FanFict “FREAK (MINE!)” ONESHOOT


21282wall

Tittle          : Freak (Mine!)

Author       : Lee Arni a.k.a Kyo

Main cast   :

  • Lu Han
  • Park Yeon Sung (OC)
  • Park Yeon Hi

Other          :

  • Find by yourself

Genre         : Romance, Marriage Life, Psikopat (?), NC – little hardness (?).

Length       : Oneshoot

Note           : ~o@o~ = flashback

Psikopat? NC? Kekerasan? Okelah, itu request dari salah 1 readers 😀 Cuma coba-coba (?) ini pertama kalinya Kyo bikin FF dgn genre Psikopat – Kekerasan, jadi masih belom full of it.

oOoOo

Park Yeon Sung keluar dari kamar mandi bersama anak perempuannya yang berusia dua tahun di pelukannya. Segar sehabis mandi bersama seperti biasa setiap pagi dan sore. Kedua nya memakai kimono mandi dengan warna yang sama. Lu Huan Jia, nama bayi perempuan berpipi chubby itu duduk di atas tempat tidur.

“nah, Jia, ayo bangunkan appa mu. Katakan padanya jika eomma akan marah kalau appa tidak bangun dalam hitungan ke sepuluh”.

Jia menatapi ibunya yang eumm tadi menyuruhnya apa? Membangunkan ayah. Baiklah, Jia menempelkan tangan mungil yang dingin di pipi Lu Han –ayahnya.

oppa ayolah, ini sudah jam berapa? Bukan kah kau bilang ingin mengajak Jia pergi hari ini?”. Kali ini Yeon Sung bertindak menarik-narik Lu Han agar bangun.

“Jia, kau setuju kan jika kita tidur 15 menit lagi”. Lantas Lu Han menarik Jia ke dalam pelukannya dengan mata terpejam.

oppa, kau mencemari Jia. Kami sudah mandi”. Yeon Sung menarik Jia dari Lu Han.

“oh, begitu. Sekalian saja kau juga ku cemari”.

“bangunlah lalu mandi, oppa”.

“aku tidak mau”.

“kau akan mengecewakan gadis kecil ini, oppa”.

“mandikan aku Yeon’ah”.

oppa”.

“baiklah baiklah”. Dengan berat hati Lu Han bangun, mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mencoba membuka matanya yang masih mengantuk. Sekarang ia dapat melihat dengan jelas Yeon Sung yang sedang memilih pakaian untuk Jia.

Park Yeon Sung gadis yang tidak sengaja ia nikahi tiga tahun lalu. Gadis yang baru dekat dengannya selama enam bulan kemudian menikah. Hanya karena satu hal, gadis itu sangat mirip dengan cinta pertamanya.

Cinta pertama yang seharusnya menjadi istrinya itu menghilang secara tiba-tiba. Membuat keluarga Lu kecewa saat akan melamar gadis tersebut, tetapi ia malah menghilang entah kemana.

Kembar identik. Ya, Park Yeon Sung adalah kembaran gadis yang sangat Lu Han cintai. Awalnya ia tak yakin akan bisa mencintai Yeon Sung, namun lama-kelamaan ia merasakan perasaan aneh yang pernah ia rasakan. Bahkan kini ia sangat mencintai Yeon Sung.

~oOo~

Ting tong~

Bel rumah berbunyi saat keluarga kecil Lu Han tengah menikmati acara sarapan bersama pagi ini. Yeon Sung bergegas menuju pintu depan untuk membukakan pintu bagi sang tamu.

“hai, Yeon Sung”. Sapa orang tersebut.

Yeon Sung terdiam. Menatap orang yang ada di hadapannya dengan tatapan nanar. Bibirnya bergetar namun tak menjawab sapaan orang itu.

“Yeon’ah, siapa yang datang?”. Teriak Lu Han dari ruang makan.

“apa itu Lu Han? Wah… aku datang di saat yang tepat”.

“Hiyi eonni –“. Belum sempat Yeon Sung mengatakan apa yang ingin ia katakan, orang yang tadi menekan bel rumahnya itu menerobos masuk. Menyeret kopornya yang berukuran kecil. Yeon Hi, kembaran Yeon Sung.

“Lu Han oppa”. Seru Yeon Hi.

Lu Han yang merasa terpanggil muncul dari arah ruang makan. Yeon Hi melepaskan kopornya hingga terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang tidak enak. Dengan cepat ia mengamit lengan Lu Han.

“Yeon Hi – kenapa kau bisa berada disini?”. Tanya Lu Han kebingungan.

“karena aku merindukanmu”.

“lepaskan”.

“kenapa? – apa karena kau sudah menikah, lalu aku tidak boleh bermanja padamu lagi”.

“apa yang kau bicarakan? Dasar gila”.

“aku tidak gila, Lu Han”.

“lalu kemana saja kau selama ini?”.

“aku di rehabilitasi di Rumah Sakit Jiwa”.

“itu bukti jika kau gila, Yeon Hi”.

Yeon Sung menghela napas kemudian ia berjalan menunduk melewati kedua orang yang pernah atau mungkin hingga saat ini masih saling mencintai. Ia kembali duduk di meja makan. Menyuapi bubur untuk Jia. Hatinya hancur karena kedatangan Yeon Hi.

“kenapa kau kemari? Pulanglah kerumah orang tuamu”. Suruh Lu Han. Sebenarnya ia sangat senang dapat melihat Yeon Hi lagi, tapi ia tak mungkin menyakiti wanita yang kini tengah khawatir akan kehadiran Yeon Hi.

“kau tidak mungkin tidak tahu jika rumah orang tuaku sudah di jual. Aku terlantar dan tidak tahu harus pergi kemana, oppa”.

“jangan memanggilku seperti itu”. Lu Han mengeluarkan dompetnya dari saku. “aku akan memberimu uang, pergilah dan cari penginapan”.

“aku tidak mau. Ijinkan aku tinggal disini beberapa hari. Aku masih lelah”.

“Yeon Hi –“.

oppa, ijinkan Hiyi eonni menginap disini beberapa hari ke depan. Hanya ia yang tersisa dari semua keluarga ku”. Cetus Yeon Sung pelan.

“kau dengar itu kan oppa?”.

Lu Han tak ada pilihan lain selain meng-iya-kan permintaan istrinya. Memang benar, hanya Yeon Hi lah yang tersisa dari keluarga Yeon Sung. Ibu dan ayahnya bercerai sebulan sebelum ia menikah dengan Lu Han, kakak laki-laki nya pun pergi entah kemana. Yeon Sung tinggal di rumah bibi nya setelah rumah keluarganya di jual.

~o@o~

Yeon Sung masih sibuk dengan novel yang kemarin ia beli. Gadis ini sangat jarang berbicara apalagi tertawa lepas. Lebih suka bergelut dengan dunia nya sendiri. Berbeda dengan saudara kembarnya, Yeon Hi yang sangat ceria dan suka berbicara. Satu hal, Yeon Sung tak suka itu. Kedua orang tuanya sangat menyayangi Yeon Hi dibanding Yeon Sung.

Ketenangan Yeon Sung membaca harus terusik oleh suara berisik Yeon Hi di kamar mandi. Beberapa hari ini gadis itu demam tinggi, mual bahkan muntah. Sungguh! Yeon Sung benci hal itu. Lu Han selaku kekasih Yeon Hi pun selalu datang dan membawakan apa yang Yeon Hi suruh.

eonni, kau baik-baik saja?”.

“ya, tentu aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik”.

“tapi kau bolak-balik kamar mandi dan muntah, kau yakin baik saja?”.

Yeon Hi tersenyum penuh arti. “Yeon’ah, itu biasa bagi wanita yang sedang mengandung”.

Dzzzzt… Yeon Sung terdiam. Me-ngan-dung. Oh – Yeon Sung mengutuk jawaban Yeon Hi itu. Dan lebih mengejutkan karena kedua orang tuanya bersikap biasa saja. Malah ibunya semakin memperhatikan Yeon Hi.

“apa Lu Han tahu soal ini?”.

“tidak. Tapi ia akan segera mengetahui itu. Ia tidak menyuruhku menghubunginya untuk beberapa hari ini, karena ada urusan diluar kota”.

Yeon Sung tersenyum pahit. Tanpa sadar ia meremas novel yang ia pegang. Iris mata coklatnya menatap punggung Yeon Hi yang kini tengah membungkuk ke washtaple. Lalu ia mengalihkan tatapannya ke arah meja belajar. Disana terdapat beberapa obat milik Yeon Hi.

eonni, kau sudah minum obatmu siang ini?”.

“belum”.

“akan ku siapkan untuk mu”. Yeon Sung melangkah pergi ke arah obat-obatan itu dengan cepat. Mengeluarkan beberapa obat dari plastiknya. Dan yang terakhir sebutir obat dari dalam botol yang ia ambil di laci.

~oOo~

Yeon Hi berdiri di depan frame berukuran besar di ruang tengah rumah Lu Han. Ia melipat tangannya di bawah dada sembari menatap kedua orang yang ada dipoto tersebut. Jam sudah menunjukan pukul 1 malam.

“apa yang sedang kau lakukan disini? Kau tidak tidur?”.

Yeon Hi menoleh ke arah orang itu –Lu Han. “hanya melihat-lihat, rumah mu bagus”.

“tidurlah, jangan melakukan hal konyol seperti sekarang”.

“kau sangat perhatian padaku, oppa”.

“kau terlalu percaya diri”.

“seharusnya aku yang berdiri di samping mu di poto itu. Meskipun wanita itu berwajah sama dengan ku, tapi tetap saja itu bukan aku”.

Lu Han menarik Yeon Hi agar pergi dari depan frame itu. “kembalilah ke kamarmu dan tidur”.

“seharusnya aku yang tidur bersama mu. Seharusnya aku yang menjadi ibu dari anakmu. Seharusnya akulah yang menjadi ‘Nyonya Lu’. Bukan Yeon Sung!”.

oppa –“. Panggil Yeon Sung entah sejak kapan ia berdiri di ambang anak tangga. Lu Han dan Yeon Hi menoleh bersamaan. “kalian sedang apa?”. Yeon Sung berpura-pura tidak mendengar perkataan Yeon Hi barusan.

“ah, tidak. Aku akan ambilkan air hangatnya, tunggu sebentar”. Lu Han bergegas menuju dapur untuk mengambil air hangat seperti yang Yeon Sung suruh. Sial! Gara-gara melihat Yeon Hi dan terlibat percakapan bodoh dengan wanita itu, ia sampai lupa jika Jia sedang menangis meminta susu di malam hari ini.

“Yeon Sung, kau cantik di poto itu”.

“terima kasih”.

“gaunmu juga sangat bagus”.

eommeonim yang memilihkannya”.

eommeonim? Ah, aku lupa jika eomma tidak mungkin memilihkan baju untukmu”.

Yeon Sung menunduk. Ia tak dapat mengelak jika ibunya tak pernah memilihkan baju untuknya. Yeon Hi selalu mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa harus meminta.

“Yeon’ah, kau meninggalkan Jia sendirian di atas? Ayo kembali ke kamar”. Lu Han menarik Yeon Sung menaiki anak tangga. Mereka pun meninggalkan Yeon Hi sendirian di bawah. Yeon Hi sedikit mual saat harus mengakui kedua orang itu kembali ke ‘kamar mereka’. Dapat ia bayangkan apa yang keduanya lakukan dikamar itu.

~oOo~

“telpon aku jika terjadi sesuatu”. Ucap Lu Han sebelum ia berangkat ke kantor. Kalimat yang wajib ia ucapkan pada Yeon Sung tiap pagi. Tentu saja karena ia khawatir pada anak dan istrinya.

Yeon Sung mengangguk cepat. “tentu saja, oppa”.

Persis seperti yang Yeon Hi bayangkan semalam. Lu Han memberikan ciuman di kening istrinya lalu mencium kedua pipi putrinya sebelum berangkat kerja. Yeon Hi menyaksikan adegan itu dari balik jendela kaca di ruang tengah. Sungguh! Ia sangat muak.

Yeon Sung masih berdiri di teras luar hingga mobil Lu Han menghilang di belokan rumah mereka. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam rumah bersama Jia di gendongannya.

“kalian sangat romantis”. Entah ini memuji atau mengejek, namun perkataan itu berhasil membuat Yeon Sung menghentikan langkahnya.

“maksudmu?”.

“aku melihat semuanya, Yeon’ah. Ah, anak kalian juga lucu sekali”. Yeon Hi mencubit pipi Jia gemas. Namun ia malah membuat bayi itu menangis. Pipi nya memerah.

eonni, aku tahu kau tidak menyukai ku dan Jia”.

Yeon Hi tertawa terbahak kemudian memutar bola matanya. “aku tidak berkata seperti itu. Tapi baguslah jika kau menyadarinya”.

eonni mianhae”.

“aku tidak tahu mengapa aku di rawat di Rumah Sakit Jiwa padahal aku tidak gila. Dan aku kehilangan bayiku, aku tidak membunuhnya”.

~o@o~

“aaaaaa ~ pergi ~ jangan menggangguku!!!”. Pekik Yeon Hi sembari melempar apa saja yang terjangkau oleh tangannya ke arah ujung tempat tidur.

“Hiyi’ah, ini eomma. Astaga ~ apa yang terjadi padamu sayang?!”.

“tidak! Tinggalkan aku! Jangan mendekat!”. Yeon Hi semakin histeris. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya. Tak ada seorang pun yang bisa mendekatinya termasuk dokter keluarga yang berniat memeriksanya. Namun Yeon Sung dapat dengan leluasa berkomunikasi dengan Yeon Hi.

Yeon Sung, gadis itu kini tengah berdiri mengintip dari selah pintu yang tidak tertutup rapat. Melihat keadaan saudara kembarnya miris. Wajah Yeon Hi pucat, terdapat lingkaran hitam di bawah mata nya, dahinya di penuhi bulir keringat. Ya, Yeon Hi seperti orang yang dikurung dalam ketakutan tanpa sebab yang jelas.

“apakah putri anda mengonsumsi obat-obatan terlarang?”. Tanya dokter.

“apa yang kau katakan barusan? Putri ku gadis yang berpendidikan, tidak mungkin ia mengonsumsi obat seperti itu”.

“lalu, apakah hal buruk terjadi pada putri anda? Bisa saja ini karena tekanan yang ia dapatkan”.

“hentikan. Hiyi selalu mendapatkan kasih sayang yang cukup. Terima kasih telah berusaha memeriksa putri ku, sebaiknya anda segera pergi”.

Tanpa menunggu lama, dokter itu pun pergi. Tak ada yang salah dari perkataannya, ia sudah berusaha untuk memeriksa Yeon Hi. Hanya saja gadis itu berteriak histeris ketika melihat orang lain.

“Hiyi’ah, apa eomma harus menelpon Lu Han? Hmm? Apa kau takut pria itu tidak menikahi mu? Kalau begitu kita lakukan aborsi saja”.

Yeon Hi membelalakan matanya, menatap ibunya dengan tatapan benci. Ia menutup kedua telingannya dengan tangan. “pergilah kau nenek sihir!”. Teriak Yeon Hi.

~oOo~

Lu Han berdiri di balkon rumahnya. Hanya sendirian. Ada hal yang ia pikirkan hingga membuatnya tak bisa tidur sementara penghuni lain dirumah ini sudar tidur. Dingin nya angin yang berhembus menerpa kulitnya tak membuatnya bergerak sedikitpun.

“boleh aku tahu apa yang mengusik tidurmu?”. Sebuah tangan melingkar di pinggangnya.

“Yeon’ah?”.

“beritahu aku oppa. Aku tahu jika kau sedang memikirkan sesuatu”.

Tangan dingin Lu Han memegang tangan Yeon Sung yang masih menempel di pinggangnya. “aku hanya belum mengantuk, chagiya”.

“kau berbohong kan? Disini sangat dingin. Aku tak mau kau sakit”.

“aku tidak akan sakit semudah itu, aku kuat”.

“katakan apa yang sedang kau pikirkan”.

Lu Han menghela napas. Istrinya ini sangat bersikeras ingin mengetahui apa yang ia pikirkan saat ini. “entahlah, Yeon’ah. Aku tidak menduga jika Yeon Hi akan kembali setelah kita bersama”.

“kau senang atau sedih, oppa?”.

“aku mencintaimu, Yeon’ah. Kau percaya padaku kan? Jadi jangan khawatir, aku tak akan kembali padanya”.

Yeon Sung menangis dan semakin memperat pelukannya. “aku mengerti jika kau kembali padanya, oppa. Karena aku tahu bagaimana perasaanmu padanya sebelum kita dekat”.

“sudahlah. Aku tak ingin membahas masa lalu”. Lu Han membalikan tubuhnya. Menangkup kedua pipi Yeon Sung. “ini apa, hmm? Kau menangis? Jangan lakukan lagi, aku tak suka. Hey… aku tak akan pergi dari mu. Percayalah”. Yeon Sung menangguk mengerti.

Lu Han mencium kening Yeon Sung sekilas kemudian beralih pada bibirnya dan menciumnya cukup lama. Ia tahu akan sangat menyakitkan jika ditinggalkan. Ia pernah merasakan itu dulu.

~oOo~

Dengan santai, ayah dan anak itu duduk bersebelahan di shofa sambil menonton televisi. Film anak-anak kesukaan Jia. Lu Han sampai hafal lagu dari film itu karena Jia, lagu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya untuk di dengar. Kini hampir setiap hari ia mendengar lagu-lagu itu. Sementara Yeon Sung sibuk memotong buah di pantri dapur.

Yeon Hi muncul dari pintu samping. Berjalan masuk seperti biasa. “kau darimana? Kenapa muncul dari samping?”. Tanya Lu Han curiga.

“aku? Hanya melihat mobil mu. Aku tidak bisa kemana-mana, jadi aku hanya melihat-lihat dirumah mu ini”.

“kalau begitu, bagaimana kalau besok kita pergi keluar, eonni?”.

“itu ide bagus. Kau bisa menyetir kan? Kau harus menyetirkan ku, Yeon’ah”.

“kalian akan kemana? Aku ikut”.

oppa, bukankah besok kau ada rapat penting. Kami hanya berkeliling di sekitar kota”.

“sekalian saja kau cari apartemen kecil untuk Yeon Hi, aku akan membelikan itu untuknya”.

“kau benar-benar menginginkan ku pergi, Lu Han”.

Jia menatap orang-orang yang berdebat di dekatnya. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti. Dan orang-orang ini terlalu egois membiarkan gadis kecil seperti Jia menyaksikan perdebatan mereka yang sama sekali tidak penting.

“ah, eonni, aku yakin Lu Han oppa tidak bermaksud seperti itu. Jika tinggal di apartemen sendiri kau pasti bisa bebas”.

“apa yang kau bicarakan Yeon’ah? Aku masih merindukan Lu Han oppa”. Timbal Yeon Hi.

“ya, aku ingin kau pergi Yeon Hi”. Seru Lu Han. “Jia pun tampak nya tak menyukai mu”.

oppa, kau akan menyakiti perasaan Hiyi eonni”.

“aku memang sudah sakit hati sejak awal datang kemari Yeon Sung!”. Seru Yeon Hi sembari berdiri. “kau dan anakmu, aku membenci kalian”. Yeon Hi pun segera meninggalkan ruangan itu lalu masuk ke kamar nya.

~o@o~

eomma, aku tidak gila! Jangan biarkan aku di bawa oleh mereka eomma!”. Yeon Hi menjerit ketakutan ketika tim medis dari Rumah Sakit Jiwa memegangi kedua tangannya untuk menyuntikan obat penenang.

“tenanglah, Hiyi. Ini tidak akan lama, kau hanya akan di rawat sebentar”. Ucap ayahnya.

“aku tidak mau, appa, eomma. Aku ingin menemui Lu Han! Aku akan memberitahu jika aku mengandung anaknya”.

“cepat bawa dia ke Rumah Sakit Jiwa. Kami tidak tahan melihatnya menjerit seperti itu”. Suruh ibunya. Yeon Hi semakin menjerit ketika jarum suntik menembus kulitnya lalu cairan obat penenang itu masuk melalui urat nadi nya.

Lusa adalah hari yang telah di tentukan oleh keluarga Lu untuk berkunjung ke rumah keluarga Park dan langsung melamar putri kedua keluarga itu. Namun itu tak mungkin terjadi karena Yeon Hi akan di rawat di Rumah Sakit Jiwa.

Keluarga Park merahasiakan keberadaan Yeon Hi. Membuat Lu Han merasa di permainkan. Ia benar-benar kecewa dengan jawaban ketidaktahuan mereka. Hampir setiap hari ia mengintai kediaman Yeon Hi, tapi yang ia lihat hanya Yeon Sung.

“kau Yeon Sung kan? Hanya kau yang belum memberi jawaban mengenai Hiyi”. Yeon Sung membulatkan matanya. Ia gugup dan bingung berhadapan dengan Lu Han. “dimana Hiyi?”.

“aku – aku tidak tahu”.

“tidak mungkin kau tidak tahu. Kumohon katakan padaku”.

Yeon Sung menatap Lu Han penuh arti. “aku bersungguh-sungguh”.

“ada sesuatu yang kalian sembunyikan, bukan? Apa yang sebenarnya terjadi pada Hiyi”.

“kenapa kau terus bertanya tentangnya? Kau merindukannya?”. Lu Han mengangguk pasti. “bukan kah aku sangat mirip dengannya? Apa itu tidak bisa mengobati rasa rindumu padanya?”.

Lu Han menautkan alisnya. “apa maksud perkataan mu?”.

mianhae. Aku sibuk. Bisa kau pergi sekarang?”. Tanpa menunggu jawaban, Yeon Sung mendorong Lu Han perlahan keluar dari rumah nya dan menutup pintu rapat-rapat. Lu Han menatap pintu bercat putih yang sudah terkunci dari dalam itu. Masih berusaha mencerna perkataan Yeon Sung.

~oOo~

“kau masih sibuk, oppa?”.

Lu Han menyipitkan matanya, berusaha melihat siapa yang masuk ke ruang kerjanya. Sial. Penerangan di ruangan ini sedikit remang. Dan bodohnya lagi, ada dua orang wanita berwajah sama di rumah ini.

“Yeon’ah?”. Panggil Lu Han. Matanya sedikit mengantuk untuk dapat menerka siapa yang datang. Tapi setidaknya ia tak akan membuat Yeon Sung marah jika saat ini ia menyebut ‘Yeon Hi’.

“aku Hiyi, oppa. Kau tak bisa membedakan istri mu dan kekasih mu ya?”.

“Yeon Hi? Ada keperluan apa kau kemari?”. Nada bicara Lu Han berubah menjadi tidak peduli.

“aku hanya ingin melihat keadaan kekasihku. Kau pasti lelah kan?”.

Lu Han menutup dokumen yang ia pegang tadi. Hendak berdiri dari kursi nya, dengan cepat Yeon Hi mendorong Lu Han agar kembali duduk. Kemudian ia pun duduk di atas pangkuan pria itu..

“sakit jiwa ya? Menyingkirlah. Ingat status ku adalah suami dari adikmu, Yeon Hi”.

“panggil aku Hiyi seperti dulu kau memanggil ku seperti itu oppa”.

“Yeon Hi, jangan seperti ini. Bagaimana jika Yeon Sung tahu kau –“. Yeon Hi melingkarkan tangannya keleher Lu Han, menatap dalam mata pria yang sangat ia cintai ini. Yeon Hi mengusap pipi Lu Han dengan halus, dalam hatinya bersyukur karena Lu Han tak menunjukan reaksi penolakan.

“apa kau bahagia bersama wanita itu?”.

“maksudmu?”.

“apa Yeon Sung lebih baik dariku?”.

“setidaknya dia tidak gila”.

“aku juga tidak gila oppa”.

“lalu mengapa kau di rawat di Rumah Sakit Jiwa”.

Yeon Hi memasang raut wajah menyedihkan yang ia miliki. “mereka salah telah memvonis ku sakit jiwa. Aku tidak gila oppa. Percayalah padaku”.

“hentikan itu Yeon Hi”.

“kenapa? Tidakkah kau juga merindukanku?”. Hening. Mereka beruda sama-sama diam tak mengatakan apapun lagi. Entah siapa yang memulai, kini bibir mereka saling bertemu.

“mengapa –“. Lu Han melepaskan ciumannya sejenak. Yeon Hi menatapnya heran, ia tak berharap permainan mereka berhenti begitu cepat. “mengapa kau kembali saat aku sudah memiliki kehidupan baru?”. Yeon Hi tak sempat menjawab karena lagi-lagi Lu Han menghujani nya dengan ciuman.

~o@o~

“Yeon’ah, kau tidak apa-apa kan?”.

Yeon Sung tersadar dari lamunannya. Kemudian ia mengangguk mengiyakan pertanyaan Lu Han barusan. “aku tidak apa-apa, aku bisa tinggal di rumah bibi”.

“pikirkan tawaranku waktu itu. Eomma juga sudah menyukai mu Yeon’ah”. Lagi Yeon Sung mengangguk.

Hari ini ia harus pergi dari rumah yang ia tinggali bersama keluarga nya sejak ia lahir. Apa yang bisa ia lakukan? Ibu dan ayahnya memutuskan untuk berpisah setelah Yeon Hi masuk ke Rumah Sakit Jiwa. Lalu Park Chan Yeol pergi tanpa pamit dari rumah. Tinggal Yeon Sung sendirian.

Dan ia cukup terkejut ketika ayahnya kembali kerumah dan mengatakan jika rumah itu telah terjual. Tampaknya mereka lupa jika masih ada Yeon Sung yang tinggal disana. Mau tak mau Yeon Sung pergi dan menumpang di rumah bibi nya.

oppa, apa kau menyukaiku?”.

“tentu saja”.

“apa kau yakin dengan pilihanmu?”.

“kau sudah bertanya tentang itu ratusan kali. Apa kau masih tidak percaya padaku?”.

Yeon Sung menunduk sembari memejamkan matanya. “bukan begitu, aku tidak ingin kau menganggapku Hiyi hanya karena aku saudara kembarnya”.

“Yeon’ah, lihat aku –“. Lu Han mengangkat dagu gadis itu agar melihat padanya. “aku melihatmu sebagai Yeon Sung, meskipun kau sangat mirip dengan Hiyi. Tapi kalian berbeda dari sikap. Tidak perlu jadi seperti Hiyi, karena aku mencintai Yeon sekarang”.

Yeon Sung tersenyum simpul. Masih memikirkan baik-baik tawaran menikah dari Lu Han. Ia takut jika Lu Han menikahinya hanya karena ia mirip dengan Yeon Hi. Meskipun ia akan menjawab iya nantinya.

~oOo~

Yeon Hi menatap Jia tajam. Sesekali ia mengjahili Jia agar anak itu menangis, namun justru Jia tertawa. Mungkin Jia berpikir jika Yeon Hi mengajaknya bermain. Yeon Hi benci ketika mengakui bahwa Jia mirip dengan Lu Han.

“kau tidak membantu Yeon Sung menyiapkan sarapan?”. Tanya Lu Han baru saja duduk di kursinya.

“kenapa? Aku kan tamu”.

“lantas, kau tak ingin melakukan apapun hanya karena kau tamu disini?”. Bentak Lu Han.

Yeon Hi berdecak tapi ia tak marah Lu Han membentaknya. “kenapa kau bisa sekasar itu padaku? Kau tidak ingat apa yang kita lakukan semalam?”.

“Yeon Hi!”.

“apa oppa?”.

oppa, jangan berteriak di depan Jia”. Peringat Yeon Sung. Kedua orang itu diam setelah Yeon Sung angkat bicara. Berusaha bersikap biasa saja, padahal ia ingin mengamuk. Yeon Sung sadar dan ingat jika kedua orang itu masih memiliki perasaan yang sama.

oppa, beri aku uang untuk membeli pakaian. Aku tak punya banyak pakaian lagi”. Pinta Yeon Hi manja.

“tidak mau, sudah cukup kau menumpang disini beberapa hari”.

Yeon Hi memanyunkan bibirnya, merajuk. “kau pelit sekali. Beberapa hari ini aku meminjam pakaian Yeon Sung, dan itu bukan fashion ku. Aku dan Yeon Sung memiliki selera yang berbeda”.

“kalau begitu kenapa kau tidak jual diri saja agar dapat uang”.

“ide bagus! Aku akan jual diri padamu. Kau mau kapan? Sekarang? Nanti malam? Besok?”.

Cukup! Telinga Yeon Sung sudah sangat panas mendengar percakapan dua orang itu. Ia pun memilih untuk meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Lu Han menatap Yeon Hi kesal, berbeda dengan Yeon Hi yang malah tersenyum manis.

“kau pikir ini lucu? Sudah cukup Yeon Hi, sebaiknya kau pergi dari rumahku”. Desis Lu Han. Tak ingin Yeon Sung menangis sendirian di kamar, ia pun menyusul Yeon Sung untuk menenangkan istrinya itu.

“kau pikir ini lucu? Heh – ini sangat lucu Lu Han. Sangat lucu ketika kau tiba-tiba berhenti mencintaiku”. Ejek Yeon Hi bergumam sendiri di meja makan.

Mereka melupakan Jia. Tinggallah Jia yang sedang menikmati acara minum susu nya di kursi khusus bersama Yeon Hi di sebelahnya.

“apa yang kau lihat? Kau pikir ini lucu?”. Bentak Yeon Hi pada Jia. “jangan melihat ku seperti itu bocah kecil”.

~oOo~

oppa aku tidak apa-apa, sungguh”.

“aku tahu kau terluka. Aku akan menyuruhnya segera pergi dari rumah ini”. Yeon Sung diam. Matanya sedikit memerah karena menangis. Lu Han memeluknya erat. “seharusnya ia memang tidak disini sejak awal”.

Yeon Sung diam dan membalas pelukan Lu Han. Sebisa mungkin ia mencoba mengerti perasaan Yeon Hi, namun tetap saja biar bagaimana pun Lu Han adalah suaminya. Tidak mungkin ia tidak sakit hati mendengar percakapan seperti beberapa menit lalu.

Dari bawah terdengar teriakan Yeon Hi di ikuti tangisan Jia. Sontak Yeon Sung langsung melepaskan pelukannya dari Lu Han.

“Jia”. Gumam Yeon Sung. Segera ia keluar dari kamar, berlari turun ke lantai dasar. “Jia!”. Pekik Yeon Sung.

Jia tergeletak di lantai dengan posisi tengkurap. Dahi nya tampak memar, mungkin terbentur lantai. Sementara Yeon Hi berdiri seperti ketakutan.

“Yeon’ah, apa yang terjadi pada Jia?!”. Seru Lu Han. Yeon Sung mengangkat Jia dan menimang bayi nya. Jia menangis melolong, memar di dahinya semakin nampak. “astaga! Yeon Hi, apa yang telah kau lakukan pada anakku!? Wanita gila”.

oppa, bagaimana bisa kau mengakui itu anakmu? Anakmu sudah mati oppa! Itu – itu anak setan. Jauhkan dia dari ku!!!”. Pekik Yeon Hi.

Plakk!! Lu Han menampar pipi kiri Yeon Hi, membuat wanita itu tersungkur ke lantai. “aku akan mengirim mu kembali ke Rumah Sakit Jiwa”. Ujar Lu Han.

“kau tahu oppa, aku di bawa ke tempat terkutuk itu saat aku kehilangan anak pertama kita!”.

“jangan membual Yeon Hi”.

“aku tidak membual oppa! Aku bersungguh-sungguh. Aku belum sempat mengatakan itu padamu”. Yeon Hi memeluk kaki Lu Han. Memohon agar Lu Han tak mengirimnya kembali ke Rumah Sakit Jiwa.

Lu Han menarik kaki nya. “bagaimana aku bisa percaya pada orang gila seperti mu?!”.

“kau bersikap kasar padaku. Wanita sialan itu telah merubahmu”. Yeon Hi menatap Yeon Sung dengan tatapan membunuh.

Plakk! Lagi, Lu Han menampar Yeon Hi. Menimbulkan setitik darah di sudut bibir Yeon Hi.

oppa, sudahlah. Jangan memukul Yeon Hi eonni lagi”. Pinta Yeon Sung.

“tidak Yeon’ah. Wanita iblis ini akan terus berulah”. Tolak Lu Han. “kau berusaha membunuh anakku, heh! Berani nya kau. Tidak tahu diri”.

Lu Han menjambak rambut Yeon Hi dan manariknya agar berdiri. “oppa, sakit”. Rengek Yeon Hi. Lu Han tak peduli. Ia menyeret Yeon Hi dengan kasar menuju kamar nya lalu mengurung Yeon Hi. “oppa buka kan pintunya!”. Yeon Hi terus menggedor pintu kamar itu.

Yeon Sung mendekati Lu Han pelan. Ia sedikit takut saat pria ini tengah di kuasi emosi. “oppa”.

“dahi Jia memar, biar aku telpon dokter untuk mengobari Jia. Jangan bukakan pintu ini untuk orang gila itu”.

Yeon Sung menangguk mengerti. Jia masih terus menangis dan ketakutan. Yeon Hi mendorong nya dari kursi hingga terjatuh dan kepalanya membentur lantai. Jia tidak mengerti mengapa bibi nya harus melakukan itu padanya? Jia tidak mengerti apa-apa.

~oOo~

“Hiyi eonni”. Panggil Yeon Sung.

“Yeon’ah. Katakan pada mereka aku tidak gila. Aku tidak mau tinggal disini lebih lama lagi”.

Yeon Sung berjalan mendekati ranjang Yeon Hi. Hanya ada mereka berdua di ruangan kecil tempat perawatan Yeon Hi. Setelah membujuk Lu Han, akhirnya Yeon Sung mendapat ijin untuk menemui Yeon Hi hanya berdua.

Yeon Sung duduk di pinggiran ranjang, menghadap pada Yeon Hi. Ia menggenggam kedua tangan saudara kembarnya itu hangat. “eonni mianhae”.

“apa yang kau katakan? Aku memintamu untuk mengeluarkan ku dari tempat terkutuk ini”.

eonni, kau akan lebih lama tinggal disini”. Ujar Yeon Sung santai. “kau sangat bodoh karena kembali muncul di kehidupan Lu Han. Dia milikku eonni”.

“Yeon Sung, kau –“.

“kau ingat perkataan Chan Yeol oppa?”. Yeon Hi mengalihkan pandangannya, berusaha mengingat apa yang pernah kakak mereka katakan.

~o@o~

Yeon Hi merebut boneka kelinci berwarna putih dari Yeon Sung secara paksa. Mereka tumbuh bersama di lingkungan yang sama, hanya saja Yeon Sung mendapatkan kasih sayang yang berbeda dari kedua orang tuanya.

eonni, itu milikku”. Rengek Yeon Sung kecil.

“milikmu? Aku tak yakin eomma membelikan ini untuk mu”.

“tapi itu benar-benar milikku. Eomma sudah membelikanmu boneka beruang besar kemarin”.

“tidak. Ini milikku!”.

Chan Yeol datang dan merebut boneka kelinci itu dari Yeon Hi. “kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau pikir kau satu-satunya anak perempuan di keluarga ini?”.

eomma! Chan Yeol oppa mengambil boneka ku!”. Teriak Yeon Hi kemudian berlari menghambur ke dapur untuk menemui ibunya.

Chan Yeol tahu setelah ini pasti ibu akan memukulnya lagi, tapi ia tak peduli. Ia hanya ingin membuat adik bungsunya tersenyum. Chan Yeol memberikan boneka itu pada Yeon Sung.

“mulai sekarang kau harus bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yan seharusnya menjadi milikmu, Yeon’ah”.

Yeon Sung mengangguk polos. Tangan kecilnya memeluk erat boneka yang memang miliknya. Ia bersyukur setidaknya masih ada orang yang membelanya di rumah ini.

~oOo~

Yeon Hi tersenyum miring. Ia sudah ingat apa yang menjadi prinsip Yeon Sung dan Chan Yeol. Ia sudah ingat betapa apik nya hubungan kakak-adik antara Yeon Sung dan Chan Yeol. Ia sudah ingat jika kedua saudaranya itu memiliki pemikiran yang sama.

“bagaimana eonni? Bukankah ini sangat menyenangkan?”.

“makhluk laknat – kau yang merencanakan semua ini Yeon Sung!”.

Kali ini Yeon Sung tersenyum simpul namun ia tak mengalihkan tatapan menusuk nya dari Yeon Hi. “kau cukup pintar untuk menebak itu semua”.

“bagaimana kau bisa melakukan ini pada keluarga mu sendiri?!”.

“entahlah. Yang aku pikirkan hanyalah mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku”. Yeon Sung mengambil napas sejenak kemudian melanjutkan perkataannya. “saat kau sakit karena hamil, aku memberimu obat mediasi agar kau berimajinasi dengan sendirinya. Kemudian aku berhasil membuat eomma dan appa bercera”.

“kau bukan manusia Yeon Sung! Kau lah yang gila!”. Pekik Yeon Hi.

Yeon Sung meletakan jari telunjuknya ke bibir Yeon Hi, dengan kasar Yeon Hi menepis tangan Yeon Sung darinya. “eonni, bersikap baik lah padaku. Aku mengijinkanmu tinggal di rumah ku. Kau mempermudah keinginanku untuk meyakinkan Lu Han jika kau benar-benar gila”.

Tangan Yeon Hi mengepal, ingin sekali ia menampar atau bahkan membunuh Yeon Sung. Tapi tidak. Itu akan memperburuk keadaan. “Lu Han, bagaimana bisa Lu Han menikahimu?!”.

“aku sudah berkali-kali bertanya padanya ‘apakah ia yakin dengan pilihannya?’ dan dia selalu menjawab ‘ya’. Aku harus apa eonni?”. Yeon Sung tersipu. “aku benar-benar minta maaf eonni. Aku membuatmu masuk ke surga ini, lalu membuatmu keguguran, dan membuat eomma dan appa bercerai. Ah, itu sangat menyenangkan”.

“kau jelmaan setan Yeon Sung! Mati saja kau!!”. Yeon Hi tak bisa menahan amarahnya. Dengan cepat ia mencekik Yeon Sung hingga keduanya terjatuh ke lantai. Tim medis yang menyaksikan itu dari monitor pemantau segera menindaklanjuti perbuatan Yeon Hi.

“Yeon Hi. Hentikan! Kau ingin membunuh istriku!”. Seru Lu Han. Ia pun ikut membantu menarik Yeon Hi dari atas Yeon Sung.

oppa, dia yang gila oppa! Dia merencanakan semua ini hanya untuk bersamamu!”. Yeon Hi berusaha menjelaskan.

Lu Han membantu Yeon Sung berdiri. “tutup mulutmu. Sudah ku katakan aku tidak akan percaya pada perkataan orang gila seperti mu!”. Lu Han membimbing Yeon Sung untuk keluar dari kamar itu. “kita pulang saja. Tak ada gunanya menemui wanita itu lagi”.

oppa!”. Panggil Yeon Hi. “oppa dengarkan aku!”. Suaranya semakin melemah karena tim medis menyuntikan obat penenang padanya. “oppa”.

Yeon Sung menoleh sekali lagi pada Yeon Hi. Meski samar, namun Yeon Hi dapat melihat senyuman menyeringai dari Yeon Sung.

 

Eonni, aku hanya ingin memiliki apa yang aku inginkan. Sekali saja dalam hidupku. Tak bolehkah aku melakukan itu? Eonni, aku menyukai kekasihmu dan aku menginginkannya. Terima kasih telah mempertemukan aku dengan Lu Han. Kau sudah cukup mendapatkan apa yang kau inginkan.

Eonni, jaljharago~

~ THE END ~

Buahaha (?) 😀

Author nya yang freak wkwkwkwk…

Menyukai Luhan itu tidak baik untuk kesehatan jiwa raga (?) ahaha 😀 jadi hati-hati yeps buat para Telekinetics (?) bisa aja pan ikutan gila kea Kyo ^(._.)^

Okedeh, segitu aja… kotak comment kosong elah #modus

Chigeumkajti ~ Kyosseumnida ( > . ^ )~

 

 

Iklan

5 thoughts on “FanFict “FREAK (MINE!)” ONESHOOT

  1. Ckckck. . . Tak disangka. . . . Tapi keren sih thor,, aku kira Yeon Hi itu psycho, ehh ternyata yg psycho itu Yeon Sung -_-‘

  2. Astaga… ya Allah… ternganga bacanya.. 😱😱😱😱😱 jadi emg freak lah susah mau ngmong apa bingung….. uu jadi Yeonsung yg gila bukan YeonHi… pdhl ud dendam aja akunya sma yeonhii eh ternyata….. aah dunia emg bisa bkin gila.. apalagi ngefens sama luhan juga bisa bikin otak error yah bner apa kata authornya haaa….. ga bisa komen panjang 😂😂😂 jempol deh buat yg nulis… 😆😆😆😆

  3. Waaa eonii ini ceritanya si kembar ngrbutin luge gitu. jadi disini yg gila yeon apa hiyi sih wkwk apa jgn2 arni eonni 😂 always deh pokoknya coretan tngan eonni tuh bikin emmmm. Hbis ini ngubek2 wp nya eonni deh😂😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s