FanFict “Baby Inside” Oneshoot


Baby Inside - Poster

Tittle                : Baby Inside

Author             : Lee Arni a.k.a Kyo

Main cast         :

  • Do Kyung Soo
  • Wu Mi Ya (OC)

Other               :

  • Find by yourself

Genre              : Angst, Romance, Marriage life.

Length             : Oneshoot

Hoooii… hallo… annyeonghaseyo 😀

Sehubungan besok tgl merah.. jadi Kyo post FF nya hari ini yaaaaa XD

Teaser

oOoOo

Apartemen KyungMi

pertama-tama Kyo mau kasih denah apartemen KyungMi yaa.. biar readers bisa bayangin pergerakan mereka 😉 Sekiranya kea ini lah XD untuk perabotan lain, bisa dibayangkan sendiri… Kyo yakin readers Kyo pinter kabeh yekan XD

Winter, November 2018

Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan

Do Kyungsoo part of view

Pagi ini. Seperti biasa –maksudku selalu terjadi selama kurang lebih 1 bulan ini, Mi Ya tak ada saat aku terbangun. Entah jam berapa sebenarnya ia bangun, terkesan seperti menghindariku. Begitu pula ketika aku masuk kamar pada malam hari, biasanya ia sudah tertidur.

Jika kalian bertanya, siapa Mi Ya? Ia adalah istriku. Wanita yang usianya 3 tahun dibawahku. Kami menikah tahun lalu, dimusim gugur.

Menghadap ke dinding. Aku heran, mengapa ia sangat suka menghadap ke dinding? Apa disana terdapat slide show Kilua Zaoldyeck –tokoh anime favorite nya? Yang jelas ia sungkan menghadap padaku.

Segera aku bangun dari tempat tidur. Keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Mi Ya tampak sibuk menata meja makan. Aku tak ingin menganggunya, lantas masuk ke kamar mandi.

Selesai berpakaian rapi dan siap pergi bekerja. Aku keluar dari kamar dan Mi Ya sudah duduk manis di meja makan. Jangan kira jika ia menyambut ku dengan senyuman hangat di pagi hari.

good morning”. Gumamnya, hanya itu.

Aku tersenyum kecut. Lalu duduk di kursi seberangnya. “hmm… morning”.

Ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Bukan Mi Ya yang kumaksud. Melainkan, poto abu-abu hasil print out USG bayi kami sudah tidak tertempel di pintu kulkas. Lalu kursi bayi yang terletak di sisi kiri ku sudah tak ada.

“aku ingin ke apartemen Yeon Sung”.

“perkara apa?”.

“tidak ada. Aku ingin membuat kimchi bersamanya”.

Aku mengangguk. Senang sebenarnya. Setelah sebulan lebih ia hanya berdiam diri di apartemen, akhirnya ia mau keluar. “ingin pergi bersamaku?”.

Mi Ya menggeleng. Ia tak pernah menatap mataku lagi. “tidak perlu. Mungkin Yeon Sung akan menjemputku”.

“begitu? Baiklah”.

Suasana kembali hening. Kami bedua sama-sama sibuk dengan acara sarapan pagi. Hambar. Bukan masakan yang dibuat Mi Ya yang terasa hambar. Tapi – suasana hening seperti ini. Ia pun tak terlihat bersemangat mengunyah makanan.

“aku pergi dulu”. Pamitku. Ku lihat Mi Ya hanya mengangguk.

~oOo~

Author part of view

Sepeninggalan Kyung Soo. Mi Ya menghentikan aktivitas makannya. Lalu sebutir airmata turun begitu saja dari pelupuk matanya. Lama-kelamaan berubah menjadi sebuah tangisan dengan isakan kesedihan.

mi-mianhae… naega – mianhae”. Gumamnya dalam tangisan itu.

Menyembunyikan tangisannya didepan Kyung Soo. Ia hanya tak ingin melihat Kyung Soo semakin terbebani, jika melihat istrinya menangis. Tentu saja.

Sebenarnya datang ke apartemen Yeon Sung, bukan keinginannya. Namun Yeon Sung yang memaksa. Dengan alasan ‘merindukan’ Mi Ya, akhirnya ia mau untuk datang.

Cukup lama Mi Ya menangis. Hingga ia lelah untuk terus tersedu dan diam. Menarik napas panjang. Menangis setelah Kyung Soo berangkat bekerja adalah rutinitas nya sejak sebulan yang lalu.

Aneh.

Tapi ia belum bisa menghentikan hal itu. Melihat senyuman terpaksa diwajah Kyung Soo, sungguh, membuatnya semakin ingin menangis.

~oOo~

Summer, August 2018

Kalian tahu apa hal yang membuat kehidupan menjadi lengkap? Selain kebahagian berupa materi?

Ya – bertemu dengan pria yang mencintaimu dengan tulus, lalu menikah dan mengandung. Setelah itu melahirkan dan mengurus keluarga. Itu adalah hal yang tak sebanding dengan materi.

Menikah pada Oktober 2017, pasangan ini akhirnya mendapat kabar bahagia beberapa bulan sebelum ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.

oppa –“.

Saat itu mereka tengah duduk bersama sambil menonton televisi, acara favorite mereka. Mi Ya tampak ragu untuk meneruskan kata-katanya.

“ada apa? Kau sakit?”.

Mi Ya menggeleng cepat. Matanya berkedip cepat. Jantungnya pun sama. “bagaimana aku harus memberitahu ini padamu?”.

“bagaimana? Hal seperti apa yang ingin kau sampaikan?”

“aku bingung –“.

Kyung Soo terkekeh. Lantas memutar tubuhnya, menghadap pada istrinya. “give me a clue”. Permainan lama kala Mi Ya susah untuk menyampaikan sesuatu padanya.

no period and 2 lines”.

Kyung Soo berpikir sejenak. Ia tidak cukup bodoh untuk menebak clue itu. Lalu ia tersenyum lebar. Bahagia dan lucu. Lucu melihat mimik wajah was-was Mi Ya. “kau terlihat khawatir, padahal kau punya suami”.

“aku hanya bingung harus bagaimana?”.

“kita kerumah sakit”.

Mi Ya membelalak. Matanya 2 kali lebih besar dari Kyung Soo sekarang. Entah apa yang membuatnya terkejut hingga matanya membesar seperti itu. “MWO? CHIGEUM? WAE?”. Teriak nya.

Lihatlah Mi Ya, bahkan teriakanmu mengagetkan Kyung Soo.

“kenapa kau berteriak seperti itu?”.

“memangnya kenapa kita harus kerumah sakit?”.

“tentu saja memeriksakan untuk mengetahui kebenarannya, chagiya”.

Mi Ya tersenyum konyol. Benar. Ah, dia saja yang terlalu sensitif. Apa semua wanita yang baru hamil seperti itu, seperti Mi Ya barusan? Ini yang membuat Kyung Soo sangat menyayangi istrinya. Kyung Soo menjulukinya ‘wanita langka’.

Print out USG yang pertama.

Kyung Soo langsung menempel poto abu-abu tersebut di pintu kulkas apartemen mereka sepulangnya dari rumah sakit. Sangat bahagia meskipun bentuk penampakan bayi itu belum nampak jelas. Hanya berubah garis seperti pasir. Terdapat gumpalan bayi usia 6 minggu dipoto ini, dirahim istrinya.

oppa, kau berharap bayi kita laki-laki atau perempuan?”.

Kyung Soo merangkulkan tangannya ke pundak Mi Ya. “laki-laki atau perempuan, akan sama saja. Dia tetap anakku”.

Kata-kata terindah kedua yang Kyung Soo ucapkan –versi Mi Ya. Yang pertama adalah ketika pria itu memintanya untuk menjadi istri. Lalu Mi Ya membalas dengan memeluk Kyung Soo dengan kedua tangannya.

~oOo~

Wu Mi Ya part of view

Seharusnya aku bisa lebih hati-hati. Seharusnya aku masih memiliki bayi itu. Oh Tuhan ~ mengapa aku sangat ceroboh hingga kehilangan bayiku sendiri. Bahkan belum bisa disebut bayi. Tapi – aku membuatnya keluar dari rahimku.

Aku selalu menangis.

Menangisi janin berusia 12 minggu. Menangisi kecerobohanku. Dan menangis karena sikap dingin Kyung Soo oppa padaku. Baiklah, memang semuanya salahku. Wajar jika Kyung Soo oppa sangat kecewa.

Seperti yang kukatakan pada Kyung Soo oppa pagi tadi. Siang ini aku pergi ke apartemen Yeon Sung, di Yeoksam-dong. Yeon Sung sudah menikah, ditahun yang sama denganku tetapi ia lebih dulu 4 bulan.

Ting Tong~

Tak menunggu lama, seorang pria yang kuyakini adalah suami Yeon Sung membukakan pintu untukku. Aku tidak mengenal siapa suami Yeon Sung, karena aku tidak datang di acara pernikahan mereka. Dan kami belum pernah bertemu. Pria itu tersenyum lebar lalu mempersilahkanku masuk.

eo, Mi Ya’ya, kau sudah datang. Kupikir kau tidak jadi datang”. Sambut Yeon Sung dari arah meja makan.

“eey, bukankah sudah kukatakan aku akan datang, walau sedikit terlambat”. Sahut ku. Langsung duduk di kursi seberangnya.

Dimeja itu di penuhi oleh sayuran yang akan diolah menjadi kimchi. Baiklah, aku memang tidak pandai membuat makanan wajib orang Korea itu. Karena aku berasal dari Guangzhou. Lalu Yeon Sung selalu mengajak ku untuk membuat kimchi bersama sejak kami kuliah.

“Mi Ya’ya, ini suami ku, Lu Han. dia dari Beijing”. Yeon Sung memperkenalkan suaminya padaku.

annyeong, Mi Ya’ssi”. Ujar pria yang bernama Lu Han itu. Ia duduk disamping Yeon Sung.

Aku hanya membungkuk sedikit padanya. Jadi dia sama seperti ku, berasal dari Tiongkok. Gumamku dalam hati.

“Kyung Soo oppa tidak mengantarmu?”. Tanya Yeon Sung sambil terus melakukan kegiatannya melumuri sawi putih dengan garam.

“tidak. Dia sibuk bekerja”. Jawabku seadanya. Lantas mengambil sarung tangan plastik dan ikut membantunya. Romantis sekali, bahkan Lu Han tidak pergi bekerja hari ini karena Yeon Sung ingin belanja untuk membuat kimchi. Umpatku dalam hati.

~oOo~

Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan

Author part of view

Kyung Soo baru saja masuk ke kamar selesai mandi. Sementara Mi Ya menyimpan kimchi yang ia buat bersama Yeon Sung tadi siang ke lemari. Tak ada dialog diantara mereka.

Ting tong~

Segera Mi Ya membukakan pintu.

eommonim?”. Desisnya.

Seorang wanita paruh baya bersama seorang gadis. Ibu mertuanya dan entahlah, Mi Ya tak mengenal siapa gerangan gadis yang bersama ibu mertuanya saat ini. Tak menunggu menantunya mempersilahkan masuk, wanita itu pun masuk.

“dimana anakku?”. Tanyanya dengan nada seperti biasa, tak suka pada Mi Ya.

“dikamar. Sebentar ku panggilkan”. Mi Ya bergegas ke kamar. Sementara ibu mertuanya bersama gadis tadi duduk di shofa depan televisi.

Kyung Soo keluar dari kamarnya. Dengan Mi Ya mengekor dibelakangnya. “eomma, kenapa kesini dimalam hari?”.

“aku bisa kesini kapanpun aku mau. Kau tidak suka ibumu datang, hmm?”. Sahut ibunya.

“bukan begitu”.

“kau selalu bekerja disiang hari, jadi eomma sengaja datang malam”.

Sampai saat ini Mi Ya hanya menguping pembicaraan mereka dari meja belakang. Sekedar berbasa-basi dengan membuatkan ibu mertuanya minuman. Oh – tak lupa dengan gadis yang entah siapa itu.

“jadi, kapan kalian akan berencana untuk memiliki anak?”.

“oohh –“. Tiba-tiba saja tangan Mi Ya kaku mendengar ucapan ibu mertuanya. Hampir saja ia menjatuhkan gelas di atas meja, tepat di hadapan ibu mertunya sekarang. “choseumnida”.

aigoo ~ lihatlah betapa cerobohnya dia”. cibir ibu mertuanya. “eomma sengaja mengajak Na Eun kesini. Mungkin saja kau ingin mengobrol dengannya”.

Kyung Soo terlihat tidak berselera. Dan gadis yang ternyata bernama Na Eun itu tersenyum pada nya. Pada suami Mi Ya. Ya, siapa lagi. “mengobrol mengenai apa?”. Kyung Soo menanya.

“tentang apa saja”. Jawab ibunya. “Mi Ya, sebaiknya kita menyiapkan makan malam. Sepertinya kau jarang membuatkan makan malam untuk suamimu”.

“baiklah”. Jawab Mi Ya lesu.

Di dapur. Mi Ya menjadi kikuk sendiri. Baiklah, diakuinya jika ia tak pandai memasak. Apalagi makanan Korea. Ditambah lagi keberadaan ibu mertuanya tepat di sebelahnya saat ini.

“kalian punya kimchi? Jangan bilang kau tidak membuatnya?”.

“kami punya. Aku membuatnya tadi”.

Mi Ya bergegas membuka lemari tempatnya menyimpan kimchi tadi. Mengeluarkan kimchi itu. Bersyukur, tidak sia-sia ia datang jauh ke apartemen Yeon Sung untuk membuat ini. Mi Ya lega.

“sudah berapa lama kita tidak bertemu?”.

“aku tidak ingat. Terakhir kita bertemu adalah sebelum masuk SMA, kan?”.

Na Eun mengangguk membenarkan perkataan Kyung Soo. “sudah sangat lama. Aku minta maaf karena tak bisa hadir diacara pernikahanmu”.

“tidak apa. Kau sendiri kapan menikah?”.

Pertanyaan Kyung Soo membuat Na Eun menunduk. Entah eskpresi tersipu atau apa. “sebenarnya aku ingin segera menikah, tapi sepertinya pria itu memiliki orang lain”.

“kau cari saja pria lain. Di Korea ada banyak pria yang cocok untukmu”. Sahut Kyung Soo sekenanya.

Ingin rasanya Mi Ya terbahak mendengar ucapan suaminya itu. Benar, mengapa harus berfokus pada 1 pria yang jelas-jelas sudah memiliki orang lain? Kau boleh bertahan pada pria itu kalau kau sudah tidak waras. Umpat Mi Ya.

“aku belum menemukan pria yang cocok”. Balas Na Eun lagi. Kali ini dengan wajah kecewa.

Di belakangmu adalah dinding kedap suara. Mengapa tak kau hantamkan saja kepalamu kesana? Pekik Mi Ya dalam hati. Geram dengan tingkah gadis itu.

“ada apa denganmu? Kau seperti sedang kesal dengan sesuatu? Kau tidak suka aku berkunjung kesini?”. Tanya ibu mertuanya melihat gelagat Mi Ya yang aneh.

“bukan begitu. Aku hanya sedang – sakit perut. Ya, aku sakit perut”. Elak Mi Ya.

“kau harus menjaga kesehatan. Cepat hamil lagi”.

Mi Ya mengangguk pelan. Menggigit bibirnya sendiri. Hamil lagi, ya? Bahkan ia tak pernah berpikir untuk itu sejak kehilangan bayi pertamanya. Ia sangat takut kala melihat darah mengalir di kakinya.

Bahkan memikirkannya saja membuatnya gemetar.

~oOo~

Summer, October 2017

Malam ini seharusnya Kyung Soo lembur kerja. Namun tak jadi karena Mi Ya mengeluh sakit perut. Tak ingin membayangkan hal yang tidak-tidak. Kyung Soo hanya berdoa agar istri dan janin yang bersemayam di rahim istrinya itu baik-baik saja.

Secepat mungkin ia masuk ke apartemennya. Mencari-cari sosok Mi Ya. Dan menemukan wanita itu tengah tidur, tidak, ia tidak tidur. Hanya memejamkan matanya dengan kening berkerut menahan sakit.

chagiya”.

Segera Kyung Soo menghampiri tubuh wanita yang terbalut selimut itu. Dahinya berkeringat. Sakit berpusat di perutnya. Bahkan ia hampir pingsan menahan sakit yang teramat sangat itu.

“kita kerumah sakit sekarang. Kau bisa berdiri?”.

Mi Ya membuka matanya. Ingin menangis saja melihat raut wajah khawatir suaminya. Namun perlahan ia menyibak selimut itu. Lalu berusaha bangun, dibantu oleh Kyung Soo.

gwaenchana, aku bersamamu. Hmm?”.

Mi Ya mengangguk. Ada hal yang ingin ia sampaikan, tapi kata-kata itu tercekat di lehernya. Hingga Kyung Soo menuntun nya berjalan.

“Aaakh!”. Ringis Mi Ya tertahan. Memegangi perutnya. Meremas baju yang berada di depan perutnya.

wae?!”. Tanya Kyung Soo panik. Ia menunduk dan melihat darah mengalir di kaki Mi Ya. Wajah wanita itu semakin pucat. Bibirnya bergetar. Penglihatannya buram. Tubuhnya limbung dan akhirnya ia pingsan.

Kyung Soo terdiam. Menunggui istrinya kembali sadar. Tangannya menggenggam erat tangan kanan milik Mi Ya. Hal yang membuatnya bertanya-tanya adalah mengapa istrinya bisa keguguran? Haruskah ia menanyakan hal itu ketika Mi Ya sadar nanti?

Tidak.

Ia tahu bagaimana wanita itu terluka jika mengetahui janin nya gugur begitu saja. Tak begitu lama. Ibu Kyung Soo pun datang. Sekedar menengok keadaan menantunya.

eomma”.

“apa yang terjadi?”. Tanya ibu Kyung Soo sinis. Melirik pada istri putranya yang masih belum sadarkan diri diranjang rumah sakit ini.

“sepertinya kami belum ditakdirkan untuk memiliki bayi”.

“sejak awal ibu sudah tidak menyukainya. Bisa apa gadis lulusan seni itu? Lihat apa yang telah ia lakukan hingga keguguran?”.

Kyung Soo berdiri. menatap ibunya. “eomma, jangan berkata seperti itu di tempat ini”.

“ah, terserah kau saja. Ada banyak gadis lain menunggumu diluar sana. Gadis yang lebih baik dari Mi Ya tentunya”.

Kyung Soo diam. Menatap Mi Ya. Tak peduli saat ibunya berpamitan pulang. Datang kerumah sakit bukan untuk memberikan rasa prihatin pada menantunya. Kyung Soo kembali duduk.

Mi Ya membuka matanya saat Kyung Soo pergi keluar sebentar. Sebenarnya ia sudah sadar sejak ibu mertuanya datang. Ya, dia mendengar cemooh dari wanita tua itu tentang dirinya.

“Kyung Soo oppa pasti sangat sedih. Semua ini salahku. Mungkin tidak lama lagi Kyung Soo oppa akan meninggalkanku”. Ujarnya pelan.

Airmata mengalir dari sudut matanya. Tadi siang, entah keinginan darimana hingga ia bersepeda di taman dekat apartemennya. Dan ia terjatuh karena menghindari menabrak kucing yang lewat secara tiba-tiba.

Tak tahu kalau akan berakibat fatal pada kandungannya.

~oOo~

Winter, November 2017

“siapa gadis itu?”. Tanya Mi Ya ketika ibu mertuanya dan gadis bernama Na Eun itu pulang.

“temanku”.

Hanya itu yang Kyung Soo jawab. Mi Ya mengangguk. Jika seperti ini, ia tak mau banyak bertanya lagi pada Kyung Soo. Ia terus memperhatikan gerak-gerik Kyung Soo. Namun menghindari kontak mata jika Kyung Soo menyadari Mi Ya memperhatikannya.

“ada sesuatu yang kau khawatirkan?”.

Mi Ya terkejut mendengar pertanyaan itu. Ya! Tentu aku sangat khawatir Kyung Soo. Pekik batin Mi Ya. “a-aniyo. Dia cantik. Apa kau menyukainya?”.

“kenapa bertanya seperti itu?”.

“hanya bertanya”.

Mi Ya menunduk. Ia pun tak tahu mengapa bertanya seperti itu barusan. Dengan gerakan kaku, Mi Ya beranjak masuk ke kamar. Meninggalkan Kyung Soo yang sepertinya masih ingin menonton televisi.

Namun salah.

Kyung Soo mematikan televisi dan mengekor di belakang Mi Ya. Membuat wanita itu bingung harus bergerak kemana. Padahal ia sudah menjadikan ranjang sebagai targetnya untuk menghindari Kyung Soo.

Bodoh.

Justru benda besar ini menjadi benda yang menyatukannya kembali dengan Kyung Soo. Mi Ya segera berbaring. Kyung Soo mengikuti apa yang ia lakukan.

“katakan padaku, apa kau mengkhawatirkan sesuatu?”.

“tidak. Sungguh”.

“aku tahu kau mengkhawatirkan sesuatu”. Kyung Soo masih bersikeras memaksa Mi Ya untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini. Mengungkapkan hal yang mengganggu pikirannya.

“apa kau berpikir untuk berpisah dariku?”.

Deg!

Kyung Soo diam. Tidak. Tidak. Jangan diam. Katakan sesuatu. Jangan membuat wanita bodoh ini salah paham dalam kediamanmu Kyung Soo!

“bisa aku beristirahat sekarang?”.

Kyung Soo tersadar dari lamunannya. Memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada pertanyaan Mi Ya. Kyung Soo mengangguk mengiyakan.

jaljha”.

Tak lama setelah mengucapkan itu. Mi Ya memejamkan matanya. Berbalik memunggungi Kyung Soo seperti biasa. Sementara pria itu masih memikirkan ‘apa benar ia menginginkan sebuah perpisahan?’.

“aku tak ingin berpisah secepat ini. Kau dengan aku?”. Bisik Kyung Soo.

~oOo~

“kau tidak seharusnya bersamaku”. Ujar Kyung Soo. Membuat Mi Ya membelalak terkejut. Bagaimana ia bisa berkata seperti itu, padahal semalam ia membisikan jika ia tak ingin berpisah.

“tapi – tapi kenapa?”.

“aku seharusnya mendengarkan kata-kata eomma. Aku ingin bersamanya”.

Lalu seorang wanita cantik muncul dari belakang Kyung Soo. Mi Ya mengenal wanita itu. Na Eun, wanita yang semalam datang ke apartemennya bersama ibu mertuanya.

ani – aniyaaa!!!”. Pekik Mi Ya.

Mi Ya terperanjat. Bangun dari tidurnya dan langsung duduk.

“hanya mimpi? Tapi mengapa sangat menyeramkan? Bahkan lebih menyeramkan dari mimpi di kejar hantu”.

Mi Ya merenggangkan otot lehernya. Kesiangan lagi. Kyung Soo sudah pergi bekerja sekitar setengah jam yang lalu. Dan ia baru bangun. Merutuki dirinya sendiri. Mengumpatkan dirinya sendiri. Karena tidak bisa jadi istri yang baik untuk Kyung Soo.

Mi Ya melangkah keluar kamar. Pertama-tama, mengambil segelas air putih untuk menyiram tenggorakannya yang sedikit tercekat karena mimpi buruk itu.

Ting tong ~

“siapa yang bertamu sepagi ini?!”. Umpat Mi Ya kesal.

Dengan langkah yang sangat malas. Meletakkan gelas air nya di meja depan televisi. Membuka pintu bagi si tamu yang entah siapa itu.

eo, annyeonghaseyo”. Sapa wanita itu –Na Eun seraya membungkuk pada Mi Ya.

“Kau? Kenapa datang lagi?”.

“kau tidak mempersilahkan tamu mu masuk dulu?”.

Mi Ya bersungut kesal. Akhirnya ia membiarkan Na Eun masuk. Meski sangat tak ikhlas. Jika saja wanita ini bukan teman Kyung Soo, pasti ia tak akan mengizinkannya masuk –lagi. Masih teringat dengan mimpinya.

“ada keperluan apa? Kyung Soo oppa sudah berangkat bekerja”. Ujar Mi Ya sinis.

“kenapa nada bicara mu seperti itu?”. Na Eun menanya sambil tersenyum miring. Meremehkan. Tanpa disuruh ia langsung mendudukan dirinya di shofa.

“seperti itu bagaimana? Aku memang seperti ini? Kenapa?”.

Na Eun mendengus. Sedikit terkekeh. Lalu menatap Mi Ya tak suka. “apa yang membuat Kyung Soo menikahimu? Kau pasti mengejar-ngejar dirinya? Apa aku benar? Atau jangan-jangan kau menyerahkan tubuhmu terlebih dahulu?”.

“yyak! Jaga bicaramu?”. Mi Ya emosi. Mengepalkan kedua tangannya.

“jika itu tidak benar. Kau tidak perlu marah. Jika kau marah, berarti itu benar”.

“diam kau!”.

Entah sejak kapan Mi Ya kembali menggenggam gelas air minum nya tadi. Lalu secara reflek ia menyiramkan isi gelas itu kepada Na Eun.

“yyak! Aishh jinjja!”.

Plakk!

Na Eun membalas dengan menampar pipi kiri Mi Ya. Tak suka orang lain menyentuh ataupun menyakitinya. Mi Ya mendorong Na Eun hingga wanita itu kembali terduduk di atas shofa. Lalu ia pun mencekik Na Eun. Meski tak begitu kuat. Tetap saja membuat Na Eun kesulitan bernapas.

“Mi Ya’ya! Hentikan!”.

Ruangan kepala Mi Ya terlalu dipenuhi oleh emosi. Sampai-sampai ia tak sadar jika Kyung Soo berada diruangan itu. Kyung Soo kembali ke apartemen ketika menerima telpon dari ibunya yang mengatakan bahwa Na Eun ke apartemen nya.

“Kyung Soo tolong – istrimu ingin membunuhku”.

Kyung Soo marah. Mi Ya tahu itu. Sejak Kyung Soo meneriakinya tadi. Mi Ya mengendurkan cengkraman tangannya pada leher Na Eun.

oppa”.

Kyung Soo tak peduli keterkejutan Mi Ya karena kehadirannya. Ia langsung menarik Mi Ya agar berdiri dari atas tubuh Na Eun. Menatap Mi Ya dengan tajam. Tatapan yang sama seperti yang Mi Ya lihat saat ia menceritakan mengenai dirinya yang terjatuh dari sepeda.

~oOo~

Seminggu setelah kejadian itu.

Kyung Soo bersikap semakin dingin pada Mi Ya. Sehari pun mereka tahan tanpa dialog. Keadaaan yang membuat Mi Ya frustasi. Belum lagi memikirkan ibu mertuanya. Lalu wanita bernama Na Eun itu.

Lalu malam ini, Mi Ya keluar dari apartemennya. Sekedar untuk berjalan-jalan dipinggiran kota. Sudah hampir tengah malam, dan Kyung Soo belum pulang.

Bosan.

Mi Ya bosan berjalan mengelilingi apartemennya. Dan lagi – mungkin Kyung Soo tak akan pulang malam ini. Mungkin dia tidur dirumah Na Eun. Mungkin dia pergi ke night club. Mungkin saja. Ya, itu mungkin. Mi Ya mulai berpikiran macam-macam.

“hey, kau Mi Ya?”.

Mi Ya mengangkat kepalanya mendengar seseorang menyebut namanya. Suara yang tak asing baginya.

“Baek Hyunie?”.

Pria itu –Byun Baek Hyun tersenyum lebar lantas duduk disebelah Mi Ya. Merasa tak canggung meski status mereka adalah mantan kekasih, kala mereka kuliah dulu.

“tanpa diduga kita bertemu lagi”.

“hmm… padahal aku tak ingin bertemu denganmu”.

“ck! Eey, matamu mengatakan jika kau merindukanku”. Baek Hyun mencubit-cubit pipi Mi Ya gemas.

“mata digunakan untuk melihat, Baek. Setelah lebih dari setahun tidak bertemu. Kau tetap bodoh”. Ledek Mi Ya.

Mereka pun berceloteh panjang lebar. Tak peduli jam terus berputar. Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Ya, selain karena ini musim dingin. Terlihat hanya ada beberapa org lagi yang berkeliaran diluar.

“jadi begitu. Kupikir kalian hidup bahagia”.

“kami bahagia, Baek. Sangat. Sebelum aku melakukan kecerobohan itu”.

Mi Ya tak bisa menahan bebannya sendirian. Mungkin Baek Hyun adalah orang yang tepat untuk mendengarkan ceritanya. Cerita rumah tangganya dan Kyung Soo.

“sudahlah. Jangan menangis. Semuanya akan baik-baik saja”. Baek Hyun tak bisa melihat apalagi sampai membiarkan seorang wanita menangis dihadapannya. Lantas ia merangkul pundak Mi Ya.

“Mi Ya’ya!”. Suara lantang Kyung Soo menyadarkan Mi Ya maupun Baek Hyun. “tsk! Kembali ke mantan pacarmu?”.

op-oppa”.

Baek Hyun berdiri. ia lebih tak suka jika ada seorang pria yang meneriaki seorang wanita. “kau ingat apa yang kau katakan padaku saat hari pernikahan kalian?”.

Kyung Soo menatap Mi Ya tajam. Kemudian menatap Baek Hyun. “jangan mencampuri urusan keluargaku”.

“kau mengatakan jika kau tak akan menyakitinya, menyayanginya lebih dari aku meyayanginya dulu, menjaganya dan tidak akan membuatnya menangis”.

“Mi Ya’ya, ayo pulang”. Tak peduli dengan perkataan Baek Hyun. Kyung Soo beringsut menarik tangan Mi Ya.

“dan tidak memperlakukannya dengan kasar”.

Kyung Soo menggenggam erat tangan Mi Ya. Emosi nya memuncak saat mendengar ocehan Baek Hyun. “aku tahu apa yang harus ku lakukan. Dia istriku”.

Baek Hyun berdecak. Membiarkan Kyung Soo membawa pulang Mi Ya. Meski ia khawatir. Khawatir dengan keadaan Mi Ya. Wanita itu pasti sangat ketakutan saat ini.

~oOo~

Kyung Soo baru melepaskan genggamannya ketika mereka tiba di kamar apartemen. Kyung Soo membalikkan tubuhnya. Menatap tubuh gemetar Mi Ya. Selain karena kedinginan, ia juga ketakutan.

“kau tahu – hal yang mendebarkan bagiku adalah saat aku kembali ke apartemen dan istriku tidak berada ditempat. Lalu ketika aku mencarinya, ia sedang bersama orang lain. Menangis dipundak orang lain. Terlebih lagi orang itu adalah seorang pria yang merupakan mantan kekasihnya”. Ucap Kyung Soo panjang lebar.

Selama perjalanan kembali ke apartemen, ia menyimpan semua kekesalannya.

“aku tidak sengaja bertemu dengannya”.

“lalu kau menangis karena kau merindukannya, begitu?”.

aniyo!”. Seru Mi Ya. Keningnya berkerut. Ia juga ingin mengutarakan kekesalannya. Perkara Kyung Soo yang pergi hingga larut malam. “kau – pergi bertemu Na Eun? Apa kau bisa menjelaskan padaku, kenapa kau pulang begitu larut?”.

Kyung Soo menghela napas. Benar. Ia pun pulang larut dan tak memberi kabar pada Mi Ya.

“aku tahu kau tidak menginginkanku lagi”. Ujar Mi Ya pelan namun tegas.

“tidak begitu”.

“jika kau ingin meninggalkanku dan pergi bersama wanita lain. Silahkan!”.

“astaga. Tidak begitu!”.

“kalau begitu akhiri saja semuanya!

PRAAANG!

Kyung Soo melayangkan kepalan tangan kanan nya kearah kaca yang menempel di lemari pakaian tepat dibelakang Mi Ya. Mi Ya diam. Tak berkedip. Jantungnya berhenti beberapa saat. Sebelum akhirnya ia tersadar kembali.

Kyung Soo menarik kembali tangannya. Kaca itu tidak hanya retak, tetapi hancur. Begitupun dengan ruas jari Kyung Soo. Terluka akibat beberapa pecahana kaca menyayat kulitnya. Kyung Soo menggerakkan tangannya, hendak menyentuh Mi Ya.

Wanita itu bergeser kesamping. Menghindari tangan Kyung Soo menyentuhnya. Ia takut. Takut jika setelah ini ia lah yang akan jadi sasaran kekesalan Kyung Soo. Melihat sikap Mi Ya, Kyung Soo seolah mengerti dan berjalan mundur. Terduduk di ujung ranjang.

~oOo~

Tak peduli dengan tangannya yang terus mengeluarkan darah.

Tak peduli dengan rasa perih ditangannya.

Kyung Soo hanya diam. Menunduk. Mengingat tindakan yang ia lakukan pasti membuat Mi Ya sangat shock. Dan Kyung Soo baru mengangkat kepalanya lagi, saat melihat air hangat didalam sebuah mangkuk besar diletakkan dilantai serta handuk kecil didalamnya.

Kyung Soo hanya diam saat Mi Ya menarik tangannya pelan. Membersihkan darah yang keluar dari bagian kulit yang terbuka. Setelah itu ia membalut tangan Kyung Soo dengan perban.

Tak ada yang memulai pembicaraan. Hanya tangan Mi Ya yang terampil membalut luka Kyung Soo. Dan mata Kyung Soo yang memerhatikan tiap gerakan Mi Ya.

Setelah melakukan kegiatannya. Mi Ya membereskan kotak obat serta mangkuk besar yang ia bawa tadi.

“Mi Ya’ya”.

Mi Ya menghentikan langkahnya ketika Kyung Soo memanggilnya. Ia ragu untuk menoleh. Tapi keraguannya itu ditepis oleh Kyung Soo. Pria itu memutar tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan kini.

Kyung Soo mengambil alih mangkuk yang Mi Ya pegang. Meletakkan mangkuk itu di atas meja rias.

mianhae. Aku sangat tidak suka saat kau menangis dihadapan orang lain karena diriku. Aku ingin kau membagi bukan hanya kebahagiaan bersamaku, tetapi juga kesedihan”.

“aku memang salah, oppa. Kau boleh marah padaku”.

“tidak. Tidak begitu. Dengarkan aku dulu”. Kyung Soo menatap dalam mata Mi Ya. Meski wanita itu terkesan menghindari kontak mata. “aku juga bersalah. Bersalah karena saat kita kehilangan bayi itu – aku tak pernah memperhatikanmu lagi. Sebenarnya bukan itu yang ingin ku lakukan. Kau tahu, aku benar-benar merasa bersalah”.

“tidak. Aku memang gadis yang ceroboh. Berbuat sesuka hatiku”.

Kyung Soo menangkup wajah Mi Ya. Menggelengkan kepalanya cepat. Ibu jarinya ia gunakan untuk mengusap pipi dingin Mi Ya. Ia yakin jika wanita itu menangis –lagi saat ia memukul kaca hingga pecah.

“Jangan mengatai dirimu sendiri. Jangan menangis di belakangku. Jika kau ingin, menangislah dipelukanku. Aku adalah satu-satunya pria setelah kakakmu, yang pantas menampung dan mengusap airmatamu”.

Mi Ya diam. Tidak menjawab juga tidak mengangguk. Benarkah? Apa boleh ia menangis dihadapan Kyung Soo? Apa Kyung Soo tidak akan terluka melihat airmatanya turun dengan mudah dari pelupuk mata?

Kyung Soo menempelkan bibirnya di bibir Mi Ya. Terselip sebuah senyuman disana. Setelah lama ia tak menyapa bibir ini, akhirnya ia bisa kembali mencium istrinya. Sebuah ciuman kerinduan. Memeluk tubuh Mi Ya erat.

Oh – entahlah, rasanya sangat menyakitkan ketika merindukan orang yang sebenarnya tak pernah pergi jauh darimu.

Sepersekian detik berikutnya, Mi Ya mulai merespon dengan membalas ciuman Kyung Soo. Sangat pelan. Sejujurnya ia juga tersiksa karena merindukan Kyung Soo. Pernikahan yang terasa canggung hanya karena tragedi sialan itu.

Rasanya aneh. Bibirnya terasa lebih manis sekarang. Atau mungkin karena aku sudah lama tak menciumnya. Kyung Soo mengguman didalam hatinya.

Lupakan soal Na Eun.

Lupakan soal Baek Hyun.

Saat ini hanya perlu memikirkan pernikahan mereka. Ya, bagaimana jika memiliki bayi lagi? Mi Ya merinding jika memikirkan hal itu.

Oh – bagaimana ini? Apa yang akan terjadi? Sial! Bibirku tidak bisa lepas dari Kyung Soo meski sudah tersenggal-senggal. Bahkan aku bertingkah seperti seorang perawan. Rutuk Mi Ya dalam hati.

~oOo~

Mangkuk besar berisi air kemerahan, masih berada diatas meja dimana Kyung Soo meletakkannya semalam. Lampu apartemen masih menyala. Jarum panjang jam sudah berada tepat diangka 8 dan jarum pendek sudah melewati angka 6.

Namun apa yang terjadi? Penghuni apartemen masih asik dengan alam bawah sadar mereka.

Mi Ya mengerjabkan matanya. Pagi ini, pemandangan pertama yang Mi Ya lihat adalah bukan dinding sialan yang selalu menyambut paginya. Melainkan kanjing kemeja dari kemeja putih milik – ah, milik Kyung Soo.

Mi Ya buru-buru mendongak. Benar. Wajah Kyung Soo yang ia lihat dihadapan nya.

oppa – oppa”. Panggil Mi Ya.

“eumm?”. Kyung Soo hanya menggumam.

“sudah pagi”.

Perlahan Kyung Soo membuka matanya. Beberapa saat tatapan keduanya bertemu. Sampai akhirnya mereka menyadari posisi ini –ehem saling memeluk. Sudah berapa lama tidak terbangun dengan posisi ini?

Mi Ya beringsut bangun. Menggaruk tengguknya –kaku. Dan dia pun terlihat seperti idiot saat ini.

“sudah hampir jam 9, oppa tidak bekerja?”.

“sudah terlalu terlambat untuk pergi. Jadi aku tidak akan pergi”. Jawab Kyung Soo seraya tersenyum-senyum girang.

“nanti kau kena sanksi. Ayolah ~ lebih baik pergi sekarang, daripada tidak sama sekali”. Mi Ya menarik tangan Kyung Soo. Bukannya terangkat, malah Mi Ya yang kembali terjatuh ke samping Kyung Soo.

Kyung Soo mengurung Mi Ya dengan lengannya. Menjadikan sebelah tangannya sebagai bantal bagi Mi Ya. Lalu memejamkan matanya. “aku sakit. Tidak bisa ke kantor”. Kyung Soo memamerkan tangan kanannya yang masih terbalut perban.

Mi Ya menghela napas. Baiklah, dia bisa apa? Kyung Soo terlihat tak bisa –bukan, tak ingin beranjak dari ranjang.

“baiklah, tapi lepaskan dulu aku. Aku harus mempersiapkan makanan dan membersihkan apartemen. Lalu mengurus bayi besar macam dirimu”.

Kyung Soo tersenyum. Ia pun melepaskan Mi Ya, membiarkan istrinya untuk melakukan apa yang ia katakan tadi. Sementara Kyung Soo – hanya duduk diatas tempat tidur. Berlagak seperti orang yang benar-benar sakit.

Padahal hanya terluka dibagian tangan saja.

“tanganku sakit. Aku tidak bisa memegang sendok”. Ujar Kyung Soo manja kala Mi Ya menyuruhnya makan.

aigoo ~ kau bisa memegang dengan tangan kirimu”.

“aku ingin makan dari tanganmu”.

Mi Ya menggelengkan kepalanya. Lantas mengambil nasi dengan sumpitnya, menyuapkan pada Kyung Soo. Lalu sayuran, dan kembali menyuapkan pada Kyung Soo. Begitu seterusnya hingga acara makan suami-istri itu selesai.

~oOo~

Summer, July 2018

Bau pantai menyambut. Mi Ya membuka kaca mobilnya sedikit. Menikmati hambusan angin laut musim panas. Liburan musim panas. Kyung Soo dengan susah payah membujuk Mi Ya agar mau pergi ke pantai. Semua permasalahan yang terjadi lalu permasalahan yang telah selesai. Semuanya bergulir begitu saja.

Mi Ya berlarian turun ke pantai. Menyapa ombak kecil yang menghampiri pasir pantai. Ia tampak sangat senang. Padahal sempat menolak untuk berlibur ke pantai.

“Mi Ya’ya ~ perhatikan langkahmu”. Peringat Kyung Soo.

Uups…

Mi Ya menghentikan langkahnya. Kemudian melangkah seperti terkena effecrt slow motion. Bibirnya tak henti-henti membentuk lengkungan senyum yang lebar. Memegang perut buncitnya.

Kyung Soo merekam pergerakan Mi Ya di pinggir pantai. Ia bahagia tentu saja. Sebelum pergi kesini, Mi Ya menelpon dokter kandungannya untuk meminta saran. Kejadian saat ia keguguran, itu adalah hal yang paling mengerikan yang pernah ia alami.

Tak ingin mengalami hal buruk itu lagi.

Siapapun tak ingin kehilangan bayi yang mereka inginkan, bukan?

Namun pada akhirnya Mi Ya berhasil bertahan hingga 7 bulan lamanya. Diperkirakan ia akan melahirkan pada awal September di musim gugur. Atau mungkin penghujung Agustus akhir musim panas.

Ibu mertua nya juga sudah bersikap baik. Meski terkadang ia memarahi Mi Ya. Memarahi karena takut wanita ini berbuat konyol lagi seperti waktu itu. Lalu Na Eun? Wanita itu dikabarkan akan menikah segera.

Mi Ya bersorak gembira mendengar kabar itu. Sungguh! Walaupun Kyung Soo dan Na Eun tidak terbukti memiliki hubungan khusus. Hanya saja, setahu Mi Ya, Na Eun memang menginginkan Kyung Soo. Dan malam saat Kyung Soo pulang larut malam adalah untuk menemui Na Eun. Mengatakan jika mereka tak akan bisa bersama.

Hampir saja Mi Ya diculik kakaknya kembali ke Guangzhou lagi. Tetapi Kyung Soo bersikeras menahan Mi Ya. Tak bisa membiarkan istrinya kembali ke Guangzhou.

Kan kini, Kyung Soo tengah menggenggam erat tangan Mi Ya. Berjalan menyusuri jalan dipinggiran pantai. Setelah puas bermain dengan pasir dan buih pantai. Akhirnya, wanita hamil itu mengeluh lapar.

“bagaimana dengan mengambil beberapa gambar disini?”. Tawar Kyung Soo.

“ide bagus. Aku harus berpose seperti apa?”.

“pose apapun asal tidak berguling di tanah”.

Mi Ya mencubit lengan Kyung Soo. Sebenarnya ia sudah lama ingin berpose begitu. Iya, berguling dilantai maksudnya. Tapi tidak. Hey, aku ini wanita hamil yang cantik dan feminim. Tekannya dalam hati.

Setelah berpose yang ia rasa bagus. Kyung Soo pun membidik gambarnya. Tersenyum saat melihat hasil potonya. Mi Ya menghampiri Kyung Soo untuk melihat potonya. Lalu ia akan bergumam ‘cantik sekali’ atau ‘perutku semakin besar’.

10005405_271602629689068_1181158931_n

oppa, there’s baby inside”.

“hmm… uri aegineun”.

Mereka kembali berjalan. Menuju sebuah resort di dekat sana. Karena ini sebuah liburan, bukan piknik. Jadi Kyung Soo sengaja menyuruh Mi Ya untuk tidak membawa makanan dari rumah.

~oOo~

Ku pikir aku hanya banyak makan, lalu mendengarkan musik hingga tertidur. Aku tidak berpikir jika ada bayi di dalam perutku. Sungguh. Semakin lama, perutku semakin membuncit. Baiklah, maafkan aku karena sempat tak mempercayai ini. Ada bayi laki-laki di dalam. Ya, di dalam perutku. – Mi Ya

Dan hari yang paling mendebarkan bagiku setelah hari saat aku mengucapkan janji suci adalah hari kelahirkan putraku. Sempat sangat khawatir menunggu proses persalinan di dalam sana. Hingga akhirnya tangis pertama bayi terdengar. Ya, dia putraku ‘Do Hyun Soo’ yang menangis dengan suara paling nyaring malam itu. Awal musim gugur, September – kyung Soo

~ END ~

19 Februari *check sound* HAPPY BIRTHDAY MY LIL SISTA ZY, MAKNAE GAGAL THE SALT WKWKW XD cieee ~ yg sekarang 19 tahun #wohhooo semoga makin segalanya, bisa temu Kyungsoo TToTT ❤ :* XD dan jgn bully eonniers lagi -_- ARASSEO!? #KyoEonniYangTerBully (?)

Then….

Happy Lunar Year~~~ *bagi2 angpao* XD

Ehemm…. terserah dengan alur yang kecepatan. Toh ini FF oneshoot XD

Terserah juga dengan judul yang nggak nyambung XD

Terserah juga dengan siders! Lanjutkan naaaaak ~~ #PartyPeople

Chigeumkatji ~ Kyosseumnida ( > . ^ )~

7 thoughts on “FanFict “Baby Inside” Oneshoot

  1. oah ini mngharukan akhirnya smua baik baik sja :’)

    prtma aku kra kenapa d awal crta kyungsoo sma mia udah diem” an trnyata krna kjadian itu ..

    dan tdi aku smpat ksel sma eommanya kyungsoo dan naeun pstinya .. tpi syukur eommanya kyungsoo uda ga snis lagi sma mia dan si naeun itu dah mo nikah :v good

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s