FanFict “Iaokim” #2


Iaokim

Iaokim #2

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Kim Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1, 2

 

~oOo~

Luhan memasuki rumahnya, ia baru saja pulang dari tempat Minho saat malam menjelang. Tak disangka ayahnya telah menunggunya didalam rumah. Luhan bersikap biasa saja, tidak begitu peduli pada pria paruh baya itu.

“kemari kau!”. Teriak ayahnya ketika Luhan hendak melangkah ke lantai atas.

Dengan malas ia kembali untuk menghampiri ayahnya yang memanggilnya tadi. “kenapa?”. Ujar Luhan dengan nada malas.

Plakk

Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Luhan. Ayahnya sudah terlalu emosi untuk membiarkan putra satu-satunya ini bertingkah seenaknya. “kau membuat masalah lagi? Bukankah sudah ku peringatkan agar berhenti membuat masalah?”.

Luhan diam saja.

Tuan Lu memukul kepala Luhan, menarik rambut putra dengan marah. “apa ini? hah? Kau kembali mewarnai rambutmu? Hitamkan kembali atau ku buat kepalamu botak!”. Ancam ayahnya.

“ya”. jawab Luhan seadanya.

“kau memperkosa seorang gadis? Ya Tuhan! Bagaimana jika gadis itu hamil dan kau –“. Tuan Lu menunjuk tepat didepan wajah Luhan. “kau pikir kau punya segalanya untuk menghidupi anak orang?”.

baba!”. Luhan angkat bicara. “tidak akan terjadi apapun pada gadis itu. Lagipunya dia tidak punya orang tua, jadi kau tidak pantas menyebutnya ‘anak orang’”. Celetuk Luhan.

“kau!”. Tuan Lu kembali mengangkat tangannya hendak melayangkan sebuah pukulan lagi. Tetapi Nyonya Lu menahan tangan suaminya.

“cukup. Jangan sakiti Luhan lagi. Dia hanya seorang remaja”. Bela Nyonya Lu.

Luhan berdecak kesal karena sikap ayahnya padanya. Ia pun segera beranjak dari sana sebelum ayahnya lepas kendali dan tak ingin mendengarkan ucapan ibunya lagi. Luhan masuk ke kamarnya, mengunci pintu kamarnya dan menyalakan music sekeras mungkin.

Hari berikutnya.

Yeonsung tetap pergi ke sekolah setelah apa yang terjadi padanya. Entahlah. Seperti kakinya sudah diatur untuk melangkah menuju sekolah. Kemarin saat ia berniat untuk mengakhiri hidupnya, orang aneh yang baru pertama kali ia temui mencegahnya. Dengan paksaan yang membuat Yeonsung akhirnya tidak jadi terjun dari atap sekolah.

Matahari pagi menembus kaca jendela bus yang mengantarnya ke sekolah seperti biasa. Setiap kali ada murid yang bersekolah disekolahnya, Yeonsung selalu menunduk. Fitnah buruk telah menyebar ke penjuru sekolah.

“ah, sialan! Pak tua itu benar-benar menghukumku?!”. Umpat Luhan ketika memasuki bus. Ia mengedarkan pandangannya kedalam bus yang sudah ramai penumpang.

Tak ada kursi yang kosong, maka Luhan memutuskan untuk berdiri didekat pintu keluar bus, dibagian belakang. Luhan berhasil mendapatkan pegangannya tepat saat sopir kembali melajukan bus.

“benar-benar sial! Kenapa aku harus terjebak diantara semua orang ini?”. umpatnya lagi.

Uang saku yang ia dapatkan pagi ini tak cukup untuk sekedar membayar taxi menuju sekolah. Jika harus naik Korail, oh – bahkan Luhan tak mengerti jalurnya. Ia bisa tersasar distasiun kereta bawah tanah. Naik bus adalah pilihan terakhir, setidaknya ia pernah diajak oleh Jihoon naik bus untuk berangkat sekolah.

Luhan berpegangan erat pada tiang sambil melihat ke kanan dan kiri, mungkin ada orang yang bisa ia usir hingga ia bisa duduk. Tetapi ia malah menemukan pemandangan lain. Ia masih sangat ingat siapa gadis itu. Gadis yang sedang duduk dikursi satuan sambil melihat keluar jendela.

Luhan menyeringai.

“kau lagi, apakah ini sebuah takdir?”. Ujar Luhan.

Perlahan Yeonsung menoleh ke sumber suara. Yeonsung merasa kenal dengan suara ini. takut-takut Yeonsung mengangkat kepalanya. Dan, ya, ia menemukan Luhan sedang menatap intens padanya. Meskipun rambut pria itu telah berubah menjadi warna hitam, tapi Yeonsung tetap ingat.

Ingat dengan orang yang telah melecehkan dirinya. Membuatnya harus mendapatkan penderitaan.

Segera Yeonsung memalingkan wajahnya. Berharap Luhan tidak bertindak lebih jauh lagi. Ia meletakkan kedua tangannya yang saling memegang itu didepan dadanya. Berdoa agar Luhan yang ia lihat saat ini hanyalah khayalan.

“ya ~ sudah tiba disekolah, kau tidak ingin turun?”. Tanya Luhan selagi menunggu giliran untuk turun dari bus. “jika kau tidak turun, aku juga tidak akan turun”.

Mendengar hal itu, Yeonsung bersingsut berdiri. Ia menerobos orang-orang yang hendak keluar. Meninggalkan Luhan yang kebingungan. Yeonsung berjalan cepat, sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Luhan tidak mengejarnya atau semacamnya.

Yeonsung takut sekali.

“Nona Park”.

Hampir saja Yeonsung terjatuh saat tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi sudah berdiri didepannya, selagi ia terus menoleh tadi. “ah, oh, Detektif Yoo, annyeonghaseyo”. Sapa Yeonsung sambil membungkuk.

ne, kau sudah tampak lebih baik. Memar diwajahmu juga sudah memudar”. Ujar Detektif Yoo. Yeonsung hanya tersenyum simpul. Ia menoleh sekali lagi, Luhan tak kunjung muncul. Ia menduga Luhan pasti bersembunyi karena melihat Detektif Yoo disini.

“apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Yeonsung.

“aku mengantar keponakanku. Dan tidak sengaja melihatmu”. Jawab Detektif Yoo.

Yeonsung mengangguk. “kalau begitu aku masuk dulu. Annyeongigaeseyo”. Yeonsung berpamitan, tak lupa ia membungkuk pada Detektif Yoo sebelum berlari kecil menuju gerbang sekolahnya.

“tadi aku bertemu lagi dengan Yeonsung itu”. Ujar Luhan ketika bertemu teman-temannya di kelas kosong digedung lama sekolah.

“brengsek, jangan membahasnya! Aku bahkan tidak sempat menikmatinya”. Sungut Yongjoon sambil mengunyah rotinya.

Luhan terkekeh penuh kemenangan. “sudah ku katakana padamu untuk berhenti menonton video saat aku melakukan ‘itu’ padanya, kau bodoh!”. Ejek Luhan.

“bicara seperti itu lagi, ku hajar kau”. Amuk Yongjoon. “semua ini karena Youngmin. Seharusnya kita tak usah pergi walaupun ia pingsan”. Yongjoon menatap sinis pada Youngmin.

Youngmin yang berdiri didekat jendela sambil melihat ke arah gedung baru, menghela napas. “bisakah kita tidak usah mempermainkan para gadis lagi?”. Tanya Youngmin dengan raut wajah khawatir.

Minho hampir tersedak snack ketika Youngmin berkata seperti itu. “itulah kenapa kami selalu mengajakmu, tapi kau selalu menghindar dan lebih memilih untuk merekam saja”.

“aku hanya tidak tega pada mereka. Apalagi yang kalian lakukan pada Yeonsung kemarin itu keterlaluan”. Youngmin memasang wajah serius, tanda tak suka. “jika gadis yang kalian permainkan putri orang yang berpengaruh, kemungkinan kita untuk menghindari hukuman sangat minim”.

“apa maksudmu berkata seperti itu?”. Minho sedikit emosi.

“Youngmin benar. Jika kita tidak berhenti sekarang, suatu saat kita pasti akan terkena hukumannya”. Tambah Jihoon.

“kau juga ingin kuhajar?”. Yongjoon menatap datar pada Jihoon. Sedangkan orang yang diancam hanya tersenyum miring sambil mendengus.

Jihoon berdiri dari tempat duduknya, menarik Youngmin agar keluar dari tempat itu. Tak ingin ribut dengan teman sendiri. Pada awalnya mereka kira Minho dan Yongjoon hanya akan bermain dengan gadis nakal, tapi setelah kejadian belakangan ini, kedua orang itu jadi sering memangsa adik kelas mereka sendiri.

“pergi saja! Jangan berkumpul dengan kami lagi”. Maki Minho. “dia pikir aku tidak bisa merekam sendiri”. Umpatnya kemudian.

Luhan juga beranjak dari atas meja tempatnya bertengger tadi.

“kau juga ingin bergabung dengan dua orang pecundang itu?”. Tanya Yongjoon.

“bel masuk sudah berbunyi”. Jawab Luhan sambil melirik jam tangannya.

Tak mengatakan apapun lagi, Luhan segera pergi dari kelar itu. Menyusul kedua temannya yang tampak sudah berjalan jauh didepannya. Sepanjang perjalanan kembali ke gedung sekolah yang baru, Luhan terus memikirkan perkataan Jihoon dan Youngmin.

Saat jam makan siang tiba, Yeonsung duduk sendirian dipojok kafetaria. Sengaja menjauh dari yang lainnya karena tak ingin mendengar umpatan tentang dirinya. Jikapun dia berteriak dan berkata jika dia adalah korban, siapa yang akan percaya?

“kau sendirian? Lagi?”. Seungri datang dengan nampan nasi ditangannya. Ia memilih duduk dihadapan Yeonsung.

“a-apa yang kau lakukan? Jangan disini”.

Seungri menoleh ke kanan dan kiri seolah sedang mencari sesuatu. “aku tidak melihat ada tulisan ‘dilarang makan disini bersama gadis yang ingin bunuh diri kemarin’”. Ujar Seungri dengan wajah polos.

Yeonsung khawatir jika Seungri akan terkena imbas karena mengobrol dengannya. Jadi ia hendak pergi.

“ibuku bilang tidak baik menyisakan makanan. Makanlah dulu lalu pergi”. Ujar Seungri sambil menikmati makan siangnya.

Pantat Yeonsung kembali melekat ke kursinya. Ia juga sebenarnya tak pernah menyisakan makanan, karena sadar jika mendapat makanan tidak mudah. Tak berapa lama banyak siswa yang mulai membicarakan mereka.

“aku mendengar gossip tentangmu”.

“ya?”.

“kau gadis yang diperkosa itu”.

Seungri mengangkat kepalanya. Tatapannya bertemu dengan mata Yeonsung yang membulat, menatap lurus padanya. “kau orang pertama yang mengatakan hal itu”. Ujar Yeonsung dengan suara pelan.

Tanpa mereka sadari, Luhan dan kelompoknya memperhatikan kedua orang itu dari tempat duduknya. Yongjoon merasa sedikit kesal dengan kedekatan Seungri. Sangat nampak diwajahnya jika ia tak suka.

“mereka bilang kau yang menggoda pemerkosa. Tapi aku tak melihat ada yang menggoda dari dirimu”. Ujar Seungri seraya menunjuk Yeonsung dengan sumpitnya. “tapi melihat kau kemarin aku tahu bahwa kau adalah korban”. Imbuh Seungri.

“jikapun kau tahu, tak akan ada yang berubah”. Yeonsung memutar matanya, melihat sekelilingnya. “mereka tak akan percaya, hakim tak akan menghukum pelakunya”.

“meskipun aku tahu. Aku tak suka ikut campur”.

Minseok baru pulang dari liburan keluarga ke Jepang. Saat kejadian yang menimpa Yeonsung, ia tidak berada di Korea. Karena itulah ia tak bisa mengendalikan Luhan. Jadi malam ini ia datang kerumah sahabatnya itu.

“dia dikamar, temani dia. Tolong ya”. ujar Nyonya Lu ketika telah mengantarkan teman anaknya itu kedepan pintu kamar.

“tentu saja”. Jawab Minseok. Nyonya Lu beranjak meninggalkan Minseok. “Lu, ini aku”.

Klik

Pintu langsung terbuka. Luhan mengintip keluar. Memastikan tak ada ayahnya disana, segera ia menarik Minseok ke dalam kamarnya.

“kenapa kau baru pulang?”. Tanya Luhan setelah mengunci pintu kamarnya.

Plakk

Minseok menjitak kepala Luhan. Disodorkannya es Americano pada Luhan. “aku sudah dengar ceritanya dari Jihoon. Ck. Apa kau tidak bisa berpikir sebelum bertindak? Kau bertingkah seperti monster kelaparan”. Oceh Minseok.

“aku tahu, aku tahu. Kau datang hanya untuk memarahiku? Kau sama seperti baba”. Balas Luhan. Ia pun kembali duduk didepan laptopnya dimeja belajar.

“aku bahkan sudah melihat korbanmu. Dia tampak tidak baik-baik saja”.

Sedangkan Minseok berbaring diatas tempat tidur Luhan. Kedua sahabat ini sudah berteman sejak di sekolah dasar. Karena itulah mereka tak canggung lagi. Berbeda dengan Luhan yang sering bertingkah sesuka hatinya, Minseok kebalikan dari itu.

Pria itu bahkan sudah mempersiapkan diri untuk menjadi pewaris perusahaan ayahnya. Jika Luhan, ia lebih memilih untuk bersantai daripada harus mengurus usaha ayahnya. Minseok selalu menasihati Luhan agar tidak membuat masalah dan bersikap bodoh.

“bukankah sudah ku katakan berteman sewajarnya saja dengan Minho dan Yongjoon? Kau ini bodoh sekali! Apa gunanya IQ super mu itu? Berikan saja padaku!”. Lanjut Minseok.

“mereka mengejekku”. Timbal Luhan. Ia berdiri dari kursinya. “mereka bilang aku pengecut jika aku tak ingin memenuhi tantangan. Lagipula tak ada orang yang pantas berteman denganku selain kelompok itu”.

Luhan terlalu sombong atas apa yang ia milikki. Makanya ia berteman dengan orang yang ia kira sama dengan derajatnya. Minseok melemparkan sebuah bantal pada Luhan, sukses mengenai kepalanya. “kalau begitu jangan berteman dengan siapapun”.

“pulang saja jika kau hanya ingin menasihatiku”.

“minta maaf padanya. Tebus kesalahanmu”.

“pada siapa?”.

“gadis yang kau perkosa”.

Luhan diam. minta maaf ya? bahkan jika ia menabrak orang dengan sengaja saat berpapasan, ia tak akan sudi untuk minta maaf. Lalu Minseok menyuruhnya melakukan itu?

“dia tidak apa-apa tanpa aku harus minta maaf. Mama sudah memberikan uang konfensasi padanya”.

Minseok mengerang frustasi. Temannya ini benar-benar keras kepala, keras hati. Minseok memilih untuk menutup wajahnya dengan bantal. Baru saja ia memejamkan matanya, Luhan yang saat itu tengah memeriksa media sosialnya di laptop, mendengar suara dari video yang diputar oleh Luhan.

Sontak Minseok kembali terjaga. Ia beranjak dari kasur Luhan dan melihat video yang berisik. Terdengar suara seorang gadis berteriak dan orang yang tertawa. “aish… brengsek”. Gumam Luhan.

Luhan hendak menutup jendela browser video itu. Tapi Minseok menahannya. “tunggu. Bukankah ini seragam sekolah kita?”. Tanya Minseok.

“benar. memangnya kenapa kalau ini sekolah kita?”. Tanya Luhan dengan polosnya.

Minseok mendorong Luhan hingga temannya itu tergeser dari kursi meja belajar, Minseok berganti duduk disana. “astaga! Bukankah ini Euina? Lalu ini –“. Ujar Minseok seraya menunjuk orang-orang yang ada didalam video itu. “korbanmu, kan?”.

Mendengar apa yang diucapkan Minseok. Luhan pun mencondongkan tubuhnya, melihat dari dekat orang-orang yang ada didalam video tersebut. Minseok benar.

“mereka benar-benar gila. Mengunggah video bullying ke internet”. Oceh Minseok, dengan cepat ia mendownload video aksi bullying yang dilakukan oleh teman-temannya pada seorang adik kelas.

Luhan diam saja. Tubuhnya kembali tegak, tangannya menggenggam erat sandaran kursi.

Euina dan kelompoknya mengambil video itu saat mereka mem-bully Park Yeonsung dengan cara menyemprotnya dengan air di toilet. Seseorang telah mengunggah video itu. Dan ironisnya, orang yang menonton memberikan komentar setuju tentang apa yang Euina lakukan terhadap Yeonsung.

Bukannya membela Yeonsung.

Tempat les seni.

Setiap hari sepulang sekolah, Yeonsung selalu datang ke tempat les meskipun tak ada jadwal latihan musik. Ia sering membantu guru les nya, Cho Kyuhyun. Karena pria tampan itu telah berbaik hati membebaskan biaya les baginya.

“kau melakukannya lagi?”. Guru Cho baru tiba diruangan music yang akan ia pakai untuk mengajarkan music pada siswa nya.

ne, saem”. Jawab Yeonsung dengan semangat. Ia melanjutkan pekerajaannya untuk menyusun kursi diatas lantai yang sudah ia bersihkan sebelumnya.

“padahal kau tidak perlu repot-repot kemari hanya untuk membersihkan tempat ini”. ujar Guru Cho sambil menyusun score yang ia siapkan. “tapi aku berterima kasih kau mau melakukan hal semacam ini”.

Yeonsung tersenyum. “saem, bagaimana adikmu? Cho Sarang, apa dia bersekolah dengan baik?”. Tanya Yeonsung tiba-tiba.

Guru Cho menoleh para Yeonsung dengan sedikit terkejut. Gadis itu memang mengenal adik dari Guru Cho. “dia baik-baik saja, dan tetap sulit untuk bangun pagi”. Jawab Guru Cho.

“uh, saem, katakan padanya agar berhati-hati jika ada lelaki yang mendekatinya. Apalagi Sarang itu gadis yang polos”. Ujar Yeonsung kemudian.

“tentu saja. Ah, anak itu memang sulit untuk dinasihati, tapi aku akan menjaganya dengan baik”.

Yeonsung merasa lega setelah mengatakan hal itu pada Guru Cho. Tak ingin sesuatu seperti apa yang ia alami terjadi pada orang yang ia kenal. Dan Yeonsung lebih suka berada disini, setidaknya teman-temannya ditempat les musik tidak tahu soal pemerkosaan yang dialaminya.

Kecuali Yunbi.

Baru terbesit dibenaknya, gadis itu muncul. Setelah terakhir kali mereka bertemu diruang siding, baru kali ini Yeonsung dan Yunbi bertemu pandang lagi.

annyeonghaseyo, saem”. Sapa Yunbi seraya membungkuk pada Guru Cho yang tengah mengobrol dengan Yeonsung.

ne, annyeong. Kau datang lebih awal”. Ujar Guru Cho.

Yunbi terkekeh pelan. Tapi senyuman itu pudar ketika ia menoleh pada Yeonsung yang saat itu juga sedang menatap padanya. Yunbi segera memalingkan wajahnya, ia pun pergi ke tempat duduk yang telah tersusun rapi.

saem, aku tidak ada kelas hari ini. jadi, bisakah aku pulang sekarang?”. Pamit Yeonsung.

Guru Cho mengangguk mengiyakan. Yeonsung pun beranjak untuk mengambil tas dan Cello nya yang ia letakkan disudut ruangan. “ah, Yeon’ah, bisakah kau persiapkan diri untuk kontes Cello nanti?”.

ne?”.

“musim panas nanti akan ada kontes Cello, rencananya aku akan mengirimmu”.

Yeonsung menelan ludahnya sendiri. Ini pertama kalinya ia ditawari untuk mengikuti kontes semacam itu. “baiklah, saem, aku bersedia ikut”.

Seorang pria dengan perawakan tinggi nan tampan menyandarkan tubuhnya ditiang adds, sambil mendengarkan music dengan earphone nya. Ia tidak sedang menunggu bus walaupun ia berdiri di halte sekarang. Ia – Park Chanyeol sedang menunggu adiknya.

oppa”. Panggil Yeonsung ketika melihat Chanyeol telah menunggunya.

Chanyeol tak mendengar gadis itu. Berhasil membuat Yeonsung berdecak kesal. Akhirnya Yeonsung berlari kecil menghampiri kakaknya. “ya!!”. pekik Yeonsung tepat didekat telinga Chanyeol.

“eishh…”. Chanyeol segera melepaskan earphone nya karena suara nyaring Yeonsung menusuk telinganya. Chanyeol pasti akan marah jika saja yang melakukan itu bukanlah adiknya. Bahkan kerutan dikeningnya sudah muncul, tapi kembali menghilang melihat Yeonsung tersenyum kuda padanya. “kau rupanya, adik kecil”.

“hentikan, aku bukan anak kecil lagi”. Dengus Yeonsung.

“benarkah? Kenapa kau tidak terlihat bertambah tinggi, cebol?”.

oppa”.

“baiklah, baiklah. Yeonsung ini sudah remaja sekarang”. Chanyeol mengalah. Dengan sigap ia mengambil alih Cello yang digendong oleh Yeonsung dipunggungnya. “ayo pergi”.

Tadi sore, Chanyeol menghubunginya untuk mengajaknya pergi bersama malam ini. kencan adik kakak seperti yang rutin mereka lakukan. Chanyeol biasanya akan membelikan makanan ataupun kosmetik untuk adiknya.

oppa, guru les ku memberikan tawaran untuk ikut dalam kontes Cello musim panas nanti. Jadi aku menerimanya”. Ujar Yeonsung.

“itu langkah bagus, Yeon’ah. Kau harus membalas kebaikan guru Cho padamu dengan sebuah kemenangan, mengerti?”.

Yeonsung mengangguk cepat. Tentang dirinya yang bisa les music sejak SMP, Chanyeol mengetahuinya. Ia juga mengenal Cho Kyuhyun dengan baik. Seorang guru music yang menemukan Yeonsung kala gadis itu bermain cello dijalanan Distrik Gangnam, 2 tahun yang lalu.

“tapi – tidakkah aku membutuhkan sebuah gaun cantik untuk tampil dalam kontes?”.

Chanyeol diam sejenak. Langkah mereka berhenti di trotoar yang bersebelahan dengan deretan toko. Chanyeol menoleh mencari toko pakaian wanita yang ada disana.

“ingin kesana untuk melihat-lihat?”. Tanya Chanyeol sambil menunjuk sebuah toko.

“apa tidak apa-apa?”.

Chanyeol menjawab Yeonsung hanya dengan senyuman penuh arti, ia pun menarik tangan Yeonsung menuju toko tersebut. Seorang pelayan menyambut keduanya dengan ramah. Seolah benar-benar mengerti style adiknya, Chanyeol mulai bergerak kesana-kemari untuk melihat deretan mannequin yang memakai berbagai model gaun.

oppa, bagaimana dengan yang ini?”. Tanya Yeonsung seraya menunjuk sebuah gaun berwarna hitam.

“tidak, jangan. Jika kau memakai gaun hitam, nanti kau tidak terlihat diantara peserta lain”. Tolak Chanyeol, membuat Yeonsung memanyunkan bibirnya. “yang ini saja”. Chanyeol segera menunjuk sebuah gaun.

Harus ia akui jika gaun yang ditunjuk oleh Chanyeol memang bagus. Maka Yeonsung melihat label harga gaun tersebut. Sontak ia membelalakan matanya. “kita pergi saja”. Gumam Yeonsung.

“kenapa?”.

“memangnya kau punya uang 657.000 won sekarang?”. Bisik Yeonsung.

“ayo pulang, ayo”.

Setelah berkeliling sejenak, membeli beberapa makanan dikedai pinggir jalan. Chanyeol mengantar Yeonsung ke halte bus. Pria itu berjanji akan membelikan gaun yang ia tunjuk tadi untuk adiknya.

“tapi – oppa, kapan kau akan pulang kerumah? Tidak ada yang menemani aku dirumah”. Ujar Yeonsung.

Chanyeol menatap sekilas Yeonsung yang memasang wajah menyedihkan. “aku tidak tahu, Yeon’ah”.

“bahkan sejak eomma dan appa bercerai, lalu appa meninggal. Kau tidak pernah pulang lagi”.

“aku hanya tidak bisa. Untuk sekarang, kau harus berhati-hati tinggal dirumah sendirian. Mengerti?”.

Yeonsung diam saja. Tentang apa yang terjadi padanya, Yeonsung tak pernah berani untuk menceritakan semua itu. Chanyeol pergi untuk latihan militer saat kedua orang tua mereka bercerai. Chanyeol tak pernah memberikan kabar. Lalu setelah ayahnya meninggal, barulah Chanyeol pulang kerumahnya. Tetapi sejak saat itu pula, ia meninggalkan Yeonsung. bahkan Yeonsung tak tahu Chanyeol tinggal dimana.

“bus nya sudah datang”. Chanyeol melepaskan genggamannya dari tangan Yeonsung. ia pun memberikan Cello kembali pada Yeonsung. “sampai dirumah langsung istirahat”. Ujar Chanyeol ketika Yeonsung masuk ke dalam bus.

“baiklah, kau juga, oppa”. Balas Yeonsung.

Hal yang paling ia benci adalah ketika melewati koridor dan orang yang tidak menyukainya sedang berada dikoridor. Yeonsung terkadang harus mengurungkan niatnya untuk lewat karena tak ingin menjadi bulan-bulanan orang tersebut. Tetapi terkadang ia tetap memberanikan diri untuk lewat. Seperti yang terjadi siang ini.

Dikoridor penghubung gedung sekolah, Euina dan kelompoknya sedang berkumpul bersama teman-temannya.

“tunggu”. Euina menghentikan langkah Yeonsung. lalu ia berjalan mendekati gadis itu. “kau masih bersekolah disini? Astaga! Muak sekali melihatmu disini”.

Yeonsung menarik napasnya dalam-dalam. Matanya menangkap sosok Luhan sedang berdiri didekan jendela. Rupanya ia tengah mengobrol bersama Euina saat Yeonsung akan melewati koridor itu. “kalau begitu pergilah”. Ujar Yeonsung.

“apa katamu?!”. Euina membentak Yeonsung dengan penuh emosi. Tak suka gadis itu melakukan perlawanan.

“jika kau muak melihatku, maka pergilah dari sekolah ini, sunbae”. Tegas Yeonsung sekali lagi. Setelah bertemu dengan kakaknya, entah kenapa Yeonsung mendapatkan kekuatan untuk melawan perlakuan tidak adil yang ia terima.

“ya!!”. Euina mendorong tubuh Yeonsung dengan keras hingga gadis itu terjatuh kelantai. Sontak saja, apa yang terjadi disana menjadi pusat perhatian. Luhan yang melihat kejadian tersebut, hanya diam ditempatnya berdiri. Seolah menunggu apa yang akan terjadi antara kedua gadis ini selanjutnya.

“urus saja urusan kalian sendiri. Anggap tak ada yang terjadi”. Ujar teman-teman Euina. Mencegah ada orang yang ikut campur.

“kau pikir kau itu siapa, berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku?! Gadis rendahan”. Desis Euina sambil mencengkram rahang Yeonsung.

“katakan hal itu pada dirimu sendiri, Euina’ssi”. Jawab Yeonsung.

“apa?! Ya!”.

“hentikan”.

Sebuah suara mengalihkan perhatian Euina. Ia menoleh ke belakang dimana suara itu berasal. Matanya membelalak. Luhan berdiri dibelakangnya dengan tatapan dingin padanya.

“Luhan”.

Luhan menarik Euina menjauh dari Yeonsung. dengan kuat ia menggenggam tangan gadis itu, membuat Euina sedikit meringis. “hentikan saja. Kau ingin mengotori tanganmu dengan menyentuh gadis itu?”.

“tapi dia –“.

“kembali ke kelasmu”. Desis Luhan seraya melepaskan tangan Euina dari genggamannya dengan kasar. “pergilah, Euina”. Ujar Luhan sekali lagi.

Euina tak percaya dengan sikap Luhan barusan. Ia benar-benar marah sekarang. Tadinya ia ingin menunjukkan kekuatannya dengan cara menyakiti Yeonsung. dengan begitu Luhan akan jatuh hati padanya. Tetapi yang terjadi malah berbeda dari apa yang ia bayangkan. Barusan Luhan membela Yeonsung? entahlah.

Dengan kesal Euina pergi menjauh meskipun sebenarnya ia tak ingin.

Perlahan Yeonsung berdiri.

“jangan salah paham denganku”. Gumam Luhan sebelum Yeonsung pergi meninggalkan tempat itu. Yeonsung diam saja.

Setelah pemerkosaan yang ia alami. Yeonsung tidak mendapat trouma pada pria. Tetapi saat melihat Luhan, barulah ia merasa ketakutan. Seperti ada hal yang mendidih didalam dirinya yang membuatnya ingin mengamuk tapi hingga saat ini ia tak pernah bisa mengekspresikan perasaannya tersebut.

Hanya bisa diam dan menatap Luhan dengan penuh kebencian.

Kakinya menapak didepan halte setelah turun dari bus. Punggungnya sering menggendong alat musik kesukaannya, Cello. Pintu bus yang mengantarnya barusan tertutup dan bus kembali melaju. Yeonsung melihat jam di ponselnya, pukul 23.34. Suasana lebih sepi dari biasanya. Sempat Yeonsung berpikir jika ia salah halte, tetapi setelah memperhatikan sekitarnya ia yakin ini halte tujuannya.

Perlahan Yeonsung melangkah menuju kerumahnya. Terkadang jika sedang benar-benar lelah, Yeonsung merutuki kenapa ayahnya membeli rumah diatas tebing. Ia lelah harus melangkah menaiki tebing sambil menggendong Cello. Tetapi, sudahlah.

Gadis itu belum menyadari jika ada seseorang dengan hoddie hitam mengikutinya dari belakang. Dipunggung hoddie itu tertulis dengan sablonan putih ‘LH7’.

“hng?”. Yeonsung menoleh kebelakang.

Namun tak menemukan siapapun disana. Tetapi ia harus tetap waspada. Dengan pasti ia mempercepat langkahnya. Sialnya! Tebing ini terasa lebih tinggi dari biasanya.

Orang ber-hoddie itu kembali mengikuti Yeonsung. ia berjalan ditepian jalan yang tak diterangi oleh cahaya lampu. Luhan menyeringai mengerikan. Sasarannya adalah gadis Cello itu.

Semakin gadis itu mempercepat langkahnya, Luhan pun mempercepat langkahnya. Napasnya menggebu dengan cepat.

Setelah Yeonsung sadar jika ada orang yang mengikutinya, Yeonsung tak berani untuk menoleh ke belakang dan melihat siapa gerangan orang itu. Jikapun orang itu adalah kakaknya yang sedang mengerjainya, Yeonsung bersumpah akan memukuli kepada Chanyeol dengan panci.

Hingga Yeonsung tiba didepan rumahnya. Segera ia membuka pagar berkarat itu, tak sempat menguncinya kembali. Buru-buru ia membuka pintu rumahnya dan masuk. Yeonsung terengah sampai ia berkeringat menahan takut. Untunglah ia tiba dirumah sebelum sempat tertangkap.

Braakk

Suara berisik itu muncul dari arah dapur. Yeonsung terkejut bukan main. Keningnya berkerut, takut-takut ia melangkah menuju dapur. Ia pun tak menemukan siapapun disana. Mungkinkah suara barusan adalah ulah kucing? Tapi Yeonsung ingat ia tak memiliki hewan peliharaan.

“kau mencariku?”. Lirih suara itu seakan menggelitik telinga Yeonsung.

Yeonsung menoleh dan mendapati sosok pria ber-hoddie – Luhan – berdiri tepat didepannya kini. kakinya terasa lemas hingga tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Yeonsung terjatuh kelantai.

“kau masih takut padaku? Setelah aku menolong mu tadi – disekolah?”. Luhan tersenyum penuh arti pada Yeonsung.

Gadis itu gagap.

Tak bisa mengatakan apapun. Bahkan untuk sekedar bernapas, terasa sangat sulit. Penjahat itu berdiri dihadapannya kini. dan perlahan Luhan membungkukkan tubuhnya kearah Yeonsung. “apakah tidak apa-apa –“. Luhan mengulurkan tangannya. Menyentuh wajah gadis itu. “jika aku menyentuhmu lagi?”. Punggung tangan Luhan perlahan bergerak menuruni wajah Yeonsung menuju ke leher gadis itu.

Tidak!

Tidak lagi!

TBC

I’M SO SORRY FOR REALLY LATE UPDATE

THANK YOU FOR STILL WAITING FOR THIS FANFIC

Well.. baru selesai pendadaran laporan PKL tadi masa. Alhamdulillah sukses >< kkkkk

Dan langsung ngetik kelanjutan FF ini buat langsung di posting karena aku kangen kalian uh uh… ohya, aku request boleh dong? Commentnya panjangin dong sekalian ngobrol, aku ingin ngobrol dengan kalian nihh ><

 

Iklan

3 thoughts on “FanFict “Iaokim” #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s