FanFict “I Know” [Chapter 1]


a6g2jaocuaajyeu-large_副本

Title             : I Know

Author         : Lee Arni a.k.a Kyo

Cast            :

  • Park Jiyeon
  • Choi Minho

Length         : Twoshoot

Genre                   : romance, marriage life

Ost              : Lee Haeri – The Person I Love

Annyeong-teo ~ uri eonni oppa yeoreobeunde ^^ nan kyeopta yeoja Kyo imnida 😀 #lambai2  chigeumkatji, Kyo FanFict jusseyo ^^~

[Chapter 1]

Hotel Samjung, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan terdapat suasana yang berbeda hari ini. Bagaimana tidak, anak kedua dari Direktur Choi yang merupakan pemilik perusahaan di bidang periklanan akan menikah hari ini. Choi Minho, seorang pria berusia 25 tahun berperawakan tinggi dan berisi, wajahnya tampan dan terawat, dan senyuman menawan.

Di depan meja rias ruangan khusus pengantin wanita, telah duduk seorang wanita muda yang sangat cantik. Di atas kursi itu ia hanya diam dan menunduk. Wajahnya sangat imut, kira-kira berusia 22 tahun. Sudah pukul 11 pagi, seharusnya upacara sakral itu telah terjadi pukul 10 tadi. Namun, calon suaminya -Choi Minho- belum juga datang.

“Jiyeonni ~ sudah saatnya. Ayo keluar”. Seru salah seorang pengiring penggantin. Jiyeon mengangguk dan tanpa mengatakan apapun ia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu.

~oOo~

Choi Minho telah berdiri di atas altar dengan tuxedo hitam dan kemeja putih sebagai dalamannya. Sungguh, ia sangat mempesona. Jiyeon berjalan pelan di atas red carpet yang telah di baringkan di atas lantai menuju altar.

Kini sampailah Jiyeon di hadapan Minho, ia tersenyum semanis mungkin namun Minho tak membalasnya. Minho berbalik menghadap ke pastur yang akan menjadi penghulu pernikahan mereka. Setelah Jiyeon berdiri di samping Minho, pastur mulai membacakan ikrar-ikrar dalam sebuah pernikahan.

Minho dan Jiyeon telah mengucapkan janji pernikahan, sekarang mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Tak ada pelukan ataupun ciuman di akhir acara. Entah apa yang  terjadi di antara dua orang ini.

~oOo~

*Sudut Pandang Minho*

Haaah ~ aku sangat lelah hari ini. Melangsungkan acara pernikahan yang konyol itu. bahkan aku telah mengulur waktu hingga satu jam lamanya, namun ternyata pernikahan itu tetap terjadi. Cihh! Ini semua karna ayah yang memberikan syarat aneh agar aku bisa naik jabatan. Rasanya aku seperti orang bodoh saja, padahal tempat kerja ku adalah milik keluarga ku sendiri.

Dan dia, ah, aku lupa siapa namanya. Kim Jiyeon? Ah, entahlah. Ibu yang memberikannya untukku. Yang aku tahu ia anak pertama dari tiga bersaudara, ibu nya dulu bekerja di sebuah caffe. Menurut cerita ibu, ia pertama kali bertemu dengan Jiyeon di pusat perbelanjaan saat itu dia –Jiyeon- bekerja sebagai kasir. Selanjutnya, aku tidak mengingat cerita ibu.

Ku pandangangi wajah Jiyeon yang kini berstatus sebagai istri ku. ia duduk di samping ku di jok sebelah, ia hanya diam dan menunduk. Mungkinkah ia juga tak menginginkan pernikahan ini? Aish… itu tidak mungkin, aku ini kan pria idaman.

“apa kau sakit?”. Tanya ku yang mulai heran mengapa Jiyeon diam saja.

Jiyeon sedikit terkejut. “ahh? An-aniyo”. Jawabnya. Sangat jelas ia gugup. Kami kembali diam tanpa mengobrol. Atau mungkin Jiyeon gugup untuk malam pertama? Cihh! Beraninya ia berpikir seperti itu? lihat saja apa yang akan aku lakukan. aku tersenyum miring.

Kami tiba di rumah yang di hadiahkan oleh ayah dan ibu ku untuk kami tinggali. Cukup jika hanya berdua, tapi Jiyeon akan lebih sering tinggal sendirian nantinya.

~oOo~

*Sudut Pandang Jiyeon*

Minho, ternyata dia lebih mengerikan dari yang aku bayangkan selama ini. Entah mengapa, tiap aku melihat wajahnya, mendengar suaranya, ataupun mengobrol dengannya aku merasakan hatiku bergetar.

Mobil yang di kendarari oleh Minho untuk mengentarkan kami ke rumah pun berhenti di sebuah rumah di kawasan elite. Ini jauh lebih bagus dari yang aku bayangkan. Minho keluar lebih dulu dan langsung menunggu pintu. Aku termangu, tidakkah dia ingin membukakan pintu untuk istri nya ini? Menyadari sikap Minho yang cuek padaku, aku pun mengerti dan keluar sendiri dari dalam mobil dengan susah payah karna wedding dress yang ku pakai ini sangat merepotkan.

Minho membukakan pintu, aku menyusul dengan berlari kecil, menjinjing wedding dress ku agak ke atas agar bisa berjalan. “oppa, tunggu aku”. Rengekku. Ku lihat Minho berhenti dan menoleh padaku yang kewalahan menjinjing gaun ku.

“palliwa ~ kau lamban sekali”. Ocehnya. Dugaanku benar, ia tak menyukai ku. Minho masuk ke dalam rumah dengan wajah kusut.

“wahh… rumah ini besar sekali. Perabotannya juga lengkap dan bermerk”. Gumamku saat masuk ke dalam rumah. Ya, rumah dengan ukuran besar itu kini menjadi tempat tinggal kami. perabotannya lengkap dan bagus, sangat jauh berbeda dengan rumahku. Ruangan di dalam rumah ku juga banyak. “kamar kita dimana?”. Tanya ku pada Minho yang kini telah berbaring di atas soffa di ruang tengah.

Minho menutup matanya dengan lengan. “kau cari saja sendiri”. Jawabnya ketus. Haah ~ mungkin dia hanya lelah. Sungguh, dia bukan pria yang romantis. Terpaksa aku harus berjalan sendiri mencari kamar pengantin, menyusuri ruangan yang ada. Aku heran sebenernya aku menikah atau tidak? Aku tidak merasa seperti sudah menikah.

~oOo~

Jiyeon berjalan menyurusi ruangan di dalam rumahnya. Membuka satu per satu pintu ruangan, hingga ia sampai pada sebuah ruangan di lantai dua yang terletak di sebelah kiri tangga. Kamar seluas 4 x 5 meter dengan warna putih mendominasi ruangan tersebut. Ia yakin betul jika itu adalah kamarnya dan Minho. Langsung saja Jiyeon masuk dan melihat-lihat.

Jiyeon membuka lemari dan menemukan beberapa pakaian untuk nya dan banyak pakaian milik Minho. “sebaiknya aku menelpon eomma”. Gumamnya. Ia kembali keluar untuk menemui Minho yang masih tertidur di atas soffa. “oppa”. Panggil Jiyeon sembari menggoyangkan tubuh Minho agar bangun.

“eung?? Ada apa?!”. Bentak Minho yang sudah setelah bangun. Tampak jelas alis matanya hampir menyatu karna kesal.

Jiyeon tersentak. “a-aku hanya ingin meminjam handphone mu untuk menghubungi eomma”. Jawab Jiyeon yang hampir menangis karna di bentak Jiyeon. Sreet… Minho merogoh saku dalam tuxedo nya dan mengeluarkan handphonenya.

“igeo. Eitt… jangan menelpon dengan handphone ku, gunakan saja telpon rumah”. Peringat Minho sebelum memindahtangankan handphonenya pada Jiyeon. “jangan ganggu aku, aku mau tidur”. Minho kembali berbaring.

“oppa, tidakkah sebaiknya kau tidur di kamar?”. Ujar Jiyeon. Minho menatap Jiyeon dengan tajam, menandakan ia tidak mau. “arasseo”. Lanjut Jiyeon dan beranjak dari hadapan Minho menuju telepon rumah yang terletak di dekat televisi LED berukuran besar.

Di ambilnya gagang telepon dengan tangan kiri dan tangan kanan mencari nomor telepon ibu mertua nya. Setelah menemukan nomor yang akan di tuju, ia meletakan handphone Minho disamping telepon rumah lalu jari-jari nya menekan nomor pada tuts telepon. “eo? Eomma? Ini aku Jiyeon. Kami sudah sampai di rumah”. Ujar Jiyeon seperti biasa.

“ohh, Jiyeonnie ~ syukurlah kalau kalian sudah tiba dirumah. Bagaimana, apa kau suka dengan rumah itu?”. jawab orang dari seberang.

“nde ~ neomu jhoahaeyo eomma. Tapi eomma, bagaimana dengan pakaianku? Aku kan tidak membawa satu pakaianpun”. Kembali Jiyeon berbicara dengan manja.

“tidak usah khawatir, besok eomma akan menyuruh Minho menemanimu berbelanja. Bersenang-senanglah Jiyeonnie”. Jawab Nyonya Choi dengan riang menanggapi menantu tersayangnya –Jiyeon-

“arasseo eomma”. Balas Jiyeon. Setelah beberapa menit mereka pun mengakhiri pembicaraan di telepon. Jiyeon meletakan handphone Minho dengan pelan di atas meja yang terletak di tengah. Lalu kembali ke kamarnya.

~oOo~

*Sudut Pandang Minho*

Srekk srekk ~ aishh… suara berisik apa itu? mengganggu sekali. Rutuk ku yang mulai terbangun dari tidur ku yang entah sudah berapa lama. Ku buka mata ku perlahan dan bayangan seorang wanita berambut panjang kecoklatan sedang membereskan property rumah yang menurutnya pas untuk ditempatkan.

“apa yang kau lakukan?”. tanya ku saat menyadari orang itu adalah Jiyeon. Ia sedikit terkejut lalu tersenyum padaku. Aku duduk sambil meregangkan otot ku yang kaku karna tidur di soffa ini.

“ohh, oppa, kau sudah bangun? Mandilah lalu berganti pakaian. Lihatlah kau masih mengenakan pakaian tadi siang”. Jawab nya, Jiyeon berjalan mendekati ku. wajahnya biasa saja, tanpa make up sedikit pun. Bukan, dia bukan wanita yang aku inginkan. Secara fisik aku menerimanya, namun dalam hati aku tak bisa mencintainya. Aku berdiri sebelum Jiyeon benar-benar sampai di depanku. Dan tanpa berkata apapun aku meninggalkannya di ruang tengah.

Rintik air dari shower mulai membasahi tubuhku yang berdiri menghadap ke dinding kramik kamar mandi. pikiran ku melayang jauh, rasanya aku mimpi menikah dengan wanita itu –Jiyeon maksudku- dia bukan seorang yang luar biasa. Sial sekali aku menikahinya.

Tok tok tok! Ketukan pintu kamar mandi menyadarkan ku dari lamunan ku yang bercampur aduk tidak karuan. “ada apa?”. Teriak ku dari dalam kamar mandi. siapa lagi yang mengetuk kalau bukan Jiyeon.

“oppa, kenapa kau lama sekali? Palli ~ kita makan bersama”. Jawab nya dari luar. Suaranya terdengar sangat lembut. Makan bersama? Cihh! Bukan itu rencanaku. Ku raih handuk ku dan ku balut kan untuk menutupi bagian bawah saja. Lalu keluar dari kamar mandi. Jiyeon berlonjak kaget saat tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Tebakan ku benar, Jiyeon masih menunggu di luar. “kau mengagetkan ku”. ujarnya sedikit berseri.

Ku dorong pelan bahu nya agar menyingkir. Tubuh mungilnya sedikit bergeser karna doronganku, langsung saja aku berjalan melewatinya. Aku menuju lemari pakaian ku dan mengambil kemeja serta jeans untuk ku pakai malam ini.

“kau mau pergi?”. Tanya Jiyeon dari belakang ku. aku belum menjawabnya, masih memilih-milih kemeja yang cocok untukku. “yang warna coklat cocok untukmu”. Lanjutnya. Aku menghentikan kegiatanku dan berbalik menatap Jiyeon. Wajahnya polos sekali, bukan type wanita agresif.

“bisakah kau menungguku di luar saja?”. Tanya ku bermaksud agar ia berhenti mengajakku berbicara dan meninggalkan aku sendirian. Jiyeon mengangguk dan keluar. Tak lupa ia menutup pintu kamar kami dengan rapat.

~oOo~

*Sudut Pandang Jiyeon*

Ibu mertua ku mengatakan jika aku harus mengindahkan perkataan suami ku. ya, aku harus menjadi istri yang baik untuk Minho. Walaupun ia menyebalkan dan sering membentakku, namun aku harus memakluminya.

Aku menunggu Minho di meja makan. Aku sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sejak aku berusia 13 tahun. Ibuku adalah orangtua tunggal, appa ku telah bercerai dengan ibu dan menikah dengan wanita lain. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Setelah lulus SMU aku langsung mencari pekerjaan agar bisa menyekolahkan kedua adikku dan menghidupi ibuku. Terkadang, ibu memukulku jika tidak memberikan uang untuknya. Lalu aku bertemu dengan ibu nya Minho saat ia berbelanja. Entah bagaimana kami menjadi akrab seperti ibu dan anak. Dan akhirnya, ibu mertua ku menawari agar aku menikah dengan anaknya –Choi Minho- dan berjanji akan menanggung kehidupan keluargaku.

Setelah 15 menit sudah aku menunggu Minho. Akhirnya ia turun dari lantai dua. Penampilannya sangat mempesona, apa dia selalu seperti itu setiap malam? “oppa eoddiega?”. Seru ku saat melihat Minho yang berjalan menuju ruang tengah.

“aku mau pergi. Kau makan sendirian saja. Dan jangan menungguku, aku mungkin pulang tengah malam atau mungkin pagi”. Jawabnya dengan nada datar.

Deg! Jantungku terasa sakit mendengar jawabannya. Haruskah? Bukankah baru tadi siang kami resmi menjadi suami istri? Tidakkah ia akan bersenang-senang denganku malam ini? Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di benakku. Tanpa menunggu jawaban dari ku, Minho langsung bergegas keluar rumah. Aku masih terpaku di dekat meja makan, dapat aku dengar dengan jelas mobil Minho mulai keluar dari halaman rumah.

“arasseo oppa, gwaenchana”. Gumam ku pada diri sendiri. Ya, Minho tak mungkin bisa mendengarku.

Aku terbangun dari tidur ku pagi ini. Ku tatap langit-langit kamar, mengumpulkan tenaga untuk terjaga. Aku menoleh ke sebelah tempat tidur dan mendapati Minho sedang tertidur membelakangiku. Minho tampak sangat terlelap, lebih baik aku tidak membangunkannya. Aku mengambil kuncir rambut dan mengumpulkan rambutku menjadi satu.

Aku mulai dengan mandi kemudian menyapu dan mengepel. Rumah ini tidak berantakan karna tak ada yang menghuni kecuali kami berdua, mungkin nanti jika kami telah di karuniai seorang anak rumah ini akan berantakan. Minho belum juga bangun, aku ingin sarapan bersamanya. Sebaiknya aku menyiram tanaman di halaman luar sambil menunggunya bangun.

Dari luar aku mendengar suara yang berasal dari televisi di dalam rumahku. Itu pasti Minho. Segera ku gulung kembali selang air yang tadi ku pakai untuk menyiram tanaman dan berlari kecil masuk kembali ke dalam rumah.

“ohh, oppa, jhoheun achimyeon”. Sapa ku dengan ramah pada Minho yang sedang duduk menghadap ke televisi.

“kecilkan suara mu. Berisik sekali”. Balasnya. Aku langsung terdiam sementara Minho menambah volume televisi. Haah ~ sebaiknya aku menyiapkan sarapan pagi ini. Aku menuju dapur dan membuatkan roti bakar. Aku harap Minho menyukai makanan yang aku buat.

Suasana sarapan pagi ini hening. Tak ada yang memulai pembicaraan diantara kami berdua. Akankah seperti ini terus? Tuhan, berikanlah keajaiban untuk Minho agar menghilangkan sikap dinginnya terhadapku. Dan yah, kalian tahu bahkan aku belum merasakan malam pertama ku.

~oOo~

*Sudut Pandang Minho*

Sudah hampir 2 minggu aku menikahi Jiyeon. Tapi hubungan kami tidak begitu baik. aku selalu bersikap kasar dan dingin padanya. Bahkan aku pernah memukulnya beberapa kali saat aku mabuk. Tapi ia dengan sabar menghadapi semua itu. apakah dia seorang malaikat? Dan aku tak pernah menyentuhnya sejak pertama kami menikah. Sungguh, aku tak menginginkannya.

Malam ini aku tidak bisa pergi karna hujan deras dan angin kencang. Sebaiknya aku minum di rumah saja. Jiyeon sedari tadi sibuk dengan buku-bukunya, entah apa yang ia catat sebenarnya. Masih tampak di pipi kanannya bekas tamparan ku kemarin malam.

Aku berpesta sendirian di ruang kerja ku. aku berharap menikah dengan wanita yang ku inginkan. Tapi mengapa aku mendapatkan wanita seperti dia –Jiyeon-? Aishh ~ ku banting gelas alkohol yang ku pegang. Hancur berserakan di lantai. Aku tidak peduli. Ku sandarkan kepala ku ke dinding di dekat kursi.

Cklek! Suara pintu ruangan ku terbuka. Jiyeon mengintip dari luar, lalu perlahan membuka pintu dan masuk secara diam-diam. “oppa, gwaenchana?”. Tanyanya pelan dengan wajah khawatir. Aku hanya diam. Jiyeon memunguti pecahan gelas dan membuangnya ke kotak sampah tertutup yang terletak di sudut ruangan. “minanhae, aku tak bermaksud mengganggu mu. Tadi aku mendengar suara pecah jadi aku putuskan untuk melihat keadaanmu”. Ucapnya dengan sopan bak seorang pelayan pada majikannya.

Jiyeon keluar dari ruanganku. Mengapa dia begitu mengkhawatirkanku? Apa mungkin dia mencintaiku setelah perlakuanku selama ini terhadapnya? Bodoh sekali dia. Dengan susah payah aku bangkit dudukku, meniti dinding untuk keluar dan berjalan dengan sempoyongan menuju ke kamar dimana Jiyeon berada.

Brakk! Ku banting pintu kamar kami hingga menghantam dinding –mungkin meninggalkan retak disana- ku lihat Jiyeon memasukan bukunya ke dalam laci meja dan menghampiri ku. “oppa? Waeyo?”. Tanyanya langsung membopong tubuhku.

Ku dorong Jiyeon hingga terjatuh. “yya ~ kau – kenapa kau tidak meninggalkanku saja huh?!”. Tak ku hiraukan Jiyeon yang sedikit meringis sambil mengelus siku nya.

“karna – karna aku istrimu”. Jawabnya. Suara nya bergetar.

Aku tersenyum miring mendengar jawabannya. Ku paut dagunya hingga ia mendongak padaku. “apa kau bilang? Cihh! Istri? Hahaha ~ yya! Kim Jiyeon, kau bukanlah orang yang aku harapkan. Sebaiknya kau pergi dari kehidupanku. Aku – aku Choi Minho, sudah mendapatkan apa yang aku inginkan”. Balasku. Ku ungkapkan semua isi hatiku padanya.

Dapat aku rasanya airmatanya mengalir membasahi tanganku yang memegangi dagunya. “oppa, nae ireum Park Jiyeon. mianhae ~ naege shirreo”. Jawabnya tertahan. Aishh… wanita ini benar-benar bodoh. Ku layangkan sebuah tamparan yang mendarat di pipi kanannya. Jiyeon terus menangis.

“aku tak peduli siapa namamu!”. Seruku. Ku tarik lengannya hingga ia berdiri lalu ku hempaskan tubuhnya ke atas ranjang. “pergilah! Aku tidak membutuhkan mu”. Seru ku lagi. Ku dekatkan wajahku pada Jiyeon. Tidak, aku tidak mabuk. Aku sangat sadar sekarang. Aku dapat mendengar dengan jelas suara tangisan Jiyeon. Wanita bodoh ini, mengapa ia terlihat cantik malam ini. Di hiasi dengan blush on yang ku buat tadi di pipinya. Sepertinya saat menderita ia lebih cantik.

~oOo~

*Sudut Pandang Jiyeon*

Aku sedikit meringis ketika akan bangun. Sudah pagi,  di luar sana matahari telah terbit dengan sempurna. Aku duduk di atas tempat dan menekuk lutut ku. kepala ku sedikit pusing. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Rambut ku berantakan sama seperti keadaan didalam kamar ini. Suami ku –Minho- memperkosaku semalam, bahkan ia juga memukulku. Dan sekarang ia sedang tertidur pulas di sampingku.

Ada perasaan senang namun seketika itu lenyap jika aku mengingat perbuatan Minho yang kejam terhadapku. Mengapa aku tidak merasakan perasaan seperti mempelai wanita lainnya?

“eung?”. Suara lenguhan Minho saat akan terbangun. Ku peluk kaki ku sendiri menunggunya benar-benar bangun. “emmm”. Minho menggeliat meregangkan ototnya. Semoga saja ia mengingat kejadian semalam, agar ia sadar bahwa aku ini istrinya. “ohh? Kau? kenapa kau belum bersiap?”. Tanyanya langsung saat telah membuka matanya dengan penuh. Aku diam saja. Srekk ~ Minho duduk dan bersandar. “apa yang kau pikirkan?”. Tanyanya lagi.

Aku menoleh dan menatapnya. Sejujurnya, aku tak berani menatap Minho makadari itu aku menggigit bibir bawahku agar tidak gugup. “waeyo? Kejadian semalam jangan terlalu di pikirkan. Aku tahu itu yang kau inginkan, bukan? Aku sudah melakukannya, sekarang kau boleh pergi”. Ujar nya dengan enteng.

Aku menggeleng. “aku tetap tidak bisa pergi. Aku telah berjanji untuk tidak meninggalkanmu”. Jawabku tulus. Ya, itulah janjiku pada ibunya –mertuaku- dan demi kehidupan keluargaku. Mungkin dengan kata lain, aku menjual diriku dengan cara terhormat.

“kau ini benar-benar bodoh!”. Caci Minho. “terserah kau saja, kau – tak akan bisa merubahku Lee Jiyeon. Dan, aku tidak akan bertanggung jawab jika kau harus mendapat perlakuan seperti semalam”. Ancam Minho.

Aku tersenyum hangat. “lakukankanlah. Aku milikmu, anggap saja aku sebuah boneka. Saat kau bisa mengingat namaku saja aku sudah senang oppa. Naneun, Park Jiyeon”. Jawabku dengan tersenyum seolah tak peduli dengan apa yang telah ia lakukan bahkan jika ia memang harus membunuhku, aku tak akan marah padanya. Aku mencintainya. Aku mencintai Choi Minho.

~oOo~

*Sudut Pandang Minho*

Sudah hampir enam bulan pernikahan kami. ternyata Jiyeon benar-benar kuat, padahal kerap kali aku menjadikannya objek kekesalan dan pelampiasan nafsu ku. tetapi ia sama sekali tidak mengeluh ataupun marah. Malah terkadang akulah yang marah karna sikapnya yang sabar itu.

Hari ini hari minggu, aku berencana akan pergi entah kemana. Tentu saja sendirian. Aku melihat Jiyeon yang sedang menulis pada sebuah buku. Kalau aku perhatikan, di lengannya terdapat bekas luka yang mulai menghitam. Dan, kenapa ia tidak memakai cincin pernikahan kami? “yya! kemana cincin mu? Ah, kau menjualnya ya?”. Ejekku.

Jiyeon menutup bukunya. “aniyo. Aku menyimpannya. Bukankah kau bilang aku tidak pantas menggunakan perhiasan mahal”. Jawabnya dengan santai. Sepertinya Jiyeon sudah terbiasa dengan sikap ku yang tidak baik padanya.

“cihh! Memang wanita seperti mu tidak cocok dengan perhiasan bermerk seperti itu”. cemooh ku. Jiyeon hanya tersenyum. Ah, aku tahu harus pergi kemana. Ku keluarkan kopor ku dari dalam lemari dan mengambil beberapa potong baju lalu memasukannya kedalam kopor.

“eoddiega?”. Tanya Jiyeon. Tak ku hiraukan ia sampai aku selesai membenahi pakaian ku ke dalam kopor.  Aku memang  biasa pergi ke luar kota. Sekedar melakukan perjalanan bisnis ataupun berlibur. Mungkin saja aku menemukan wanita yang ku idamkan sebagai pengganti Jiyeon.

Ku tutup koporku dan berdiri. “aku mau pergi. Sejak kapan kau jadi ingin tahu semua tentang ku?”. ujar ku dengan ketus nya. Jiyeon hanya mengangguk mengerti dan tidak bertanya lagi.  Aku akan pergi ke Jepang, bertemu dengan sahabat lama ku Kim Kibum atau Key. Ah, aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Seperti biasa Jiyeon selalu mengantar ku sampai ke depan rumah saat aku akan pergi. Aku akui, dia memang wanita yang baik. bahkan terlalu baik. aku berharap Jiyeon tidak akan hamil anakku. Maka itu akan jadi hal yang lebih buruk.

Melakukan perjalanan dengan pesawat sore ini. Sebelum ke airport aku pergi terlebih dahulu ke restoran untuk makan siang.

~oOo~

Aku telah tiba di Jepang dan hari mulai gelap. Sebelum berangkat aku menghubungin Key, sekedar memberitahukan jika aku akan berkunjung ke rumah nya. Key dan istrinya menejemputku di bandara. Istri nya memang tidak canti, bahkan lebih cantik Jiyeon daripada dia. Key adalah type lelaki yang perfectionist, aku juga heran mengapa ia menikah wanita biasa seperti ini? Padahal saat kuliah, semua kekasihnya adalah wanita yang terbilang sempurna sama seperti dirinya.

“bagaimana perjalananmu, Minho’ssi?”. Tanya Key di tengah perjalanan menuju ke rumahya. Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. “kau lelah? Baiklah, aku mengerti”. Ujarnya lagi. Tidak, aku bahkan sangat bahagia tiba disini dengan selamat dan jauh dari istri ku.

Malam ini, aku belum tidur. Berdiri di balkon apartemen Key sembari memandangi gemerlap lampu dari atas sini. Tempat nya sangat strategis karna berdekatan dengan laut. Key menepuk pundak ku hingga aku sedikit berlonjak. “apa yang kau pikirkan?”. Tanya Key dan langsung berdiri di samping ku.

“tidak ada. Kau belum tidur?”. Balas ku.

Key tersenyum. “belum, sebentar lagi”. Jawabnya. Aku hanya mengangguk mengerti. “ohya, kau kesini untuk berlibur kan? Lalu mengapa tidak mengajak istrimu?”. Tanya Key lagi. Aisshh, mengapa menanyakan istri ku.

“sebenarnya, aku tidak pernah menyukai nya”. Jawab ku dengan jujur. Ya, aku rasa aku sudah harus mengatakan ini pada orang lain. Key membelalak kemudian memangku dagunya dan menghadap padaku. “kau kan tahu bagaimana type wanita impianku. Jiyeon, sangat jauh dari type ku itu. aku tidak menyukainya”. Lanjutku.

“lalu, bagaimana kau bisa kau bertahan dengan nya sampai selama ini?”. Key semakin ingin tahu kehidupanku ternyata.

Aku beralih ke tempat duduk yang terdapat di balkon itu. Key bersandar pada pagar balkon. “jika aku menceraikannya, maka eomma akan membunuhku. Kau tahu, eomma sangat menyayanginya”. Jawab ku dengan wajah mengenaskan.

~oOo~

Key tersenyum miring mendengar jawaban Minho. Key pun mengambil posisi duduk di kursi sebelah Minho. “apa kau sering memukulinya?”. Tanya Key dengan tatapan intens pada sahabatnya ini –Minho-

“dia selalu membuatku kesal. Aku rasa dialah yang tepat menjadi objek kekesalanku”. Jawab Minho dengan senyuman bangga di bibirnya. Minho menceritakan semua keluhannya selama ini dan apa yang telah ia lakukan pada istrinya –Jiyeon-

Key tersenyum mendengar semua penuturan Minho yang dengan mulusnya keluar dari mulut Minho. “kau tidak seharusnya melakukan hal itu Minho’ssi. Tentu kau juga tahu bagaimana type wanitaku. Namun, saat aku telah menikahi Yuko istriku, aku menyadari jika dialah masa depanku. Aku harus menjaganya, karna itu lah janji yang ku ucapkan saat menikah dengannya”. Key berhenti sejenak. “jodoh kita sudah di atur, kau hanya perlu belajar untuk mencintainya. Jiyeon, aku yakin dia sangat menyukai mu bukan karna kau tampan ataupun kaya tetapi karna dia sama seperti ku. kami hanya menepati janji pernikahan itu”. lanjut Key.

“kau menasihatiku?”. Tanya Minho dengan sengit.

“aniyo ~ aku hanya mengingatkanmu. Setidaknya, sebelum kau kehilangan Jiyeon, kau bisa bersikap baik padanya. Dia, wanita itu Minho, mereka sudah di takdirkan untuk masa depan kita bukan hanya hari ini. Mereka seharusnya orang yang kita jaga bukan untuk di sakiti”. Jawab Key panjang lebar. Minho hanya diam. “aku tidur dulu, jika kau tidak mau melakukan apa yang aku katakan tidak apa-apa”. Key bangkit dan masuk ke dalam apartemennya. Sementara Minho masih duduk dan merenung.

~oOo~

*Sudut Pandang Minho*

Sudah satu minggu lebih aku berada di Jepang. Kata-kata Key terus saja menghantui ku. aku juga terus bermimpi tentang Jiyeon. Aaargh ~ aku frustasi karna ini semua. Aku – aku merindukan wanita itu. aku ingin memeluknya dan meminta maaf. Walaupun Jiyeon belum tentu memaafkan ku.

Ku tarik handphone ku yang berada di samping tempat tidur hotel ini. Aku bahkan tak menyimpan photonya di handphone ku. aku beralih pada kontak dan mencari nomor handphonenya. Aku yakin ia sangat senang jika aku menelponnya terlebih dulu. Aduhh… aku juga kegirangan ingin berbicara dengannya. “silahkan tinggalkan pesan anda”. Sahut operator dari seberang. Mailbox? Ah, pasti Jiyeon sudah tidur.

“ehem-hem… ohh, Jiyeonnie, kau sedang apa? Aku – aku merindukanmu? Apa kau juga merindukanku?”. Pesanku terkirim. Aku lega telah mengatakan itu walau tidak secara langsung.

Keesokan harinya, aku mencoba menelpon Jiyeon lagi. Teleponnya masih mailbox. Apa yang terjadi? Perasaanku tidak enak. Sebaiknya aku pulang ke Korea siang ini juga.

~oOo~

Minho kembali ke Korea dengan membawa hadiah untuk Jiyeon. Beberapa gaun cantik, sepatu, dan juga perhiasan. Dengan langkah ceria, ia pulang ke rumah untuk bertemu dengan istrinya –Jiyeon-

Rumah Minho tampak sepi. Minho berlari menuju pintu rumah yang terkunci. “Jiyeonnie, buka pintu nya. Aku pulang”. Teriak Minho dari luar. Tak ada jawaban. Minho pun memutuskan untuk membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan. Keadaan di dalam pun sangat sepi, tak ada siapapun. “Jiyeonnie! Eoddiesseo??”. Teriak Minho. Ia mengitari rumah dan tak menemukan Jiyeon. “mungkin Jiyeon sedang keluar. Sebaiknya aku menyiapkan kejutan untuknya”. Gumam Minho.

Minho memesan makanan dari restoran dan menata nya di meja kecil di taman belakang rumah. Lalu di letakannya dua lilin merah yang terpasang pada kawat di tengah meja tersebut. Ia juga telah menyiapkan setangkai bunga mawar dan tape radio. Romantis. Itulah kata yang pas untuk suasana yang di ciptakan Minho.

“oppa”. Suara halus itu berasal dari pintu geser yang menghubungkan taman dan bagian dapur rumahnya. Sosok wanita dengan rambut terurai dan gaun cream selutut, sangat cantik.

Minho terperangah melihat wanita itu –Jiyeon-. Minho berjalan mendekati sosok Jiyeon yang hanya diam di tempat. Dengan langkah cepat ia menghampiri Jiyeon dan memeluknya erat.

Brukk! Minho terjatuh dari shofa. Mimpi. Ternyata hanya sebuah mimpi. Minho mengusap wajahnya dan melirik jam dinding. Pukul 10 malam. Segera, Minho berlari ke kamar namun ternyata Jiyeon tidak ada. Lalu ia menuju taman belakang, dan menatap lilin yang sudah mati karna tertiup angin. “Jiyeonnie!!”. Teriak Minho. Tak ada sahutan sedikitpun. “Jiyeonnie!”. Teriaknya lagi dan terus mencari Jiyeon mengelilingi rumah. Jiyeon tidak ada.

Keesokan paginya, Minho pergi ke rumah orang tuanya. Berharap mendapatkan jawaban dimana Jiyeon berada sekarang. Ibu Minho yang kala itu sedang duduk menonton televisi dengan tatapan kosong di kejutkan dengan kehadiran Minho.

“eomma, Jiyeon menghilang. Apa kau tahu dia ada dimana?”. Tanya Minho langsung.

Ibunya menatap Minho, putra bungsunya itu. “kau tidak sopan sekali. Harusnya kau mengucapkan salam terlebih dahulu”. Caci Nyonya Choi. Minho membungkuk. “Jiyeon tidak menghilang, ia hanya pergi. Kau tidak menjaga nya dengan baik. sebab itu ia pergi jauh darimu”. Jawab ibunya kemudian.

“eomma, apa maksudmu? Katakan dimana dia sekarang?”. Pinta Minho dengan bergelayutan di lengan ibunya.

“dia pergi sangat jauh. Eomma bersalah padanya karna memintanya menikah denganmu. Kau, anak nakal! Kau selalu menyakiti nya! Eomma menyesal menyuruh kalian menikah”. Jawab Nyonya Choi dengan isak tangis.

Minho melongo tak mengerti apa yang dikatakan ibunya saat ini. “eomma, mianhaeyo ~ akulah yang bersalah. Katakan saja dimana dia berada sekarang? Aku ingin meminta maaf padanya”. Ujar Minho.

Di sebuah ruangan khusus penyimpanan abu orang yang sudah meninggal. Nyonya Choi mengajak Minho ke tempat itu. lalu, Nyonya Choi berhenti dan berdiri menghadap rak terbuka dengan bunga matahari putih plastik yang menempel pada semua sisi kotal itu. di dalamnya terdapat guci putih berbentuk tabung. Di samping guci tersebut tergeletak buku diary yang tidak terlalu tebal.

“eomma, mengapa kau mengajaku kemari?”. Tanya Minho. Ia bergidik melihat seisi ruangan yang penuh dengan guci seperti yang ada di hadapannya sekarang.

“kau bilang, kau ingin minta maaf pada Jiyeon. Disinilah dia berada. Cepat, meminta maaflah padanya”. Ujar Nyonya Choi. Minho menggeleng tak percaya. Di dalam guci itu terdapat abu istri nya.

“maldo andwae! Eomma, jangan membohongiku! Jiyeon – ini sangat tidak mungkin”. Seru Minho. Nyonya Choi diam namun airmatanya kembali terjatuh. Minho jatuh dan terduduk di lantai.

~oOo~

“kau, benar-benar bodoh Park Jiyeon”. Ejek Minho saat membaca isi diary Jiyeon yang semua isinya tentang Minho. Ia tidak percaya jika Jiyeon telah tiada, ia masih bisa merasakan Jiyeon saat ini. Minho beralih pada halaman terakhir yang membahas tentang bayi. “Jiyeon – kau?”. Gumam Minho. Terdapat deretan nama-nama anak dengan marga Choi dan Park.

‘… ah, hanya itu yang ada di benakku saat ini. Jika Minho tidak mau mengakui anakku, maka aku akan memberinya nama dengan marga Park. Xixi ~ mengapa aku begitu senang? Aku tahu, Minho tidak akan menyukai bayiku. Seperti ia tidak menyukai ku. tapi, akan sangat menyayangi anak ini. Karna dia anak Choi Minho’.

“Jiyeon mengalami pendarahan. Itu lah yang menyebabkan ia meninggal”. Timbal Nyonya Choi. Minho menangis sejadinya mengetahui kenyataan ini. ~Jiyeon’ah, mianhnata ~

~oOo~

Huwwaahh ~

Selesai Chapter 1 nya nihh 😀 ok, kita lanjut ke Chapter 2 #aseekk

Tapi jangan lupa untuk meninggalkan komentar Anda sekalian di kotak komentar yang telah kami sediakan 😀

Gansahamnida  ^^~

Klik here to get PassWord : PASSWORD

80 thoughts on “FanFict “I Know” [Chapter 1]

  1. annyeong aku reader baru disini, salam kenal
    waahh ff na bener2 sedih, kenapa jiyeon na harus meninggal ;'(
    author blh minta pw yg chapter 2 na 🙂

  2. Ahhhhh haru banget hiks..hiks…
    Kenapa minho kasar banget sama jiyeon…? Kenapa jiyeonnya meninggal ? Waeyo authornim >.<
    Overall ceritanya bener" bikin aku hanyut sehanyut hanyutnya ^^
    Daebak Author *,*

  3. sedih banget baca ceritanya huuuu 😦 lihat jiyeon disakitin kayak gitu sama minho kayaknya nyesek banget, tapi jiyeon masih bisa tetep tersenyum.
    Wah jiyeonya kenapa mesti secepat itu perginya padahalkan minho mau minta maaf sama jiyeon

  4. Huaahuaa kasian jiyeon 😥 semoga di part 2 itu cuma kebohongan kerjasama antara omma choi dan jiyeon biar minhoo sadar

  5. Minho jahat banget sih,bersikap kasar dan sering memukuli jiyeon.namun, akhirnya minho menyadari mencintai jiyeon,tapi semua sudah terlambat,jiyeon meninggal karena pendarahan.
    Daebak thor ffnya,saya suka banget nih.
    Tapi sedih banget thor,jiyeonnya meninggal.lanjut baca aja ya thor.tetap semangat thor.

  6. yahhh minho tega bgt ke jiyeon, padahal kan jiyeon baik bgt ke minho…
    lagi pula, mereka nikah kan karena perjodohan eomma minho, pasti beliau yg lbh tau siapa yg pantas untuk anaknya..
    setuju sama ungkapannya key 🙂
    yahh sad endingkah?? jiyeon meninggal yakk?? 😦
    penasaran dengan lanjutannya kaks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s