FanFict “Iaokim” #3


Iaokim 2

Iaokim #3

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Kim Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1, 2, 3

~oOo~

Suara nyaring yang selalu menggema didalam telinga Yeonsung setiap paginya itu menyelamatkannya dari Luhan.

Ia tersentak.

Membuka matanya. Lalu menoleh melihat sekelilingnya. Tak ada Luhan. Hanya ada dirinya yang tertidur diatas meja belajar dikamarnya. Yeonsung teringat jika semalam ia mengerjakan tugas rumah lalu tertidur tanpa pindah ke tempat tidur.

Lalu Luhan masuk ke dalam mimpinya.

Sekarang Yeonsung bisa menarik napas lega. Ternyata hanya mimpi.

“menyeramkan sekali meskipun hanya mimpi”. Gumamnya sambil mengurut keningnya sendiri. Kali ini ia membenarkan pernyataan jika kau terlalu memikirkan sesuatu maka akan masuk ke dalam mimpimu.

“apa benar tidak ada unsure bully dalam video tersebut?”. Tanya guru konseling yang meminta Yeonsung untuk datang ke ruangannya pagi ini.

Yeonsung mengangguk. Ia ditanyai soal video yang beredar di internet. Sebuah akun misterius dengan user name Hanabi mengunggah video itu. “aku berkata jujur. Saem, bisakah aku kembali ke kelas sekarang? Ada yang harus ku kerjakan”. Pinta Yeonsung.

Guru Min menghela napas. Ia pun mengijinkan Yeonsung untuk pergi dari ruangannya. “ah, begitu sulitnya ya menjadi siswi pintar”. Gumamnya. Menyinggung Yeonsung.

Tetapi gadis itu tak mau ambil pusing. Toh sudah sering kali guru menyinggung soal peringkatnya lalu disbanding-bandingkan dengan apa yang terjadi padanya. Guru tak bisa banyak membela. Mereka hanya mengawasi murid-murid tertentu, seperti pembuat onar.

Dan perkara video bully-ing itu, Yeonsung hanya tak ingin mendapat masalah lagi jika ia mengakui kebenarannya.

Pintu ruang konseling terbuka.

Saat itu pula Yeonsung terperanjat karena Yongjoon – yang merupakan murid dalam pengawasan khusu – sudah berdiri didepan pintu. Yeonsung hendak pergi seolah tak melihat siapapun disana.

“ya!”. Yongjoon menghentikannya. Bahkan dengan beraninya menahan tangan Yeonsung. Yongjoon mendengus pelan, seolah mengejek. “tidakkah rok mu itu terlalu pendek?”. Ujarnya.

“Yongjoon’ah, kau sudah disana?”. Panggil Guru Min dari dalam karena mendengar suara Yongjoon.

Kesempatan ini digunakan Yeonsung untuk menarik tangannya agar ia bisa melarikan diri dari orang gila ini. diantara teman-temannya yang lain, Yeonsung paling antisipasi dengan siswa bermarga Jang itu. Wajahnya cukup mengerikan hanya untuk dipandang.

Seperti yang ia katakan, Yeonsung benar-benar kembali ke kelasnya secepat mungkin. Baru saja ia duduk dikursinya, tiba-tiba Euina dan kelompoknya memasuki kelas itu. Menghampirinya.

“ya!”. teriak Euina. “cih! Jangan menatapku seperti kau adalah gadis terpolos disekolah ini”. oceh Euina.

“aku tidak mengatakan yang sebenarnya soal video itu”. Ujar Yeonsung dengan tetap tenang.

“oh? Benarkah? itulah masalahnya!”. Euina melotot pada Yeonsung. tangannya menggebrak meja dengan geram. “Sialan, kau yang menyebarkan video itu, huh? Kau juga yang menyebarkan poto-poto pribadiku? Kau benar-benar mencari masalah denganku”.

“aku tidak melakukan itu”. Jawab Yeonsung.

Kegaduhan yang terjadi dikelas itu, tak digubris oleh warga kelas yang lain. Bahkan mereka seakan tak melihat apapun. Euina tersenyum getir. Ia benar-benar emosi. Dengan cepat ia merebut tas Yeonsung yang digantung disamping meja.

sunbae”. Yeonsung berusaha menghentikan Euina ketika ia membuka tas Yeonsung, mengeluarkan semua barang-barang Yeonsung dari dalam tas. Dengan kompak teman Euina menekan tubuh Yeonsung agar kembali duduk.

Yeonsung menatap nanar barang-barang dari dalam tas nya kini berserakan dilantai. “ponsel. Mana ponselmu?!”. Pinta Euina.

“aku tidak membawa ponsel”.

“cih”. Euina memungut sebuah kunci dari lantai. Kunci loker milik Yeonsung.

Euina berjalan cepat ke belakang kelas. Mencari loker milik Yeonsung dan segera membuka loker tersebut. Ia pun melakukan hal yang sama pada barang didalam loker itu, menghamburkannya ke luar hingga terjatuh ke lantai.

“hentikan!”. Yeonsung menarik tangan Euina dengan cukup kuat.

Plakk

Sebuah tamparan keras mendarat diatas pipi Yeonsung. “jangan menyentuhku seperti kau punya hak. Jika kau tidak segera menghapus video dan poto itu dari internet, kau dalam masalah besar”. Bisik Euina.

“Shin Euina”. Suara berat itu membuat Euina menoleh kesumber suara. Seungri berdiri diambang pintu belakang kelas, dengan tangan yang ia simpan didalam saku celananya. “apa yang kau lakukan dikelas 1?”. Tanya Seungri dengan wajah tanpa dosa.

“kau datang untuk membela gadis ini, huh?”. Terka Euina.

“tidak. Yeonsung tidak perlu pembelaan siapapun, bahkan dia masih bisa berdiri meski sendirian. Hebat, bukan?”. Ujar Seungri sambil berjalan mendekat.

Perkataan itu berhasil membuat Euina jengkel. Ia menatap sinis pada Seungri sebelum memilih untuk pergi dari tempat itu. Euina dan Seungri saling mengenal karena mereka pergi ke SMP yang sama dulu. Fakta bahwa Seungri seharusnya berada dikelas 3 sekarang, tetapi ia drop out dari sekolah lamanya. Dan kembali bersekolah setelah menunda setahun. Maka sekarang ia berada dikelas 2.

aigoo, gadis itu semakin lama semakin besar kepala”. Gumam Seungri. Ia pun menghampiri Yeonsung yang tengah membereskan isi lokernya yang berserakan dilantai. “kau tidak apa-apa?”. Tanya Seungri tanpa melihat pada gadis itu.

“hm… sepertinya”. Ujar Yeonsung kemudian.

“bodoh”. Umpat Seungri. “kalau sakit katakan sakit. Jangan bertingkah seolah kau sangat kuat. Aku bahkan tak melihat bahumu terangkat seperti orang normal”. Lanjut Seungri.

“terima kasih”.

Jawaban yang membuat Seungri sedikit tergelitik. Bagaimana gadis ini bisa dengan polosnya mengucapkan ‘terima kasih’ padanya.

“terkadang, kau tidak perlu menjadi baik agar orang melihatmu sebagai orang baik”. Seungri memberikan buku yang ia kumpulan kepada Yeonsung. pria itu tersenyum tipis lalu bangkit dan pergi begitu saja.

Semuanya benar-benar berubah.

Saat Luhan tak lagi berkumpul bersama teman-temannya setelah Minseok memarahinya. Saat Jihoon dan Youngmin mulai merenggangkan pertemanan mereka. Kini hanya Minho dan Yongjoon yang masih terlihat bersama. Bahkan mereka terlihat seperti bersekutu dengan kelompok Euina.

Terbukti saat Euina meminta kedua orang itu untuk datang ke gedung lama sekolah, dikelas kosong.

“ah, benar-benar menyebalkan. Kalian tahu kan dia itu membuatku jengkel. Rasanya akku ingin membunuhnya”. Umpat Euina.

Yongjoon menatap datar pada gadis itu, seraya menggaruk telinganya. “sudah 20 menit dan kau masih membahas hal yang sama? Yeonsung? astaga, aku muak”. Ujar Yongjoon.

“kau menyuruh kami kemari hanya untuk mendengarkan ceritamu itu?”. Tambah Minho.

“kalian juga ingin membelanya? Cih! Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh gadis sialan itu?”. Euina menghentakkan kakinya ke lantai.

“dia tidak buruk juga, kok. Dia seksi dengan seragam sekolah”. Jawab Yongjoon. Lalu ia dengan riang ber-high five dengan Minho.

“benar. jika kau hanya ingin bercerita, maaf, kami tidak ingin dengar. Panggil kami jika kau punya rencana bagus”. Ujar Minho kemudian. Ia pun mengode Yongjoon agar pergi dari tempat itu.

Ya, mereka sengaja melakukan ini agar Euina semakin kesal. Lagipula, anak lelaki mana yang suka mendengar seorang gadis mengoceh panjang lebar dan membicarakan orang lain. Yongjoon ingin melakukan hal yang lebih berguna untuknya. Seperti menggoda para gadis misalnya.

Lapangan bola dipenuhi oleh murid kelas 3 yang tengah berolahraga. Luhan memilih untuk bermain bola bersama teman kelasnya yang lain. Ia sangat suka bermain sepak bola dan bercita-cita untuk menjadi pemain bola suatu saat.

“Minseok’ah! Minseok’ah! Berikan padaku”. Teriak Luhan sambil mengangkat kedua tangannya. Meminta agar bola yang kini ada di Minseok agar ditendang kearahnya. “come on baby, come on”. Ujar Luhan menantikan bola itu menggelinding kearahnya.

Luhan berhasil mendapatkan bolanya. Ia merasa sangat senang, dengan cepat ia menggiring bola tersebut kea rah gawang lawan. Saking bersemangatnya, ia menendang bola tersebut dengan sekuat tenaga.

Bola melayang kearah gawang.

Melewati tiang atas gawang.

“ya! ya! kau bercanda!? Astaga! Gawangnya ada tepat didepan matamu, kenapa kau menendangnya tinggi sekali”. Oceh Minseok.

Tak biasanya Luhan melakukan kesalahan. Ia hanya bisa terkekeh, lalu melangkah pergi dari lapangan untuk mengambil bola yang ia tendang terlalu jauh dari lapangan. Luhan memasuki gedung khusus ruang club, ia yakin bola itu menggelinding ke dalam gedung ini.

Luhan menoleh ke kanan dan kiri. Saat jam pelajaran berlangsung, gedung ini tak dipakai. Jadi sangat sepi. Setelah berjalan masuk beberapa langkah, Luhan menemukan bola itu berada didepan pintu ruang musik. Dengan cepat Luhan berlari kearah bola nya.

“hm?”. Luhan memegang bola ditangannya, tetapi telinganya menangkap suara dari dalam ruang musik.

Dengan penasaran Luhan mengintip kedalam ruang musik dari jendela. Matanya menyipit, melihat siapa gerangan yang ada didalam sana dan bermain musik saat semua murid berada dikelas.

“dia – gadis itu? Yeonsung?”. gumam Luhan. Ia merasa takjud karena dapat menyebutkan nama itu. Yang entah sejak kapan ia mengingat nama tersebut.

Ya.

Yeonsung membolos kelas untuk berlatih bermain Cello. Kontes Cello akan dilaksanakan dalam 2 bulan ke depan. Meskipun Guru Cho mengakui kemampuannya bermain Cello, tapi tetap saja latihan sangat diperlukan.

Luhan masih berdiri ditempatnya. Melihat dan mendengarkan dengan seksama ketika Yeonsung bermain Cello. Jemari telatennya menekan senar dengan pasti. Sambil tangan kanannya ia gunakan untuk menggesek bow.

Namun tiba-tiba Yeonsung menghentikan permainannya.

Luhan tersadar. Buru-buru ia pergi dari tempat itu. Tepat saat itu pula Yeonsung menoleh kearah jendela. Ia dapat mendengar suara kaki yang berlari di lorong gedung.

“kenapa kau berhenti?”. Suara itu menyadarkan Yeonsung. Seungri bangkit dari tidurnya. Sambil menguap karena masih mengantuk.

“lagipula apa yang kau lakukan disini?”. Celetuk Yeonsung sedikit kesal.

“tidur. Mendengarmu bermain music instrument membuatku mengantuk”. Jawab Seungri tanpa dosa. Iapun kembali berbaring diatas kursi yang ia susun menjadi tempat tidur. “bisakah kau mainkan lagi?”.

“jika aku sudah jadi pemain Cello terkenal, kau akan membayar untuk pertunjukkan ku”.

“jika-kau-sudah. Sekarang kan belum”.

Demi apapun. Jika memukul orang yang lebih tua darinya tidak dosa, maka ia sudah melayangkan bow nya ke kepala Seungri. Tapi Yeonsung tak ingin melakukan hal semacam itu.

Sejak kejadian pemerkosaan itu terjadi, Luhan memang sudah tak mendapatkan fasilitas antar-jemput dengan mobil mewah ayahnya. Jadi setiap hari ia pergi dan pulang sekolah dengan naik bus umum.

Malam ini, Luhan kembali kerumahnya. Kakinya tak berhenti menendang bola sambil berjalan. Setiap kali pulang dari sekolah, raut wajahnya selalu tidak enak dilihat. Lalu sesampainya dirumah ia akan mengeluh pada ibunya.

Dipungutnya bola yang tadi ia tendang setelah berada didekat rumahnya. Luhan memeluk bola itu dengan tangan kanannya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Didepan sana, sebuah mobil ambulans terparkir. Ayahnya didorong menggunakan kursi roda dan dibawa masuk ke dalam mobil.

baba”. Ujarnya pelan.

Sesaat setelah ayahnya dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Ibunya muncul, membawa selimut dan sebuah tas.

Luhan masih berdiri ditempatnya. Tak bergerak sedikitpun.

“Luhan”. Panggil ibunya.

Sadar jika ibunya memanggilnya, Luhan segera berbalik dan beranjak pergi dari sana. Ia tak ingin pergi kerumah sakit. Tak ingin menamani ayahnya. Luhan berani melarikan diri meskipun ibunya sudah melihatnya. Karena ia yakin wanita itu tak akan mengejarnya.

“mama, aku datang bersama Minseok. Mama”.

Luhan bersembunyi dibalik tikungan. Ia merogoh saku celananya untuk menghubungi Minseok. Malam ini mungkin ia akan bermalam ditempat Minseok.

“mama sedang tidur, jangan diganggu, dokter”.

Luhan menutup kedua telinganya. Dengan mata yang terpejam dalam. Ingatan dari masa lalunya kembali datang. Rasanya menyakitkan. Luhan tak ingin datang lagi ketempat dengan bau khas kimia itu. Tempat dengan aura dingin dan sepi.

baba dibawa kerumah sakit”.

Minseok memberikan pakaian yang sekiranya bisa Luhan pakai malam ini. sebenarnya ia sudah biasa jika Luhan menginap, jadi mereka tidak canggung lagi. “lalu kau tidak menemaninya?”.

“kalian tahu aku tak suka”.

“tapi, Lu, baba mu adalah satu-satunya orang tua kandungmu sekarang”.

Luhan menghela napas. Ia sudah mencoba untuk tenang, tetapi tetap saja perasaannya terasa aneh jika harus menginjakkan kakinya ke tempat itu lagi. Setelah ibunya meninggal, Luhan tak pernah pergi kerumah sakit lagi.

Luhan mengganti pakaiannya. “aku tahu, aku tahu”.

Begitulah Luhan. Jika dinasihati ia selalu bertingkah seolah ia paham dan akan melakukan apa yang disarankan oleh orang lain. Tapi pada kenyataannya tidak. Luhan tidak semudah itu untuk di kontrol.

“Lu, kau lihat tidak poto masa lalu Euina disebarkan oleh seseorang?”. Tanya Minseok penasaran.

“kau baru bertanya, sedangkan poto itu sudah tersebar sejak kemarin malam”. Celetuk Luhan.

Minseok tersenyum kuda. Jujur saja, karena ia bukan orang yang selalu ingin tahu soal apa yang terjadi didunia maya. Jadi ia baru tahu soal poto tersebut malam harinya. “aku penasaran siapa pemilik akun Hanabi itu sebenarnya”. Gumam Minseok.

“biarkan saja. Euina juga harus merasakan hal semacam ini agar ia sedikit sadar”. Luhan menyibukkan diri dengan ponselnya sendiri.

“kupikir kau dan Euina berpacaran”. Ujar Minseok.

Luhan tertawa geli. Benar-benar gossip murahan, pikirnya. “awalnya aku memang menyukainya, dia cantik tapi lama kelamaan dia jadi sedikit – mengganggu”. Jawab Luhan.

Ya, jangankan soal kekasih. Dalam hal berteman saja, Luhan sangat pemilih. Tetap pada prinsipnya jika ia adalah pria yang pantas untuk sombong.

“lalu, korban mu itu ku lihat sering membawa Cello ke sekolah”. Ujar Minseok lagi.

Luhan mendelik kearah Minseok. “bisakah kau berhenti menyebutnya ‘korbanku’? menyebalkan sekali”. Dengus Luhan.

Kemudian Luhan kembali teringat pemandangan yang ia lihat di dalam ruang musik tadi siang. Yeonsung adalah pemain Cello. Dulu ia punya tipe ideal seorang gadis yang menyukai musik atau olahraga. Tapi – Luhan buru-buru menepis pikiran tentang tipe idealnya.

“tipe ideal mu, kan?”. Celetuk Minseok.

Dan Minseok kembali mengingatkannya soal tipe ideal.

“kapan aku berkata seperti itu?”.

“saat baru masuk SMP. Kau menulis itu di biodata, lalu banyak gadis yang masuk ke tempat les musik karena kau”. Sialnya. Minseok masih ingat tentang hal itu. Luhan memilih untuk pura-pura tidak dengar apa yang dikatakan oleh Minseok. “ah, tapi, biarpun dia suka musik dan kau menyukainya, belum tentu dia mau memaafkanmu”.

“ya!”.

“kalau aku jadi dia, aku juga tak akan dengan mudah memaafkan perbuatmu”.

Luhan berdecak kesal. Minseok benar-benar sengaja mengejeknya. Akhirnya Luhan memilih untuk membenamkan kepalanya dibawah bantal. Hari ini ia merasa lebih lelah dibanding hari lainnya.

Setelah sekian lama – bahkan setelah ia memperkosa seorang gadis – baru sekarang Luhan merasa malas untuk tidur. Tak ingin mengalami mimpi buruk.

Sore hari di halaman belakang rumah sakit.

Lu Hwang memaksa putra satu-satunya itu untuk datang kerumah sakit. Luhan tak suka. Tetapi ia tetap datang. Meski sekarang ia merasa cemas dan tidak betah. Beberapa kali Luhan mengelap peluh di tengkuk dan lehernya.

baba, apakah masih lama? Astaga aku ingin pulang”. Keluh Luhan untuk entah yang keberapa kalinya.

Lu Hwang berdehem sambil mendelik tajam pada Luhan. “aku belum menghabiskan apelku”.

“kenapa kau lama sekali sekedar mengunyah apel”. Oceh Luhan.

“Luhan”.

Luhan menunduk. Kesal. Marah. Muak. “kenapa baba harus dirawat dirumah sakit? Biasanya hanya mendapat pengobatan dari dokter yang datang kerumah”. Gumamnya bak anak kecil yang tengah menggerutu.

“apa kau bertemu dengan mama mu akhir-akhir ini?”.

mama selalu bersamaku”.

“jangan katakan itu didekat mama tirimu”.

Luhan menghela napas, lalu mengangguk mengerti. “kau tidak boleh mati”.

Plakk. Lu Hwang menjitak kepala Luhan. Ia pun tertawa mengejek. “aku juga belum ingin mati”. Ujarnya. “sampai kau menjadi orang yang lebih baik. aku ingin lihat siapa yang menjadi istri mu kelak”.

“jangan meremehkanku. Banyak perempuan yang menikah denganku”.

“cih… karena wajah dan uangmu, iya. Tetapi untuk sifat, tidak. Kau bahkan belum dewasa, berandalan, manja. Mana ada gadis yang sesabar itu menghadapi sifatmu nanti”.

Mendengar ocehan Lu Hwang, beberapa pasien dan pengunjung yang berada disana terkekeh. Membuat Luhan malu karena diejek seperti itu oleh ayahnya sendiri. “aku akan pulang sekarang”. Luhan berdiri dari tempat duduknya.

“lihatlah. Seperti itu saja kau sudah merajuk seperti anak kecil”. Ujar Lu Hwang seraya mengernyitkan hidungnya. “ahjumma, jangan jadikan anakmu istrinya nanti”. Lu Hwang berbisik dengan seorang wanita yang juga pasien.

baba”. Rengek Luhan. Meminta Lu Hwang berhenti untuk mengejeknya seperti itu.

“aku serius, Luhan. Aku tak bisa mati dengan tenang jika kau belum menjadi orang yang lebih baik”.

“karena itu aku tak akan menjadi anak yang baik”.

Luhan tersenyum miring. Merasa telah mengucapkan kalimat yang membuat ayahnya senang. Ia pun segera beranjak dari sana. Sejak tadi ia ingin pergi jika bisa. Sedangkan ayahnya, hanya bisa tersenyum tipis. Di sisi lain ia merasa menyesal karena telah membesarkan Luhan dengan manja. Menjadikan anaknya seperti sekarang ini. ia hanya bisa berharap Luhan akan berubah.

Sepeda berharga Jihoon berhenti tepat didepan sebuah rumah. Kediaman Dokter Park. Jihoon menoleh kearah rumah tersebut. Yunbi yang duduk diboncengan belakang segera turun dari sepeda yang mengantarnya pulang.

“terima kasih, sunbae”. Ucap Yunbi.

“sampai kapan kau akan memanggilku ‘sunbae’?”.

ne?”.

“ah, tidak. Aku pulang, ya”. Jihoon berpamitan, ia memutarkan sepedanya sebelum kembali mengayuh.

“hati-hati dijalan. Kirimi pesan jika sudah sampai”. Ujar Jihoon. Jihoon hanya mengangkat sebelah tangannya yang membentu ‘OK’.

Yunbi belum beranjak dari tempatnya berdiri hingga Jihoon menghilang ditikungan. Diantar pulang dengan sepeda, seperti yang ada didrama itu. Benar-benar impian Yunbi, hingga akhirnya hal itu benar-benar terjadi.

Yunbi tersadar, lalu ia membuka gerbang rumahnya. Baru saja ia mengunci kembali gerbang rumahnya. Ia dikagetkan oleh sesosok orang yang berbaring didepan pintu rumahnya. Yunbi melangkah dengan ragu, mengira jika orang itu adalah gembel yang tak punya rumah.

“p-permisi, ahjussi?”. Panggil Yunbi.

Tak ada respon dari orang itu. Yunbi pun menggapai cupung jaket yang penutupi wajah orang itu. Perlahan Yunbi membuka cupung itu.

“cih”. Segera setelah cupung terbuka, Yunbi berdecak kesal. “ya!”. pekik Yunbi hingga orang yang berbaring didepan pintu rumahnya terjaga karena terkejut.

“apa? apa? tersangkanya sudah tertangkap?”.

“tersangka? Ck! Bangunlah Jaksa Park Jinyoung. Astaga”. Omel Yunbi sambil berkacak pinggang. “apa yang kau lakukan? Bertingkah seperti gembel?”.

Jinyoung. Adalah kakak kandung Yunbi satu-satunya. Yunbi menyebutnya Jaksa. Karena pria ini bercita-cita menjadi seorang Jaksa. Bahkan sekarang ia tengah belajar di Universtitas di Seoul dengan jurusan Hukum.

“kenapa kau lama sekali? Aku hampir membeku diluar sini”. Jinyoung bangkit dari duduknya.

“apa-apaan? Ya! kau kan bisa masuk sendiri, rumah kita terpasang teknologi canggih dengan password. Kau lupa?”.

Jinyoung memutar matanya. Ia tersenyum kuda. “aku lupa kata sandi rumah kita”. Ujar Jinyoung dengan suara pelan.

Yunbi menarik napas dalam. Berusaha agar tak marah pada kakaknya ini. dengan cepat ia menekan tombol kunci dipintu rumah. “ulang tahun pernikahan eomma dan appa”.

Klik

Pintu rumah terbuka. Yunbi segera masuk ke dalam rumahnya. Dirumahnya memang mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga, tetapi pembantunya tidak menginap dan pulang setelah jam 6 sore. Profesi orang tua nya yang juga menuntut agar mereka selalu siaga 24 jam, membuat rumah ini semakin sepi.

Setelah mandi dan berganti pakaian. Yunbi dan Jinyoung duduk bersama di meja makan. Jinyoung telah menyiapkan tteokbeokki untuk ia nikmati bersama adiknya.

“wah… terlihat enak”. Ujar Yunbi seraya menyumpit tteokbeokki nya.

Sementara Jinyoung memotong buah sebagai makanan penutup. “tentu saja enak. Masakanku nomor satu bagimu”.

“tapi, kenapa kau tiba-tiba pulang?”.

Piring berisi buah diletakkan diatas meja. Jinyoungpun duduk dihadapan Yunbi. “penelitian. Yunbi’ah, kau tahu kasus yang terjadi belum lama ini di sekolahmu”.

Kliing.

Yunbi menjatuhkan sumpitnya. Mendadak makanan yang ia kunyah jadi sulit untuk ditelan. Yunbi tak langsung menjawab pertanyaan itu. “kenapa?”.

“aku akan –“.

“kenapa kau masih bertanya? Aku bahkan tak perlu menjawab pertanyaan yang kau sudah tahu jawabannya”.

Jinyoung menatap adiknya. Tak percaya jika Yunbi nya yang manja itu bisa berbicara dengan nada sinis pada kakaknya. “baiklah, kau tahu karena itulah aku pulang kerumah. Untuk menemuimu”.

“memangnya apa yang bisa ku lukakukan?”.

“gadis itu – temanmu. Apa bisa kau mempertemukan kami?”.

Yunbi menarik napas dalam. “kau jahat sekali, oppa”.

“Yunbi’ah”.

“beraninya kau pulang lalu bertanya tentang orang lain. Aku dongsaeng-mu”. Ucap Yunbi dengan suara bergetar. Hampir menangis. “‘Yunbi’ah, gwaenchana?’ ‘Yunbi’ah, apa kau juga disakiti?’ tidakkah kau ingin bertanya soal itu?”.

Perlahan Yunbi mulai menangis. Entah kenapa ia merasa sangat tertekan. Entah karena Jinyoung yang tidak mengkhawatirkannya. Atau karena ia kembali teringat soal kejadian itu.

“maaf”.

“lagipula, kupikir dia tak akan mau menemuimu. Menceritakan aib nya kepada orang lain. Dia adalah seorang gadis, sama sepertiku. Jika dia adalah aku maka aku akan menolak bertemu denganmu”.

Yunbi beranjak dari tempat duduknya. Ia berlari menuju kamarnya. Meninggalkan Jinyoung yang masih terdiam dimeja makan.

Hari ini Yeonsung akan menemui Chanyeol lagi. Tetapi Chanyeol tidak menjemputnya di halte. Chanyeol malah menyuruhnya datang ketempat dimana ia tidur dan bekerja selama tidak pulang kerumah.

Dan ini adalah pertama kalinya Yeonsung datang ke tempat semacam ini. Berada dikawasan hingar-bingar tempat hiburan. Sepanjang jalan Yeonsung dapat melihat bangunan motel dan diskotik murah. Setelah berjalan sampai di ujung jalan, Yeonsung berbelok ke kiri dan menemukan tempat yang Chanyeol katakan.

cola”. Gumam orang yang tengah berdiri didepan mesin minuman. Sebuah kaleng minuman soda yang ia pilih keluar. Luhan mengambil minumannya. Membuka kaleng dan meminum minumannya.

Luhan hendak kembali kedalam game station kala ia melihat seseorang menggendong Cello dipunggungnya. “hm?”.

Otak jeniusnya langsung tertuju pada satu orang. Park Yeonsung.

“Yeon’ah”. Panggil Chanyeol dari tempat bermain billiard sambil melambaikan tangannya agar Yeonsung mendekat. Jelas gadis itu langsung berlari kecil ketika melihat kakaknya. “aigoo ~ kau selalu membawa benda ini”.

“jadi benar dia”. Gumam Luhan lagi.

Dan Luhan terus memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu dari tempatnya sekarang. Bahkan saat Chanyeol mengambil Cello dari punggung Yeonsung, menggantikan gadis itu menggendong Cello nya.

“cepatlah”. Titah Yeonsung.

Chanyeol tersenyum kuda sambil mengangguk, ia memberikan sekaleng kopi pada Yeonsung. “kau tunggu disini sebentar, minumlah ini”. ujarnya. Chanyeol kembali masuk ke tempat kerjanya.

Yeonsung tak bisa memaksa, ia juga tak bisa jika harus masuk ke tempat kerja Chanyeol. Seragam sekolah masih membalut tubuhnya. Akhirnya Yeonsung duduk disebuah kursi panjang dipinggir jalan.

Kesempatan itu, digunakan Luhan untuk mendekat pada Yeonsung. tanpa permisi ia duduk disebelah gadis itu.

“sering kesini?”. Tanya Luhan. Sontak Yeonsung menoleh. Luhan malah tersenyum menyeringai padanya. “kupikir kau benar-benar polos. Ternyata –“. Luhan berhenti bicara dan ia malah terkekeh pelan.

“kau tidak mengenalku”.

“ingin pergi ke motel denganku?”.

Pertanyaan Luhan berhasil membuat Yeonsung gemetar. Takut dan marah. Saat itu juga Luhan mengambil kaleng kopi yang diberikan Chanyeol padanya tadi. Lagi – tanpa ijin ia membuka dan meminum minuman tersebut.

Yeonsung membuka bibirnya, ingin berteriak meminta bantuan. Ia yakin orang yang berada didalam sana akan membantunya dan memukuli Luhan. Tetapi – belum sempat ia mengeluarkan suaranya, Luhan telah lebih dulu menempelkan jari telunjuknya ke bibir Yeonsung.

Saking takutnya, Luhan kembali menyentuhnya, Yeonsung berdiri dari duduknya. Ia berjalan menjauh dari tempat itu.

“Yeon’ah, kajja”. Chanyeol yang baru saja keluar dari tempat kerjanya kebingungan. Mendapati adiknya tak ada diluar sana. “kau?”. Sempat Chanyeol mengira Yeonsung berubah menjadi siswa lelaki setelah minum kopi.

Karena ia dapati ketika keluar hanyalah sosok Luhan. Seorang siswa dengan seragam yang sama seperti adiknya, dan sedang meminum kopi yang tadi ia berikan.

Luhan hanya menatap Chanyeol dengan datar. Lalu ia melihat Cello yang mengantung dibahu Chanyeol. “cih…”. Luhan melempar kaleng kopi yang ia pegang ke tengah jalan. Kemudian ia pun berdiri.

“ya! haksaeng, kau lihat gadis yang duduk disini tidak?”. Tanya Chanyeol.

“kenapa aku harus memberitahumu?”.

“aishh… jinjja! Apa masalahnya denganku? Menyebalkan sekali”. Umpat Chanyeol. Segera ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Yeonsung. namun gadis itu tak mengangkat telponnya.

Chanyeol memutuskan untuk berjalan menuju halte bus. Chanyeol berhasil menemukan adiknya didekat tikungan. Berdiri dengan kaku, sendiri. “Yeon’ah”. Panggil Chanyeol.

Luhan berjalan dibelakang Chanyeol. Hanya bisa diam dan melihat apa yang terjadi diantara kedua orang itu.

oppa”. Yeonsung merengek. Memeluk kakaknya erat. Lega karena ada orang yang bisa melindunginya sekarang.

oppa? Pacarnya?”. Gumam Luhan seraya menatap benci pada Yeonsung. “wajar saja jika dia punya pacar”. Tambah Luhan sebelum memutuskan untuk berjalan kearah lain. Merasa tak punya urusan dengan dua orang ini.

“Yeon’ah, orang itu – kau kenal?”. Tanya Chanyeol sambil menunjuk Luhan yang berjalan semakin menjauh.

Yeonsung menatap nanar kearah Luhan. Ia menggigit bibir dalamnya. Kemudian beralih menatap Chanyeol. “oppa – orang itu…”.

TBC

Cekakaka XD

Late update lagi kah? Tidak dong ya XD

Nahnah… karena sudah di update mohon comment like nya jhuseyo wkwkwk XD

 

Iklan

6 thoughts on “FanFict “Iaokim” #3

  1. luhan bnar-bnar dah tu orang seenak jidatnya z.
    msih ksal z sma yunbi n jihoon.
    gk adakah niatan mrka untuk mnta maaf sma yeongsung.
    mkin seru crtanya, smoga mkin bgus untuk next chapter brkutnya thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s