FF “Innocent Love – Our Wedding” Oneshot


Wedding copy

Tittle                : Innocent Love – Our Wedding

Author             : Arni Kyo

Main cast         :

  • Eunwoo Astro – iTeen
  • Hoshi Seventeen
  • Jenny DIA

Other               : find by yourself bae :3

Special Cast    : Luhan & Yeonsung

Genre              : School Life, Romance, etc

Rating             : G

Length             : Oneshoot

Note                : under my copyright. Plagiarism? Go hell babe.

Lagi mood dan lagi ada ide aja sih makanya bikin sequel XD wkwkw btw disini ada couple gila itu lho :v HanYeon hahaha

Ini semua karna belum bisa rilis FF yang ada merekanya, jadi yaaaaa numpang aja dikit disini, gapapa kan yah :3 disini Yeonsung marganya Lee ya :3 mau cerita sedikit soal OC Yeonsung itu, awal muncul emang marganya Lee kok (di FF ku yg Love One Side) trus ku ubah jadi Park karna dia selalu jadi adiknya Chanyeol :3

~oOo~

SMA Byung Moon. Beberapa hari menjelang Ujian Nasional.

Eunwoo memasuki ruangan club musik. Rasanya sudah sangat lama ia tidak kesini. Ini adalah ruangan favoritenya setelah ruang belajar yang kosong. Eunwoo menolehkan kepalanya, mendengar sepasang murid sedang duduk dan bernyanyi didepan piano.

Ah, ia juga merindukan saat-saat itu. Sudah setahun lamanya, Jenny meninggalkan sekolah ini. Eunwoo tidak lagi bisa menyanyikan sebuah lagu sambil bermain piano untuk Jenny.

Dan 1 hal lagi yang ia tidak inginkan adalah kenyataan bahwa sebentar lagi Hoshi akan menikahi gadis itu. Seperti janjinya waktu itu. Jenny sangat sabar menunggu hingga Hoshi menyelesaikan Ujian.

sunbae”. Panggil seseorang. Eunwoo menoleh dan mendapati Dami berdiri dibelakangnya. “sudah lama sekali sunbae tidak datang kemari”.

ne, begitulah. Aku tidak semangat bermain musik lagi”.

wae? Karna Jenny?”. Tanya Dami penasaran. Meski ia tahu jawabannya, ia ingin mendengar langsung dari Eunwoo. Dan terjawab saat Eunwoo mengangguk. “sebenarnya, Jenny kemana? Kenapa dia tiba-tiba drop out dari sekolah?”.

Eunwoo tersenyum tipis. Lalu ia duduk dibelakang drum. “dia ada. Disuatu tempat. Mungkin sebentar lagi kalian bisa bertemu dengannya?”.

“sebentar lagi? Apa Jenny sedang sakit?”.

“tidak. Dia baik-baik saja”. Jawab Eunwoo. Dami pun menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin lebih banyak bertanya lagi. Karena tidak ingin Eunwoo merasa terganggu jika ia bertanya terus-menerus.

“baiklah kalau begitu. Jika kami sudah bisa bertemu dengannya, tolong beritahu kami”.

~oOo~

Jenny berjalan keluar dari kamarnya. Ia merasa sedikit lapar. Mungkin ada sesuatu yang bisa ia makan. Lantas ia membuka kulkasnya. Melihat beberapa buah apel, daging yang belum diolah, sayur-sayuran, dan roti isi.

Jenny menghela napas. Ia kembali menutup kulkasnya. Lalu berpindah ke lemari penyimpanan. Melihat isi lemari itu, hanya ada kimchi dan beberapa bungkus ramyun. Ia pun melakukan hal yang sama. Kembali menutup lemari itu.

“aku bosan. Hoshi dimana? Kenapa dia tidak mengunjungiku?”. Gumamnya pada diri sendiri.

Matanya melihat pada sebuah kalender yang terpajang di dinding. Sudah seminggu Hoshi tidak mengunjunginya. Namun ia tidak mengatakan hal itu pada Eunwoo. Takut Eunwoo akan marah pada Hoshi.

“apa dia lupa padaku? Ah, tidak, tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu”. Jenny menepis pikiran negatif nya pada Hoshi. “mungkin dia sibuk belajar, kan sebentar lagi ujian”.

Jenny kembali kekamarnya. Berganti pakaian dan menggendong Jinwoon. Ia berpikir untuk pergi keluar sebentar. Mungkin bisa menghilangkan kebosanannya.

Sebenarnya Hoshi melarangnya untuk pergi keluar apartemen. Takut ada orang yang melihatnya, apalagi jika ia membawa Jinwoon. Apa yang akan orang tanyakan padanya? Belum lagi jika mungkin ia bertemu dengan teman sekolahnya.

Tapi – Jenny bosan tidak pergi kemana-mana.

“ini pertama kalinya kau pergi keluar apartemen kan, Jinwoon?”. Ujar Jenny pada bayi berusia 7 bulan itu. “kau siap untuk pergi? Jangan beritahu appa jika kita pergi keluar. Aratji?”.

Jinwoon, bayi itu hanya membalas Jenny dengan gumaman tidak jelas. Jenny membawa anaknya keluar. Tak lupa ia mengunci pintu apartemennya. Hanya berjalan-jalan sebentar, pikirnya.

~oOo~

Siang itu. Hoshi yang masih memakai seragam sekolahnya sedang duduk disebuah caffe. Ia tidak sendirian. Ia bersama seorang gadis. Lee Halla, siswi kelas 1 SMA Byung Moon. Keduanya tampak sedang berbincang, terkadang Halla dibuat tersipu oleh Hoshi.

“aku tidak tahu kalau selain cantik, kau juga sepintar itu”. Puji Hoshi.

geumanhae sunbaenim. Kupikir aku hanya gadis biasa. Tidak seperti yang orang-orang bayangkan”. Jawab Halla. Ia tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah itu.

Hoshi terkekeh pelan. “meskipun biasa, kau tampak berbeda. ah, memang gadis cantik biasanya tidak menyadari hal itu”.

mwo? Sudahlah, jangan memuji ku terus. Nanti aku besar kepala”.

“aku tidak memujimu. Aku hanya mengatakan kenyataan”.

Halla tak menjawab. Ia bingun harus menjawab apa lagi. Belum lagi Hoshi yang sejak awal mereka mengobrol berhadapan seperti ini, selalu saja menatapnya. Kontak mata yang berbahaya. Halla bisa sesak napas dibuatnya.

“sayang sekali ya kita baru kenal sekarang”. Ujar Hoshi lesu.

Halla memiringkan kepalanya. “memangnya kenapa sunbae?”.

“sebentar lagi aku Ujian. Rasanya aku tidak ingin lulus saja agar bisa lebih lama bersamamu”.

Blush.

Semburat merah itu kembali muncul di pipi Halla. Gadis itu mengangguk pelan. “kau harus lulus. Kita kan masih bisa bertemu meskipun kau sudah jadi mahasiswa”. Jawaban Halla seolah memberi Hoshi harapan.

“benar juga. Aku bahkan bisa lebih bebas jika sudah menjadi mahasiswa”.

Halla mengangguk. Tangannya menarik secangkir cappucino yang tadi ia pesan. Lalu menyeruput cappucinonya. Meninggalkan busa putih diatas bibirnya. Hoshi yang melihat hal itu tersenyum geli.

wae?”. Tanya Halla, ia hendak menghapus busa putih dibibir nya. Hoshi menahan tangan Halla. Dengan ujung ibu jarinya ia menyeka busa tersebut.

Sebuah gesekan pelan antara bibirnya dan ibu jari Hoshi. Halla hanya terpaku. Matanya mengedip pelan. Jika saja ini bukan caffe, mungkin Hoshi akan membersihkan bibir gadis itu dengan sebuah ciuman. Seperti di drama.

“kau lebih cantik dari dekat”. Ujar Hoshi. Tangannya mengusap pipinya.

Detik berikutnya senyuman nakal Hoshi memudar. Matanya tertuju diluar caffe. Ia melihat sosok Jenny berdiri disana. Bersama Jinwoon digendongannya. Entah sudah berapa lama kedua makhluk itu berdiri disana. Ditempat yang panas itu.

“ada apa sunbae?”. Tanya Halla heran karena Hoshi mendadak merubah ekspresinya.

Halla menolehkan kepalanya mengikuti arah pandangan Hoshi. Yang ia temukan hanya seorang perempuan yang sedang berjalan menjauhi caffe tersebut. Halla kembali menatap Hoshi.

“aku tidak apa-apa. Kupikir orang itu tadi temanku yang sudah lama menghilang dari sekolah”.

“em? Apa dia si juara umum itu? Aku melihat artikel tentangnya di Buletin Sekolah saat pertama masuk ke SMA kita”.

Hoshi mengangguk –ragu. “i-iya, kupikir perempuan tadi itu dia”.

“dari artikel yang kubaca, sepertinya dia gadis baik. Keluarganya kurang berada dan dia mendapat beasiswa. Aku heran kenapa dia tiba-tiba memilih drop out, padahal mendapat beasiswa”.

“aku tidak tahu. Aku juga tidak begitu dekat dengannya. Aku hanya mengenalnya dari temanku”. Jawab Hoshi berbohong. “sudahlah, jangan membahas orang lain”. Hoshi berupaya mengalihkan pembicaraan.

~oOo~

Pukul 8 malam.

Jenny pulang ke apartementnya. Persetan dengan niatnya yang hanya ingin sebentar pergi keluar. Jenny membuka pintu apartementnya. Tidak terkunci. Padahal ia yakin jika sebelum pergi tadi ia mengunci pintu.

Perlahan ia masuk. Memeluk erat Jinwoon yang saat itu tertidur. Mungkin ada penyusup masuk ke apartement, pikirnya. Semuanya terjawab saat ia menemukan sosok Hoshi berdiri didepan pintu kamar.

“siapa yang mengizinkanmu keluar?”. Suara yang terkesan tak suka itu terlontar dari mulut Hoshi.

Jenny menundukkan kepalanya. Hendak melangkah masuk tetapi langkah nya terhenti karena lengan Hoshi menghalangi pintu. “tidak ada”.

“lalu kenapa kau keluar? Tanpa memberitahuku. Tanpa bersamaku. Dan membawa Jinwoon”. Ujar Hoshi dengan nada meninggi.

“aku bosan. Lagipula aku coba menghubungimu, tapi kau tidak merespon. Tidak mungkin aku keluar dengan meninggalkan Jinwoon diapartement sendirian”.

Hoshi diam. Ia berdecak tak suka. “kau sudah berani menjawabku seperti itu”. Ujarnya geram. Jenny hanya diam. “kau mulai tidak menuruti perintahku?”.

“aku hanya bosan”. Jawab Jenny tak kalah dengan nada tak suka Hoshi.

“disini ada televisi, DVD terbaru dan camilan. Kenapa kau bosan?”.

“aku bosan menunggumu. Apa kau tidak sadar sudah berapa lama kau tidak mengunjungi kami?”.

Hoshi memegang kedua lengan Jenny kuat. Membuat gadis itu sedikit meringis. lalu menghempaskan tubuh gadis itu ke dinding didepan pintu kamar. “apapun alasanmu, kau tidak menuruti perintahku. Bukankah itu perjanjian mutlak”.

“jika ingin bersamamu aku hanya perlu menjadi care and loyal”. Sambung Jenny mengingatkan janjinya.

“pintar”. Hoshi menyeringai sembari mengusap pipi Jenny. “lalu mengapa kau melanggarnya?!”. Tiba-tiba saja Hoshi mencengkram pipi Jenny.

“lep-askan”. Pinta Jenny sedikit kesulitan bicara.

“apa? Aku ingin aku apa? Jenny’ah, apa susahnya untuk menuruti apa yang aku katakan?”. Hoshi samakin menguatkan cengkramannya, ia juga menarik rahang Jenny agar mendongak padanya.

“ku-mohon, H-Hoshi”.

“cih”. Hoshi melepaskan tangannya dari rahang Jenny dengan kasar. “aku melarangmu keluar karena aku melindungimu”.

Jenny menunduk. Matanya terasa panas. Tidak. Jangan menangis. Tidak boleh. Ia akan terlihat lemah jika menangis didepan Hoshi. Lalu bagaimana dengan kejadian yang ia lihat tadi? Hoshi bermesraan dengan gadis lain.

“maafkan aku”. Ujar Jenny pelan. Sial! Seharusnya bukan kalimat itu yang dikeluarkannya. Seharusnya ia memarahi Hoshi juga.

Hoshi tak menjawab. Ia malah membungkukkan tubuhnya. Mencium pipi temban Jinwoon pelan. “aku pergi dulu. Dan – tidak usah menanyakan kenapa aku tidak menemui kalian”.

Jenny mengangguk.

“aku pasti akan kesini jika urusanku sudah selesai”. Ujarnya sebelum melangkah pergi.

Jenny diam. Mendengar pintu tertutup. Hoshi benar-benar pergi. Ia tidak bisa melakukan apapun. Ia tidak mungkin melarang Hoshi pergi. Ini yang Hoshi sebut pertanggung jawaban. Ya, ia sudah menanggung kebutuhan Jenny dan anaknya selama kurang lebih satahun ini.

~oOo~

Hampir tengah malam.

Dikediaman rumah Jenny yang lama. Rumah ini hampir tidak terawat sejak Jenny meninggalkan rumah. Biasanya hanya dia yang peduli untuk membersihkan rumah. Bunga yang Jenny dan Eunwoo tanam disanapun sudah menjadi tangkai kering.

Didepan pagar seng itu, berdiri seorang perempuan. Dengan mantel selutut dan sebuah tas selempang. Ia mendongakkan kepalanya, menengok kearah kamar Jenny. Gelap.

“mungkin Jenny sudah tidur”. Gumamnya.

Ia hendak melangkah pergi. Matanya membelalak kala melihat wanita paruh baya yang ada dihadapannya ini. Wanita itu adalah ibu Jenny. Sekarang tampak lebih kurus dan garis keriput semakin jelas terlihat.

“Yeon’ah”. Gumam ibu Jenny.

Gadis yang dipanggil Yeon itu. Menundukkan wajahnya. Ia menguatkan dirinya untuk melangkah pergi. Namun tangannya ditarik oleh ibu Jenny. “lepaskan”. Pintanya dengan suara bergetar.

“Yeonsung’ah, kau kembali. Ibu merindukanmu”.

Yeonsung. Lee Yeonsung. Ia adalah saudara kandung Jenny satu-satunya yang sudah lebih dari 5 tahun ini menghilang. Ia menghilang saat berpamitan untuk pergi mendaftar ke SMA Byung Moon. Namun tak pernah kembali lagi.

Alasan mengapa Jenny masuk ke SMA itu. Mungkin saja ia menemukan data kakaknya dibuku tahunan Siswa. Pada kenyataannya, Yeonsung belum sempat mendaftar kesana. Lalu keluarganya menyimpulan jika Yeonsung lari dengan kekasihnya. Atau mungkin diculik.

eomma”. Gumam Yeonsung. Ia tak bisa membendung airmatanya. Membalas pelukan ibunya.

Yeonsung duduk dimeja belajar Jenny. Dulu, dikamar ini mereka tidur bersama, belajar bersama, mengobrol, dan lain sebagainya. Yeonsung meraih sebuah frame poto. Poto Jenny dan seorang lelaki. Itu Eunwoo.

“jadi, Jenny pergi dari rumah? Dia tidak mengatakan kemana dia pergi? Dia juga tidak memberitahu dimana dia sekarang?”.

Ibunya mendekat. Mengusap pundak Yeonsung. “begitulah. Dia hanya bilang jika ia akan pergi dan akan mengabari eomma tahun berikutnya. Tapi hingga kini, eomma belum mendapat kabar darinya”.

“apa bajingan tua itu masih tinggal disini?”. tanya Yeonsung sinis. Ibunya mengangguk. “sudah kuduga. Sepertinya itu alasan Jenny pergi. Ia tidak tahan dengan kelakuan pria tua tidak tahu diri itu”.

“jangan bicara begitu. Dia appa mu”.

Yeonsung menghela napas. “aku tidak peduli. Aku tidak percaya bahwa aku dan Jenny tercipta dari sel sperma pria macam dirinya. Aku membencinya sampai mati”.

wae? Kau belum menceritakan pada eomma, kemana kau pergi selama 5 tahun ini?”.

Yeonsung berdiri. ia menarik ibunya untuk duduk diatas tempat tidur. “mungkin akan sangat panjang jika aku menceritakan semuanya. Tapi – kau harus tahu, jika 5 tahun yang lalu terjadi sesuatu yang buruk padaku. Bahkan sangat buruk. Aku tidak akan melupakan itu semua”.

“ceritakan saja, eomma ingin mendengar semua cerita yang keluar dari mulutmu”.

Yeonsung menarik napas dalam. Menerawang pada kejadian 5 tahun yang lalu. “saat aku sedang menunggu bis untuk pergi ke SMA, appa menjemputku dengan sepeda motor. Aku tidak tahu itu milik siapa. Bukan menuju tempat yang kuinginkan, appa membawaku ke sebuah gudang dipelabuhan”.

“pelabuhan?”.

Yeonsung mengangguk. “disana ia menjadikan aku sebagai taruhan judi. Appa kalah berjudi. Dan lawannya membawaku secara paksa. Aku pergi bersama pria tua menyebalkan, yang napasnya bau tembakau itu. Aku pergi ke daerah Tiongkok dengan kapal”.

“astaga! Jadi bajingan itu yang membuatmu pergi? Oh Tuhan ~ aku mulai berpikir untuk memenjarakannya saja”.

“banyak hal yang aku lalui, hingga aku berhasil lari dari rumah mewah milik pria tua itu. Aku juga mencuri uang miliknya, kupikir aku harus bertahan meski tak punya rumah. Lagipula, jika memiliki rumah pasti mereka akan menemukanku”.

Ibunya mengusap rambut Yeonsung pelan. Ia tak percaya putrinya ini bisa pergi sejauh itu. Bertahan sendirian dinegara orang. “lalu bagaimana kau bisa bertahan?”.

“aku bertemu dengan seorang pria. Dia sangat tampan. Dia keturunan asli Tiongkok, tapi berkuliah di Korea. Sangat beruntung aku bertemu dengannya, karena ia mahir bahasa Korea”. Jawab Yeonsung, kali ini ia sedikit ceria menceritakan soal pria yang ia temui.

“benarkah? Siapa dia?”.

Yeonsung tersenyum penuh arti. Mendekatkan wajahnya pada ibunya. “dia menantumu. Kami menikah 2 tahun yang lalu. Namanya Luhan”. Jawab Yeonsung.

mwo? Bagaimana kalian bisa menikah tanpa restu dari pihak wanita?”.

“aku bilang appa ku sudah meninggal. Dan ibuku tinggal di Korea. Keluarganya sangat baik, lagipula mertua ku setuju saja meski pihak wanita tidak datang. Kami melakukan doa untuk appa”. Yeonsung terkekeh nakal.

Ibunya mencubiti lengan Yeonsung pelan. Membuat gadis itu tertawa semakin keras. Ia sudah lama sekali tidak begini dengan ibu kandungnya. “aigoo ~ tidak apalah, yang penting kau sehat hingga sekarang”.

“umm.. eomma, mungkinkah Jenny bernasib sepertiku? Maksudku appa juga menjadikannya taruhan”.

jual dirimu, atau jual saja putri kita”.

Tiba-tiba saja kata-kata suaminya waktu itu kembali terlintas. Mungkinkah?

~oOo~

“Hoshi’ah, sudah pagi. Bangunlah”. Jenny mengguncangkan tubuh Hoshi yang saat itu tidur memunggungi dirinya.

“eung?”. Hoshi bergerak mengucek matanya lalu membalikkan tubuhnya menghadap langit-langit kamar. “ah, malam yang singkat”. Ujarnya. Ia pun bangun dari tidurnya.

Tadi malam sekitar pukul 2, ia mendatangi apartement setelah 2 minggu sebelumnya terakhir kali ia datang. Itupun hanya untuk memarahi Jenny. Berbeda dengan malam tadi. Ia datang dan meminta seks saja.

Jenny menghela napas. Ia tidak bisa menolak ataupun pergi dari Hoshi. Ujian sekolah sudah selesai. Tinggal menunggu nilai keluar. Setelah diterima oleh Universitas, Hoshi bilang akan menikahi Jenny.

“kau tidak ingin bangun dan membuatkanku sarapan?”. Ujar Hoshi sambil memakai T-shirt.

arasseo. akan kulakukan”. Jawab Jenny. Dengan malas ia bangun dari tempat tidur. Meraih piama tidurnya dilantai. Bergegas ke dapur untuk membuatkan teh hangat dan roti panggang. Setelah itu ia mandi dan mengurus Jinwoon.

“jadi kapan kita akan meresmikan hubungan kita? Jinwoon – semakin besar”.

Hoshi menonton televisi, tanpa menoleh pada Jenny ataupun Jinwoon yang sedang memakan sarapannya. “bukankah sudah kukatakan padamu? Kau lupa? Aku tidak akan mengulangi perkataanku berkali-kali”.

“maaf. Aku hanya ingin kepastian”.

“kau tidak percaya padaku?”. Kali ini Hoshi menatap tajam pada Jenny.

“bukan begitu. Yasudah, aku akan menunggu”. Jawab Jenny. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu –lagi. Ia bisa apa? Mendesak Hoshi? Baiklah, lalu ia akan ditendang keluar dari apartement ini.

“jangan khawatirkan apapun. Selagi aku memenuhi kebutuhanmu dan Jinwoon, berarti aku masih peduli pada kalian.

Kau memang seharusnya peduli pada kami, batin Jenny. “hmm.. aku mengerti”. Lagi-lagi. Ratusan kali Jenny mengeluarkan kalimat yang berpura-pura.

Hoshi tak menjawab lagi. Ia hanya menoleh sekilas pada Jinwoon. Ia benci harus mengakui anak itu benar-benar mirip dengannya. Dan lagi seorang perempuan yang semakin sabar menghadapi sikapnya ini. Hoshi benci itu semua.

~oOo~

Dipagi yang sama.

“jadi kau sudah menemui ibumu?”. Tanya Luhan hampir saja menyemburkan kopinya saat Yeonsung mengatakan hal itu.

“iya, maaf aku tidak memberitahumu lebih cepat. Nanti sore, apa bisa kita bertemu dengannya?”.

Luhan melipat koran yang tadi ia baca. Dengan cepat ia mengangguk bersemangat. “tentu saja. Aku sudah lama memendam rasa ingin bertemu dengan ibumu. Aku ingin meminta restu darinya langsung”.

“aku tahu. Nanti sore didekat sungai Han. dia membuka kedai disana”. Ujar Yeonsung.

Yeonsung memberikan ibunya uang, untuk membuka usaha agar ibunya berhenti bekerja di club malam. Ia sengaja tidak mengatakan pada Luhan tentang pertemuannya dengan ibunya itu. Karena ia ingin membuat ibunya terlihat layak terlebih dahulu. Berjualan lebih baik daripada menjadi pelayan di club.

“lalu bagaimana dengan adikmu?”.

ne?”.

“kau bilang kau punya adik perempuan, kan? Apa aku juga bisa bertemu dengannya?”.

Yeonsung berpikir sejenak. Benar juga, ia sering bercerita tentang kesamaan sifatnya dan Jenny. “ah, oh, Jenny, dia tidak bisa bertemu dulu. Karena – karena dia sibuk sekolah. Kau tahu kan gege, kalau sekolah disini hingga jam 10 malam”.

“benar. Baiklah, mungkin lain kali. Lagipula kita akan menetap disini untuk waktu yang lama. Karena aku harus mengurus cabang perusahaan”.

“lain kali? Tentu saja. Nanti akan kuusahakan agar Jenny bisa berkumpul bersama kita”.

Dalam hatinya, Yeonsung merasa bersalah sudah membohongi Luhan. Ia pun bahkan tidak tahu dimana Jenny berada. Mungkin ada waktu untuk mencari gadis itu. Pikirnya.

“Yeon’ah, jika kau ingin pergi keluar mengunjungi teman-temanmu, kau boleh melakukannya. Asal jangan mengunjungi mantan pacarmu ya”. Ucap Luhan sedikit mendelik.

mwo? Mantan pacar apa? Ah, aku hanya punya 1 mantan pacar. Dia tampan, tinggi, pintar, kaya. Aku masih sangat mencintainya sekarang”.

Luhan berdehem, matanya membulat mempelototi Yeonsung dengan deathgrill nya. “baiklah kalau kau mau begitu”.

Yeonsung terkekeh geli. Lalu ia menyandarkan tubuhnya dibahu Luhan. Mengusal bak anak kucing pada tuannya. “kau cemburu ya?”.

“tidak”.

“cemburu”.

“tidak”.

“iya?”.

“iya”.

“ah benar kan kau cemburu”. Yeonsung tertawa terbahak. Luhan sangat lucu jika sedang cemburu. Ia tidak akan marah melainkan merubah sikapnya. Memasang tampang kasihan. Bahkan pergi tidur saja.

Luhan membalikan tubuhnya. Menangkup pipi Yeonsung kuat, hingga wajah istrinya itu menjadi seperti bakpao gagal mengembang. “jangan menemuinya. Nanti kau meninggalkanku”.

“aku sudah melakukannya”.

“kau jahat, Yeon’ah”.

Yeonsung kembali tertawa terbahak. Lihatlah wajah Luhan, seperti anak remaja yang galau karena putus dengan pacarnya. Sangat imut. “kau satu-satunya mantan pacarku, gege”. Yeonsung memeluk Luhan erat.

“maksudmu?”.

“kita pernah berpacaran lalu sekarang menikah, jadi kita tidak berpacaran lagi sekarang. Iya kan?”.

“benar juga. Kau membuatku takut saja”. Luhan tersenyum hangat, lantas membalas pelukan Yeonsung. Cukup lama mengenal dan bersama, tak mengurangi perasaan mereka seperti saat bertemu dulu.

~oOo~

Pusat perbelanjaan didaerah Samseong-dong, Gangnam-gu.

Saat itu Jenny baru saja keluar dari pusat perbelanjaannya. Seusai belanja mingguan. Ia menjinjing kantung belanjaannya. Tanpa ia sadari seseorang memerhatikannya dari jarak beberapa meter dibelakangnya.

“Jenny?”. Yeonsung membuka kacamata hitamnya. “iya, benar, itu Jenny”. Gumamnya lantas ia mengejar sosok Jenny yang sudah berjalan menuju halte bus.

Jenny berada jauh didepan Yeonsung. Heels sialan yang membuatnya susah berlari dengan cepat. Belum lagi sedang ada diskon didepan sana, membuat suasana menjadi ramai. Yeonsung berhasil keluar dan mencari keberadaan Jenny.

“Jenny’ah!”. Pekik Yeonsung saat menemukan sosok itu berdiri tepat didepan pintu bis yang terbuka. “Jenny, tunggu!”. Yeonsung berlari, namun terlambat pintu bis tertutup lalu melaju perlahan.

Tak kehabisan akal, Yeonsung memanggil taksi dan langsung naik  taksi yang berhenti didepannya. “kemana Nona?”.

“ikuti saja bis didepan itu”. Titah Yeonsung.

Setelah mengikuti bis yang dinaiki Jenny hingga berhenti di roadway yang dituju, Jenny keluar dari bis. Yeonsung pun ikut menghentikan taksi yang ia naiki. Tetapi ia tidak langsung menghampiri Jenny, ia mengikuti gadis itu. Berjalan 2 meter dibelakang Jenny.

Kini Yeonsung sudah berdiri didepan sebuah gedung apartement. “jadi disini dia tinggal?”. Gumam Yeonsung.

Begitu banyak pertanyaan yang berputar dikepalanya. Kenapa Jenny tinggal disini? Dengan siapa Jenny tinggal? Mungkinkah Jenny jadi pembantu? Atau dia sudah menikah? Dan lain sebagainya.

Yeonsung terus mengikuti Jenny. Ia melihat Jenny memasuki lift. Ia menunggu lift lain. Tidak mau berada disatu lift yang sama. Selang beberapa menit setelah Jenny memasuki apartementnya, Yeonsung berdiri didepan pintu apartement Jenny.

Ting tong…

Dengan pertimbangan, Yeonsung memberanikan diri untuk menekan bel. Tak menunggu lama, pintu terbuka.

ne? Mencari siapa?”. Ujar Jenny didepan pintu.

“Jenny’ah?”.

eonni?”.

Keduanya saling berpelukan. Jenny masih sedikit shock karena Yeonsung menemukannya. Bagaimana jika ia bertanya soal bayi itu? “kau jahat tidak mengizinkan aku masuk”.

“masuklah eonn, aku sampai lupa saking senangnya bertemu denganmu”.

Jenny membiarkan Yeonsung masuk. Ingin rasanya ia mendahului Yeonsung, masuk kekamar, dan menutup pintu kamarnya itu. Tapi itu tidak mungkin. “kau tinggal dengan siapa disini? kenapa kau tidak pulang ke rumah?”.

“uh – itu –“.

“Jenny’ah, siapa yang datang”.

Jenny membulatkan matanya. Napasnya tertahan. Sementara Yeonsung terheran-heran pada pria yang sedang menggendong seorang bayi dilengannya itu. Dan pria itu menatap Jenny serta Yeonsung bergantian.

“apa kau –“.

“aku bisa jelaskan ini, eonni”.

annyeong nunna”.

Pria itu, Lee Eunwoo. Juga orang yang sama dengan yang Yeonsung lihat dipoto dimeja belajar Jenny waktu itu. Yeonsung tidak menjawab sapaan Eunwoo. Ia malah merebut Jinwoon dari Eunwoo. “pegang ini”. Yeonsung menyerahkan Jinwoon pada Jenny.

“apa ada yang salah nunna?”.

“ada yang salah katamu?”. Plak plak plak. Dan detik berikutnya Eunwoo jadi bulan-bulanan Yeonsung. Tinggi yang berbeda jauh tak menyurutkan niatnya untuk melampiaskan emosinya. “rasakan ini. Aku tahu pria brengsek macam dirimu! Kau pasti yang telah menghamili Jenny. Membawanya lari. Dan tinggal disini”.

“yya! Nunna, kau salah paham”.

Wajahnya terlalu tampan untuk dipukul, maka Yeonsung hanya memukul lengan dan punggung Eunwoo saja.

eonni, hentikan. Bukan dia”. Jenny berusaha melerai, tapi apalah daya ia akan melukai Jinwoon jika ikut terlibat dalam pergulatan itu.

“salah paham katamu? Itu sedikit lucu”. Buk buk buk. Yeonsung tak henti memukuli Eunwoo. Orang ia yakini sebagai ayah dari anak yang Jenny gendong saat ini.

Ceklek.

“wow… ada apa ini?”. Ujar seseorang yang tiba-tiba saja masuk dan bingung dengan adegan brutal Yeonsung memukuli Eunwoo. Dia adalah Hoshi. “Jenny’ah, siapa wanita ini?”. Tanya Hoshi setelah masuk ke apartement.

“dia – eonni ku”. Jawab Jenny pelan.

Yeonsung membenahi dandanannya. Bersikap anggun setelah apa yang ia lakukan barusan. Hoshi menatap Yeonsung dari ujung rambut ke ujung kaki. “kau tidak pernah bilang punya saudara”.

“aku ingin bicara sebentar”. Pinta Jenny. Ia menyerahkan Jinwoon pada Eunwoo kembali, lalu masuk ke dalam kamar diikuti oleh Hoshi.

Yeonsung menyikut lengan Eunwoo. Membuat Eunwoo sedikit kaget, takut dipukuli lagi. “yya, siapa orang itu tadi?”.

“oh, itu – itu orang yang seharusnya kau pukuli nunna. Dia ayah dari bayi ini”. Jawab Eunwoo jujur. Ia berpikir agar Hoshi merasakan pukulan Yeonsung juga. Tentu saja nanti setelah Hoshi keluar dari kamar itu.

Menunggu beberapa menit. Yeonsung tak berpindah dari depan pintu kamar yang tadi dimasuki oleh adiknya dan Hoshi. Sedangkan Eunwoo sedang mengasuh Jinwoon. Setelah menunggu beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan Hoshi berdiri didepan pintu itu dengan kening yang berkerut.

Plakk.

Yeonsung menampar pipi kiri Hoshi. Membekas merah dibagian itu. Kemudian hening. Hoshi memegang pipinya, sekali seumur hidup ada perempuan yang berani menamparnya. “yya! Apa masalahmu?”. Seru Hoshi.

“kau tidak sadar ya? Kau menghancurkan hidup adikku, lalu kau masih bertanya? Gila”.

Hoshi tersenyum miring mendengar makian dari Yeonsung. “tsk! Aku menghancurkan hidupnya? Kau tidak tahu berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk membiayai hidupnya dan anak itu”. Hoshi menyeru seraya menunjuk Jinwoon yang tidak berdosa.

“Hoshi!”. Bentak Eunwoo.

“kau pikir uang mu bisa mengembalikan masa depannya? Jenny gadis yang baik, dia tidak mungkin seperti ini jika kau tidak merayunya”. Yeonsung balas menyeru.

eonni, sudahlah. Aku tidak apa-apa”. Jenny segera menghampiri kakaknya, memegang lengan Yeonsung agar menjauh dari Hoshi.

“jika adikku benar bersalah, aku akan mengganti uang yang kau gunakan untuk membiayainya”.

Hoshi tersenyum remeh. Kakinya melangkah, melewati Yeonsung seperti tidak melihat perempuan itu. Lalu ia berjalan ke pintu dan pergi. Tak ada yang menghalanginya pergi, hanya Yeonsung saja yang menggumal kesal melihat tingkah Hoshi itu.

~oOo~

Seminggu setelah kedatangan Yeonsung ke apartementnya. Malam ini, entah ada angin apa, Hoshi datang dan meminta Jenny untuk membuatkan makan malam untuk mereka berdua. Tanpa menolak, Jenny segera melakukan apa yang Hoshi suruh.

“apa eonni mu masih sering kesini?”. Tanya Hoshi ditengah acara makan malam mereka.

Jenny menggeleng pelan. “tidak, dia bilang sibuk mengurusi usaha barunya. Maaf soal waktu itu, eonni ku memang seperti itu”.

“oh, baguslah. Perempuan brutal sepertinya, sungguh bukan tipeku”. Ujar Hoshi. Jenny hanya mengangguk.

Entah ini hanya perasaannya atau mungkin kenyataan. Jenny merasa semakin jauh dari Hoshi. Pertama ia pikir dengan kehadiran Jinwoon dapat membuat Hoshi berubah. Tetapi itu tidak berlangsung lama, tepatnya hanya sampai Jinwoon berusia 5 bulan.

Tidak tahu apa yang membuat Hoshi berubah. Sangat sulit untuk menebak jalan pikirannya.

“memikirkan apa?”. Tanya Hoshi heran melihat Jenny melamun.

“ah, eh, tidak ada”. Jawab Jenny cepat-cepat memakan nasinya.

Hoshi menghela napas. Berpikir sejenak. “kau bosan tidak? Bagaimana jika kita pergi keluar? Bersama Jinwoon”.

Rasa tidak percaya, mungkinkah Jenny salah dengar atau Hoshi salah bicara. Hoshi mengajaknya pergi keluar bersama Jinwoon? “aku ingin. Tapi ini sudah malam, aku takut Jinwoon sakit jika kita ajak keluar malam”.

“benar juga. Yasudah lain kali saja”.

Jenny terpaksa harus mengubur keinginannya itu. Ia tidak mau Jinwoon sakit karena keluar malam-malam begini. Lain kali yang Hoshi katakan, mungkin nanti saat Jinwoon sudah berusia 1 tahun. Pikir Jenny.

“bisakah kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan Jinwoon?”.

“aku sibuk”.

“dia selalu diasuh oleh Eunwoo, aku tidak ingin jika nanti Jinwoon lebih akrab dengannya daripada denganmu”.

Hoshi mengangkat kedua bahunya. “biarkan saja. Setidaknya ada sosok seorang ayah bagi Jinwoon, kan? Aku justru berterima kasih pada Eunwoo karena mau mengasuh Jinwoon”.

“kau tidak peduli pada Jinwoon?”.

“aku peduli. Jika tidak, mungkin aku sudah menelantarkan kalian”.

Jenny diam. Ia tidak ingin menuntut banyak. Apapun yang Hoshi berikan, walaupun itu rasa sakit atau racun sekalipun, ia akan menerimanya. Ia bisa saja pergi dari Hoshi, menikah dengan pria yang lebih layak seperti Eunwoo.

Tidak bisa.

Jenny tidak bisa melakukan itu dengan mudah. Karena ia tidak mudah membuang perasaannya dan menyukai orang lain dengan cepat. Ia menyukai Eunwoo hanya sebatas kakak.

~oOo~

“apa kau sudah menanyakan kepastian pada Hoshi, kapan kalian akan menikah?”. Tanya Eunwoo diselah kesibukannya menyuapi makanan bagi Jinwoon.

Jenny menoleh sekilas, ia sibuk memasak. “sudah, dia bilang nanti saat dia sudah tidak sibuk, kami akan membicarakannya lagi”.

“jadi? Belum ada kepastian kapan dia akan menikahimu?”. Tanya Eunwoo lagi. Jenny mengangguk pelan. “apa perlu aku memaksanya? Dia akan menganggapmu remeh jika kau tidak mendesaknya”.

“jangan lakukan itu, oppa. Kau kan tahu Hoshi tidak suka didesak. Jika didesak, dia kan pergi”.

Eunwoo menatap sedih pada Jenny dan Jinwoon. Bagaimana 2 makhluk polos ini berada didekat makhluk biadab seperti Hoshi? Pikirnya. “aku akan memberitahu pada Yeon nunna”.

“yang eonni ketahui, aku dan Hoshi sudah menikah”.

mwoya? Kenapa kau mengatakan kebohongan? Kau akan semakin menderita jika tidak memberitahu yang sebenarnya”.

Jenny melepas afron yang ia kenakan. Lalu berjalan kearah Eunwoo. “aku hanya harus menunggunya, oppa. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja”.

“tetap saja, kau perlu kepastian. Ayolah, Jenny’ah, kau harus menjadi sedikit keras padanya. Memangnya kau tahu apa yang disibukkan olehnya?”. Jenny menggeleng menjawab pertanyaan Eunwoo. “perkuliahan sudah masuk, tidak ada lagi yang ia sibukkan kecuali kuliah”.

“tapi – aku tidak bisa memaksanya. Aku takut –“.

“baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apa yang kukatakan Jenny’ah. Tapi kau harus menentukan ini, untuk masa depan Jinwoon”.

Jenny mengangguk mengerti. Eunwoo hanya tersenyum padanya, melanjutkan kegiatannya. Pikirannya bergulat. Haruskah ia memaksa Hoshi? Atau ia harus pergi lalu menerima Eunwoo?

Eunwoo. Ah, pria itu semakin dewasa saja. Sempat terpikir dibenak Jenny, jika saja Eunwoo adalah ayah dari anaknya. Tetapi – kenyataannya Jinwoon adalah anak Hoshi. Hanya Hoshi pria yang membuatnya mengorbankan segalanya.

“kemarin saat aku bersepeda didekat Sungai Han, aku melihat eomma mu”. Ujar Eunwoo membuyarkan lamunan Jenny.

eomma? Apa yang dia lakukan disana?”.

“dia membuka kedai makanan. Odeng, bacon, tteokbeokki, dan lainnya”.

Jenny mengerutkan keningnya. Jika dipikir, ia merindukan wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu. “aku belum siap bertemu dengannya. Apa yang akan dia lakukan jika tahu putri nya sudah memiliki anak”.

“kau merindukannya kan? Maka cepatlah menikah dengan Hoshi agar kau bisa bertemu dengannya, setidaknya kau tidak akan mendapatkan amukan sendirian”.

Jenny memanyunkan bibirnya. Memutar bola matanya. Mengingat sesuatu. “oppa, ada apa denganmu? Kenapa kau mendadak memaksaku menikah dengan Hoshi? Bukankah kau tidak menyukainya?”.

Eunwoo diam. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Lalu tersenyum kuda. “entahlah, aku merasa jika kau harus bahagia, jadi kupikir kau harus memiliki ikatan resmi dengannya”.

“jawabanmu tidak tepat”.

“tidak tepat apanya?”.

“kau sudah memiliki kekasih ya? Ah, aku tahu sekarang”. Jenny tersenyum nakal. “Woon’ah, ahjussi ini sudah punya kekasih. Akhirnya, setelah sekian lama, dia memacari seseorang. Sekarang aku tidak khawatir kalau dia seorang gay”.

“ey, ey, hentikan. Aku tidak punya kekasih”. Eunwoo berusaha menghentikan ejekan dari Jenny. “kau masih satu-satunya gadis yang ku sukai”. Sambungnya.

ne?”. Jenny terkejut mendengar ungkapan Eunwoo. Meski sekilas dan pelan, Jenny mendengar kalimat itu.

“Woon’ah, ayo habiskan ini, atau aku yang akan memakannya”. Eunwoo mengalihkan pembicaraan dengan menggendong Jinwoon sambil menyuapkan nasi ke anak itu. “makan yang banyak, jika sudah besar kau bisa melindungi eomma mu. Dia terlalu lemah, Woon’ah”.

Jenny berdiri, mengikuti Eunwoo. “mwo? Kau belum pernah merasakan tinjuanku ya?”.

Eunwoo menjulurkan lidahnya meremehkan ucapan Jenny barusan. “kepalan tanganmu terlalu kecil untuk meninju”.

~oOo~

Pagi hari, saat Jenny terbangun dari tidurnya. Masih seperti hari sebelumnya. Tanpa Hoshi disebelahnya. Entahlah, Hoshi sudah tak pernah mengunjungi mereka. Walaupun ia selalu rutin mengirimi uang ke rekening Jenny.

Jenny mengangkat tangannya keudara. Masih terbaring ditempat tidurnya. “6 bulan, hanya selama 6 bulan kau benar-benar memperhatikanku. Menanyakan keadaanku setiap saat. Menanyakan keadaan bayi yang ku kandung”. Gumamnya.

“5 bulan, hanya selama bulan kau benar-benar menyayangi Jinwoon seperti anakmu. Kenapa kau cepat berubah Hoshi? Aku belum puas merasakan kasih sayang darimu”.

Setitit airmata keluar dari ujung matanya. Mengalir perlahan. Terlalu banyak kesakitan yang ia rasakan, rasanya sulit untuk menangis. Jenny pun tak ingin berlama-lama bersedih.

Lantas ia bangkit dari tidurnya. Berjalan menuju ranjang tidur Jinwoon. “good morning, Woon’ah”. Sapa Jenny seperti biasa.

Jinwoon masih tidur. Terdapat bercak merah dibagian tubuhnya yang tidak tertutup baju. “astaga, apa ini?”. Jenny panik. Perlahan ia menyingkap baju Jinwoon dan menemukan bercak yang sama.

Jinwoon terbangun lalu menangis keras. Badannya panas. Jenny segera menggendong kemudian menepuk-nepuk pelan punggung Jinwoon. “kau demam. Tunggu sebentar ya, kita telpon appa”.

Dengan panik Jenny menekan panggilan cepat. Mencoba menghubungi Hoshi. Tidak ada jawaban. Lalu ia memutuskan untuk menelpon Eunwoo. Namun juga tak mendapatkan jawaban.

“astaga, bagaimana ini?!”.

“lalu kenapa kau keluar? Tanpa memberitahuku. Tanpa bersamaku. Dan membawa Jinwoon”.

Ucapan Hoshi berputar dikepalanya, seolah mengejek keadaan darurat saat ini. Jenny meletakkan Jinwoon kembali ke ranjangnya. Segera ia berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka, lalu berganti baju.

eomma, akan membawamu ke dokter. Tidak peduli jika appa  mu akan marah”. Bisik Jenny pada Jinwoon yang ia gendong.

Tak lupa ia membawa dompet dan ponselnya sebelum pergi untuk berobat. Hoshi pasti akan memaklumi ini. Lagipula Jenny sudah meninggalkan pesan untuk pria itu.

~oOo~

Hoshi saat itu tengah menikmati sarapannya disebuah caffe. Karena sebenarnya ia tidak pulang kerumah. Ia tidur dihotel ataupun rumah kekasihnya yang lain. Baru saja beberapa gigit yang masuk ke dalam perutnya, acara sarapannya harus terhenti saat ia melihat Jenny berjalan cepat disebarang sana.

“lagi? Apa maunya perempuan itu?”. Desis Hoshi. Ia pun menyeruput kopi yang ia pesan, sebelum beranjak untuk menyusul Jenny, sebelum ia kehilangan jejak.

Hoshi berlarian mengikuti Jenny yang berjalan diseberang jalan. Tiba ditempat penyebrangan, dengan cepat ia menyebrang jalanan yang ramai. Kini Jenny berada 4 meter didepannya.

Jenny tak melihat Hoshi. Ia terlalu panik untuk memperhatikan sekitar. Jinwoon berada dipelukannya.

Grebb.

Sebuah tangan menarik lengan Jenny. Ia menoleh. Hoshi berdiri dibelakangnya. “Hoshi, syukurlah kau –“.

“kau melanggar perintahku lagi?”.

“Hoshi, Jinwoon demam, aku ingin membawanya ke dokter”.

Hoshi tersenyum miring. “jangan jadikan Jinwoon sebagai alasan. Kau terlihat seperti orang yang ingin kabur. Pulang sekarang”.

“Hoshi, kumohon. jika kau tidak percaya sebaiknya kau memastikan sendiri, Jinwoon benar-benar demam”.

Tak peduli beberapa pejalan kaki memerhatikan mereka. Hoshi terus memaksa Jenny agar pulang ke apartementnya. “pulang kataku. jika dia benar-benar sakit, kau kan bisa memanggil dokter ke apartement tanpa harus keluar”.

aigoo, apa ini bayimu? Sepertinya dia terkena cacar”. Ujar seorang wanita berusia kira-kira diatas 50 tahun.

ne, ahjumma. Bisa beritahu aku dimana klinik terdekat?”. Jenny tidak lagi mempedulikan kata-kata Hoshi.

“disekitar sini tidak ada, disini lebih banyak klinik bedah plastik. Kau harus cepat menindaklanjuti ini, kasihan jika terlalu lama dibiarkan”. Jawab wanita itu sambil mengusap kepala Jinwoon.

Hoshi geram. “Jenny, pulang!”. Bentaknya.

“apa ini suamimu? Yya! Anak muda. Anakmu sedang sakit dan kau marah-marah seperti ini. Benar-benar tidak ada hati”. Wanita itu balas membentak Hoshi.

Hoshi diam. Lantas menarik tangan Jenny agar ikut dengannya. Jenny hendak berontak, tapi ia takut tidak bisa memegang Jinwoon dengan baik jika berontak. Ia hanya bisa mengikuti langkah Hoshi seraya memohon pada pria itu.

Hoshi menulikan telinganya. Seolah tak mendengar apapun.

~oOo~

“aku tidak peduli. Aku tahu kau ingin lari, kan? Aku tidak akan mengizinkanmu keluar dari tempat ini tanpa izin dariku”. Bentak Hoshi setibanya mereka diapartement.

Jenny menangis tersegu. Diiringi tangisan keras Jinwoon yang ia letakkan diatas tempat tidurnya. “Hoshi, kumohon, lihatlah keadaan Jinwoon. Kau harus mengerti, dia sedang sakit”.

“sudah ku bilang, akan kupanggil dokter”.

Jenny menengok pada Jinwoon. Tubuh putih Jinwoon kini memerah karena bintik cacar itu. Jenny memejamkan matanya. “kau tidak benar-benar menginginkan kami kan?”.

“apa maksudmu?”.

“kau takut ada orang yang mengenaliku, jika aku keluar dengan Jinwoon, lalu mereka akan bertanya siapa ayahnya. Lagipula Jinwoon terlalu mirip denganmu”. Ujar Jenny

Hoshi melihat tangannya. Menghela napas berat. “tetap disini hingga dokter datang”. Hoshi berbalik hendak pergi.

“apa benar kau akan menikah denganku?”. Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Jenny. Hoshi menoleh pada Jenny sejenak. “benarkah, Hoshi?”.

Pria itu tak bergeming. Dan kembali melanjutkan keinginannya untuk pergi dari kamar itu. Sementara Jenny yang sudah sangat gugup untuk bertanya, kini terduduk lemas. Mungkin pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Hoshi tidak akan melakukan itu.

Tidak akan.

Jenny menunggu hingga pukul 12 siang. Tapi dokter yang Hoshi katakan itu belum juga datang. Harus berapa lama lagi ia menunggu dengan perawatan seadanya seperti kompresan ini?

Ting tong.

Mungkin itu dokternya. Segera Jenny berlari kecil untuk membukakan pintu bagi sang tamu. “oppa?”. Ya, itu adalah Eunwoo. Bukan dokter.

“Jenny’ah, apa yang terjadi? Dimana Jinwoon?”. Tanya Eunwoo sambil bergegas masuk. Ia semakin khawatir saat melihat mata Jenny yang membengkak.

“Jinwoon terkena cacar”. Jawab Jenny gemetar.

Eunwoo menghampiri Jinwoon yang tertidur. Memeriksa keadaan Jinwoon. “kenapa kau tidak membawanya kedoker? Atau memanggil dokter kesini”.

“Hoshi –“. Jenny tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Airmata nya mendesak keluar jika berbicara.

“jangan pedulikan si brengsek itu. Aku akan bertanggung jawab jika dia memarahimu. Kemasi saja barang Jinwoon yang akan kau bawa, kita kerumah sakit”. Ujar Eunwoo. Tak perlu menjelaskan secara lengkap, Eunwoo tahu pasti Hoshi yang melarang mereka untuk pergi.

Jenny buru-buru mengambil tas kecil dan memasukkan perlengkapan Jinwoon untuk dibawa. Setelah selesai, Eunwoo menggendong Jinwoon. Membawa kedua orang itu pergi.

“maaf aku datang terlambat, ponselku non-aktif tadi”. Ujar Eunwoo dalam perjalanan menuju rumah sakit.

“tidak apa-apa, aku justru bersyukur kau datang lebih cepat”. Jawab Jenny.

Sekilas Eunwoo menoleh pada Jenny sambil konsentrasi menyetir. “apa yang terjadi antara dirimu dan Hoshi? Dia memukulmu?”. Jenny menggeleng. Meski Jenny tersenyum, Eunwoo bisa merasakan kesakitan yang Jenny rasakan. “lalu?”.

“sepertinya – menjadi orang tua tunggal tidak buruk”. Jawab Jenny pelan.

Ya, Eunwoo sudah mendapat gambaran apa yang terjadi tadi. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun selain membantu Jenny disaat seperti ini.

~oOo~

Setelah mendapat perawatan dirumah sakit, Jinwoon sudah membaik dan sudah diizinkan pulang beberapa hari yang lalu. Meskipun ayahnya belum mengunjunginya lagi bahkan selama ia dirawat.

Jenny tidak mempermasalahkan itu, karena ia sudah memutuskan akan pulang kerumahnya. Dan menjadi orang tua tunggal. Ia juga sudah membereskan barang-barangnya. Sudah siap untuk pergi dari apartement ini.

“Jenny’ah”. Panggil Hoshi, entah sejak kapan ia berdiri didepan pintu kamar mereka. Kedua tangannya ia letakkan dibelakang tubuh.

Buru-buru Jenny menutup album poto yang mereka kumpulan selama bersama. “kau datang”. Ujar Jenny dengan senyum lebar seperti biasa.

“Jinwoon sudah sembuh?”. Tanya Hoshi kemudian. Ia melihat anaknya itu tertidur dengan pulasnya.

“baru saja selesai minum obat, dia langsung tidur”. Jawab Jenny. Ia berusaha untuk tidak bertanya kenapa Hoshi baru mengunjungi mereka lagi? Toh untuk apa? Jenny akan segera pergi dari sini.

“kenapa kau mengeluarkan kopermu?”. Hoshi heran melihat koper milik Jenny berada dipinggir lemari pakaian. “kau mau kemana?”.

“itu yang ingin kubicarakan”. Jenny menarik napas sejenak. Rasanya ia tidak sanggup untuk mengatakan perpisahan. Tapi ia harus. Harus berpisah dan menemukan kebahagiaan yang lain. “Hoshi, kita tidak usah menikah, ya? Aku – aku sudah memutuskan untuk menjadi orang tua tunggal”.

Hening.

Akhirnya Jenny dapat bernapas lega setelah mengatakan hal itu. Berbeda dengan Hoshi yang tampak shock. “ke-kenapa tiba-tiba kau –“.

“entahlah, itu semua terlintas dibenakku. Kita harus berpisah. Aku mengeri tanggung jawab yang kau maksud, hanya sebatas materi. Bukan sebuah ikatan dengan cinta yang sebenarnya”.

Hoshi menggenggam erat kotak yang ia pegang dibelakang tubuhnya. Sebuah kotak cincin. Rasanya seperti tersiram air dingin mendengar Jenny mengatakan kata demi kata itu. “tidak bisa. Kau tidak bisa memutuskan itu secara sepihak”.

“tentu saja bisa. Kita belum terikat oleh apapun. Kupikir tidak salah jika kita berpisah sekarang. Tidak ada pernikahan, aku akan merawat Jinwoon sendirian”.

“kau pikir kau punya dana untuk menghidupi Jinwoon? Bukankah kalian hidup karena uang dariku?”. Seru Hoshi.

Jenny membelalakkan matanya. Barusan Hoshi berkata apa? Dia merendahkan Jenny yang tidak punya apa-apa? Astaga. Celakalah mulut liar Hoshi. Ia benar-benar telah menancapkan tombak begitu dalam dihati Jenny.

“selagi aku masih bisa bernapas dan berjalan. Apapun akan aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan Jinwoon. Kau – kau bukan apa-apa bagiku. Kau hanyalah orang yang tidak bisa menghargai orang lain. Kau brengsek”. Maki Jenny. “aku membencimu”. Tambahnya.

“Jenny’ah, maaf, maafkan aku”.

Jenny menarik napas dalam. Menahan airmata yang sebenarnya sudah menendang-nendang kelopak matanya, ingin keluar. “simpan saja uang mu itu. Jinwoon tidak membutuhkan mu. Dan aku lebih tidak membutuhkanmu. Besok kami akan pergi. Jadi izinkan kami menumpang disini untuk malam ini saja”.

Hoshi hanya diam saat Jenny berbaring ditempat tidur. Menarik selimut dan memeluk Jinwoon erat. Perlahan ia mendengar isakan Jenny. tangisan yang disembunyikan olehnya.

~oOo~

Hoshi terbangun mendapat bias cahaya yang terang dari jendela apartement. Lehernya terasa kaku karena tertidur dishofa. Ia duduk dan merenggangkan ototnya. Pagi yang hening. Biasanya Jenny sibuk membuatkan sarapan untuknya dan mengurus Jinwoon.

Pukul 10 pagi.

Kotak kecil berisi cincin yang terletak diatas meja, masih ditempatnya. Hoshi berniat melamar Jenny semalam. Tetapi Jenny lebih dulu mengucapkan perpisahan.

Hoshi bangkit, berjalan kearah pantry dapur untuk minum segelas air. Ia teringat akan sesuatu. “Jenny’ah”. Panggilnya. Tak ada sahutan. Hoshi menggenggam erat gelas yang ia pegang. “Jenny’ah, jawab aku jika aku memanggilmu”. Ujar nya lagi.

Tak ada jawaban. Jenny sudah pergi pagi-pagi sekali saat Hoshi masih terlelap dishofa. Hoshi memutuskan untuk memasak ramyun. Masih berpura-pura tidak menyadari kepergian Jenny. ia duduk sendirian, menyantap ramyun yang ia masak.

“kenapa rasanya tidak enak ya?”. Tanyanya pada diri sendiri. Hoshi menuangkan air ke dalam mangkuk ramyun nya. Dan kembali menyantap ramyun itu. “apa yang harus kulakukan?”.

~oOo~

5 year later

Jenny melakukan apa yang ia inginkan. Menjadi orang tua tunggal. Dibantu oleh ibu dan kakak perempuannya. Jenny dipercaya mengurus salah 1 restaurant milik Luhan. Memudahkannya untuk mendapatkan uang.

Seorang pria keluar dari mobilnya. Dengan pakaian rapi. Kini ia berdiri di depan pintu restaurant yang sudah ingin tutup. Hoshi, ia adalah Kwon Hoshi. Mendapat informasi dari beberapa teman lamanya yang membawanya datang kemari.

Jinwoon kini sudah berusia 5 tahun. Kaki kecilnya membawanya berlarian keluar dari restaurant itu. Dan menabrak kaki Hoshi hingga ia terjatuh. Lantas Hoshi membantu anak itu berdiri.

“Woon’ah, kau sudah besar rupanya”.

ahjussi, choseuhamnida”. Ucap Jinwoon sambil membungkuk. Hoshi tersenyum miris. Anaknya memanggilnya ‘ahjussi’ bukan ‘appa’.

“Woon’ah!”. Sosok Jenny keluar dari restaurant dengan wajah cemas. Jinwoon terlepas dari pengawasannya karena ia sibuk membereskan restaurant yang akan tutup.

Hoshi mengangkat kepalanya. Tatapannya bertemu dengan Jenny. terjadi keheningan beberapa saat. “eomma”. Jinwoon menghampiri Jenny dengan wajah bersalah karena berlari keluar dari restaurant.

“apa yang kai lakukan disini? kami akan tutup sebentar lagi”. Ujar Jenny.

“aku mencarimu. Kenapa kau pindah rumah tanpa memberitahuku? Kenapa kau menghilang tanpa jejak?”.

“untuk alasan apa aku harus memberitahumu? Bukankah aku pernah bilang jika kau tidak berarti apa-apa bagiku?”.

Eunwoo melihat ada yang tidak beres terjadi diluar restaurant. Lalu ia pun segera keluar dan melihat apa yang terjadi diluar. “ada apa Jenny’ah?”. Tanya Eunwoo. Ia juga terkejut kala melihat Hoshi berdiri disana.

oppa, bisa kau bawa Jinwoon kedalam?”. Pinta Jenny. Eunwoo hanya mengangguk setelah itu ia mengajak Jinwoon masuk kembali. Mengerti situasi yang terjadi. “aku sudah cukup bahagia selama kita berpisah”.

“aku tahu kau masih mencintaiku. Kau bukan tipe orang yang mudah membenci orang lain. Jangan berbohong lagi Jenny’ah”. Ujar Hoshi sedikit menggoda Jenny.

Jenny mengalihkan pandangannya sejenak. “pulanglah, jika kau kesini hanya untuk melakukan hal yang sama padaku”.

Hoshi berlutut dihadapan Jenny. menggenggam kedua tangan wanita itu. Jenny mengerjabkan matanya, heran. “apa yang kau lakukan? Tidak sepantasnya kau melakukan ini pada istri orang”.

“Aku mencintaimu. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Berhenti berbohong. Aku tahu kau belum menikah dengan siapapun”. Ucap Hoshi. Jenny berusaha mencari kebohongan dimata pria itu, tapi sialnya ia tidak menemukan itu.

“siapa bilang? Aku sudah menikah dengan Eunwoo. Kau yang seharusnya berhenti, lepaskan tanganku”.

“Jenny’ah, berikah aku 1 kesempatan lagi”. Pinta Hoshi dengan wajah memelas. Jenny diam. Memikirkan apa yang Hoshi katakan.

~oOo~

palli, Jenny’ah”. Seru Yeonsung sambil menarik tangan Jenny. mobil yang mogok menyebabkan kedua perempuan ini berlarian dengan dress putih panjang mereka. “aishh… cepatlah, lepaskan saja heels mu”.

Jenny menghentikan langkahnya lalu melakukan apa yang Yeonsung katakan. “apa kita sudah sangat telat?”. Tanya Jenny. ia menarik gaun yang ia kenakan agar tidak mengenai aspal.

“sudah telat 5 menit. Ayo Jenny’ah, gerejanya sudah dekat”.

Mereka kembali berlari. Berlari dengan gaun seperti ini, sulit. Gereja itu terletak diatas bukit, mereka sudah setengah perjalanan. Diujung sana terlihat selendang-selendang putih berkibaran tertiup angin menyapa orang yang datang kesana.

Didepan pintu gereja, sosok Eunwoo sudah menunggunya. Dengan jas dan celana dasar senada, putih. Jenny tersenyum lega, akhirnya mereka tiba. Jenny kembali memakai heels yang tadi ia lepas.

“sudah kubilang, seharusnya aku yang menjemputnya nunna”. Ujar Eunwoo pada Yeonsung.

“sudahlah, lagipula kami sudah tiba”. Jawab Yeonsung tak ingin kalah.

Hari ini adalah hari dimana sepasang kekasih akan mengikrarkan janji pernikahan. Tidak ada pesta yang meriah, hanya pesta keluarga dan teman dekat saja. Itu semua karena Jenny menolak untuk diadakan pesta.

Bahkan mereka sengaja memilih gereja yang jauh seperti ini.

Musik pernikahan pengiringi langkah pelan Jenny. tangannya berkeringan memegang sebuket bunga. Semua tamu yang hadir melihat kearahnya.

menikahlah denganku. Aku ingin memenuhi janjiku dimasa lalu, jika aku menyakitimu lagi, kau boleh memukulku”.

aku tidak sejahat itu sampai memukulmu. Aku akan langsung menceraikanmu saja”.

apa? Itu bahkan lebih jahat dari memukul”.

kalau begitu tidak usah menikah”.

baiklah, baiklah, jika aku menyakitimu maka kau bisa menceraikanku

Jenny tersenyum merona saat mengingat itu. Setelah berjuang mati-matian untuk malamar Jenny, akhirnya Hoshi diterima. Jenny berjalan diatas red carpet hingga ia tiba diatas mimbar dan berhadapan langsung dengan pastur. Hoshi meraih tangannya dan tersenyum.

‘Hoshi & Jenny Wedding’

Tulisan itu terpasang didepan pintu masuk gereja. Mereka telah mengucapkan janji itu. Mereka resmi menikah sekarang.

Perasaan itu masih sangat besar kepada Hoshi. Adalah hal yang tidak bisa dipungkiri oleh Jenny. meskipun ia sudah berbohon tentang pernikahannya dengan Eunwoo, tetapi Hoshi mengetahui Jenny masih mencintainya.

Setelah mengakui semua kesalahannya dihadapan ibu dan kakak Jenny, Hoshi mendapatkan restu untuk menikahi Jenny. Jenny mudah untuk luluh, apalagi pada pria yang benar-benar ia cintai ini.

~THE END~

Tamat lho yah :3

Jangan minta sequel lagi :v kita alih cerita nih nanti XD

Maaf kalo kurang fix deh, intinya mereka menikah XD

Cooming soon, Hanbin-YooA-Taehyung < who’s still wait? *krik krik krik*

Next FF bakal dengan cast yang beda lagi nih XD ohya, untuk HanYeon, Kyo udah siapin 1 FF Cuma belom fix aja endingnya. Still wait yaaaakk,, itu sequel dari FF “Park Sibling” :3

Thanks :* lapya ❤ :*

2 thoughts on “FF “Innocent Love – Our Wedding” Oneshot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s