FanFict “Iaokim” #5


Iaokim 2

Iaokim #5

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Kim Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1, 2

 

~oOo~

Yeonsung terbangun sekitar 1 jam setelah ia pingsan. Ia tidak tahu siapa yang telah mengantarkannya ke rumah. Perlahan ia terjaga dari tidurnya, mengelap keringat yang membasahi lehernya. Yeonsung menoleh ke sisi kanannya, disana terdapat meja kecil dengan tudung saji diatasnya.

Dalam hati ia bertanya siapa gerangan yang telah mengantarnya bahkan disediakan makanan juga.

Tadi ia pingsan karena mag. Disekolah, jadi enggan pergi ke kantin karena tak ingin bertemu Luhan. Bayangkan saja, sejak pagi tidak makan bahkan melewatkan makan siang dan malam.

Akhirnya Yeonsung menghampiri meja makan dan membuka tudung saji. Hanya semangkuk nasi, tidak, ini bubur. Sup dan telur mata sapi. Di bawah mangkuk nasi terdapat selembar catatan kecil.

jangan pikirkan rasanya, pikirkan saja niat pembuat makanan ini

“apa-apaan?”. Yeonsung tertawa pelan. Apakah mungkin ini perbuatan Chanyeol? Pikirnya.

Tanpa berlama-lama, Yeonsung memakan makanan yang sudah tersedia. Tak peduli siapa yang telah memasak untuk nya. Ia tidak tahu saja, jika bubur yang ia makan sekarang berjumlah banyak dan ada didalam rice cooker.

Luhan berniat memasak nasi, tapi ia memasukan air terlalu banyak hingga seperti bubur. Lalu Yeonsung juga tidak tahu berapa banyak telur yang gagal masuk ke dalam wajan, karena Luhan tak tahu cara memecahkan telur dengan benar untuk digoreng.

Setelah pergi dari rumah Yeonsung, Luhan tak langsung pulang kerumahnya. Ia malah duduk dihalte melihat lalu lintas yang semakin lama semakin sepi. Beberapa menit yang lalu ia menerima pesan dari ibu tirinya, menanyakan dimana dia sekarang. Tapi Luhan hanya membaca pesan tersebut.

Luhan teringat…

“nushi*, apa kau punya anak?”.

“t-tidak, aku pernah punya tapi dia sudah meninggal kecelekaan bersama baba nya”.

“anakmu perempuan atau laki-laki?”.

“perempuan”.

“sayang sekali. Padahal jika dia cantik akan kujadikan pacar”.

Luhan sama sekali tidak marah saat ayahnya bilang akan menikah lagi. Dan ia juga ingat dengan percakapannya ketika pertama kali bertemu dengan calon ibu tirinya. Jelas-jelas wanita itu mengatakan jika ia tak punya anak. Lalu siapa yang ia lihat tadi? Gadis yang ia sakiti, yang tadi pingsan dijalan.

Lidahnya terasa kelu jika harus mengatakan Yeonsung adalah ‘adik tirinya’.

*nushi : bibi (untuk orang luar keluarga)

Pagi hari dikediaman keluarga Lu. Tidak seperti biasanya, Luhan memasang wajah badmood nya. Sejak semalam ia pulang telat, bahkan tak menyapa ibunya. Pagi ini Luhan hanya menatap sarapan yang disediakan oleh ibu tirinya.

“Lu, kau kenapa? Apa kau sakit? Jika sakit sebaiknya kita ke dokter”. Tanya Han Hyerin.

Luhan menghela napas berat. “benar juga”.

“setelah baba mu pergi kerja sebaiknya kita ke rumah sakit”. Sahut Hyerin lagi.

“cih… tapi wajahnya tak nampak seperti orang sakit”. Balas Lu Hwang kemudian menyeruput kopinya.

“aku bertemu dengan seorang gadis. Dia mirip denganmu, ma”. Ujar Luhan.

Hyerin sontak membelalak. Sambil tersenyum getir, ia pun tertawa pelan ala istri orang kaya. “mungkin hanya kebetulan, Lu”.

“tapi kalian benar-benar mirip. Gadis itu bermarga Park. Namanya Yeonsung”.

“Luhan! Jangan bercanda!”. Tanpa sadar Hyerin malah berteriak cukup keras bersamaan dengan ia berdiri dari tempat duduknya. Berhasil membuat Lu Hwang keheranan.

Luhan menatap tanpa takut pada Hyerin. “dan dia sedang sakit sekarang. Dia malnutrisi”. Ujar Luhan lagi.

Tak berlama-lama, Luhan memutuskan untuk pergi dari meja makan setelah meminum seteguk susu coklatnya. Hanya melihat dari ekspresi Hyerin saja, Luhan yakin jika ibu tirinya adalah benar ibu kandung Park Yeonsung.

Tapi yang masih menjadi pertanyaannya, mengapa Hyerin tidak mengakui tentang Yeonsung dan kakaknya Yeonsung. bahkan ketika ia melakukan tindakan criminal pada gadis itu, Hyerin malah membelanya bukan anak kandungnya.

Kelas itu menjadi heboh ketika Luhan masuk dengan penuh pesona seperti biasa. Luhan tahu kursi mana yang ia tuju. Kursi yang berada dipojok kelas didekat jendela. Dimana Yeonsung duduk seperti sebuah buku yang dipajang. Berbeda dengan gadis lain yang mengobrol dengan teman-teman kelasnya.

Luhan langsung menyeret sebuah kursi, lalu ia duduk disebelah Yeonsung.

“sarapan”. Luhan meletakkan sebotol susu pisang dan roti coklat diatas meja gadis itu.

“aku sudah sarapan”. Tolak Yeonsung.

Situasi yang tampak romantic seperti didalam drama itu segera diabadikan oleh murid didalam kelas. Meskipun mereka menghujat keadaan itu.

“makan saja”.

“aku tidak butuh, sungguh”.

Luhan menghelas napas. Mengerang frustasi hingga Yeonsung sedikit tersentak. “setidaknya makan dan minumlah ini sebagai rasa terima kasih”.

“kenapa aku harus melakukan itu untukmu?”.

“Park Yeonsung”.

Bel masuk berbunyi. Luhan membuka tas Yeonsung lalu memasukan susu pisang dan roti kedalam tas tersebut. Dengan santai ia pergi begitu saja dari dalam kelas. Yeonsung tak bisa melakukan apapun, hanya menatap punggung Luhan yang menjauh darinya.

“apa dia sudah hilang akal?”. Gumam Yeonsung.

 

Setelah sekian lama mereka tidak berkumpul diatap sekolah. Hari ini mereka kembali berkumpul kecuali Minho dan Yongjoon yang sengaja tidak diundang. Perkara Luhan yang datang ke kelas Yeonsung dan memberinya sarapan, teman-teman Luhan ingin tahu.

“aku tidak ada maksud apa-apa, sungguh!”.

“benarkah? lalu kenapa kau tiba-tiba baik? apa kau mulai menyesal, Lu?”. Tanya Youngmin dengan nada investigasi.

Luhan mengacak rambutnya sendiri. “ada alasan khusus, ya, aku tidak bisa memberitahu kalian”.

“ah ~ pasti kau ingin sesuatu dari gadis itu kan?”. Youngmin kembali menginvestigasi Luhan.

Tatapan Jihoon dan Minseok pun semakin menusuknya, seakan membenarkan perkataan Youngmin barusan.  “aku tidak ingin apapun, astaga! Kalian bukannya bersyukur teman kalian ini telah berubah, malah bertanya macam-macam”.

Hening.

Plakk

Tiba-tiba Minseok melayangkan sebuah tamparan ke wajah Luhan. “sakit tidak?”.

“ya! ya! mengapa kau menamparku?”. Kesal Luhan sambil mengusap pipinya.

daebak. Kau benar-benar tidak bermimpi”. Minseok langsung menangkup wajah Luhan. “baguslah kalau begitu, aku akan mendukungmu, Lu. Fighting!”.

“akun Hanabi bertingkah lagi. Aku sungguh penasaran siapa sebenarnya pemilik akun itu?”. Umpat salah seorang teman Euina.

“sudah berapa kita melaporkan akun itu, lalu menghilang, sekarang dia muncul lagi? Dia benar-benar keras kepala”.

Sedangkan Euina hanya diam ditempat duduknya seraya mengangkat kakinya keatas meja. Sorot matanya mengerikan. Ia juga benar-benar muak dengan pemilik akun Hanabi itu. Selalu mengunggah foto ataupun video yang memojokkan Euina. Terkadang ia juga membuat kata-kata sarkas yang menyinggung perbuatan Euina.

Kenapa hanya Euina yang ia pojokan? Seolah memiliki dendam abadi pada gadis itu.

“kurasa aku tahu siapa Hanabi”. Celetuk Minjung, teman Euina. Ia menunjukkan ponselnya pada Euina. “lihatlah. Ini adalah akun milik Park Yeonsung”.

Euina melihat ponsel itu seakan tak tertarik, padahal sebenarnya ia sangat bersemangat jika sudah menyangkut objek bully nya itu.

hananimi kyeoljeong hasinda. Adalah kutipan yang ia tulis di biografi profilnya”. Ujar Minjung. “lalu, lihat sampul pada akunnya. Kembang api, dalam bahasa Jepang kembang api disebut Hanabi”.

“tsk!”. Euina tersenyum menyeringai.

“bagaimana menurutmu? Bukankah ini seperti jinx?”.

“aku punya rencana yang bagus agar gadis sialan itu tidak besar kepala”. Ujar Euina. Kemudian ia menoleh ke jendela yang langsung berhadapan dengan lapangan. Disana terlihat Luhan tengah berlarian menggiring bola. “dan berhenti menarik Luhan dariku. Luhan itu milikku”. desisnya.

“Euina’ya, aku memberikan informasi padamu, itu tidak gratis”.

“baiklah. Kau ingin bersama Minho, kan? Akan ku buat itu terjadi”.

“sebenarnya kau tidak perlu mengantarku, aku biasa pulang sendiri”. Ujar Yeonsung.

Seungri memaksa untuk mengantarkan Yeonsung sampai kerumah. Yeonsung tidak mengerti mengapa tiba-tiba pria itu ingin mengantarnya. Tentang hal yang pernah ia alami beberapa bulan lalu dibelakang sekolah, Yeonsung memang tidak memiliki trouma yang menyebabkan ia ketakutan pada lelaki. Jika ya, pasti ia memilih untuk pindah ke sekolah khusus putri.

“hanya ingin jalan-jalan sebelum pulang, rumahku sangat sepi”. Jawab Seungri. Ia terus mengikuti langkah Yeonsung dari belakang.

Gadis itu berhenti melangkah, ia membalikkan tubuhnya. “sampai disini saja, rumahku sudah terlihat dari sini”.

“kau ini –“. Seungri membalikkan kembali tubuh Yeonsung. “jalan”. Suruhnya seraya mendorong agar Yeonsung kembali berjalan.

Yeonsung bisa melihat sebuah mobil hitam terparkir didepan rumahnya. Ia tahu itu mobil siapa. Karena itulah Yeonsung tak ingin Seungri mengantarnya hingga benar-benar didepan rumah.

“sepertinya kau kedatangan tamu”. Gumam Seungri yang juga melihat mobil itu.

Yeonsung tak berkata apapun hingga mereka tiba didepan rumah. Pintu mobil terbuka. Han Hyeri – ibunya, keluar dari dalam mobil. “kau baru pulang? Bersama seorang anak lelaki? Cih”. Desis Hyeri. Bahkan ia menatap sinis pada Seungri.

sunbae, kau pulanglah”. Suruh Yeonsung.

“Yeon’ah, siapa perempuan ini?”. Tanya Seungri dengan berbisik ke telinga gadis itu.

“kenalan orang tuaku, pulanglah, kumohon”. Pinta Yeonsung. akhirnya Seungri mengalah. Yang terpenting adalah ia sudah mengantarkan Yeonsung sampai kerumah tanpa gangguan dari Luhan.

Sebenarnya tadi ia mendengar saat kelompok itu berbincang diatap sekolah. Seungri khawatir jika Luhan berniat jahat lagi pada Yeonsung. makanya ia memaksa untuk mengantar gadis itu pulang.

Setelah memastikan Seungri berjalan jauh dari sana, Hyeri kembali pada tujuannya datang kemari. “bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak membuat masalah lagi?”.

“aku tidak melakukan apapun”.

“kau! Kau memberitahu Luhan tentang hubungan kita? Tentang kau adalah anakku!?”.

Yeonsung mengerutkan keningnya. Tidak mengerti apa yang sedang ibunya bicarakan. Luhan tahu tentang semua itu? “aku sungguh tidak mengatakan apapun padanya. Bahkan terlalu lama melihatnya membuat ku takut”.

“jangan berpura-pura!”. Bentak Hyeri. “pindah saja kesekolah lain”.

“tidak”.

“Park Yeonsung!”.

“kau tidak pernah mengurusku sejak lama, bagaimana kau bisa berpikir jika kau masih punya hak untuk mengaturku?”. Ucap Yeonsung dengan nada datar. Ia menghela napas. “rumahku terlalu dingin untukmu, jadi pulanglah kerumahmu yang nyaman itu, Nyonya Lu”.

Hyeri menyipitkan matanya. Emosinya memuncak mendengar ucapan Yeonsung barusan. Ia tak melakukan atau mengatakan apapun lagi setelah itu. Lantas Yeonsung segera masuk ke halaman rumahnya. Mengunci pagar berkarat dirumahnya dengan sebuah gembok, yang selama ini tak pernah ia kunci. Bahkan Yeonsung tak menoleh lagi sampai ia benar-benar masuk.

Bagi Yeonsung, tidak mungkin bertanya pada Luhan. ‘apakah kau yang mengantarku kerumah malam saat aku jatuh pingsan?’. Membayangkan hal itu benar-benar terjadi saja membuat Yeonsung bergidik. Beberapa kali ia menggosok tengkuk dan lengannya yang merinding.

Jadi ia memikirkan cara lain yang sekiranya bisa memastikan kebenaran tersebut. Setelah ibunya menemuinya lagi, lalu mengatakan jika Luhan tahu soal hubungan mereka, Yeonsung terus berpikir jika Luhan-lah yang membawanya.

“pelajaran cukup sampai disini hari ini. jangan keluar kelas, mengerti?”. Ujar Guru Lee mengakhiri pelajarannya hari ini.

Lihatlah! Bahkan Yeonsung tidak mencatat apapun dibukunya, ia malah berpikir hal lain.

“aku seperti gila”. Gumam Yeonsung.

“Park Yeonsung”.

“aku tidak mengatakan apapun”. Reflek ia menjawab ketika teman yang duduk didepannya memanggilnya. Gadis berambut blonde itu kebingungan mengapa Yeonsung berkata seperti itu padanya. “ah, kenapa?”.

saem memanggilmu”. Ujarnya seraya menunggu Guru Lee yang ternyata masih berdiri dimeja guru.

Yeonsung bergegas bangkit dari tempat duduknya. Menghampiri Guru Lee. “bisa kau bantu aku, ambilkan buku tugas kalian diruang guru?”. Pinta Guru Lee.

“baiklah, saem”. Jawab Yeonsung.

Fyuh!

Tadi ia mengira jika Guru Lee akan menyuruhnya menanyakan ulang materi yang tadi ia jelaskan dikelas. Yeonsung merasa lega ternyata ia hanya disuruh mengambil buku tugas.

Ruang guru saat jam pelajaran hanya ada beberapa guru disana. Yeonsung masuk lalu membungkuk pada guru yang ada disana meskipun tak ada yang sadar jika ia masuk. Gadis itu langsung melangkah menuju meja Guru Lee. Ia langsung tahu yang mana buku tugas milik kelasnya.

Tetapi – rupanya mata Yeonsung bukan hanya terfokus pada tumpukan buku milik kelasnya saja. Melainkan tumpukan buku disebelahnya pula. Buku milik kelas 3-A. Yeonsung melirik ke kiri-kanan, para guru yang ada disana sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Buru-buru Yeonsung mengambil apa yang ia inginkan dari tumpukan buku kelas 3-A itu.

“kau dengar rumor tentang gadis itu? Katanya dia sedang berusaha mendekati Luhan”. Umpat sekelompok gadis yang tengah makan dimeja yang sama. Saat itu Yeonsung baru keluar dari antrian dan hendak menuju ke meja yang biasa ia tempati.

“benarkah? jadi benar kalau dia tidak diperkosa, melainkan dia yang ingin ‘disentuh’ Luhan?”. Sahut salah satu dari mereka.

“tapi, itu kan hanya rumor”.

“ya ~ tentu ini adalah fakta. Ada seseorang yang melihatnya bersama Luhan. Ck. Dia benar-benar pandai merayu pria”.

“jaga pacar kalian jika tak ingin direbut olehnya”.

Yeonsung duduk dikursinya. Ia bukan tidak mendengar saat seantero sekolah ini membicarakan dirinya. Rumor seperti apapun itu cepat sekali menyebar. Jika saja dirinya bukan Yeonsung, mungkin rumor tidak akan menyebar dengan cepat. Karena dirinya adalah Yeonsung, yang sejak awal dimulainya sekolah sudah membuat kehebohan.

Sebuah tangan merangkul pundaknya ketika Yeonsung tengah menyumpit makan siangnya. Yeonsung menoleh ke samping kanannya. Euina tersenyum lebar padanya. Namun Yeonsung tidak membalas senyuman itu.

“gawat sekali, ya. aku sudah mendengar rumor tentang kau. Ya ~ aku jadi ingin belajar darimu bagaimana cara mendekati Luhan”.

“aku tidak melakukan apa-apa”.

Euina terkekeh geli. “jadi maksudmu, kau memiliki pesona seperti seorang dewi hingga Luhan mendekatimu tanpa alasan?”. Ujar Euina. Yeonsung diam sambil meneruskan makan siangnya. “bukankah kau menyerahkan tubuhmu agar bisa dekat dengannya”.

“Euina!”. Teriak seseorang.

Euina terperanjat. Lantas ia menengok siapa yang telah berteriak padanya. Berdiri tak jauh darinya, sosok Luhan dengan wajah tak suka, menatap Euina. “Luhan”. Ujar Euina.

Luhan berjalan mendekat dengan cepat, ia mendorong Euina agar menjauh dari Yeonsung lalu ia menarik tangan Yeonsung. membawanya pergi dari tempat itu. Meskipun Yeonsung memberontak agar Luhan melepaskan genggamannya, Luhan tak bergeming.

“kau membuat semua orang melihat kemari”. Gumam Yeonsung.

“aku tidak peduli”.

Luhan tidak peduli. Benar-benar tidak peduli bahkan jika Yeonsung semakin dipandang buruk, setidaknya jika semua orang disekolah ini membencinya, ia akan jadi satu-satunya orang yang peduli pada Yeonsung.

“bisakah kau melakukan perlawanan ketika mereka membicarakan yang tidak-tidak tentangmu?”. Rutuk Luhan sambil memberikan roti yang ia beli sebagai pengganti makan siang untuk Yeonsung.

“mereka akan diam dengan sendirinya”. Jawab Yeonsung dengan nada datar.

Luhan membawa gadis itu keatap sekolah. Disini sepi, jadi Luhan berpikir akan aman dan tidak akan mendengar umpatan orang-orang untuk sementara. Luhan membuka bungkus roti, karena Yeonsung tidak menyambut roti itu darinya.

“kau tidak marah mendengar mereka membicarakanmu?”. Tanya Luhan sambil menyodorkan kembali roti pada Yeonsung.

“aku merasa tidak bersalah”. Jawab Yeonsung.

Luhan meraih tangan gadis itu, meletakkan roti yang sudah ia buka bungkusnya ditangan Yeonsung. “makanlah”.

Seperti sebuah robot, Yeonsung mulai menggigit rotinya tanpa bicara apapun. Sedari tadi ia hanya menatap lurus keujung sepatunya. Memperhatikan, mengapa disana ada noda debu? Oh – bahkan pikiran konyol semacam itu muncul karena ia tidak ingin memikirkan orang lain.

“bahkan jika kau tidak bersalah, seharusnya kau membela diri”.

Yeonsung mengambil jus kotak dari tangan Luhan. “aku sudah pernah melakukannya”. Yeonsung menyeruput jus sebelum kembali berbicara. “tapi tidak ada yang percaya padaku”. Lanjutnya.

Luhan tahu apa yang sedang Yeonsung maksud. Tentang pembelaannya yang ditolak dipengadilan waktu itu. Maka dari itu Luhan hanya diam.

saem, dia itu bermasalah. Bisakah gantikan saja denganku?”.

Yeonsung baru tiba dan hendak masuk ke ruang les musik saat ia mendengar pembicaraan orang didalam. Yeonsung mengurungkan niatnya untuk masuk.

“tapi aku sudah memberikan formulir pendaftaran atas nama Park Yeonsung”. jawab Kyuhyun. Menolak secara halus.

“aku mendengar apa yang terjadi padanya, kupikir itu akan buruk untuk kontes nanti”. Gadis itu masih berusaha untuk diikutsertakan kedalam kontes. “lagipula mengapa kau hanya mengirim satu anak didik?”.

“apapun yang terjadi padanya, tak akan mempengaruhi kontes ini karena penilaian berdasarkan juri”. Jawab Kyuhyun lagi.

eo? Yeonsung, kenapa kau tidak masuk? Apa belum ada orang didalam?”. Sialnya, saat Yeonsung menunggu diluar, teman lesnya datang dan menyapanya. Gadis dengan tag nama Minah itu pun membuka pintu. “saem, annyeonghaseyo”. Sapanya pada Kyuhyun.

ne, annyeong. Minah’ya, apa Yeonsung diluar?”.

ne, saem”. Minah menarikYeonsung untuk masuk. Gadis itu hanya membungkuk tanpa mengucapkan salam pada Kyuhyun.

saem, eomma ku sangat ingin melihatku tampil dikontes itu”. Seoyoung terus memaksa untuk diikutsertakan dalam kontes. Bahkan dengan sengaja ia berbicara didepan Yeonsung.

“tapi –“. Yeonsung angkat bicara. “oppa ku juga ingin melihatku tampil dikontes itu”. Ujarnya.

Seoyoung diam. menatap tak suka pada Yeonsung, dengan kesal ia pergi dari ruangan itu. Bahkan sebelum keluar dengan sengaja ia menyenggol bahu Yeonsung.

Yeonsung mengangkat kepalanya, menganggap tak terjadi apapun barusan. Tapi yang ia temukan adalah sosok Yunbi, duduk ditempat duduknya sambil melihat kejadian itu. Ketika tatapan keduanya bertemu, Yunbi segera mengalihkan pandangannya.

“apakah akan buruk bagi tempat ini jika Seoyoung tidak ikut kontes, saem?”. Tanya Yeonsung tiba-tiba. setelah ia berhasil membela diri, ia malah khawatir akan hal lain.

“tidak akan terjadi apapun, Yeon’ah. Tenang saja”. Jawab Kyuhyun.

Pembullyan tentu tidak akan berhenti hanya karena Luhan marah pada Euina. Gadis itu tidak peduli jikapun Luhan tak akan menyukainya lagi, tapi setidaknya Luhan tidak bersama Yeonsung. itu saja sudah membuatnya lega.

Lalu pagi ini saat Yeonsung tiba dikelasnya, ia menemukan lokernya penuh dengan catatan kecil. Bertuliskan berbagai kata-kata kasar dan umpatan tentang dirinya. Yeonsung hanya bisa melepaskan satu-persatu catatan tersebut dari lokernya.

“padahal akan lebih baik jika menggunakan kertas ini untuk membuat catatan rumus penting”. Gumamnya.

Plukk!

Sebuah kotak bekas jus buah dilemparkan ke kepalanya. Yeonsung diam ditempatnya. Terdengar seseorang menyuarakan agar ia pergi dari sekolah ini. Yeonsung tidak tahu kali ini rumor apa yang disebar tentang dirinya.

Ditempat lain, dikelas Luhan. Youngmin datang menghampiri pria itu saat ia tengah santai menatap langit dari jendela kelas. “Lu, kau tidak tahu kalau seseorang telah menyebarkan poto Yeonsung ditempat hiburan dan motel?”. Tanya Youngmin seraya menunjukkan ponselnya.

Luhan terperanjat hampir terjatuh dari kursinya. Segera ia melihat gambar yang ditunjukkan oleh Youngmin. Sepertinya poto itu telah diedit hingga nampak Yeonsung seperti tengah berbicara dengan seorang pria tua.

“dimana dia sekarang?”.

Youngmin menggelengkan kepalanya perlahan. “tapi, Lu, jika poto ini sampai ke pihak sekolah, kemungkinan Yeonsung akan di skors”.

“sial”.

Luhan segera bangkit dari tempat duduknya. Berlari keluar kelasnya. Tak peduli siapapun yang ia tabrak, yang Luhan pikirkan adalah ia harus berlari ke kelas Yeonsung. dan kenapa kelasnya menjadi sangat jauh sekarang?

Setibanya dikoridor, Luhan menengok dari jendela. Gadis itu tak ada ditempat duduknya. Buru-buru Luhan membuka pintu dan masuk. Seketika kelas yang tadinya riuh menjadi hening.

Luhan tak menemukan Yeonsung disana.

“apa benar kau pergi ketempat itu”.

Seungri menyelamatkan Yeonsung tepat waktu, sebelum gadis itu jadi bulan-bulanan murid dikelasnya. Dan kini ia mengajak Yeonsung berbicara diatap sekolah. Sungguh! Tempat ini memang tempat yang cukup aman.

“aku memang pergi kesana”.

Seungri menghela napas. Mengira jika Yeonsung bersalah dalam hal ini. ia tak bisa berbuat banyak jika Yeonsung bersalah. Lantas Seungri menyandarkan punggungnya ke dinding dipinggir gedung. “lalu apa yang akan kau lakukan sekarang”.

“aku tidak pernah melihat pria itu sebelumnya”.

“maksudmu?”.

“poto itu”.

Sesaat Seungri tidak mengerti apa yang Yeonsung bicarakan. Namun akhirnya ia paham jika poto itu bukan asli, melainkan sabotase. “kau mungkin akan di skors atau kena sanksi lain”.

“aku akan menggunakan waktu itu untuk berlatih Cello”.

“kenapa kau membuatku kesal hari ini?”.

Yeonsung diam. menatap sepatunya –lagi. Sambil berpikir, mengapa ia harus mengikat tali sepatunya dari bawah keatas, bukan dari atas kebawah. “lagipula sekolah mulai membosankan”.

“kau ini bicara apa?”.

Luhan tiba diatap sekolah setelah mencari Yeonsung keruang konseling. Ia baru teringat tempat ini setelah itu. Meskipun napasnya terengah, setidaknya Luhan lega menemukan gadis itu disana – bersama orang lain.

“Park Yeon!”. Panggil Luhan.

Yeonsung menoleh. Menatap datar pada Luhan. Ketika Luhan melangkah mendekat, Seungri menyembunyikan Yeonsung dibelakang tubuhnya. “apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Seungri.

“mencarinya”. Luhan menunjuk Yeonsung yang berdiri dibelakang Seungri.

“untuk apa kau mencarinya?”.

“bukan urusanmu”.

“bisakah kalian tidak berada disisiku?”. Yeonsung menyelah pembicaraan kedua orang itu. Sampai-sampai Seungri menoleh terkejut. Seolah bertanya ‘kenapa?’. “bel masuk sudah berbunyi, aku ingin ke kelas”.

Luhan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.

Setelah ia menyadari kesalahan yang telah ia perbuat, saat itu ia sadar betapa sulitnya menjadi Yeonsung. tetapi untuk mengakui kesalahan itu pula sama sulitnya bagi Luhan. Apa yang akan terjadi padanya jika ia mengakui kesalahannya? Apa yang akan terjadi pada teman-temannya? Luhan tak yakin akan sanggup menghadapi cemooh orang.

Pelecehan. Pemalsuan dokumen. Kesaksian palsu.

Selama ini yang orang lain ketahui adalah Yeonsung yang memulai hingga ia dilecehkan oleh Luhan dan teman-temannya. Dokumen kesehatan Yeonsung. dan kesaksian Yunbi yang seolah benar.

“sekarang aku tahu mengapa Tuhan tidak memberikan kesempatan agar aku punya seorang adik”. Gumam Luhan. Perlahan matanya terpejam.

Ya.

Yeonsung adalah adik tirinya.

Seorang gadis yang baru saja memulai masa SMA nya dan harus menjalani masa SMA yang berat. Karena Luhan. Seorang gadis yang tidak diakui oleh ibu kandungnya sendiri.

“sekarang aku hanya ingin membantunya”.

Tok tok

Terdengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar sana. Luhan tak menjawab, berpura-pura tidur. Tetapi si pengetuk pintu malah masuk dengan lancang kekamar Luhan. “Luhan, apa kau sudah tidur?”. Tanya Hyerin – ibu tirinya.

Luhan tak bergeming.

Hyerin meletakkan segelas susu hangat dimeja belajar Luhan. Ia hendak merapikan meja yang tampak berantakan itu. “jangan menyentuh apapun”. Ujar Luhan.

Hyerin terkejut, mengira Luhan sudah tidur lalu tiba-tiba anaknya itu bersuara. “kenapa? Biasanya kan aku selalu merapikan ini”. Hyerin masih berusaha untuk merapikan meja Luhan.

“kubilang jangan sentuh!”. Teriak Luhan.

Rupanya Lu Hwang mendengar teriakan itu, membuat pria yang mulai renta itu berjalan menuju kamar putranya. Yang ia lihat ketika memasuki kamar, Hyerin yang berdiri dengan sedikit bergetar. Luhan menatapnya tajam. “Luhan, kau ini kenapa?”. Tanya Lu Hwang.

“jangan mengangguku, bisakah? Biarkan saja ini dan itu berantakan. Aku tidak peduli”. Amuk Luhan.

Lu Hwang menghela napas. Sebagai seorang ayah, ia mengerti sifat putranya. Lantas ia menarik tangan Hyerin agar keluar dari kamar itu. Meninggalkan Luhan. “biarkan saja dia seperti itu dulu”. Ujar Lu Hwang.

“baiklah”. Jawab Hyerin dengan lemah. Dalam benaknya berpikir jika semua ini terjadi karena Yeonsung. Luhan berubah.

Cukup lama Yeonsung bisa bertahan dari berbagai bullyan yang dilakukan teman-temannya. Selama itu pula Luhan selalu berusaha berada disisinya. Meskipun sangat nampak jika Yeonsung menghindari gadis itu.

Pagi itu, saat Yeonsung berjalan di koridor menuju kelasnya. Seseorang dengan sengaja memasang kakinya ketika Yeonsung akan lewat, hingga gadis itu tersandung dan jatuh.

“bahkan dia berlutut padaku”. Ujar gadis itu. Tampak beberapa temannya memotret ketika Yeonsung jatuh dihadapan gadis dengan eyeliner tajam itu, seolah Yeonsung sedang berlutut padanya.

Bahkan untuk menelan ludahnya sendiri terasa sangat sulit. Tangannya mengepal. Murid lain yang berada disana hanya ikut menertawakannya. Yeonsung bangkit. Tetapi sekali lagi ia dibuat jatuh dengan sengaja.

“hentikan!”. Luhan muncul –lagi.

Yeonsung mengangkat kepalanya. Melihat dengan jelas pria itu berjalan dari ujung koridor. Dengan cepat menghampiri tubuh lemahnya yang masih bersimpuh dilantai. Yeonsung menepis tangan Luhan yang hendak membantunya.

“kau yang seharusnya berhenti menolongku”. Ujar Yeonsung.

“apa?”.

“sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Lu? Kau selalu datang disaat aku terjatuh. Kau ingin aku menganggapmu seorang pahlawan lalu melupakan apa yang telah kau perbuat padaku?”. Suara serak Yeonsung meninggi.

Membuat orang-orang yang berada disana tercengang. Bagaimana seorang objek bullying membentak Luhan.

“aku tidak seperti itu”.

“brengsek”. Lirih Yeonsung. ia benar-benar marah kali ini, hidungnya mengernyit menatap Luhan dengan napas yang tidak teratur.

“Park Yeon”.

“kau sengaja melakukan ini?”.

Luhan mengerutkan keningnya.

Yang ada dipikiran Yeonsung adalah Luhan dengan sengaja membuat dirinya lemah agar ia bisa datang dan menolong. Lalu menghapus pikiran buruk tentang Luhan dari benaknya.

“aku tidak mengerti”.

“menjauhlah”. Ujar Yeonsung. “menjauhlah dariku! Aku tidak membutuhkanmu!”.

Luhan tersentak. Hal yang paling tidak ia sukai ketika ia harus diteriaki didepan banyak orang oleh seorang gadis. Bahu Luhan menurun. Melihat kedalam mata Yeonsung. ia tak menemukan sebersit perasaan suka disana ketika Yeonsung menatap dirinya.

Luhan hanya menemukan tatapan penuh kebencian dimata Yeonsung.

TBC

Segini dulu aja… baiklah, dan semakin kesini alur + kalimat di FF ini semakin rancu :”v

Maafkanlah author yang tak berdaya ini… kwkwk

Jgn lupa like + comment ^^

 

4 thoughts on “FanFict “Iaokim” #5

  1. akhir’y comeback jga 😄
    ko jhat skli ya ibu’y yeonsung itu, ska skli su’jon pdhal anak kndung sndiri itu. 😬
    ngomong” pnsran bgt sma si pmlik akun hanabi itu, mdah”an di next chapter terkuak siapa identitas si pmlik akun sbnar’y.
    ditggu next chapter’y thor^^

  2. Luhan akhirnya tau yaaa kaloq yeonsung adek tirinya
    Huuuuuhhh sebal sama emaknya yeonsung
    Kok gitu banget sama anak sendiri, ngira kaloq yeon yang bilang” sama luhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s