FanFict “Vulpecula” #0


Untitled-2

Vulpecula #0

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Wu Kimi | Rin Yamazaki | Park Chanyeol | Kim Minseok | Do Kyungsoo | HSR | Others

Genre  : Romance, School Life, Fantasy

Length : Multi Chapter

Awal-awal mungkin bikin bingung karena ada 2 Park Yeonsung disini. Yeonsung di Gyeongju sama Yeonsung di Seoul. Mereka beda orang? Iya, beda. Beda banget malah. Tolong dibaca dengan baik ya, biar paham sama alur yang pertama ini. Karena aku ngga bisa menjabarkan dengan begitu baik jadi mungkin kalian akan kesulitan buat ngerti. Hehehe ^^

Enjoy guys!

~oOo~

Seperti hal nya kota lain yang memulai pagi dengan kesibukan masing-masing orang. Begitu juga dengan kota kecil dipinggir gunung tepatnya di Provinsi Gyeongju. Tak banyak yang bisa dilihat dari kota kecil ini. Tak seramai Seoul dan daerah sekitarnya. Banyak pemuda yang kemudian pergi dari kota ini dan memilih untuk tinggal dikota lainnya. Dengan fasilitas yang lebih memadai agar terlihat keren.

“kau berkhayal lagi, ya?”. Tanya seorang wanita paruh baya sambil meletakkan telur mata sapi di tengah meja makan.

“tidak. Aku hanya merasa kurang enak badan”. Jawab gadis yang ditanyai.

Gadis dengan seragam sekolah itu menatap telur mata sapi yang diletakkan ditengah meja makan. Tag nama didada nya tertulis nama ‘Park Yeonsung’.

Ia tahu, jika ia bukan anak kandung dari pemilik rumah ini. Bahkan ia tak ingin tahu siapa dia sebenarnya. Cukup dengan mendengar umpatan orang-orang yang mengatakan jika dia anak yang sengaja dibuang.

Ah, persetan dengan itu semua.

Yang Yeonsung pikirkan hanyalah bagaimana cara agar bisa bertahan hidup. Setelah lulus sekolah, ia akan pergi ke Seoul untuk bekerja dan merubah hidupnya.

“aku berangkat dulu”. Pamit Yeonsung setelah selesai memakan sarapannya.

Wanita paruh baya yang sedang mengelap lantai, mendongak dan tersenyum pada Yeonsung. “hati-hati dijalan”. Ujarnya. Senyuman lebarnya sedikit demi sedikit memudar seiring perginya Yeonsung. Ia menoleh kearah kalender yang tertempel di dinding.

Dari rumah, Yeonsung harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke halte bus. Sepanjang jalan yang ia lewati dihiasi oleh pepohonan. Rumahnya berada diatas bukit, dari sini ia bisa melihat pemandangan yang indah. Udara yang sejuk dan lembab membasuh wajahnya.

Yeonsung menoleh kebelakang. Menatap rumah bergaya tradisional yang sudah 17 tahun ini ia tempati. Rumah seorang dukun dengan pasien yang cukup ramai.

Siapa yang tidak tahu Seoul? Ibukota Korea Selatan yang terkenal dengan keramaiannya, gedung tinggi berjejer rapi dipinggir jalanan kota yang ramai kendaraan. Anak-anak muda dengan gaya berpakaian yang modis, mereka semua tampak begitu cantik meski masih duduk di bangku SMA. Sangat konstras dengan kota kecil dipinggiran gunung.

Pagi juga datang menghampiri sebuah rumah mewah. Duduk dengan mimik angkuh seorang gadis berambut coklat terang, matanya menatap sinis pada setiap pergerakkan pelayan yang menyiapkan sarapan untuknya.

“aishh… cepatlah! Jangan membuat nafsu makanku hilang”. Titah gadis itu.

Dari seragam yang ia kenakan, dapat ditebak jika ia adalah siswi dari sekolah elite didaerah Gangnam-gu. Foreign International High School. Tag nama yang menempel didadanya tertulis nama ‘Park Yeonsung’.

“baiklah, Nona Yeon”. Pelayannya tak melawan karena takut. Dengan cepat ia menyiapkan roti sandwich untuk Yeonsung.

Gadis itu menunjang kepalanya dengan tangan. Tatapan sinisnya justru membuat pelayannya semakin gelagapan dan bingung harus melakukan apa. “ah, sudahlah, lupakan saja!”. Yeonsung berdiri dengan kasar.

Ditariknya tas nya yang berada dikursi sebelah. Lalu melangkah pergi dari ruang makan. Dari lantai dua, seorang pria tinggi sedang menuruni tangga sambil memasang jam tangan. Park Chanyeol, kakaknya. Aroma maskulin menyeruak kala Chanyeol berdiri tak jauh dari Yeonusng.

“ya! Cebol! Kau sudah sarapan?”.

“tidak”.

Yeonsung menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada Chanyeol. Membuat pria itu berdecak kesal. “eishh… gadis itu terbuat dari apa sebenarnya?!”. Meskipun sudah setiap hari Yeonsung berprilaku seperti itu, namun rasanya tetap menyebalkan.

Didepan gerbang rumahnya sudah menunggu sebuah mobil. Senyum girang terukir diwajah cantiknya, buru-buru Yeonsung menghampiri mobil itu dan membuka pintu penumpang. Senyumannya memudar mendapati siapa yang ada didalam mobil.

“dimana Minho?”.

Pria bermata sipit dengan wajah terlihat bengkak itu menoleh. “masih tidur diapartemennya”. Jawab Hongwon.

Yeonsung berdecak, terpaksa ia masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman dibangku penumpang. Sedikit kesal karena Hongwon menjemputnya dengan mobil Minho yang notabene adalah kekasihnya. “antar aku kesana”. Titahnya.

“Minho menyuruhku menjemputmu untuk diantar kesekolah”.

Hongwon menginjak pedal gas dengan perlahan. Yeonsung hanya diam, sambil melipat tangannya di bawah dada. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Melihat Yeonsung yang hanya diam, Hongwon berinisiatif untuk memulai percakapan. Tapi gadis itu menjawab dengan singkat.

“eh? Tanda dilehermu terlihat memudar? Apa itu palsu?”. Tanya Hongwon yang menyadari ketika melihat tanda lahir di leher sebelah kanan Yeonsung. warnanya memudar, tidak terlalu hitam seperti biasanya.

Telapak tangan Yeonsung menyentuh lehernya yang terdapat tanda lahir tersebut. Ia pun memeriksa lehernya dengan menggunakan ponsel. Memastikan ucapan Hongwon benar.

“oh, baguslah kalau menghilang. Aku risih melihatnya”. Ujar Yeonsung.

Yeonsung tiba disekolahnya yang biasa saja setelah menempuh perjalanan dengan bus. Ia menghela napas, ah, sekolah ini lagi. Sekolah yang muridnya tidak seberapa, yang membuat ia terlihat pintar karena murid lain tidak sepintar dia. Hyojin – teman sekelasnya, menghampirinya. Gadis itu juga baru tiba, tapi ia lebih baik karena rumahnya terletak tak jauh dari sekolah.

morning, Yeon’ah”.

“ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menyapaku seperti itu?”. Tanya Yeonsung heran. Keduanya melangkah bersama-sama kedalam sekolah.

Ada beberapa anak laki-laki sedang bermain bola dilapangan pasir sekolah. Parkiran sepeda dikawasan sekolah juga tak pernah ramai. Parkiran itu baru akan penuh saat ujian, sekolah lain akan menumpang gedung using sekolah ini.

“aku sedang menghapal beberapa kosa kata bahasa Inggris”. Hyojin memamerkan kertas kecil yang ia pegang.

“jangan menghapalnya, cukup pahami saja nanti juga kau terbiasa dan ingat sendiri tanpa kau sadari”.

Hyojin menyipitkan matanya, menatap intens pada Yeonsung. “ya ~ aku ini bukan kau”. Ujarnya.

Hyojin itu gadis yang sangat imut, jangankan para lelaki, Yeonsung saja sampai gemas melihatnya. Kedua sekawan itu berencana untuk pergi ke Seoul setelah lulus sekolah. Berbeda dengan Yeonsung, Hyojin pernah beberapa kali mengunjungi Seoul bersama keluarganya. Mendengar cerita Hyojin, Yeonsung mulai tertarik dan ingin mengubah hidupnya.

Bola sepak menggelinding menghampiri kaki Yeonsung, gadis itu membungkuk untuk mengambil bola itu. Saat ia mendongak, seorang murid laki-laki berlari kearahnya.

“hey”. Sapanya. Kim Junmyeon, murid tertampan menurut survey dikalangan para gadis. Dan keluarganya adalah yang terkaya seantero kota ini. Yeonsung menyodorkan bola sepak itu pada Junmyeon tanpa mengatakan apapun.

“kau sengaja, ya?”. Hyojin angkat bicara. Dengan bibir dimanyunkan seperti sedang merajuk.

Junmyeon tersenyum simpul. “tidak. Ah, Yeon’ah, teropong bintang yang kupesan waktu itu sudah sampai”.

Mendengar kalimat itu, mendadak Yeonsung menjadi berbinar seperti seribu bintang sedang mengelilinginya sekarang. “benarkah? Wahh…”.

“benar. Jika kau mau kita bisa melihat bintang bersama ditempat biasa”. Ujar Junmyeon.

Tak mungkin Yeonsung menolak. Ia langsung mengangguk setuju. Mereka memang penyuka bintang dan sering mengamati bintang dengan teropong. Junmyeon rela membeli teropong bintang agar bisa melihat bintang bersama Yeonsung. sebelumnya mereka hanya meminjam teropong milik paman Junmyeon. Dan sekarang pamannya telah kembali ke Incheon.

“kalau begitu kutunggu di rumah pohon nanti malam”. Ujar Junmyeon setelah itu kembali ke lapangan untuk bermain bola dengan teman-temannya.

Hyojin menyikut lengan Yeonsung. “ya ~ kau tidak takut? Haruskah kau pergi untuk menemuinya malam ini?”. Ucap Hyojin, khawatir.

“aku tidak takut, kenapa aku harus takut?”.

“ya ~ Yeonsung’ah ~ aku boleh ikut tidak?”. Pinta Hyojin seraya menggelayuti lengan Yeonsung. mau tak mau Yeonsung mengangguk mengiyakan permintaan temannya, tidak apa, lagipula ia dan Junmyeon tak ada hubungan apapun. Jadi mengajak Hyojin selaku sahabatnya juga bukan hal yang salah. “yeay! Jam berapa kita akan pergi?”.

Mobil yang dikendarai oleh Hongwon tiba dikawasan sekolah. Yeonsung keluar dari dalam mobil dengan penuh pesona. Begitu pula dengan Hongwon. Baru saja Yeonsung melangkah, kakinya menginjak genangan air dan menjadi basah.

“ah, sial”. Umpatnya.

Hongwon yang mendengar umpatan itupun menghampir Yeonsung yang sibuk mengibaskan kakinya. “ckck… sepatumu yang berharga”. Ujar Hongwon. Sekaligus mengejek, kata-kata yang selalu dikeluarkan oleh Yeonsung.

“ya ~ bisa tolong ambilkan sepatu dibagasi belakang? Aku ingat menaruh sepatu disana”. Titah Yeonsung.

Meski sambil mengumpat karena lagi-lagi diperintah oleh Yeonsung, Hongwon tetap melakukan apa yang diminta gadis itu. Dengan polos ia berjalan kebelakang mobil, membuka bagasi dan mencari sepatu yang Yeonsung katakan.

Tanpa ia sadari. Yeonsung menarik kunci mobil yang diletakkannya disaku belakang celananya.

“ya ~ aku tidak menemukan sepatumu disini”. Ujar Hongwon lalu menutup kembali bagasi mobil.

“oh, tidak ada, ya? Yasudah kalau begitu”.

Yeonsung berlalu begitu saja. Kakinya bergerak cepat menuju pintu kemudi mobil. Pintu mobil terbuka, membuat Hongwon melongo dan merogoh saku dimana ia meletakkan kunci mobil tadi.

“ya! Park Yeonsung!”. pekik Hongwon. Sadar apa yang akan terjadi berikutnya.

Terlambat.

Yeonsung sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesim mobil. Hongwon menggedor jendela kaca mobil itu. “ya! Kau mau kemana!? Keluar kau!”.

Jangan harap Yeonsung menggubris perintah Hongwon. Ia menginjak pedal gas dan mobil mulai melaju. Melewati Hongwon begitu saja. Melesat keluar dari kawasan sekolah sambil membunyikan klakson hingga semua orang menyingkir.

Hongwon mengutuk dengan sumpah serapah atas apa yang Yeonsung lakukan pagi ini.

Gadis itu tiba diapartemen milik Minho. Tanpa kesulitan sedikitpun ia masuk kedalam apartemen karena memang ia sudah biasa kesini. Didalam apartemen tak ada tanda-tanda kehidupan. Yeonsung melenggang masuk ke dalam ruangan yang selama ini dilarang oleh Minho. Kamar.

Tangan Yeonsung menggenggam knop pintu, memutar lalu mendorong pintu tersebut. Tidak terkunci.

“Minho’ya”. Panggilnya pelan.

Tak ada jawaban, bahkan saat Yeonsung mengintip ke dalam kamar, tak ada seorang pun disana. Yeonsung berpikir jika ini adalah kesempatan baginya untuk melihat kamar Minho. Entah untuk alasan apa, Minho memang tak pernah mengijinkan Yeonsung masuk kekamarnya.

Dan –

Yeonsung disambut oleh pemandangan menyedihkan ketika masuk. Bola matanya bergerak perlahan menelusuri deretan poto yang tertempel abstrak di dinding kamar. Tak menemukan satupun poto dirinya disana.

“brengsek”. Desisnya.

Kenal siapa yang ada dipoto tersebut. Yeonsung mengepalkan tangannya sendiri. Napasnya memburu karna emosi meluap. “jalang”. Desisnya lagi.

Derap langkah memburu cepat dilorong apartemen. Minho kembali keapartemennya setelah Hongwon menelpon dan mengatakan Yeonsung datang ke apartemennya.

Sial. Sial. Sial.

Minho mengumpat sepanjang jalan. Hanya telat beberapa menit dari waktu tibanya Yeonsung disekolah, ia sudah membiarkan gadis liar itu terlepas. Semua terjadi tak sesuai rencananya.

Minho membuka pintu apartemennya. Asap mengepul dari dalam kamarnya.

“ya!”. Teriak Minho sembari memasuki kamarnya.

Disana, Yeonsung berdiri dengan tenang. Membakar seluruh poto dan beberapa barang mahal milik Minho. Seperti sepatu dan jaket mahal. Ia menoleh, manik matanya berbinar diikuti dengan senyuman manis. “Minho’ya”.

what the fuck? apa yang kau lakukan?!”. Bentak Minho. Menatap sedih pada tumpukan poto yang terbakar dilantai.

“aku? Hanya bersih-bersih, memangnya kenapa?”. Tanya Yeonsung dengan wajah tanpa dosa. Ia mengangkat tangannya yang memegang poto terakhir dan dilempar ke api. Yeonsung menepukkan kedua tangannya. “ah, akhirnya selesai juga”.

shit! Kau gila! Pergi dari sini sekarang juga!”. Minho menunjukkan tangannya kearah pintu. Menatap Yeonsung dengan penuh amarah.

Yeonsung melipat tangannya, tak takut sedikitpun dengan kemarahan Minho padanya. “aku tidak mau pergi tanpamu. Ayo kita pergi bersama”. Yeonsung memegang tangan Minho, dengan cepat pria itu menepis tangan Yeonsung.

Tubuh Yeonsung dihempaskan ke dinding, kepalan tangannya ditinjukan kesebelah kiri kepala Yeonsung. “pergi sebelum aku menyeretmu”. Desisnya.

“baiklah”. Jawab Yeonsung akhirnya.

Dengan santai ia melangkah hendak keluar dari kamar itu. Meninggalkan Minho yang masih mematung dengan napas memburu karena emosi. “psiko”. Gumamnya frustasi.

“aku jadi merindukan Rin, dimana ya dia sekarang?”. Yeonsung berujar dengan sengaja. Mendengar ucapan itu, segera Minho menyusul Yeonsung. “sudah mengubah pikiranmu, Minho’ya?”.

Benar dugaan Minho. Gadis ini sengaja mengucapkan kalimatnya dengan suara sedikit lantang agar Minho menyusulnya.

Lagi-lagi Yeonsung tersenyum simpul pada Minho. Senyuman yang seolah mengejek dan membuat Minho geram. “jangan sampai kau menyentuh Rin”.

“cih… kenapa? Kami kan bersahabat? Dia saja bisa menyentuh pacarku, kenapa aku tidak bisa menyentuhnya?”. Yeonsung memainkan kuku-kuku jarinya yang panjang dan dihias sedemikian rupa.

“Yeon’ah, please…”.

“apakah menurutmu ini cantik?”. Yeonsung menunjukkan kukunya pada Minho. Pria itu diam saja. “tidak, ya? Ah, baiklah, aku akan mengganti nail art ku. Tapi setidaknya aku akan membuat ini berguna sebelum diganti dengan yang baru”.

Minho mengela napas berat. Benar-benar tak habis pikir kenapa dirinya bisa berhubungan dengan gadis gila semacam ini? Ah, Minho punya alasan tentu saja. Yeonsung punya koneksi yang cukup kuat untuk bisa membuatnya menjadi selebriti. Gadis itu membantu, tidak dengan suka rela. Sejak pertama masuk SMA, kelompok Minho seperti sekutu bagi Yeonsung dan kedua temannya – Kimi dan Rin. Untuk melindungi ketiga gadis itu. Mereka sering pergi bersama, piknik, dan lainnya. Bahkan tak memberi kesempatan bagi anak lainnya untuk berteman dengan mereka.

“aku akan meninggalkan Rin, kau puas sekarang?”.

Yeonsung tersenyum remeh. Ia tersipu sambil menutup mulutnya dengan jari lentiknya. “tidak”.

“ah, shit – akan kulakukan didepanmu”.

Akhirnya senyuman puas terlukis diwajah Yeonsung. gadis itu puas dan bangga, Minho mengingat apa yang diinginkan Yeonsung. ini bukan pertama kalinya Minho berselingkuh. Berniat untuk membuat Yeonsung pergi dan ia benar-benar tidak mengerti mengapa Yeongsung justru semakin tak ingin pergi darinya.

“begitu… kalau begitu malam nanti. Didekat terowongan seperti biasa”. Ujar Yeonsung.

 

This is the end for Vulpecula #0 section ^^

TBC

Pendek ya?

Yelah, ini pan chapter 0

Ku bikin ini sengaja untuk memperkenalkan dua sosok Park Yeonsung. hehehe XD kupastikan fanfiction yang ini bakal berbeda dari fanfiction ku biasanya. Jadi tolong beri komentar yang bermanfaat demi kelangsungan/? Vulpecula ^^

Iklan

5 thoughts on “FanFict “Vulpecula” #0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s