanyeol, dulu ia suka sekali digendong dipunggung itu saat mereka pulang sekolah.

“aku tak akan mengatakan apapun padamu, oppa. Masalahku adalah masalahku”. Gumam Yeonsung.

Bahkan Yeonsung tidak memberikan tiket pertunjukkan kontesnya pada Chanyeol. Seseorang yang sangat ia inginkan untuk menonton pertunjukkannya dalam kontes tersebut. Sekarang Yeonsung malah tidak ingin Chanyeol datang.

Hari yang membuat Yeonsung berlatih keras akhirnya tiba. hari ini kontes Cello akan diadakan. Pagi sekali Luhan sudah datang kerumah Yeonsung, memastikan gadis itu sudah bangun dan bersiap. Seperti seorang asisten pribadi, Luhan repot sekali membuat sarapan.

“Luhan, gawat”. Ujar Yeonsung ketika keluar dari kamarnya.

Dan Yeonsung jadi orang pertama yang melihat Luhan memakai apron – memegang spatula – ya, Luhan sedang menggoreng telur sementara Yeonsung bersiap. “ada apa?”.

“bagaimana ini?”. Yeonsung menyingkirkan tangannya yang memegang pundaknya, menutupi sesuatu dibalik sana.

Seketika Luhan membelalak. Betapa terkejutnya ia mengetahui Yeonsung punya tato disana. “sejak kapan kau punya tato disana?”.

“ah, itu tidak penting. Bagaimana menutupi ini?”. Tanya Yeonsung panik.

Luhan meletakkan telur yang ia goreng ke dalam piring, lalu mematikan kompor. Tanpa melepas apronnya, Luhan menghampiri Yeonsung. “kau bisa menutupi ini dengan make up, kurasa”.

“baiklah, akan kucoba”. Yeonsung kembali masuk ke kamarnya. Ia segera duduk menghadap kaca. Mengoleskan make up yang sekiranya bisa menutupi tato ini.

“sarapan dulu”. Luhan kembali dengan sepiring nasi ditangannya.

Yeonsung sibuk mengoleskan BB Cream, lantas Luhan berinisiatif untuk menyuapi gadis itu nasi. Yeonsung pun tidak menolak. Sadar jika ia harus sehat setidaknya sampai ia selesai tampil dikontes itu.

“begini bagaimana?”. Tanya Yeonsung.

“tidak terlalu nampak. Nanti letakkan leher Cello mu diatasnya jadi tidak akan begitu terlihat”. Jawab Luhan sambil menyeka sebutir nasi disudut bibir Yeonsung. “tapi – apa arti tato mu?”.

“oh – ini, courage. Aku berharap bisa terus kuat seperti makna tato yang kubuat”.

Hening.

Luhan mengerti mengapa Yeonsung sampai seperti ini. bahkan ketika ia sudah tak mampu menghadapi semua masalahnya, ia percaya bahwa sebuah tato dengan makna kekuatan bisa membuatnya kuat.

Tok tok

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Tak lama dari suara ketukan terdengar Kyuhyun memanggil Yeonsung dari luar sana. Segera Yeonsung pergi keluar untuk membukakan pintu bagi Kyuhyun.

saem”.

“aku menjemputmu. Kupikir akan susah jika kau harus pergi dengan kendaraan umum”. Ujar Kyuhyun.

ne, saem”. Jawab Yeonsung. lega karena ia punya guru yang perhatian seperti Kyuhyun.

Baru saja Yeonsung akan masuk untuk mengambil Cello nya, Luhan keluar dengan membawakan Cello Yeonsung. Kyuhyun menaikkan kedua alisnya. Kyuhyun tahu Yeonsung punya seorang kakak. Tapi seingatnya wajah kakak Yeonsung tidak seperti itu – seperti Luhan.

“oh?”.

annyeonghaseyo, aku Luhan, pacar Yeonsung”. Luhan memperkenalkan dirinya pada Kyuhyun.

“ya –“. Yeonsung hendak protes, tapi tidak jadi, Luhan telah lebih dulu menyampirkan mantel di pundak Yeonsung.

“ah, ya, ya, aku mengerti. Kau akan datang nanti atau ingin ikut bersama kami?”. Kyuhyun menawarkan tumpangan pada Luhan.

Luhan memegang kedua lengan Yeonsung, mendorong gadis itu perlahan. “tidak, aku akan pergi nanti. Kalian duluan saja”. Tolak Luhan.

Kyuhyun mengerti. Ia pun langsung menuju mobil nya yang terparkir didepan pagar. Yeonsung masuk ke dalam mobil di sebelah kemudi. Luhan meletakkan Cello dikursi penumpang. Sebelum mobil melaju, Luhan menyempatkan diri untuk menengok Yeonsung dari jendela.

fighting!”. Ujar nya memberikan semangat.

Yeonsung mengangguk sambil tersenyum.

Mobil Kyuhyun mulai melaju. Yeonsung dapat melihat dari kaca spion, Luhan tetap berdiri di jalan hingga mobil melaju cukup jauh.

Yeonsung sudah mendapat nomor peserta. Saat ini ia tengah menunggu gilirannya. Padahal ini bukan pertama kalinya ia tampil didepan umum. Tapi perasaannya berbeda sekarang. Peserta lain sudah selesai melakukan penampilannya. Wajah lega dari peserta yang telah tampil tampak jelas.

“Peserta nomor 9, silahkan masuk ke pentas”.

Yeonsung merasa terpanggil – segera ia berdiri sambil membawa Cello nya yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Diatas panggung yang luas itu hanya ada satu kursi yang diletakkan ditengah panggung.

“kau bisa masuk sekarang”. Ujar staff acara.

Dengan pasti kakinya melangkah memasuki pentas. Ia sudah berdiri ditengah panggung, lalu ia memberi salam pada semua juri. Matanya melihat kearah penonton – mencari sosok Luhan. Ternyata ada banyak orang yang datang. Yeonsung menemukan Luhan setelah ia duduk dikursi.

“silahkan dimulai”. Ujar salah seorang juri.

Yeonsung mengangkat bow nya sebelum menggesek Cello. Mengawali penampilannya dengan lagu Amazing Grace. Sambil mendengarkan dengan seksama musiK yang mengalun dari Cello Yeonsung, para juri mulai menilai penampilannya.

Lagu pertama berhasil ia mainkan dengan sempurna. Lalu ia langsung memulai dengan lagu kedua, kali ini Yeonsung memainkan lagu What Shall I Do. Tepat saat itu pula, pintu masuk hall terbuka. Hyerin muncul dari sana. Perlahan wanita itu melangkah masuk. Ia datang disaat yang tepat – menurutnya.

Tapi…

Tidak untuk Yeonsung.

Tanpa sengaja Yeonsung melihat ibunya memasuki hall dan menonton penampilannya. Sungguh! Ia datang disaat yang tidak tepat. Mata Yeonsung membelalak. Ia langsung kehilangan iramanya.

“k-kenapa, Park Yeon?”. Luhan langsung menegakkan tubuhnya. Terkejut karena tiba-tiba permainan Yeonsung menjadi kacau.

“apa kau memasukkan sesuatu ke makanannya tadi?”. Bisik Kyuhyun yang kebetulan duduk disebelah Luhan.

Luhan menggeleng cepat. “tidak. Tidak mungkin aku melakukan itu padanya”. Jawabnya sewot.

Tapi, apa benar karena makanan? Yeonsung sakit perut atau semacamnya? Luhan berusaha menerka apa yang terjadi pada Yeonsung. suara Cello tiba-tiba berhenti. Luhan mengangkat kepalanya, melihat Yeonsung menghentikan permainannya.

“tidak, jangan berhenti Park Yeon”. Luhan geram.

Yeonsung berdiri. Membungkuk. Lalu melangkah keluar dari pentas.

“kau sudah berusaha dengan baik, pasti gugup sekali berada diatas panggung sendirian” – Hanabi.

Yeonsung tersenyum getir kala membaca pesan tersebut. Ia tidak membalas pesan itu, memilih untuk membalikkan ponselnya lalu kembali memejamkan matanya. Seusai acara tadi siang, Yeonsung langsung pulang bahkan tidak berpamitan pada Kyuhyun.

Mengapa ibunya harus datang ke acara itu?

Apa Luhan yang memberitahu soal kontes yang akan diikuti oleh Yeonsung?

Saat ini ia sedang menenangkan diri didalam kamarnya. Berbaring tanpa melakukan apapun. Bahkan lampu kamarnya sengaja ia matikan.

Ponsel Yeonsung kembali berdering. Dengan malas Yeonsung kembali meraih ponselnya.

kau dimana? Datanglah kemari, aku ada kejutan”. Ujar Luhan langsung ketika telponnya diangkat oleh Yeonsung.

Baru saja Yeonsung memikirkan pria itu, Luhan sudah menelpon terlebih dulu. Kebetulan sekali Yeonsung ingin menanyakan soal ibunya yang tiba-tiba muncul di hall. “kemana aku harus datang?”.

Yeonsung bangkit dari tempat tidurnya. Meraih sweater rajut nya lalu pergi keluar rumah. Luhan memberitahu kemana ia harus datang. Yeonsung tahu tempat itu. Disebuah lapangan basket didekat sekolah mereka.

Yeonsung tiba disana.

Dan tak ada siapapun disana. Suasanya nya juga gelap. Yeonsung menggosok lengannya sendiri. Sebenarnya ia takut tempat yang sepi dan gelap. Teringat saat kejadian itu menimpanya. Lantas ia berniat untuk pergi.

cause you’re a sky… cause you’re a sky full of star”. Suara seseorang menyenandungkan lagu membuat Yeonsung urung pergi.

Dari arah tanaman bonsai yang dibentuk sedemikian rupa menjadi pagar disekeliling lapangan, Luhan muncul. Menyanyi sambil memetik senar gitarnya.

I’m gonna give you my heart ~”.

Yeonsung diam. sementara Luhan terus menyanyikan lagu Coldplay versi Acoustic. Ia senang tentu saja. Tidak semua gadis bisa menyaksikan secara langsung Luhan bernyanyi dengan suara merdunya.

Setelah Luhan selesai menyanyi ia meletakkan gitarnya kelantai. Luhan segera meraih tangan Yeonsung, menarik gadis itu ketengah lapangan. Lalu ia pergi kebalik semak-semak untuk mengambil sesuatu. “lihat, aku bawa apa untukmu”.

“Hanabi?”. Ujar Yeonsung.

Awalnya Luhan terkejut karena Yeonsung menyebut nama itu. Tapi ia teringat jika Hanabi berarti kembang api. “hadiah untukmu”. Ujar Luhan.

“hadiah? Tapi, aku tidak memenangkan kontes itu. Aku tidak pantas mendapatkan hadiah”. Balas Yeonsung.

“memangnya harus menang agar dapat hadiah?”. Luhan mengeluarkan kembang api dari dalam kotak. Lalu ia menyalakan kembang api sparkles dan memberikannya pada Yeonsung.

Yeonsung tidak bisa menolak. Bagaimanapun juga ia menyukai kembang api. Sementara ia bermain dengan kembang api yang ia pegang. Luhan menyalakan kembang api fountain di beberapa sisi.

“apa kau suka, Park Yeon?”.

Gadis itu mengangguk senang. Kedua tangannya memegang kembang api.

Seandainya – masalahnya bisa ia bakar lalu habis dan menghilang seperti kembang api ini. maka ia akan membakar semuanya sampai habis. pikir Yeonsung.

Yeonsung tertawa pelan, sebulir airmata mengalir turun dari pelupuk matanya. Ia sudah berusaha menahannya. Tak ingin Luhan melihatnya menangis. Luhan memberikan hadiah ini untuk membuatnya senang, bukan menangis seperti sekarang.

“Park Yeon, aku juga beli yang ini”. ujar Yeonsung seraya memamerkan kembang api crossette. “Park Yeon – kau menangis?”. Segera Luhan mendekati Yeonsung.

“tidak, mataku perih terkena asap”. Elak Yeonsung sambil menghapus kasar airmatanya.

“jangan berbohong”. Luhan menangkup wajah Yeonsung dengan kedua tangannya. Gadis itu tak menjawab.

Luhan menarik Yeonsung kedalam pelukannya, mendekap hangat tubuh rapuh itu. Dua batang kembang api yang dipegang oleh Yeonsung pun terjatuh kelantai. Ia menangis dalam diam. Luhan melepas pelukannya, kembali menangkup wajah Yeonsung dengan kedua tangannya.

Luhan mencium hangat bibir Yeonsung.

Serangan mendadak. Yeonsung tertegun. Merasakan bibir lembab Luhan menempel diatas bibirnya. Perlahan bergerak melumat bibirnya. Yeonsung ingin melepaskan ciuman itu, namun tenaga Luhan lebih besar darinya. Bukan sekedar menangkup wajahnya kini Luhan memeluknya dengar erat.

Yeonsung tidak berniat untuk membalas ciuman itu, sungguh! Tapi ia salah. Ciuman Luhan terlalu memabukkan, hingga tanpa sadar Yeonsung malah membalas ciuman itu. Tangannya meremas kuat baju Luhan. Menyalurkan emosinya pada pria itu.

Malam semakin larut.

Luhan mengantar Yeonsung pulang setelah mengakhiri pesta kembang api mereka.

“pulanglah, kau tidak perlu mengantarku sampai kedalam rumah, kan?”.

“masuklah, baru aku akan pulang”. Suruh Luhan. Mau tak mau Yeonsung menurut. Lagipula ia merasa sangat lelah. “Park Yeon”.

Yeonsung membalikkan badannya. Luhan berjalan mendekat. Tampak Luhan mengeluarkan kalung milik ibunya dari balik bajunya.

“aku akan memberikan ini untukmu”. Luhan melepaskan kalung itu dari lehernya.

“kenapa? Itu kenangan dari ibumu”.

Luhan tersenyum. “aku punya banyak kenangan darinya. Biar ku pasangkan”. Luhan mengarahkan kalung itu ke leher Yeonsung. namun gerakannya terhenti.

Ada kalung lain yang sudah terpasang dileher Yeonsung.

“akan kulepaskan”. Ujar Yeonsung sambil melepaskan kalung pemberian Yongjoon.

Dengan begitu Luhan dapat memasangkan kalung darinya dileher Yeonsung. tanpa menanyakan tentang kalung berliontin Y itu. Tidak peduli jikapun kalung yang Yeonsung lepaskan hadiah dari orang. Yang penting sekarang Yeonsung hanya memakai kalung yang ia berikan.

Secara tidak sengaja Luhan bertemu dengan Yongjoon di ruang perlengkapan olahraga. Saat Luhan akan mengembalikan bola yang ia pinjam. Keduanya saling melihat. Yongjoon yang terkejut karena Luhan tiba-tiba masuk, dan Luhan yang terkejut karena melihat orang didalam sana.

“ah, kau rupanya”. Gumam Luhan, lega. Dikiranya Yongjoon adalah hantu perawan yang sering dibicarakan siswa lain. Luhan meletakkan bola kedalam keranjang.

“tutup lagi pintunya”. Titah Yongjoon dengan santai sambil melanjutkan kegiatannya menghisap rokok. Asap putih mengebul dari mulutnya.

“sepertinya kita perlu bicara”. Ujar Luhan sambil melipat tangannya dibawah dada.

Yongjoon menjatuhkan rokoknya kelantai, menginjak rokok itu hingga hancur. Lantas ia berjalan mendekati Luhan. “aku tak inign bicara denganmu”. Ujarnya lalu melangkah melewati Luhan.

“tapi ini tentang Park Yeon”.

“Yeonsung?”. Yongjoon menghentikan langkahnya dan berbalik. “apa? dia mengatakan sesuatu padamu?”. Terka Yongjoon.

Jujur saja ia takut kalau kalau Yeonsung mengatakan sesuatu tentang keadaannya sekarang. Mungkin saja kan, Yeonsung meminta Luhan untuk bertanggung jawab karena Luhan yang pertama kali memperkosanya.

“tidak ada, hanya saja – kalung dengan liontin Y yang dipakainya, apakah itu milikmu?”. Tanya Luhan.

“itu miliknya, dariku. Aku juga punya satu”.

Luhan mengangguk. Senyuman penuh arti terukir diwajahnya. Luhan mendekati Yongjoon, menepuk-nepuk pundak Yongjoon pelan. “Yeonsung sudah melepaskan kalung darimu, dan menggantikannya dengan kalung dariku”.

Yongjoon diam. ia ingin marah dan menghajar Luhan saat itu juga. Tapi bisa saja Luhan berbohong, sekedar ingin memancing emosinya. “aku tidak peduli, meskipun dia lebih memilih hadiah darimu tapi dia tak akan pernah memilih mu”. Jawab Yongjoon.

“mengapa kau begitu yakin?”.

“ingin bertaruh? akan kupastikan perkataanku benar”.

Yongjoon menyingkirkan tangan Luhan dari pundaknya. Dengan seringaian menghiasi wajahnya, Yongjoon berbalik dan melangkah pergi.

Bukk

Tubuh Yeonsung membentur dinding, Yongjoon mendorongnya ke dinding belakang gedung sekolah. Yeonsung menatap tak suka pada Yongjoon. Demi apapun, sejak tadi pagi kepalanya pusing sekali dan sekarang Yongjoon malah memaksanya untuk bertemu. Dan – apa-apaan? Malah dia yang terlihat marah. Batin Yeonsung.

Meskipun sebenarnya Yongjoon tidak bermaksud untuk kasar pada Yeonsung lagi.

“kau melepaskan kalung dariku?”. Tanya Yongjoon langsung pada intinya.

“memangnya kenapa?”.

“jangan balik bertanya, jawab saja”.

Yeonsung mengangguk pelan. Yang ia takutkan jika tidak menjawab adalah Yongjoon akan membuka paksa kancing seragamnya untuk memastikan. Setelah mendapat jawaban dari Yeonsung, perlahan Yongjoon menjauhkan tubuhnya.

“shit! Jika kau tidak suka dengan pemberianku, kenapa kau malah menerimanya?”.

“Aku tidak bisa menerima perasaanmu, maka aku menerima hadiah dari. Setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk menghargai orang lain”. Jawab Yeonsung. “bukankah kau memintaku untuk menghargaimu?”.

Yongjoon berdecak. “aku harus bagaimana agar kau menerimaku?”.

“kupikir tidak menolakmu tapi juga tidak menerimamu, itu sudah cukup”.

“sayang sekali sekarang aku tak cukup hanya dengan tubuhmu, aku juga menginginkan hatimu”.

Oh! Yeonsung mengalihkan pandangannya. “aku tidak bisa memberikannya”.

“kenapa!?”.

“aku tidak bisa memberikannya pada siapapun!”. Seru Yeonsung. matanya mulai terasa panas. “aku tidak akan memberikan hatiku pada siapapun dan membiarkan mereka melukai hatiku”.

“aku tidak akan melukaimu”.

Yeonsung mendesis. Lalu tertawa mengejek. “bullshit”.

“percayalah padaku, berikan aku kesempatan”. Pinta Yongjoon seraya meraih kedua tangan Yeonsung, menggenggam tangan itu dengan erat.

“aku tidak akan percaya pada bajingan sepertimu”.

“aku ayah dari bayimu Park Yeonsung”.

Dengan kasar Yeonsung menarik tangannya dari genggaman Yongjoon. “kau hampir membunuhnya – oh, bahkan mungkin bisa membunuhku juga, lalu sekarang aku menyebut dirimu ‘ayah’. Aku boleh tertawa tidak?”.

Yongjoon mencelos. Ternyata rasanya sakit sekali ketika Yeonsung menatapnya dengan tatapan jijik seperti saat ini. “aku – aku minta maaf”. Yongjoon tertunduk.

“aku tidak bisa memaafkanmu”.

Yongjoon mengangguk. Mengerti jika tak mungkin Yeonsung akan dengan mudah memaafkannya. Jika saja – jika saja ia tidak terpikir untuk merubah diri, pasti ia sudah memikirkan cara agar Luhan juga tak bisa mendapatkan maaf dari Yeonsung. tetapi, bukan itu hal yang penting sekarang. Yongjoon mengatakan pada dirinya sendiri untuk tetap berusaha menjadi yang terbaik bagi Yeonsung.

Hanya itu.

Ya.

Hanya itu yang harus ia lakukan sekarang.

Dibalik dinding, Yunbi menyandarkan tubuhnya. Mendengar semua percakapan Yeonsung dan Yongjoon. Yunbi menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. “Yeon’ah –“. Lirihnya pelan.

TBC

Apa Cuma gue yang menangos pas YJ blg suka ke Yeon? Wkwkw

Comment? Ok. tq

 

Iklan

15 thoughts on “FanFict “Iaokim” #11

  1. Puji Tuhan akhirnya YJ bilang suka ke Yeon.
    Aku nge ship mereka berdua kak. Aku mutung gara2 luhan udh punya yg lain 😭
    Udah Yeon nrima YJ aja.

  2. Aq bngung mau nge ship siapa???
    Tp dr prtama sdah sma luge sih,,toh jg bnyax yg blang klw luge pnya hbungan cma mau iklanin drama ny doang,,

    • iklanin drama? :”)
      peulis Luge tida seenggak tenar itu dan Xi otong jg tida seenggak tenar itu disana. bahkan otong masuk dalam aktris terlaris di Tiongkok :”) sudahlah jgn memaksakan keadaan

  3. Tuhhh kan benar waktu yeon main cello di skf gak ada di sini ada.
    dan apa2n itu yunbi mengetahui nya? kasian ih sama yeon terus2n terluka aku dukung ko mau sama lu atau yoong juga.hee

  4. Mah bingung dengan hanabi, apa mngkn ibunya yeonsung.. Hihihi, cuma tebakan aja, yongjoon jd bapak,seru juga…jdx yongjoon appa, yeonsung eomma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s