“Park Sibling” ONESHOOT


Park Sibling

Tittle                : Park Sibling

Author             : Arni Kyo

Main cast         :

  • Park Chan Yeol
  • Park Yeon Sung (OC)

Other               :

  • Find by yourself baebae

Genre              : Family, School Life, etc

Rating             : G

Length             : Vignette

*play music* *nyalain kembang api* *lempar telor sama tepung* < sarav :”v

HPBD to me XD cieee 20 tahun… oh no, makin tua ini -_- nggak adakah yg mau ngucapin gitu? Kasih kado mungkin :3 yoyow… ditunggu paket kadonya yaaaa *0*/\

Btw… HPBD to Kim Soeun, NS Yoonji, Minwoo, Yujin The Ark, dan siapapun yg berulang tahun hari ini *0* wohooo~~ (padahal sudah ganti tanggal 7 -_- gue telat lol)

^

Sekian…

Selamat menikmati/? FF baru dari Kyo XD

~oOo~

Bangunan itu berdiri kokoh bak sebuah istana. Bangunan mewah berlantai tiga dikawasan elite Gangnam-gu. Memiliki halaman yang luas dan terjaga. Dengan puluhan pelayan di dalamnya. Dibagian depan terdapat garasi yang berisi 6 mobil mewah.

Kediaman Park Jung Soo. Memilik perusahaan besar di Korea Selatan.

Pagi hari dikediaman ini. Pelayan rumah tangga sudah menyiapkan berbagai makanan dimeja makan. Meja makan khusus anggota keluarga. Dengan 5 kursi melingkari meja makan. Semua kursi ini akan terisi.

Jangan berpikir bahwa Park Jung Soo memiliki 3 orang anak. Ia hanya memiliki 1 orang putra dan 1 orang putri. Tetapi ia memiliki 2 orang istri yang tinggal disatu atap.

Park Jung Soo sudah bersiap dan menempati kursinya. Kedua istrinya pun sudah duduk disebelah kanan dan kirinya.

“dimana putra putri kita?”. Tanyanya.

“sebentar lagi mereka akan turun, yeobeo”. Timbal Park So Yeon, selaku istri pertama.

nde oppa, mereka memang sering terlambat sarapan”. Sahut Park Hyo Min, istri keduanya.

Jung Soo hanya mengangguk. Lalu So Yeon menyiapkan sarapan baginya. Setiap harinya, So Yeon dan Hyo Min bergantian menyiapkan sarapan untuk Jung Soo. Mereka berjanji untuk adil.

“Selama pagi, appa, eomma”. Sapa Chan Yeol setibanya dimeja makan.

eo, dimana adikmu, Chan’ah?”. So Yeon menanya karena Chan Yeol hanya muncul sendirian.

“mungkin dia masih bersiap, eomma”. Jawab Chan Yeol.

Acara sarapan ini tidak akan dimulai jika anggota keluarga belum lengkap. Dan sekarang mereka hanya menunggu sosok anak perempuan kesayangan itu saja. Park Yeon Sung. Ini bukan pertama kalinya mereka menunggu, tapi hampir setiap hari.

“ah, tuan putri kita sudah muncul”. Sambut Hyo Min ramah.

Park Yeon Sung muncul sembari menjinjing sepatu ketsnya. Kemudian menarik kursinya, duduk disebelah Chan Yeol. “kenapa selalu menunggu ku? Seberapa penting diriku hingga kalian tidak bisa memulai sarapan tanpa aku”.

“eyy, tentu saja kau penting, Yeon’ah”. Jawab Hyo Min.

“jangan bertingkah seperti itu didepanku, ahjumma”. Sahut Yeon Sung dengan nada tidak bersahabat.

Senyum Hyo Min pun pudar. Melihat situasi ini, Jung Soo berdehem kemudian memulai do’a pagi hari dan sarapan. Chan Yeol adalah putra dari Hyo Min dan Yeon Sung adalah putri dari So Yeon.

Semua ini terjadi bukan tanpa alasan. Nyonya besar Park, yang merupakan ibu dari Park Jung Soo, mendesak untuk memiliki cucu. Sedangkan So Yeon belum kundung hamil setelah 5 tahun pernikahan mereka.

Lalu, So Yeon mengizinkan Jung Soo menikah dengan wanita lain, yaitu Hyo Min. Tahun pertama pernikahan mereka, Chan Yeol lahir. Namun tak disangka, tahun berikutnya So Yeon hamil dan melahirkan seorang putri saat Chan Yeol berusia 2 tahun.

Chan Yeol selalu bersikap dewasa. Memanggil ibu Yeon Sung dengan sebutan ‘eomma’ berbeda dengan Yeon Sung yang selalu memanggil ibu Chan Yeol dengan sebutan ‘ahjumma’.

appa, Kepala Sekolah meminta appa atau wali ku untuk datang ke sekolah. Hari ini”. Ujar Yeon Sung ditengah sarapan mereka.

“kenapa? Kau membuat masalah lagi?”.

Yeon Sung menggeleng. “datang saja kalau mau, jika tidak aku akan diliburkan selama seminggu”.

Jung Soo melirik So Yeon, memberi isyarat agar So Yeon yang mengatasi hal ini. So Yeon hanya mengangguk. Pasti gadis itu membuat masalah lagi. Dalam sebulan, setidaknya 5-6 kali wali nya dipanggil ke sekolah.

“putri Park, bisakah dalam 1 bulan kau tidak membuat masalah?”. Cetus Chan Yeol sembari menghela napas.

“yya ~ apa masalahmu Tuan muda Park?”.

Dan berdebat lagi. Jarang sekali kedua saudara ini terlihat mengobrol normal, tanpa harus mengencangkan otot leher. Terkadang mereka bergulat dan saling menjitak. Jika Chan Yeol dibelikan mobil baru, maka Yeon Sung juga ingin. Bersaing.

“makan asinan lobak mu”. Suruh Chan Yeol seraya meletakkan asinan lobak dinasi Yeon Sung.

“yakk! Sialan! Aku tidak suka”. Yeon Sung pun membalas dengan mengacak-acak sup milik Chan Yeol.

Jung Soo bahkan sudah bosan untuk memperingatkan mereka agar tidak ribut saat dimeja makan. Tapi terjadi lagi, lagi dan lagi. “ahjumma, lihat lah putramu ini. Aku tidak suka lobak, baunya membuatku mual”.

eomma, hentikan Yeon Sung. Aakh, kau merusak rambutku, dasar gadis manja”.

“Yeon’ah, lepaskan”. Titah Jung Soo. Perlahan, Yeon Sung melepaskan genggamannya dari rambut Chan Yeol. “pakai sepatumu dan bersiaplah ke sekolah”.

“Bibi Min, tolong pasangkan sepatuku!”. Pekik Yeon Sung, memerintah salah seorang pelayang kepercayaannya.

“lakukan oleh dirimu sendiri, Yeon’ah”. Pinta So Yeon.

Yeon Sung menggeleng. Memasukan kedua kakinya ke dalam sepatu ketsnya dan menunggu Bibi Min datang lalu menyimpulkan tali sepatunya. “aigoo, manja sekali”. Desis Chan Yeol lagi.

“diam kau Dobi”.

“aku tidak yakin kau akan menikah dengan baik nantinya”.

“apa katamu? Sialan!”.

Chan Yeol menjulurkan lidahnya. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya. Ia juga harus kekampus pagi ini. “appa, eomma, aku berangkat dulu”. Pamit Chan Yeol.

~oOo~

Park Chan Yeol, tinggi badan sekitar 185 cm. Tampan, kaya, populer, dan pintar. Pandai bermain alat musik, DJ, dan editor musik. Memiliki lesung pipi yang membuatnya semakin terlihat tampan.

Hampir semua orang mengenalnya, karena ia adalah pewaris utama harta kekayaan ayahnya. Dan ia juga sudah dipersiapkan untuk melanjutkan jabatan ayahnya kelak.

Chan Yeol keluar dari mobilnya setelah berhenti dilahan parkir kampus. Berjalan menuju gedung kampus dengan pesona khas nya.

“Chan Yeol’ah”. Panggil seorang gadis.

Chan Yeol menoleh kemudian tersenyum. Ini dia kekasihnya, Park Ji Yeon. Seorang model yang juga mahasiswi di Universitas ini. “annyeong, Ji Yeon’ah”.

Ji Yeon berlari kecil mendekati Chan Yeol. Mengambil lengan pria itu. “kau sudah menyelesaikan projek mu?”.

“sedikit lagi. Besok kita akan mengambil gambar, ya?”.

“siap, pak”.

Pasangan serasi yang membuat banyak orang iri melihatnya. Bahkan tersebar kabar jika tahun ini keduanya akan melakukan pertunangan. Namun itu hanya rumor. Meskipun kedua keluarga sudah menyetujui hubungan mereka. Ada seseorang yang belum bisa menerima Ji Yeon.

Yaitu Yeon Sung. Lagi-lagi, entah seberapa pentingnya gadis itu hingga harus turut memberikan restu. Alasan Yeon Sung adalah Ji Yeon terlalu cantik untuk Chan Yeol. Konyol sekali.

“ah, seandainya adikmu itu bersahabat, mungkin kita bisa bebas berhubungan”. Keluh Ji Yeon setelah duduk dikursinya.

Chan Yeol mengambil posisi duduk disebelah Ji Yeon. “percayalah, nanti ia akan merestui kita. Dia memang seperti itu. Ia tidak suka jika ada orang yang lebih cantik dari dirinya”.

Ji Yeon terkekeh jika mengingat ucapan frontal Yeon Sung, saat pertemuan pertama kedua keluarga itu. “kenapa kau tidak menjadikan Yeon Sung saja sebagai model projek ini?”.

“apa? Tidak, tidak. Ia hanya akan mengacaukan syutting. Itu ide buruk”.

“eyy, kalian, cobalah untuk bekerja sama”.

Chan Yeol memanyunkan bibirnya. Memikirkan perkataan Chan Yeol. Menjadikan Yeon Sung sebagai model projek ini? Kedengarannya, buruk. Mengingat Yeon Sung adalah trouble maker. Apa yang akan terjadi dengan projeknya. Oh Tuhan.

“sudahlah, jangan memikirkan gadis gila itu. Lebih baik, kita fokus pada hubungan kita”. Ujar Chan Yeol. “aku bahkan tidak bisa menjemputmu untuk pergi ke kampus bersama”.

“tidak apa-apa, lagipula, aku pergi diantar oppa ku sebelum ia melaksanakan Wajib Militer”. Ji Yeon tersenyum simpul. “aku ingin bersamanya hingga ia pergi pelatihan”.

“oh begitu. Nanti juga aku akan melaksanakan wajib militer”.

Mendadak Ji Yeon melengkungkan bibirnya kebawah. “jangan pergi dulu. Setidaknya hingga oppa ku kembali”.

Chan Yeol tersenyum lebar. Mengangguk kemudian mengacak rambut Ji Yeon. “aku mengerti. Tidak usah khawatir seperti itu”.

~oOo~

Park Yeon Sung, tinggi badan sekitar 160 cm. Cantik, menarik, sedikit kasar dan sinis. Kelebihannya ada di rambut. Ia sangat menyayangi rambut panjang hitam nya itu. Pandai bermain cello.

Baiklah, mungkin sedikit tidak bisa dipercaya jika dia pernah memenangkan pertunjukan cello beberapa kali. Tapi itulah kenyataannya. Hanya benda itu yang bisa mengalihkan dunianya.

Saat ini ia sedang menjalin hubungan dengan seorang pria keturunan Tiongkok, yang usianya lebih tua 5 tahun dari Yeon Sung. Mereka bertemu disebuah acara pernikahan salah satu rekan kerja ayahnya.

Yeon Sung terkenal disekolahnya, selain pembuat kekacauan, ia juga selalu memenangkan kontes Weekly Icon Girl yang diadakan oleh OSIS. Entah bagaimana ia bisa mendapatkan voting tertinggi terus-menerus tanpa manipulasi.

Saat ini, gadis itu tengah duduk menatapi hujan dari jendela kelas. Sembari mengesap banana milk kesukaannya. Menunggu ayahnya atau walinya datang kesekolah, maka ia akan bisa segera menemui kepala sekolah.

“kau yakin orang tuamu akan datang? Kurasa mereka sudah bosan mengurusimu”. Ujar seseorang. Lee Hye Mi, musuh bebuyutan Yeon Sung sejak pertama masuk ke sekolah ini.

Yeon Sung menoleh, mendelik dengan tatapan datarnya. “tidak usah mengurusiku. Kau mau aku merusak bibir indahmu itu –lagi?”. Balas Yeon Sung.

Hye Mi mengambil posisi duduk dimeja sebelah Yeon Sung. Menatap Yeon Sung dengan tatapan remeh. “jika ayah atau ibumu tidak datang, bukankah kau mempunyai ibu 1 lagi?”.

“dia bukan ibuku”.

aigoo, bagaimana bisa ada 2 orang nyonya dalam 1 rumah”.

Yeon Sung geram. Jika sudah menyangkut keluarganya, ia tidak bisa mengendalikan itu semua. Ia selalu termakan omongan teman-temannya mengenai ayahnya yang memiliki 2 orang istri dalam 1 rumah.

“jalang! Tutup mulutmu”. Pekik Yeon Sung seraya melemparkan botol banana milk yang isinya masih setengah itu. Membasahi seragam Hye Mi serta mengenai wajah gadis itu.

“yya! Kau yang jalang, sialan”. Hye Mi berdiri, mengambil kotak pensil lalu melayangkan kotak pensil tersebut ke kepala Yeon Snng. Hancur, dan isinya berantakan.

Teman-teman mereka yang berada dikelaspun menoleh pada sumber keributan. Beberapa dari mereka memilih untuk meninggalkan kelas lalu memanggil guru pembimbing. Sebagian lagi, berusaha melerai pertengkaran mereka.

“akh, kau benar-benar, beraninya kau”. Yeon Sung dapat merasakan kotak pensil plastik itu pecah dikepalanya. Dan ia sekarang mulai merasa pusing. Namun ia tidak mau diam saja. Yeon Sung berdiri, lalu melayangkan kick nya keperut Hye Mi.

“whoooaa”. Seru beberapa siswa laki-laki.

Bruuaakk! Tubuh Hye Mi menghantam meja dan kursi dibelakangnya, kemudian jatuh pingsan. Tendangan yang cukup berbahaya, Yeon Sung menendang kuat hulu hati Hye Mi.

“kau lihat dalamannya warna apa?”.

“astaga paha Yeon Sung mulus sekali”.

“aku ingin menyentuhnya”.

Bisik para siswa laki-laki yang menyaksikan kejadian itu. Yeon Sung acuh. Ia hanya menatap dendam pada Hye Mi yang terkapar dilantai. Teman perempuan lainnya mendekati Hye Mi dengan hati-hati.

“Yeon’ah, kau dipanggil kepala sekolah”. Seru ketua kelas.

“jadi sudah datang?”. Pikir Yeon Sung. Iapun berjalan meninggalkan kelas. Seperti bukan ia yang membuat Hye Mi pingsan. Hanya berlalu dengan santainya. “ah, kepala ku pusing sekali”. Gerutunya.

Yeon Sung berjalan pelan menuju ruang Kepala Sekolah. Tanpa permisi ia memasuki ruangan tersebut. Betapa terkejutnya ia saat tahu siapa yang menjadi walinya. Park Chan Yeol.

“Yeon’ah, duduklah”. Titah Kepala Sekolah. Yeon Sung pun duduk dikursi sebelah Chan Yeol.

“jadi apa lagi masalah yang dibuat Yeon Sung?”. Tanya Chan Yeol.

“mengenai itu, kami menemukan bungkus rokok dan pemantik di dalam tas milik Yeon Sung”. Kepala Sekolah pun mengeluarkan barang bukti dari dalam lacinya. Chan Yeol menoleh pada Yeon Sung.

Sementara Yeon Sung menengok ke arah lain. “apa itu benar miliknya? Karna setahu ku, Yeon Sung tidak pernah merokok”.

“kami juga sangat berat untuk mengakui itu, tapi beberapa poto membuktikan jika Yeon Sung merokok dikawasan sekolah”. Jelas Kepala Sekolah, kemudian menyalakan laptopnya, menunjukkan bukti selanjutnya.

Chan Yeol menghela napas berat. “lalu, apa Yeon Sung akan mendapatkan hukuman atas semua ini?”.

“kami sedang memikirkan hukuman apa yang akan kami berikan, tapi kami tidak akan menscorsing Yeon Sung”.

~oOo~

Yeon Sung keluar dari ruang Kepala Sekolah, diikuti oleh Chan Yeol. Seusai mendiskusikan masalah ini. Chan Yeol diminta untuk menyampaikan kepada orang tua mereka, untuk membimbing Yeon Sung.

“apa yang kau lakukan? Kau sudah gila, Yeon’ah”.

“diam dan pergilah”.

Yeon Sung berjalan acuh. Segera Chan Yeol menarik lengan gadis itu, membuat tubuh mungilnya terhuyung dan berbalik. “kau selalu berbuat sesuka mu, aku tahu kau arogan, tapi ini sudah keterlaluan”.

“lepaskan”.

“aku tidak mau kau jatuh ke jalan yang salah, Yeon’ah”.

“lepaskan tanganku”.

Posisi Chan Yeol sangat dekat. Tinggi badannya yang terlampau jauh dari tinggi badan Yeon Sung, membuat Chan Yeol dapat melihat sebuah luka dikepala Yeon Sung. “kau terluka”. Ujarnya. Yeon Sung mengerutkan alisnya.

“benarkah? Separah itukah dampak kotak pensil Hye Mi tadi?”. Batinnya.

“dimana ruang kesehatannya?”. Chan Yeol bergegas berjalan melewati koridor sepi itu. Tak merenggangkan sedikitpun genggamannya dari tangan Yeon Sung.

“yya ~ aku tidak apa-apa. Aku bisa merawat diriku sendiri”. Seruan Yeon Sung itu tak membuat Chan Yeol lantas berhenti dan melepaskan adiknya. Ia terus berjalan menuju ruang kesehatan.

Ruang kesehatan saat itu sepi. Hanya ada tubuh Hye Mi yang masih belum sadarkan diri, diranjang ujung sana. Chan Yeol menyeret Yeon Sung masuk. Mendudukan gadis itu di salah 1 ranjang. Lalu ia mengambil antibiotik serta kapas dari lemari obat. Yeon Sung hanya memanyun-manyunkan bibirnya.

“singkirkan rambutmu”.

“kau benar-benar ingin mengo – akhh”. Yeon Sung memekik mendadak karena Chan Yeol menyibak rambut Yeon Sung secara tiba-tiba. “pelan-pelan, astaga. Kau membuat syaraf otakku kontraksi”.

“diamlah atau kau ingin ku bius agar diam?”.

Yeon Sung diam. Entah kenapa ia merasa kali ini harus menurut pada Chan Yeol. Tidak ia pungkiri, memang luka ini cukup sakit dan membuat kepalanya pusing. “apa kepala ku berdarah?”. Tanya Yeon Sung pelan.

“tidak banyak. Tapi sepertinya ini akan menimbulkan benjolan”.

“aku harus dirawat dirumah sakit”.

“baiklah, kupecahkan dulu sebuah botol dikepalamu”.

Yeon Sung berdesis. Kemudian kembali diam. Memandangi Chan Yeol yang sibuk membersihkan lukannya dengan antibiotik. Ia terpaku – oh, baiklah, ia terpesona dengan kakaknya sendiri.

Harus ia akui, Chan Yeol lebih tampan disaat seperti ini. Baru kali ini ia berada dijarak yang sangat dekat hingga bisa merasakan hembusan napas Chan Yeol. Melihat dengan jelas bibir seksi Chan Yeol.

Oh Tuhan. Hal itu membuat Yeon Sung tersenyum girang. “nah, sudah. Kembalikan rambutmu keposisi semula. Keningmu lebar sekali”.

\”apa? Aishh… itu karena aku pintar”. Balas Yeon Sung tak mau kalah. “jadi Cuma sebentar, padahal aku belum puas memandanginya”. Pikir Yeon Sung.

“dapatkan IP 3,8 saat kuliah nanti, baru aku akan mengakui kau pintar”.

Chan Yeol tersenyum miring, ia tahu kepintarannya jauh diatas Yeon Sung. Hingga semester ini, Chan Yeol masih menduduki posisi sebagai mahasiswa yang memiliki IP tertinggi dikampusnya. Sementara Yeon Sung, peringkat 30 tingkat kelas 2 disekolahnya.

“kau tidak akan mengatakan ini pada appa,an?”.

“entahlah, aku masih mempertimbangkan itu”.

Yeon Sung membungkuk lesu. Ia mendadak menyesal telah melakukan hal itu. Ya, merokok. Sesungguhnya ia hanya terbujuk oleh teman berandalnya diluar sekolah. Tapi tetap saja perbuatan itu tidak bisa ditoleransi sekolah.

“gadis yang disebelah sana itu”. Yeon Sung menunjuk kearah Hye Mi. “dia yang membuatku terluka”.

Chan Yeol menengok kearah yang Yeon Sung tunjukkan. “lalu, apa yang kau lakukan padanya?”.

“aku menendangnya hingga pingsan”. Jawab Yeon Sung polos.

Hening.

Chan Yeol tersenyum penuh arti. “bagus. Ia pantas mendapatkannya”. Ujarnya lalu mengacak rambut Yeon Sung.

“aakkh. Kau mengenai lukaku, Dobi”. Protes Yeon Sung.

Diruang kesehatan, terjadi suasana yang belum pernah terjadi selama kurun waktu 10 tahun diantara mereka. Tak ada teriakan, tak ada jitakan atau jambakan. Mengobrol normal seperti layaknya saudara.

~oOo~

Ruang santai keluarga Park. Akhir pekan seperti ini, memang selalu dimanfaatkan oleh anggota keluarga untuk mengadakan acara minum teh dan makan camilan. Namun tidak seperti kebanyakan keluarga, mereka melakukan kegiatan masing-masing.

Jung Soo sibuk dengan laptopnya. Chan Yeol sibuk bermain game diponselnya. Kedua ibu mereka sedang memeriksa model fashion terbaru demi usaha butik yang mereka geluti. Sementara Yeon Sung memoleskan kuteks ke kuku nya.

10 jari kakinya telah dipolesi kuteks. Sekarang ia bingung harus melakukan apa lagi, melihat keheningan yang terjadi. Yeon Sung menoleh pada jam dinding. 1 jam lagi ia baru boleh pergi dari sini.

Tradisi dan aturan keluarga. Ia benci harus mematuhi itu semua.

“untuk apa acara seperti ini? Dalam bayanganku, kita mengobrol, bercanda, atau sebagainya. Bukan sibuk oleh pekerjaan masing-masing”. Gumamnya pelan.

Rupanya Jung Soo mendengar ucapan pelan putrinya itu. Iapun segera mematikan laptopnya. “Chan’ah, bagaimana pertemuanmu dengan Kepala Sekolah tadi?”. Chan Yeol diam. Masih fokus pada ponselnya.

Plakk! Yeon Sung menempeleng kepala Chan Yeol. “appa bicara denganmu”.

Tersadar dari dunia games nya. Chan Yeol segera mematikan ponselnya, lalu menegakkan tubuhnya. “appa menanyakan apa?”.

“bagaimana pertemuanmu dengan Kepala Sekolah tadi?”.

Chan Yeol menoleh pada Yeon Sung sebelum menjawab. Yang ia dapatkan hanya wajah imut yang dibuat-buat oleh Yeon Sung. “ah, itu, Yeon Sung hanya bertengkar appa. Dia melakukan itu untuk membela dirinya”.

ne appa”.

“benarkah? Apa yang ia lakukan hingga kau harus menghajarnya, Yeon’ah?”.

“dia memukul kepala ku, ini, ini buktinya”. Yeon Sung pun menunjukkan benjolan dikepalanya. Benar perkataan Chan Yeol, sekarang benjolan itu membesar.

Jung Soo terkekeh, Yeon Sung bertingkah seperti anak kecil yang ingin menunjukkan penderitaannya. “baiklah, kau harus mengurangi sikap aroganmu Yeon’ah, kau tahu kan halmeoni tidak menyukaimu karna itu”.

Yeon Sung mengangguk pelan. Chan Yeol hanya terkekeh geli, lalu menepuk-nepuk pundak Yeon Sung. “dengar kata appa”.

“mungkin aku akan berubah jika dirumah ini hanya ada 1 Nyonya Park”. Cetusnya.

Kedua ibunya menoleh satu-sama lain. So Yeon menarik cangkir teh nya, dan minum sedikit. Sementara Hyo Min menyibukkan diri membereskan majalah yang mereka acak-acak tadi.

“Yeon’ah, kau sudah cukup besar untuk mengerti situasi ini”. Ujar So Yeon.

“justru karena aku sudah besar, aku semakin mengerti dan aku semakin muak, eomma”. Balas Yeon Sung dengan nada meninggi.

“dia ibumu, tidak baik berbicara dengan nada seperti itu”. Bentak Chan Yeol.

Yeon Sung berdiri, mendengus kesal. “aku ingin dirumah ini hanya ada 1 Nyonya Park. Mereka selalu mengejekku karena memiliki 2 orang ibu dalam 1 rumah”.

“aku yang memimpin dirumah ini, bisakah kau menuruti aturan yang kubuat? Kau sudah terlalu sering membuat onar, Yeon’ah. Apa yang kau cari? Apa tujuanmu?”. Balas Jung Soo.

“sudah jelas, aku menginginkan hanya eomma ku yang tinggal disini”.

Yeon Sung menghentakkan kakinya. Lalu berlari dari ruangan itu. Seketika terjadi keheningan disana. Jung Soo tidak tahu harus apa agar Yeon Sung mengerti dan berhenti berbuat sesukanya.

Sebenarnya, Hyo Min beberapa kali meminta agar pindah dari rumah besar. Tetapi Jung Soo melarangnya, karena rumah ini terlalu besar jika 2 orang anggota keluarga pergi dari rumah. Lagipula, So Yeon dan Hyo Min terlihat akrab.

Yeon Sung menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya. Menghadap pada dinding rumahnya yang tertempel poto keluarga ukuran 1 meter itu. 2 bingkai besar yang terisi poto keluarga.

1 ayah, 2 ibu, dan 2 anak yang berbeda. Yeon Sung tersenyum miris. Betapa lucunya ketika ia mulai menyadari, Hyo Min bukan sekedar ‘ahjumma’ biasa dirumah ini. Dulu ia bertanya kenapa Hyo Min berpoto sama seperti ibunya.

Lalu Yeon Sung marah dan ia benci ketika tahu bahwa Hyo Min juga istri ayahnya. Saat kecil, ia akrab dengan Chan Yeol. Karena yang ia tahu Chan Yeol adalah kakaknya. Tapi sekarang, Yeon Sung menganggap mereka adalah ancaman.

~oOo~

Sebulan berlalu, Yeon Sung masih belum mengubah sikapnya. Tanggal pertunangan Chan Yeol dan Ji Yeon sudah ditentukan. Tidak membutuhkan persetujuannya. Park Jung Soo yang mengambil keputusan tersebut.

Pertunangannya akan dilakukan malam ini dikediaman Keluarga Park yang bak istana itu. Pesta yang tidak terlalu meriah, namun dihadiri oleh beberapa pengusaha besar, rekan kerja ayahnya dan teman kampus Chan Yeol.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan itu menyadarkan Yeon Sung dari lamunannya. Ia tak mengiraukan itu, namun ia sadar ketika seseorang membuka pintu dan masuk.

appa mencarimu. Tidakkah ratu pesta ingin bergabung dipesta sederhana saudaranya?”. Ujar suara berat itu. Chan Yeol.

“katakan pada appa, aku sedang sakit”.

Chan yeol mendekat, duduk dihadapan Yeon Sung dikursi santai. Kamarnya gelap, tak satupun lampu menyala, hanya mendapat penerangan dari lampu diluar sana. “perlukah kau dirujuk kerumah sakit?”. Goda Chan Yeol.

“aku sedang tidak mood untuk bicara”.

Chan Yeol pun berdiri. menarik gaun putih yang sudah disiapkan oleh pelayan diatas tempat tidur Yeon Sung. Lalu kembali duduk dihadapan Yeon Sung. “kau jangan manja Nona Muda Park”.

“jangan membentakku”.

Chan Yeol kembali tersenyum. “kau cemburu, ya?”. Pertanyaan yang membuat Yeon Sung menelan salivanya. Chan Yeol mendekat, menyelipkan rambut panjang Yeon Sung dibalik telinga.

“aku tidak cemburu”. Yeon Sung buru-buru menjawab seraya menengadahkan kepalanya, mendongak pada Chan Yeol.

“aku ingin kau bersikap dewasa, dan membiarkan oppa mu ini bertunangan dengan Ji Yeon”. Ujar Chan Yeol tak melepaskan tatapannya dari mata Yeon Sung. Tanpa disadari, Chan Yeol menggerakan tangannya, mengusap S line Yeon Sung yang hanya mengenakan hotpant dan tanktop.

Chan Yeol menarik kaki jenjang Yeon Sung. Memasukan kaki itu kedalam gaun putih. Yeon Sung hanya diam. Tak tahu harus melakukan apa. Chan Yeol mengajaknya berdiri, ia menuruti itu. Lalu Chan Yeol melepas pengait bra milik Yeon Sung.

Lalu ia menarik gaun tersebut hingga sebatas pinggang milik Yeon Sung. Chan Yeol mencodongkan tubuhnya. Meletakkan rambut Yeon Sung kebagian kanan, gadis itu tersipu saat Chan Yeol mendekatkan wajahnya pada leher nya itu.

“lalukan sisanya sendiri, Nona Yeon”. Bisik Chan Yeol dengan nada mengejek.

Yeon Sung tersentak. Sadar jika ia hanya dikerjai oleh Chan Yeol. ‘sialan! Aku tidak mau kebawah”.

“kau ingin aku memakaikan gaun ini?”. Chan Yeol kembali menegakkan tubuhnya.

Yeon Sung meniup rambutnya kesal. Mau tak mau, ia harus menyelesaikan ini. “keluarlah, aku ingin memakai ini. Aku akan membuat semua pakaianku”.

“tidak mau, lakukan saja. Aku akan menghadap dinding dan menunggumu”.

“dasar mesum gila. Berbalik lah!”.

Chan Yeol tersenyum penuh kemenangan. Sangat mudah menggoda Yeon Sung. Pikirnya. Ia pun berbalik menghadap dinding sambil merapikan penampilannya dalam gelap. 5 menit kemudian, Yeon Sung menyalakan lampu kamarnya.

“nah, begini lebih baik. Kau tampak cantik”. Puji Chan Yeol berdiri dibelakang tubuh Yeon Sung yang sudah terbalut gaun putih. Pas ditubuh langsingnya itu. “membutuhkan sedikit polesan saja”.

“apa yang kau lakukan?”. Yeon Sung heran kala Chan Yeol mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.

“biar kuolehkan”. Chan Yeol membalikan tubuh Yeon Sung, menghadao padanya. Lalu ia mengoleskan madu dengan ujung jari telunjuknya ke bibir Yeon Sung. “karna kau sudah cantik, seperti ini saja sudah cukup membuat mu terlihat glamour”.

Yeon Sung diam. Tak tahu perasaan apa yang ia rasakan, rasanya ingin menangis saja. Ia tak pernah merasa lebih cantik dari siapapun, meski selalu memenangkan kontes disekolah. Chan Yeol kembali memabalikan tubuh Yeon Sung menghadap cermin.

“sekarang apa lagi?”.

“mungkin dengan mainan rambut”. Chan Yeol beralih memeriksa kotak perhiasan milik Yeon Sung, tangannya mengambil sebuah jepitan dengan mutiara putih dibagian ujungnya. “biar kupasangkan”.

Lagi-lagi Yeon Sung diam kala Chan Yeol menata letak jepitan tersebut. Ia tak percaya Chan Yeol akan memperlakukannya seperti ini. Yeon Sung lupa. Lupa jika Chan Yeol sebenarnya sangat memperhatikan dirinya.

gomawo, oppa”.

Chan Yeol terpaku mendengar ucapan Yeon Sung barusan. “kau memanggilku ‘oppa’ lagi, adik kecil”. Chan Yeol tertawa pelan, lalu menarik pipi Yeon Sung gemas.

~oOo~

Pesta pertunangan itu telah berlalu. Berjalan lancar sesuai rencana. Sepanjang pesta Yeon Sung hanya diam menyaksikan setiap urutan acara. Ada hal lain yang membuatnya tak bersemangat hingga hari ini.

Bukan. Ia tidak cemburu pada Chan Yeol. Tetapi, neneknya tidak memberikan izin baginya untuk menjalin hubungan dengan Lu Han. kekasihnya yang merupakan keturunan Tiongkok itu.

Alasan pertama adalah Lu Han terlalu dewasa, bahkan lebih tua dari Chan Yeol. Alasan lainnya, karena Lu Han bukan orang Korea.

“jika aku tidak bisa menjalin hubungan dengan Lu Han, maka aku akan melakukannya tanpa izin kalian”. Seru Yeon Sung saat keluarganya berkumpul, termasuk neneknya.

“menurut saja. Jangan membantah”. Bentak neneknya.

eomma, tolong bantu aku, aku tidak ingin berpisah dari Lu Han”. pinta Yeon Sung. “appa”.

“carilah pria lain, Oh Se Hoon dari perusahaan sahabat appa mu juga tidak buruk”. Celah neneknya lagi.

Oh Se Hoon katanya? Yang benar saja. Pria dengan tatapan seperti ingin menelanjangi itu disuruh untuk menjalin hubungan denganku? Batin Yeon Sung berontak. Ia menggeleng cepat.

~oOo~

Seusai perkumpulan keluarga itu, Yeon Sung berlarian memasuki kamarnya. Tiba saat tengah malam, Chan Yeol merasa prihatin dengan keadaan adiknya. Perlahan ia memasuki kamar Yeon Sung. Menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati.

“Yeon’ah, kau sudah tidur?”. Chan Yeol menanya sembari naik ke tempat tidur Yeon Sung. “jika kau mau, aku akan membantu untuk membujuk halmeoni agar merestui hubunganmu”.

Diam. Tak ada jawaban ataupun pergerakan dari gadis itu.

“Yeon’ah, kau mau kan kubantu? Aku sungguh akan membantumu”.

Diam. Masih tetap diam.

Chan Yeol pun iseng menarik selimut Yeon Sung. Dan ia temukan bukanlah tubuh gadis itu, melainkan pelayan pribadinya. “astaga, apa yang kau lakukan disini?”. pekik Chan Yeol.

“maaf Tuan Muda, aku hanya melakukan perintah Nona Yeon”.

“dimana Yeon Sung?”.

“No-nona Yeon, pergi”.

Chan Yeol membelalak. Ia segera berlarian keluar dari kamar itu. Melaporkan hal ini pada ayahnya diruang kerja. Seisi rumah kembali terbangun karena ulah Yeon Sung yang pergi dari rumah tanpa izin.

“Nona Yeon tidak membawa mobilnya”. Lapor salah seorang pelayan yang bertugas mengurus mobil.

“kemungkinan Yeon Sung lari lewat gerbang belakang”. Ujar Hyo Min. Sedari tadi ia duduk merangkul So Yeon.

“dia benar-benar tidak ingin hubungannya dan Lu Han berakhir”. Gumam So Yeon pelan, wanita itu mengurut keningnya. Membayangkan apa yang akan terjadi pada gadis itu. Sendirian diluar sana.

Hujan semakin deras. Dan Yeon Sung pergi tanpa pengawalan ataupun diantar dengan mobilnya. Ia melewati gang-gang kecil yang gelap ditengah hujan. Lalu segerombolan orang mencegatnya. Oh – bayangan yang mengerikan bagi So Yeon.

Penglihatannya memudar, napasnya terasa berat. So Yeon pun hilang kesadarannya. Tubuhnya lemas. Terlalu mengerikan membayangkan putrinya akan masuk dihalaman utama koran karena kasus pembunuhan atau sejenisnya.

“So Yeon’ah”. Suara itu sayup-sayup terdengar ditelinga So Yeon sebelum ia benar-benar pingsan.

~oOo~

Yeon Sung duduk bersila diatas tempat tidur milik Lu Han. ia sudah lebih dari 3 hari menginap disini. apartemen milik Lu Han. mengenakan pakaian yang Lu Han berikan untuknya.

Setibanya disini beberapa hari lalu, Yeon Sung dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan. Mau tak mau Lu Han menerimanya untuk menginap.

“Yeon’ah, kau tidak berniat untuk pulang kerumahmu?”. Tanya Lu Han.

Yeon Sung menggeleng. “aku tidak mau pulang jika mereka tidak merestui kita”.

Lu Han beranjak dari tidurnya, duduk dan memeluk tubuh Yeon Sung dari belakang. “aku sudah mengatakan padamu, aku akan menemui keluargamu nanti dan memohon agar mengizinkan kita tetap menjalin hubungan”.

“aku tidak percaya padamu”.

“kau ini, jika kau tidak percaya padaku, lalu kenapa kau tetap bertahan”.

Yeon Sung menoleh pada Lu Han. “aku – aku ingin kembali kerumahku bersamamu. Agar kau langsung melakukan permohonan”.

Lu Han berpikir sejenak. Ia memikirkan jika nanti ia dituduh sebagai penculik Yeon Sung, lalu ia dituntut. Bagaimana? “baiklah, besok kita kerumahmu”.

“benar?”.

Ting tong!

“ada tamu. Sebentar, aku periksa dulu siapa yang datang”. Ujar Lu Han, lalu beranjak untuk membukakan pintu bagi sang tamu. Yeon Sung hanya diam memandangi punggu Lu Han yang berjalan keluar kamar.

“dimana Yeon Sung?”.

Mata Yeon Sung membelalak mendengar suara itu. Chan Yeol. Kakaknya menemukan alamat apartemen Lu Han. “matilah aku”. Desis Yeon Sung.

“Yeon’ah!”.

Yeon Sung segera berdiri saat Chan Yeol menemukannya dikamar apartemen Lu Han. dengan langkah pasti Chan Yeol mendekati Yeon Sung. Menarik tangan gadis itu. “aku tidak mau pulang”.

“aku tidak akan membawamu pulang, tapi kita harus kerumah sakit”.

“aku tidak gila”.

Chan Yeol melemparkan tatapan membunuhnya pada Yeon Sung. “aku tidak mengatkan jika kau akan dibawa kerumah sakit jiwa. Eomma mu sakit keras. Dia ingin bertemu”.

“a-apa katamu?”.

~oOo~

Yeon Sung berlarian dikoridor panjang bercat putih ini. Airmata mengalir dipipinya. Ia pergi terlalu lama dan tanpa kontak. Ia tidak tahu jika ibunya mendadak sakit. Dari kejauhan dapat dilihatnya, ayahnya dan Hyo Min sedang menunggu diruang tunggu ICU.

Chan Yeol mengikuti Yeon Sung dari belakang. Yeon Sung tiba dihadapan ayahnya, bahunya naik turun tak teratur.

eomma eoddie?”.

Jung Soo hanya menoleh pada pintu ruang ICU yang masih terttutup rapat. Yeon Sung bergetar, takut-takut untuk menengok ke dalam sana. “eomma”. Lirihnya.

“masuklah jika kau ingin”. Suruh Jung Soo. Yeon Sung mengangguk pelan lalu membuka pintu.

Mendekati brankar So Yeon. “Yeon’ah”. Panggil So Yeon pelan, ia tersenyum simpul. “kau harus tumbuh menjadi gadis baik yang manis dan penurut. Kembalilah menjadi Park Yeon Sung yang manis”.

Yeon Sung mengangguk pelan. “ne, eomma. Kau juga harus sembuh, menyaksikan dan menjadi wali untukku nanti”.

“Chan Yeol adalah anak yang dibanggakan. Tapi, Yeon Sung adalah anak yang diinginkan oleh eomma dan appa nya”.

“tapi kenapa halmeoni tidak menyukaiku?”.

“kau hanya perlu merubah sikapmu, jangan arogan lagi. Bersikaplah seperti layaknya anak gadis”.

Yeon Sung diam. Mengingat kembali seberapa arogannya dirinya selama ini. Memang ia pernah mendengar percakapan nenenknya, yang mengatakan bahwa ia tidak menyukai bayi perempuan.

Maka dari itu, Chan Yeol lah yang dipercaya untuk meneruskan perusahaan nantinya. Selain Chan Yeol anak pertama laki-laki dikeluarga itu. Neneknya juga sangat membela dan menyayanginya.

Dalam lamunannya, Yeon Sung tidak sadar jika So Yeon perlahan menutup matanya. Suara nyaring mesin pendeteksi denyut jantung itulah yang membuatnya tersadar. So Yeon dalam keadaan kritis.

eo-eomma, eomma”. Panggilnya gemetar. Melihat wajah pucat ibunya dan mata yang terpejam itu. Bukan itu yang ia inginkan.

Dokter dan tim medis memasuki ruangan tersebut. Memeriksa keadaan So Yeon dengan seksama sebelum memvonis. Sedangkan Yeon Sung hanya membeku di ambang pintu. Menonton orang-orang berjubah putih itu melepas satu-persatu alat bantu medis dari tubuh So Yeon.

~oOo~

Chan Yeol mendekati tubuh lemah Yeon Sung yang kala itu terduduk didepan buffet. Masih mengenakan hanbok berwarna hitam setelah 3 hari ibunya meninggal. Chan Yeol menghela napas. Ia mengerti Yeon Sung pasti sangat terpuruk atas meninggalnya So Yeon.

“Yeon’ah, ayo kembali ke kamarmu”.

Yeon Sung menggeleng pelan. Terdapat lingkaran hitam dibawah matanya dan matanya terlihat bengkak. Hyo Min yang berdiri tak jauh dari sana, memberi isyarat pada Chan Yeol agar membopong Yeon Sung.

“ayo berdiri, biar ku gendong”.

Chan Yeol menarik tubuh Yeon Sung agar berbalik. Ia selalu kesini setiap pagi hingga Chan Yeol pulang. Yeon Sung hanya duduk memandangi poto So Yeon dibuffet. Ia bahkan masih mengenakan pakaian hitam.

“tolong siapkan air untuknya mandi”. Titah Hyo Min pada beberapa pelayan. Kemudian ia pun mengikuti Chan Yeol yang menggendong Yeon Sung dipunggungnya.

Chan Yeol tidak keberatan harus menggendong Yeon Sung terus setiap hari. Karena berat badan gadis itu turun beberapa kilogram akhir-akhir ini. Setibanya dikamar, Chan Yeol mendudukan Yeon Sung diatas tempat tidur.

“kumohon jangan seperti ini”. Pinta Chan Yeol sembari berjongkok dihadapan Yeon Sung.

eomma pergi. Karena aku menginginkan hanya ada 1 Nyonya Park dirumah ini”.

“tidak seperti itu Yeon’ah”.

“ini semua salahku”.

Hyo Min ikut berjongkok dihadapan Yeon Sung. Menggenggam tangan gadis itu. “Yeon’ah, kau ingat pesan terakhir ibumu padamu kan?”. Yeon Sung mengangguk. “terus-terusan merasa sedih seperti ini tidak ada gunanya, lebih baik jika kau melaksanakan apa yang ibumu minta”.

Yeon Sung diam. Kembali menjadi gadis manis dan penurut. Tidak arogan dan tidak membuat masalah. Tapi ia sudah lupa cara untuk menjadi gadis yang seperti biasa. Yeon Sung menatap Hyo Min dan Chan Yeol bergantian.

gomawo, eomma, oppa. Tetaplah bersamaku, aku terlalu takut untuk sendirian”.

Hyo Min tersenyum. Hampir ia menangis mendengar Yeon Sung memanggilnya ‘eomma’. Hyo Min mengangguk cepat. “tentu saja, Yeon’ah. Eomma akan menjagamu seperti putri eomma sendiri”.

“Nyonya, airnya sudah siap”. Ujar salah seorang pelayan.

“Yeon’ah, tetaplah menjadi adikku yang manis, mengerti”.

arasseo oppa. Karna kita adalah Park bersaudara, kan?”.

Chan Yeol mencubit kedua pipi Yeon Sung. Mengukir senyuman diwajah yang sudah bengkak itu. Ya, tentu saja mereka adalah Park bersaudara. Berbeda ibu, namun tetap dari ayah yang sama.

~THE END~

Well!

Ini sangat amat gaje sekali permirsah… kea comeback terpaksa gtu kan XD yahh ngetiknya juga ngebut eerrr dari kemarin sih. Hehee… akibat gagal comeback pake FF 1 nya ini :”D

Sokk yang mau comment, ya comment… yang nggak mau yaudah.

Terima kasih XD

Iklan

One thought on ““Park Sibling” ONESHOOT

  1. Keren cerita famsny , gak nyangka jg kalau emakny yeon sung yg meninggal , akhrny bnar” ada 1 nyonya park di rumah itu 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s