FanFict “Vulpecula” #9


Vulpecula 4

Vulpecula #9

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC) | Ha Minho (ex.P101 S.2)

Support Cast : Wu Kimi | Rin Yamazaki | Park Chanyeol | Kim Minseok | Do Kyungsoo | HSR | Others

Genre  : Romance, School Life, Fantasy

Length : Multi Chapter

Chapter 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8

 

~oOo~

 

Sejak kejadian di kelas kosong, Minho dan Yeonsung semakin dekat bahkan sampai berpacaran. Tentang hubungan mereka, tentu saja tidak semua orang setuju. Terutama untuk penggemar Minho. Semua gadis yang pernah ia kencani dan lain sebagainya.

Lalu kelompok dengan anggota 5 orang siswa bersekutu dengan 2 orang gadis angkuh. Sampai akhirnya Rin bergabung dengan mereka. Sebenarnya Kimi maupun Yeonsung tidak memilih untuk berteman dengan siapa, tetapi orang-orang terlalu takut untuk berteman dengan mereka.

“kau akan ikut kami, kan?”. Tanya Yeonsung pada Rin yang terlihat masih canggung berkumpul bersama.

“tapi aku ada les malam ini”. Tolak Rin.

“astaga ~ tinggalkan dulu les mu, bersenang-senang sedikit untuk menghilangkan stress”. Bujuk Yeonsung.

Rin setuju untuk ikut.

Yeonsung tidak tahu jika itu adalah awal perselingkuhan Rin dan Minho.

Bagi orang yang berteman baik, mengajak teman mereka kerumah adalah hal wajib, bukan? Yeonsung melakukan itu. Mengajak Kimi dan Rin kerumahnya. Sekedar menginap, istilahnya apa ya – pajamas party.

Chanyeol melirik Rin. Gadis berdarah Jepang itu berhasil menarik perhatian Chanyeol. Alih-alih berpacaran dengan kakak temannya, ia menutupi hubungannya dan Minho.

Ia disebut gadis arogan, pem-bully dan angkuh. Ya, semua itu benar. Yeonsung mengakuinya.

“memangnya kenapa kalau aku bersikap arogan dan angkuh? Memang ada hal yang bisa ku sombongkan yang tidak semua gadis punya. Cantik, kaya, pengusaha muda, model, dan punya pacar tampan. Mereka hanya iri”. Ucapnya jika ada yang mengusiknya.

“kau benar juga, sih”. Imbuh Kimi menyetujui perkataan Yeonsung.

Rin tampak sedang berpikir sebelum ia menyahut percakapan kedua temannya. “bagaimana dengan julukan pem-bully?”.

Kimi dan Yeonsung saling menatap. Lalu terkekeh, entah apa yang lucu. “bagaimana ya… aku tidak setega itu harus memukul, menjambak, dan menampar gadis lain jika mereka tidak bersalah”.

“Yeonsung hanya melakukannya pada gadis yang ketahuan berselingkuh dengan Minho. Karena berteman dengan si jalang ini aku juga dikira sering mem-bully”. Ujar Kimi sambil menyikut lengan Yeonsung.

Yeonsung hanya mendengus.

Saat ia menghakimi selingkuhan Minho, memang Kimi sering ikut. Tapi ia hanya melihat. Jika ia merasa gadis yang diberi pelajaran sudah cukup babak belur, maka Kimi akan menghentikan Yeonsung.

Rumor jelek selalu mendapat respon bagus. Tampaknya orang-orang memang lebih suka menjelekkan orang lain daripada harus tahu kebenarannya.

Mereka hanya mengatakan jika mereka di bully tanpa sebab.

“kau kan sudah sering diselingkuhi oleh Minho, lalu kenapa kau tidak berpisah darinya?”. Tanya Rin ketika mereka sedang berkumpul dikamar Kimi.

“kenapa harus aku yang berpisah darinya? Berarti sama saja aku mengumumkan kekalahanku”. Jawab Yeonsung sambil terus focus dengan majalahnya.

“ya ~ kenapa kau selalu membahas Minho saat sedang bersama Yeonsung?”. Tanya Kimi. Ia mulai mencurigai Rin. Mendengar pertanyaan Kimi, Yeonsung juga ikut menoleh pada Rin.

Gadis itu memutar matanya. “tidak ada, aku hanya penasaran karena gadis seperti Yeonsung ittu jarang ada”.

“kupikir Kimi spesies yang paling langka dan harus dilindungi”. Celetuk Yeonsung, mengejek Kimi. Tak pelak Kimi langsung melemparkan bantal pada Yeonsung.

Yeonsung melangkahkan kakinya, mendekati ruangan dimana Luhan masuk tadi. Setelah mendengar teriakan misterius Luhan, Yeonsung tergerak untuk menengok kesana. Mungkin terjadi sesuatu.

“ah, apa-apaan aku ini? tidak boleh lancang, Yeon’ah”. Yeonsung berhenti melangkah lalu kembali ke tempat duduknya tadi.

Apapun yang terjadi didalam sana, ia tidak boleh melihat, bukan? Bagaimanapun ia adalah tamu disini. Tak boleh lancang dan sembarangan memasuki ruangan orang lain.

Sementara itu didalam ruangan. Luhan benar-benar shock mengetahui Kimi adalah siluman peliharaan ayahnya.

Kimi beranjak dari belakang Luhan. “ah, uangku!”. Serunya sambil memunguti uang yang diberikan oleh Lu Hwang.

“aku menyesal mengenalkanmu pada dunia manusia”. Gumam Lu Hwang.

baba – bagaimana bisa dia?”. Luhan tergagu, tak tahu harus mengatakan apa.

“tenang saja, dia siluman yang sudah jadi baik, dan akan membantu kita jika kakaknya muncul”. Ujar Lu Hwang.

Kimi mengangguk-angguk. “benar. lagipula aku memang tidak jahat sejak awal. Oh ya, kau mengajak Yeonsung kemari?”.

Luhan mengangguk ragu. Takut jikalau Kimi memangsa Yeonsung atau semacamnya. “dia dibawah. Bagaimana kau tahu?”.

“aku mencium baunya”. Jawab Kimi sambil tersenyum sok manis. “kau pergilah, agar aku bisa keluar dari sini. Astaga ~ bau pak tua ini benar-benar mengganggu penciumanku”. Kimi mengibas-ngibaskan tangannya.

“eissh… siluman nakal”.

Kimi memasang kuda-kuda untuk menangkis pukulan Lu Hwang. “ciaat….”.

baba, beri aku uang. Aku ingin pergi dengan Yeonsung”. Luhan menadahkan tangannya.

“hutangmu yang waktu itu belum kau bayar”. Ujar Lu Hwang.

“apa? Kau bahkan belum membayar gaji karyawan mu di café. Hutang tetap hutang, kali ini aku minta uang jajan. Sudah seminggu kau tidak memberiku uang jajan”. Oceh Luhan. Protes karena ayahnya yang pelit.

Setelah berdebat masalah uang ini dan itu, akhirnya Luhan mendapatkan uang jajannya yang sudah seminggu ini tidak diberikan. Karena libur sekolah jadi ia tidak mendapat uang jajan, makan juga Luhan hanya makan di café.

“Yeon’ah, kajja!”. Seru Luhan langsung meluncur kelantai bawah dimana Yeonsung menunggunya.

“ya ~ kalau tidak punya uang harusnya kita tidak usah pergi keluar”. Gumam Yeonsung.

“kau ini bicara apa? Mumpung masih libur jadi kita harus main keluar. Memangnya kau tidak bosan seharian menungguku di café?”.

Luhan mengamit tangan Yeonsung, mengajaknya segera keluar dari rumah itu. Sebelum Yoensung tahu ada Kimi didalam rumahnya. Tadi Kimi juga berkata jika tahu Yeonsung berganti dengan roh orang lain saat gadis itu kembali bernapas setelah mati beberapa menit.

Ya, wajar saja, karena ternyata Kimi bukanlah manusia biasa.

September.

Sekolah kembali masuk seperti biasanya. Tak banyak yang berubah, kecuali pertemanan antara Rin dan sahabatnya, Kimi dan Yeonsung. Tampak Rin sendiri yang menjauh dari kedua gadis itu.

Lalu saat Yeonsung sendirian duduk dipinggir lapangan menonton Luhan yang sedang bermain bola, Minho mencuri kesempatan untuk mendekati gadis itu.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan rindu. Rindu yang sebenarnya, saat perasaannya telah berubah.

“Yeon’ah”. Panggilnya. Yeonsung hanya menoleh sejenak, lalu kembali menatap lurus kedepan. Minho duduk disebelah Yeonsung. “aku punya permintaan, maukah kau mengabulkannya?”.

“kenapa aku harus mengabulkan permintaanmu?”.

“karena ini adalah permintaanku yang terakhir untukmu, jadi aku ingin kau mengabulkannya”. Jawab Minho dengan wajah serius.

“Minho’ya, aku tak bisa. Tak mungkin bagiku untuk menuruti permintaanmu”. Ujar Yeonsung.

Minho menatap Yeonsung dengan serius. “Yeon’ah, kumohon kali ini saja. Aku sudah tak berhubungan dengan Rin lagi, aku tak berhubungan dengan gadis manapun”.

“syukurlah kalau memang seperti itu”. Jawab Yeonsung dengan senyum kecut.

“bisakah kita pergi bersama? Berdua saja? Last date? Aku – aku ingin menghabiskan waktu bersamamu seperti dulu. Untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar melepaskanmu”. Minho mengutarakan permintaannya.

Yeonsung diam.

Teringat dengan apa yang sering ia alami akhir-akhir ini.

Dadanya terasa sesak, seperti perasaan sakit yang terlalu lama dipendam lalu keluar dengan sendirinya. Yeonsung merasa benar-benar tersiksa saat ia harus menangis tanpa sebab seperti orang gila.

Perasaan siapa yang ia rasakan?

Mungkinkah Yeonsung yang asli?

Gadis bodoh yang sangat mencintai Minho dengan segenap perasaannya, lalu roh gadis ini mengisi dirinya sejak ia mati. Roh gadis ini menguasai dirinya, bahkan dengan lancang membuang Minho yang berharga.

Yeonsung sempat berpikir jika tubuh ini sengaja menghukumnya karena telah berbuat seenaknya. Padahal ia hanya menumpang.

“untuk terakhir kalinya?”.

“ya, setelah itu aku tak akan mengejarmu lagi”.

Minggu sore merupakan saat pertama kalinya Yeonsung memergoki Minho bersama gadis lain. Meski terlihat biasa saja, tapi jika dilihat dengan benar, tampak jelas jika Yeonsung terluka saat itu.

Minho mengkhianatinya. Terlalu sering, hingga Yeonsung berpikir untuk tak ingin mengalah pada pengkhianatan itu. Ia terus memaksakan diri. Lagi dan lagi ia bertengkar dengan gadis lain demi Minho. Apapun itu, ia tak ingin menyatakan kalah jika ia melepaskan Minho begitu saja.

Dan…

Gadis itu duduk disampingnya lagi kini. Pergi bersamanya untuk terakhir kalinya –mungkin. Sebenarnya Minho tak berpikir apa ia akan benar-benar berhenti dan menyerahkan Yeonsung atau tidak.

Yang penting sekarang ia bisa pergi dengan Yeonsung lagi.

yeobeoseyo? Ya, aku minta maaf karena ada urusan mendadak –“. Yeonsung melirik Minho, mengkode agar pria itu tidak bersuara. “aku pergi dengan Chan oppa”. Lanjut Yeonsung.

baiklah kalau begitu. Sampaikan salamku padanya”. Sahut Luhan dari seberang. Percaya jika pacarnya tak mungkin bohong.

“tentu saja, Lu”.

Telpon berakhir. Yeonsung merasa lega. Tapi kemudian ia menyandarkan kepalanya kesandaran jok, merasa bersalah telah membohongi Luhan demi keegoisan Minho.

“kau sudah berani membohonginya, Yeon’ah”.

“diam kau! Ini semua karena mu”.

Minho terkekeh. “oh? Bajumu itu – kau ingat tidak? Itu baju yang kau pakai saat pertama kali kita berkencan”.

Yeonsung melihat kembali penampilannya. Benarkah? “tidak ingat. Lagipula, bagaimana kau yakin aku memakai baju ini saat pertama kencan denganmu? Kau kan kencan dengan banyak gadis”. Ujar Yeonsung sewot.

Minho menghentikan mobilnya dilampu merah. Menggunakan kesempatan ini dengan baik untuk menggoda Yeonsung. wajah gadis itu saat menatapnya dengan sinis, benar-benar menantang Minho.

“aku memang pergi dengan banyak gadis. Tapi tak ada yang sepertimu”. Ujar Minho. Ia menoleh dan menatap intens pada Yeonsung. benar, kan, dugaannya.

Yeonsung tengah menatapnya dengan sinis. Seolah enggan mendengarkan ucapannya.

“jangan membual. Aku muak mendengarnya”.

“aku serius. Tak ada gadis seperti mu. Bibirmu yang kissable, matamu yang selalu menatapku atraktif, suaramu yang imut saat meneriakan namaku –dibawahku”. Minho menyibak rambut Yeonsung. “lalu lehermu yang indah ini – um, aku selalu menyukai tanda dilehermu ini”.

Dengan cepat Yeonsung menepis tangan Minho yang menyentuh tanda dilehernya. Yeonsung bergidik ngeri. “hentikan!”. Teriaknya.

Minho terbahak. Bahagia melihat wajah merah Yeonsung. “sayang sekali aku tak bisa melakukan apapun lagi denganmu”. Ujarnya dengan nada datar.

Yeonsung menghela napas. Keningnya berkerut, memilih untuk diam dan melihat keluar jendela. Menyebalkan sekali. Ia ingin pulang saja. Menyesal telah menerima permintaan Minho.

Kimi memasuki sebuah café bersama Jaemin disampingnya. Ia tak tahu dan tak sengaja masuk ke café dimana Luhan bekerja. Mereka hanya datang ke café yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.

“kau ingin minum apa?”. Tanya Jaemin sambil melihat deretan menu dihadapan mereka.

creamy latte, yang banyak cream nya”. Jawab Kimi.

Saat itu bukan Luhan yang bertindak untuk melayani kedua orang itu, karena ia baru saja dari belakang untuk menelpon Yeonsung.

Kimi dan Jaemin pergi ke tempat duduk kosong sambil membawa minuman mereka. Hari yang cerah untuk bersantai sekedar minum kopi di coffee shop.

“oh? Bukankah itu Luhan?”. Bisik Jaemin kala Luhan kembali ke meja nya untuk melayani para pembeli. Kimi menoleh. “um, jadi dia bekerja disini”. Gumam Jaemin.

“benar, itu Luhan. Jika Luhan disini, lalu Yeonsung pergi dengan siapa?”. Kimi bertanya pada dirinya sendiri.

Karena tadinya Kimi hendak mengajak Yeonsung pergi bersama – double date, tapi Yeonsung menolak dengan alasan ia tak ingin melakukan double date.

“jadi Yeonsung sekarang berpacaran dengan Luhan? Seleranya menurun rupanya”. Ujar Jaemin dengan wajah polos.

“mungkin Luhan lebih membuatnya bahagia. Jangan mengurusi orang lain, Jaemin’ah”. Timbal Kimi.

Disisi lain ia masih penasaran dengan apa yang terjadi. Ia bertanya-tanya mungkinkah Yeonsung pergi dengan pria lain?

Minho mengajaknya berkeliling.

Pergi ke taman bermain. Naik berbagai wahana yang sudah lama ingin Yeonsung naiki. Jika bersama Luhan, pria itu tak mau diajak naik wahana sejenis roller coaster karena ia takut ketinggian.

Tetapi Minho berbeda. Ia malah mengajak Yeonsung naik berbagai wahana seperti anak kecil mereka berlarian kesana-kemari.

“Yeon’ah, es krim?”.

Yeonsung mengangguk cepat. Mereka pergi ke kedai es krim. Selain membeli es krim, Minho bahkan membeli bandana karakter yang lucu untuk mereka berdua.

“aku lelah, duduk sebentar”. Pinta Yeonsung.

Minho menariknya ke bangku yang berada dipinggiran taman bermain. Hal yang membuat Yeonsung terkejut adalah saat Minho tiba-tiba berjongkok dihadapannya, membantunya melepaskan sepatu.

“lepas saja, agar kakimu tidak panas”. Ujarnya.

Yeonsung menurut saja. Melepaskan sepatunya, lalu dengan santai ia kembali menyantap es krimnya. Minho kembali duduk disebelahnya.

“bagaimana menurutmu, menyenangkan?”.

“ya, cukup menyenangkan. Aku suka taman bermain”.

Minho menoleh dengan ekspresi terkejut. Ternyata Yeonsung memang berbeda dengan dirinya yang dulu. Yeonsung yang dulu tak suka diajak ke tempat seramai ini, apalagi harus berjalan mengitari taman bermain dan naik wahana.

“syukurlah kalau kau suka”. Ujar Minho. “aku bisa saja mengajakmu ke taman bermain sesering mungkin, lain kali kita pergi ke Lotte World. Disana lebih menyenangkan, kita bisa bermain ski”.

Mendengar kata Lotte World. Yeonsung langsung bersemangat. Tempat yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui iklan ditelevisi. “aku ingin ke Lotte World”. Ujar Yeonsung.

Diluar kesadarannya. Ia berbicara dengan aegyo dan mata berbinar. Berhasil menusuk perasaan Minho berkali lipat.

“kapan? kapan? kapan kau ingin kesana, hm?”. Minho menghadap pada Yeonsung. seperti sedang menanyai anak kecil.

“uh –“. Yeonsung berpikir. Matanya bergerak ke kanan dan kiri. Tak sadar jika ia telah masuk ke dalam tipu daya Minho. “minggu depan”. Jawab Yeonsung akhirnya.

“baiklah, minggu depan. Janji?”. Minho mengacungkan kelingkingnya.

Dengan polosnya Yeonsung mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Minho.

aigoo ~ kyeopta”. Minho mengacak puncak kepala Yeonsung. gemas.

Yeonsung tertegun.

Lalu ia menyadari mengapa gadis pemilik tubuh ini bisa menyukai sosok Minho. Bukan hanya Yeonsung yang berpikir begitu, tetapi banyak gadis yang suka padanya. Mungkin karena ia player makanya ia bisa memikat hati seseorang dengan mudah.

Sama halnya seperti saat ia belum memiliki perasaan yang besar terhadap Luhan. Minho memang hampir saja mengambil hatinya.

Hingga malam hari, Luhan masih belum mendapatkan kabar dari Yeonsung.

Ia berpikir jika Yeonsung sedang menikmati kebersamaannya dan Chanyeol. Jadi ia memutuskan untuk tidak mengganggu dan pergi bermain sepeda saja di dekat sungai Han. Ia melihat sekelompok remaja sedang bermain bola basket disana. Luhan pun menghampiri mereka.

Luhan memarkirkan sepedanya. Baru saja ia mengangkat kepalanya, matanya menangkap sosok Chanyeol diantara remaja yang sedang berlarian mengejar bola. “Chanyeol’ssi? Kau disini?”. Ujar Luhan dengan nada terkejut.

Chanyeol yang merasa namanya terpanggilpun menghentikan langkahnya dan menghampiri Luhan. “oh, kau datang kesini juga”. Balas Chanyeol sambil bersalaman dengan Luhan.

“bukankah kau pergi dengan Yeonsung?”. Luhan menggaruk kepalanya.

Heran.

Jika Chanyeol disini, lalu Yeonsung pergi dengan siapa?

“aku tidak pergi dengannya. Sejak tadi pagi ia pergi, katanya kencan. Kupikir ia pergi denganmu”. Jawab Chanyeol dengan polosnya.

“dia bilang pergi denganmu –“. Luhan tersentak.

Yeonsung telah berbohong padanya.

Merasa tahu Yeonsung bersama siapa saat ini. bahkan sejak tadi mereka telah pergi bersama. Kemarin di sekolah, Luhan melihat Minho mendekati Yeonsung. mereka membicarakan sesuatu yang Luhan tak tahu apa. Ia juga tak banyak bertanya, karena percaya Yeonsung tak mungkin kembali pada Minho.

“kau lagi”. Ujar Chanyeol.

Luhan menoleh pada orang yang barusan Chanyeol maksud. Rin berdiri dibelakang Luhan. Dengan mata berkaca-kaca menatap Luhan kearah Chanyeol.

oppa –“.

“bukankah sudah kukatakan untuk tidak menemuiku lagi? Kau ini keras kepala sekali”. Oceh Chanyeol seraya melipat tangannya dibawah dada.

Luhan yang sadar akan situasi, segera melangkah pergi dari sana. Ia kembali melajukan sepedanya, entah hendak kemana. Ia ingin memastikan sendiri, dimana Yeonsung saat ini dan bersama siapa.

“kumohon, maafkan aku”. Rengek Rin sambil bergelayut ditangan Chanyeol.

“hentikan. Sebenarnya aku tak bisa kejam kepada gadis, tapi Yeonsung tak ingin aku dekat denganmu lagi”. Ujar Chanyeol. Tak menatap Rin sedikitpun.

Rin mulai tersedu. Perasaan menyesal yang ia rasakan sekarang sudah tak ada gunanya lagi. “aku berjanji tak akan mengkhianatimu lagi, kumohon berikan aku kesempatan. Aku ingin bersamamu. Sungguh”.

“Rin’ah ~ aku benar-benar tak bisa”.

Tangan Rin terkulai lemas. Terlepas dari genggamannya ditangan Chanyeol. “jadi – kau lebih memilih untuk menuruti keinginan Yeonsung? kau tidak benar-benar mencintaiku dulu, oppa?”.

“tidak seperti itu. Tapi, Yeonsung adalah keluargaku, aku yakin dan percaya dia tahu mana yang terbaik untukku”. Ujar Chanyeol. Kini ia menatap Rin. Tak tega mendengar gadis itu menangis. “untuk saat ini, Yeonsung belum bisa menerimamu, karena apa yang telah kau lakukan padanya sekaligus padaku”.

“karena itu kau tidak bisa kembali padaku?”.

Chanyeol mengangguk pelan.

Jujur saja, hatinya pun terasa sakit.

Mengetahui pengakuan langsung dari Minho bahwa dirinya benar telah berselingkuh dengan Rin sejak lama. Kedua orang itu mengkhianati Park bersaudara. Sudah lama. Mereka menyembunyikan semuanya dengan baik.

Yeonsung berkata padanya jika ia sudah tahu soal perselingkuhan Minho dan Rin. Tetapi ia tak sempat memberitahu Chanyeol. Karena hubungan persaudaraan mereka tidak begitu baik dulu.

Tapi sekarang…

Yeonsung tak akan membiarkan hal itu terjadi.

“aku tak bisa membiarkan hatiku sakit lebih dalam lagi. Karena aku tak ingin membencimu, jadi pergilah. Jangan hubungi aku lagi”. Ujar Chanyeol dengan senyum penuh arti.

Bosan.

Yeonsung tak tahu harus melakukan apa.

Menunggu Minho bermain billiard. Membosankan. Jadi ia hanya bisa duduk di meja bar sambil minum minuman yang disuguhkan oleh bartender. Yeonsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.

“uh, mati”. Gumamnya.

Langsung ia mencari plug in atau apa sajalah yang bisa dipakai untuk mengisi daya ponselnya didalam tas. Tapi ia tak bisa menemukan benda itu.

“ah, menyebalkan sekali”. Gerutunya.

Tiba-tiba seorang pria mendekatinya. Duduk disebelahnya lalu memesan minuman. Yeonsung langusng menjaga sikapnya. Pria itu menatapnya seolah sedang menelanjanginya.

“hey, siapa namamu?”. Tanya pria itu. “aku Yongjoon”. Ujarnya sedikit berbisik.

“uh, Yeonsung”. jawab Yeonsung, ia takut sebenarnya.

“oh ~ apa yang kau lakukan disini? Kulihat sejak tadi kau hanya duduk dan tak melakukan apapun”.

Karena Yongjoon terdengar baik dan tak akan berbuat macam-macam, Yeonsung merasa sedikit lega. Ah – lagipula kenapa ia harus takut Yongjoon melakukan sesuatu yang buruk padanya.

Ia tinggal teriak dan Minho akan datang lalu menghajar pria ini. pikir Yeonsung.

“aku datang bersama teman. Aku tak bisa main billiard”. Jawab Yeonsung.

Yongjoon berdehem. Ia tak berkata apapun lagi. Yeonsung juga tak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Yongjoon memberikan sesuatu pada bartender lalu berbisik.

“siapa temanmu?”. Tanya Yongjoon lagi.

“itu –“. Yeonsung menunjuk Minho yang terlihat tengah bersiap untuk menyodok bola billiard. “Minho”.

“oh? Jadi kau datang bersama Minho?”. Ucap Yeonsung seperti tak percaya. Kemudian ia malah tertawa pelan. Bartender memberikan pesanannya. “apa kau salah satu gadisnya?”.

“tidak!”. Jawab Yeonsung reflek. “uh, iya, dulu. Tapi kami sudah putus”.

Yongjoon ingin tertawa terbahak. Sungguh! Ekspresi Yeonsung saat itu benar-benar membuatnya gemas. Pantas saja Minho menyukainya. Yongjoon pun memberikan minuman yang ia pesan tadi pada Yeonsung.

“ini, sebagai tanda perkenalan kita”.

Yeonsung menyambut gelas itu. Ia mengendusnya sebentar. Tak ada bau alcohol. “ini apa?”.

“minuman ringan biasa. Diberi es batu dan sedikit jeruk lemon. Coba saja”. Yongjoon menyodorkan gelasnya. Mengajak Yeonsung untuk bersulang.

Gadis itu mengangguk. Gelas mereka beradu. Menimbulkan suara dentingan pelan. Yongjoon langsung menenggak minumannya, oneshot. Sedangkan Yeonsung meminumnya dengan perlahan.

Saat minuman Yeonsung habis.

Minho diam-diam melirik kearah gadis itu. Ia tersenyum menyeringai. Tak salah ia menyuruh Yongjoon. Memasukan obat tidur ke dalam minuman Yeonsung. dan gadis itu juga tak merasa was-was.

Sebentar lagi.

Yeonsung akan tertidur oleh efek obat yang ia minum.

Minho hanya perlu menunggu.

Luhan menembus dinginnya malam dengan sepedanya.

Mengayuh melewati jalanan. Entah akan pergi kemana. Mungkin ketempat dimana kemungkinan Yeonsung berada. Barusan ia dari rumah gadis itu dan Yeonsung belum pulang.

Luhan khawatir.

Ia teringat pada Kimi.

Kimi pasti bisa membantunya menemukan Yeonsung. jika Yeonsung saat ini bersama Minho. Ia bisa bertanya dimana alamat Minho dan akan mendatanginya disana.

Siapa tahu Yeonsung sedang membutuhkanku saat ini. mungkin saja ia membutuhkanku saat ini. itulah yang ada dibenak Luhan sejak tadi.

Yeonsung benar-benar tertidur pulas karena ia menenggak minuman yang sudah dibubuhi obat tidur. Minho membopong tubuh Yeonsung ke dalam mobilnya.

“terima kasih, Yongjoon’ah”. Ujar Minho sebelum pergi dari tempat itu.

“ya, kapanpun kau perlu bantuan”. Jawab Yongjoon.

Minho melajukan mobilnya perlahan. Ia melirik tubuh yang tertidur dikursi penumpang disebelahnya. Bahagia. Bangga. Sebenarnya ia tak merencanakan semua ini. ia berpikir dengan spontan dan muncul ide untuk membuat Yeonsung putus dengan Luhan.

Mobil Minho berhenti sejenak dipinggir jalan.

Ia hendak memasang seat belt untuk Yeonsung.

Dan…

Disaat yang bersamaan…

Luhan melewati jalan itu. Jalanan yang sudah sepi dimana mobil Minho berhenti. Luhan tak mungkin tidak mengenali gadis yang ia pacari. Dan Luhan juga mengenal mobil itu, sering terparkir diparkiran sekolah.

Mata Luhan membelalak.

Menyaksikan dengan sendiri.

Bagaimana Yeonsung dengan mata yang terpejam, lalu Minho mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Minho berada diatas pacarnya!

A-apa… mereka bercumbu? Pikiran Luhan langsung mengambil kesimpulan.

Luhan tersadar. Ia memutar balik sepedanya. Tepat saat itu mobil Minho kembali melaju. Luhan mengejar mobil itu. Tak boleh kehilangan jejak. Ia harus memastikan sendiri jika gadis yang berada didalam sana adalah pacarnya.

“tidak, Yeon’ah! Tidak! Jangan mengkhianatiku!”. Teriak Luhan dalam hati.

Dengan kecepatan penuh ia mengayuh sepedanya. Berusaha mengejar mobil yang semakin melaju kencang.

Luhan tak bisa berpikir jernih lagi. Tak ada gadis lain yang memiliki tanda khusus dileher kanan seperti yang Yeonsung miliki. Jantungnya semakin berdegup tak karuan. Luhan harus menyusul mobil yang membawa Yeonsung pergi.

TBC

Whoaaaaa ><

Gimana nih gimanaaaaa ><

Baiklah, sebentar lagi sebenarnya tamat loh… jangan lupa comment like nya permirsah!!!

 

Iklan

One thought on “FanFict “Vulpecula” #9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s