FanFict “Reminds of Love” [Chapter 6]


20110201_taecyeon_副本

[Chapter  6]

Main cast :

–         Ham Eunjung T-Ara

–         Ok Taecyeon 2PM

Support cast :

–         Park Jiyeon T-Ara

–         Park Hyomin T-Ara

–         Lee Jieun (IU)

–         Etc

Genre : romance, action *dikit*, maaf kalo ada adegan NC nya :v

Annyeonghaseyo readers tersayong :* Happy reading #bagipopcorn

***

Hembusan angin malam menemani kebersamaan Eunjung dan Taecyeon malam ini. Mereka pergi ke tempat biasa, kedai di pinggir Sungai Han. Taecyeon tampak gelisah malam ini.

 

“ada apa?”. Tanya Eunjung yang heran melihat gelagat Taecyeon.

 

“ah, Eunjung’ah, ada yang ingin aku katakan padamu”. Jawab Taecyeon.

 

Eunjung meletakkan gelas sojunya. “ehm… malhaebwa (katakanlah)”. Eunjung menunggu Taecyeon mengutarakan perkataannya.

 

Taecyeon menarik napas dalam lalu menghembuskannya. “mianhae, seharusnya aku mengatakan ini lebih awal. 3 hari lalu, Soohyun menelpon ku”. ujar Taecyeon akhirnya. Eunjung membelalak.

 

“a – apa maunya?”.  Tanya Eunjung. Matanya mulai terasa panas, kepalanya pusing.

 

“dia bilang, akan mengambil hak nya. Mianhae”. Jawab Taecyeon. Hening. Eunjung masih menganga dan menatap nanar. Dadanya terasa sakit. “gwaenchana?”. Taecyeon memegang tangan Eunjung, takut terjadi sesuatu pada Eunjung.

 

“Taecyeon’ah, perasaanku tidak enak. Ayo kita pulang, Jiyeon sendirian di apartemen”. Ajak Eunjung. Wajahnya terlihat pucat. Dengan segera mereka berdua berlari menuju mobil dan pulang ke apartemen. Eunjung sangat panik, tak henti-hentinya ia menghubungi Jiyeon. Namun tak ada balasan.

###

“kau –“.  Jiyeon menutup mulutnya dengan tangan dan melangkah mundur memasuki apartemen. Sedangkan ketiga lelaki itu melangkah maju. “berhenti di situ atau aku akan berteriak!”. Ancam Jiyeon. Ia tahu, lelaki itu adalah orang yang selama ini di selidiki oleh Minho.

 

Ancaman Jiyeon tak membuat mereka berhenti. Jiyeon tersandung soffa ruang tengah dan terduduk di atas soffa tersebut. “kau siapa? Wajahmu cukup cantik, lebih baik kau ikut aku”. Goda lelaki yang merupakan bos dari 2 orang bodyguardnya.

 

Ia menggerakan jari telunjuknya. Tanpa menunggu lama kedua bodyguardnya memegangi Jiyeon dan menutup mulut Jiyeon dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius. “sepertinya hanya ada dia di apartemen ini. Aku beruntung sekali”. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan. Di raihnya sebuah frame yang terletak di meja sudut ruangan. Nampak 3 orang gadis sedang tersenyum bahagia –Eunjung, Hyomin, dan Jiyeon- “jadi ini benar tempat tinggalnya”. Lanjutnya lagi.

 

Kedua bodyguardnya telah membawa Jiyeon ke dalam mobil. Lalu disusul oleh lelaki itu. senyuman miring tergambar diwajahnya. Kembali ia tutup pintu apartemen Eunjung dengan rapat.

###

“Jiyeon’ah!!”. Teriak Eunjung saat masuk ke apartemennya. Tak ada jawaban. Eunjung berlari menuju kamar, Jiyeon tak ada. “Jiyeon’ah!! Eoddie??”. Teriak Eunjung lagi. Ia melihat potongan pizza yang masih berada di kotaknya. Eunjung mendekati kotak pizza itu dan menyentuhnya. “masih hangat”. Gumamnya.

 

“eotteohke?”. Tanya Taecyeon saat selesai memeriksa di sekitar apartemen. Eunjung menggeleng. “shit!! Kita terlambat”. Taecyeon meninju dinding. Sedangkan Eunjung terduduk di kuris sembari menangis. “mianhae, jalmeotesseo (maaf, ini salahku)”. Taecyeon memeluk tubuh rapuh Eunjung.

 

Tak lama kemudian Hyomin pulang. Ia terkejut melihat Eunjung yang sedang menangis. Tanpa bertanya ia langsung memukuli Taecyeon. “yya!! kau apa kan eonni ku?? sampai dia menangis seperti itu”. seru Hyomin langsung menyerang secara membabi buta.

 

“yya! yya! Hyominnie, dengarkan aku dulu”. Taecyeon berbalik dan memegang pergelangan tangan Hyomin untuk menghentikan aksinya. “Jiyeon diculik”. Ujar Taecyeon. Hyomin terperangah mendengarnya.

 

“bagaimana bisa itu terjadi?”. Hyomin pun terduduk lemas. “walaupun dia menyebalkan tapi aku menyayanginya”. Lanjut Hyomin. Kepalanya langsung terasa pusing. Hening. “arayo, telpon Minho”. Hyomin bangkit dan menuju kamar tidur mereka untuk mencari handphone Jiyeon. “sial!”. Caci Hyomin terdengar dari kamar.

 

“waeyo?”. Tanya Eunjung, matanya sudah sembab karna menangis. Hyomin keluar dari kamar, sebuah handphone telah berada di genggamannya. Ya, itu handphone Jiyeon.

 

“handphonenya di beri password. Bagaimana kita menghubungi Minho?”. Tanya Hyomin kebingungan. Eunjung berpikir sejenak, memikirkan apa password handphone Jiyeon.

 

Eunjung menjentikan jari telunjuk dan ibu jarinya. “coba kau ketik, JiyiYeppeo”. Ujar Eunjung.

 

Hyomin mengerutkan keningnya. Lalu mengetikan ‘JiyiYeppeo’ pada kotak password di handphone Jiyeon. Tring! Keypad Unlocked. Dan tampaklah wallpaper Jiyeon yang sangat cute lengkap dengan ikon menu dan lain sebagainya. “heh! Berhasil”. Dengus Hyomin.

 

“cepat kau hubungi Minho”. Suruh Eunjung. Hyomin mengangguk dan menjalankan perintah Eunjung. 5 menit kemudian, Hyomin masih sibuk mengotak-atik handphone Jiyeon. “sudah?”. Tanya Eunjung yang heran dengan ekspresi wajah Hyomin.

 

Hyomin menggeleng. “aku tidak tahu nomor handphone Minho. Tidak bisa di temukan”. Jawabnya.

 

“aigoo ~ coba kau cari di kontaknya, ❤ seobang <3”. Suruh Eunjung lagi. Hyomin mengangguk, kali ini ia tersenyum. “isseoyo? (ada?)”. Hyomin mengangguk.

 

“sudah”. Seru Hyomin. “siapa yang menculik Jiyeon? Kasihan sekali penculiknya menculik gadis merepotkan itu”. gumam Hyomin. Mereka semua diam, menunggu Minho datang.

###

Jiyeon dibawa ke sebuah gudang tua di dekat bukit. Sepi, bahkan rumah pun jauh dari tempat itu. ia di ikat dan mulutnya di tutup dengan lakban. Gelap, hanya ada cahaya dari lampu neon yang berada di tengah ruangan tempatnya berada sekarang. Di hadapan Jiyeon, 3 orang lelaki mengerikan tengah berpesta dengan beer dan camilan sambil bermain kartu.

 

“emm… emmm”. Teriakan Jiyeon tidak keluar karna mulutnya tertutup rapat. Jiyeon menggerak-gerakan tubuhnya hingga menimbulkan suara berisik. Risih dengan kelakuan Jiyeon, akhirnya salah 1 dari lelaki menyeramkan yang bertugas menjaganya agar tidak kabur membukakan lakban Jiyeon. “ahjussi kau jahat sekali”. Sembur Jiyeon saat mulutnya terbebas.

 

“mwo!? Kau bilang aku jahat?”. Balas lelaki itu.

 

Jiyeon memanyunkan bibirnya. “kau juga bau! Ahjussi ~ lepaskan ikatanku. Aku tidak pandai kabur”. Bujuk Jiyeon.

 

Beberapa jam kemudian.

 

“jadi begitu ceritanya, ahjussi sekalian”. Ujar Jiyeon. Tangannya telah terbebas dari tali yang tadinya mengikat dengat erat. Ketiga lelaki itu mengangguk. Yah, Jiyeon habis mendongeng untuk ketiga lelaki itu. “ahjussi, aku lapar. Saat aku di bawa kesini aku bahkan belum sempat menghabiskan pizza ku”. keluh Jiyeon sambil memegangi perutnya yang keroncongan.

 

“mianhae Jiyeon’ah, kami hanya punya kacang”. Jawab lelaki yang bermata sipit dengan menyodorkan semangkuk kacang goreng.

 

Jiyeon mengambil mangkuk tersebut. “gwaenchana. Eum… ahjussi, mengapa kalian bekerja seperti ini?”. Tanya Jiyeon. Ketiga lelaki itu saling pandang, berdehem dan menggaruk tengkuk mereka.

 

“cepat habiskan kacang itu. lalu kami akan mengikatmu lagi. Sebentar lagi bos Kim pasti akan kemari”. Suruh seorang lelaki yang tidak memakai jaket. Jiyeon mengangguk dan menghabiskan kacang yang di berikan oleh lelaki itu. kamudian ia di ikat lagi, namun tidak terlalu kencang.

 

Benar saja, tidak menunggu lama orang yang mereka sebut sebagai bos Kim itu datang dengan pengawalan beberapa bodyguard nya. Wajahnya tampan dan juga terawat. Benar kata Minho, dia ini penjahat kelas kakap. Uangnya pasti banyak.

 

“annyeonghaseyo nona cantik”. Goda bos Kim. Jiyeon melengos. “cihh… kau cantik tapi sombong sekali. Naneun, Kim Soohyun imnida”. Lelaki muda nan tampan bernama Kim Soohyun itu mengelus-elus pipi Jiyeon yang mulus dengan punggung tangannya. Soohyun membuka lakban di mulut Jiyeon.

 

“lepaskan aku. Aku tidak punya masalah denganmu, mengapa kau menculikku?”. Ujar Jiyeon. Soohyun terkekeh. “kau memang tampan, tapi sayang kau gila”. Cerca Jiyeon.

 

Soohyun menatapnya tajam. “kau, memang tak punya masalah denganku”. Jawab Soohyun lalu berdiri tegap dan membelakangi Jiyeon. “tapi, Eunjunglah yang punya masalah denganku”. Lanjutnya. Jiyeon menganga, Soohyun berbalik dan mendekatkan wajanya pada wajah Jiyeon. “sepertinya sekarang aku tidak menginginkan dia lagi, karna ternyata dia punya adik secantik dirimu”. Smirk Soohyun membuat Jiyeon semakin ketakutan.

###

Brakk!! Minho datang ke apartemen Eunjung dengan tergesa-gesa ia masuk tanpa memberi salam. Jas abu-abu nya ia biarkan terbuka dan beberapa kancing baju kemeja tanpa dasi sebagai dalamannya juga terbuka. Wajahnya memerah karna frustasi setelah mendapat kabar bahwa Jiyeon di culik oleh Soohyun, penjahat yang ia selidiki selama ini.

 

Minho duduk berhadapan dengan Eunjung yang bersandar pada pundak Taecyeon. Tuk tuk tuk… ia memainkan jarinya pada meja, berpikir dengan keras.

 

“4 tahun lalu kami kira kami berhasil menangkapnya, namun ternyata kami salah orang. Soohyun, ia penjahat yang kejam. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Jiyeon”. Ucapnya dengan lesu.

 

“eotteohke?”. Lirih Eunjung. Tatapannya nanar, Jiyeon tidak mungkin bisa lari seperti yang pernah ia lakukan dulu.

 

Minho menghela napas. “kita tunggu sampai ia menghubungi kita”. Jawab Minho. Semuanya terdiam. Menunggu, itulah yang mereka lakukan sekarang. Sekian menit kemudian, telepon masuk ke handphone Taecyeon. Semua yang ada di ruangan itu menoleh pada Taecyeon.

 

“Soohyun”. Ujar Taecyeon. Ia menatap Eunjung seolah meminta izin untuk menjawab telpon, Eunjung mengangguk pasti. Taecyeon mengangkat telpon tersebut. “yeobeoseyo”. Ucap Taecyeon pelan berusaha tenang.

 

“ohh, Taecyeon’ssi, mengapa kau lama sekali? Kau pasti sudah tahu jika sekarang calon adik ipar mu sedang bersama ku”. Soohyun tertawa entah apa yang lucu dari yang ia bicarakan.

 

“cihh, brengsek kau! Cepat kembalikan dia! Dia tak ada hubungannya dengan ku!”. teriak Taecyeon tak dapat lagi membendung emosinya.

 

Lagi, Soohyun tertawa geli. “arasseo, tapi kau berikan Eunjung padaku. Eotteohke?”. Tawar Soohyun. Taecyeon menatap Eunjung kemudian Minho. “aku tunggu jawabanmu. Jika kau menyetujui nya, suruh Eunjung datang ke gudang tua tempat kau mengambil Danee dulu. Annyeong”. Tuutt… telpon terputus.

 

“arayo. Oppa, antarkan aku kesana”. Pinta Eunjung. Taecyeon diam. “jebal ~ aku tak mau Jiyeon terluka”. Pintanya lagi.

 

“andwae. Kita tidak boleh menyerahkan siapa pun kepada Soohyun. Aku punya cara lain. Eunjung noona, bersabarlah”. Sela Minho. Ia sedang memikirkan triknya. Sementara Eunjung tertunduk dan Hyomin menepuk-nepuk punggungnya.

###

Pukul 1 dini hari, Eunjung belum juga bergegas menuju tempat yang di maksud oleh Soohyun. Minho sudah menghubungi pihak kepolisian untuk melakukan pernyergapan ke markas Soohyun.

 

“oppa, kumohon antarkan saja aku ke tempat itu”. pinta Eunjung untuk kesekian kalinya. Taecyeon hanya memandangnya dengan tatapan sendu. “Minho’ssi, apa kau mau terjadi sesuatu pada Jiyeon, hm?”. Kini Eunjung beralih pada Minho yang sedari tadi sibuk menelpon.

 

Minho meletakan handphone nya. “hmm… gerreom andwae noonaya (tentu saja tidak noona)”. Jawab Minho lesu.

 

“bagus, kalau begitu antarkan aku kesana!”. Pinta Eunjung dengan bersemangat. Minho menunduk lesu. “palli”. Pintanya sambil menarik-narik lengan jas Minho.

 

“eonni ~ eonni, geumanh (eonni ~ eonni, hentikan)”. Hyomin menarik Eunjung yang mulai meronta agar ia di antarkan ke markas Soohyun untuk menebus Jiyeon. Hyomin menarik Eunjung dan menenangkannya. Ia tahu betul jika Eunjung sangat menyayangi Jiyeon selaku adik angkatnya selama 4 tahun belakangan ini. “Jiyeon pasti baik-baik saja, eonni”. Hyomin menepuk-nepuk punggung Eunjung.

###

“yya ~ ahjussi, aku lelah duduk di sini”. Keluh Jiyeon yang terikat pada sebuah kursi kayu di ruangan remang-remang tersebut. Di hadapannya, Soohyun sedang duduk dengan kaki di naikan ke atas meja bundar kecil dan tangan nya memutarkan senjata api.

 

Prakk! Soohyun meletakkan senjata api nya di meja dengan kasar membuat Jiyeon sedikit terkejut. “bawa dia ke kamar”. Perintah Soohyun pada anak buah nya sedangkan ia langsung pergi begitu saja.

 

“ye!”. Jawab ketiga anak buahnya dengan cepat. Soohyun menoleh pada Jiyeon dan menebar smirk pada Jiyeon. Ketiga anak buahnya menghampiri Jiyeon  untuk membukakan ikatan pada tangan gadis itu. “palli palli”. Bisik salah seorang dari mereka.

 

Kini ikatan pada tangan Jiyeon telah terlepas, ia mengelus pergelangan tangannya yang memerah karna tali itu mengikat tangan kecilnya dengan kencang. “aku akan tidur dimana?”. Tanya Jiyeon.

 

Lengannya dipegangi erat oleh 2 orang anak buah Soohyun. “ikut saja”. Jawab mereka. Jiyeon menurut dan berjalan dengan gontai, kakinya keram karna terlalu lama duduk. Mereka tiba di sebuah pintu dengan tinggi 2 meter. “masuklah”. Perintah salah seorang dari anak buah Soohyun.

 

“ne?”. Jiyeon terkejut sekaligus takut. Pintu pun terbuka, bukan seperti sebuah kamar. Sangat berantakan namun ada sebuah ranjang berwarna kecoklatan di dalamnya. “shirreo! Aku sudah tidak lelah”. Jiyeon berbalik hendak pergi.

 

Lengan nya di tarik kembali oleh seorang anak buah Soohyun. “masuklah jika kau mau selamat, Jiyeonni ~ ini juga menyangkut keselamatan kami”. pinta lelaki itu.

 

Perlahan Jiyeon mulai melangkah masuk, sesekali ia menoleh pada ketiga anak buah Soohyun yang terlihat iba padanya. Brakk! Pintu tertutup. Jiyeon kembali di kejutkan oleh seorang Soohyun yang telah berdiri di sudut ruangan dengan keadaan topless. Otot bagian belakangnya nampak jelas membuat Jiyeon semakin ngeri melihat sosok tersebut.

 

“ahjussi, kenapa kau berada disini? aku mau tidur, keluarlah”. Suruh Jiyeon dengan wajah polos.

 

Soohyon tersenyum miring dan berjalan mendekati Jiyeon. “aku bos nya, berani sekali kau menyuruhku keluar”. Jawab Soohyun datar. Jiyeon berjalan mundur menghindari Soohyun.

 

“kau – kau mau apa? Jangan mendekat”. Jiyeon mulai panik ketika sadar tak ada lagi jalan untuk menjauh, di belakangnya kini sebuah dinding kokoh yang membuat langkah nya tertahan sementara Soohyun semakin dekat.

 

Soohyun mengurung Jiyeon di dalam tangannya yang kekar. “aku menginginkan mu”. Jawab Soohyun. Jiyeon mendorong Soohyun dengan sisa tenaga nya hingga Soohyun sedikit terdorong, langsung saja Jiyeon berlari menjauhi Soohyun. “kau tak akan bisa kabur dariku”. Soohyun memasukan kedua tangannya kedalam saku celana jeansnya.

 

“andwae!!”. Teriak Jiyeon kali ini benar-benar takut. Tubuhnya gemetar dan berkeringat ketakutan. Di balik tubuh Soohyun sebuah pintu untuk keluar, Jiyeon mengambil langkah cepat menuju ke pintu itu melewati Soohyun. “aaaa… andwae!!”. Teriak Jiyeon histeris ketika tahu Soohyun berhasil menangkapnya.

 

“sudah ku peringatkan kau tak akan bisa kabur”. Ujar Soohyun dengan tawa kemenangan. Tangan kekarnya berhasil mengangkap dan memeluk tubuh kecil Jiyeon. Sementara Jiyeon terus meronta dan mencakari tangan Soohyun.

 

Soohyun melempar tubuh Jiyeon keatas ranjang membuat Jiyeon sedikit meringis karna itu. Soohyun tampak tak mempedulikan hal itu ataupun tangannya yang lecet karna cakaran Jiyeon. “kau takut?”. Tanya Soohyun pada Jiyeon yang kini berusaha untuk bangun.

 

Jiyeon menangis ketakutan, tenaga yang tersisa tak mampu lagi membuatnya terbangun. Soohyun berada di atasnya, dengan kasar menangkup dagu Jiyeon dengan kasar. “kau tak perlu takut, ada aku disini”. ujar Soohyun bak seorang malaikat. Jiyeon menepis tangan Soohyun dari dagu nya.

 

“menyingkirlah!”. Teriak Jiyeon namun tak terdengar seperti teriakan. Sebuah tamparan mendarat di wajah mulus Jiyeon meninggalkan bekas lebam disana. “menyingkirlah – dariku”. Ucap Jiyeon semakin lemah.

 

“mianhae, aku tidak bisa”. Jawab Soohyun sedikit terkekeh. Tangan nya dengan lincah mulai menelusuri lekuk wajah Jiyeon. “wae urreo?”. Sungguh pertanyaan yang tidak perlu di jawab. Jiyeon menggelengkan kepala nya agar tangan Soohyun menjauh darinya.

 

Tangan Soohyun mulai membuka kancing baju Jiyeon. “andwae!”. Jiyeon masih terus berusaha menyingkirkan tangan Soohyun. Walaupun ia tak berhasil. Jiyeon menerjang-nerjangkan kakinya. Namun, tiba-tiba Soohyun menghentikan aksinya ketika mendengar suara nada dering telpon yang berasal dari handphone nya. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Jiyeon untuk mengaitkan kembali kancing baju nya yang terbuka.

 

“siapa yang menelpon? Sungguh mengganggu”. Kesal Soohyun lalu meraih handphonenya yang terletak tak jauh dari mereka sekarang. Jiyeon akhirnya bisa bernapas lega saat Soohyun bangkit dari atas tubuhnya. Soohyun agaknya sangat senang ketika menerima telpon tersebut.

###

“Eunjung’ah, pakailah ini”. Taecyeon memberikan sebuah alat seperti flashdisk berwarna hitam. Eunjung menatap Taecyeon dan benda itu bergantian. “mereka akan melacakmu dengan alat ini. Ah, aku tidak tahu namanya apa, tapi begitulah yang sering aku lihat di film action yang pernah ku tonton”. Taecyeon menggaruk tengkuknya.

 

Eunjung tersenyum melihat tingkah Taecyeon lalu menghambur memeluk Taecyeon. “gomawo, aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik”. ujar Eunjung. Beberapa agen kepolisian yang berada di sekitar apartemen Eunjung saling berbisik melihat adegan itu.

 

“ehem – hem. Nde ~ aku percaya padamu”. Jawab Taecyeon. Umpatan penonton yang menyaksikan mereka berdua membuat mereka malu dan salah tingkah.

 

Minho menghampiri kedua orang itu dengan sedikit tergesa-gesa. “noona, letakan itu di tempat yang paling aman”. Peringat Minho. Ya, untuk menghindari agar Soohyun tidak menemukan alat pelacak itu. Eunjung mengangguk.

 

“bagaimana rencananya?”. Tanya Taecyeon pada Minho. Minho mulai menjelaskan strategi untuk menangkap Soohyun tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan peran utama dalam aksi ini adalah Eunjung. Jika Soohyun mencurigai Eunjung maka semuanya akan berakhir dengan menangnya Soohyun. Minho memberikan senjata api pada Taecyeon secara sembunyi-sembunyi. “ige boya? Aku tidak mempunyai izin menggunakan senjata api, aku bisa kena sanksi”. Bisik Taecyeon mendorong kembali senjata api yang di berikan Minho.

 

Minho merangkul Taecyeon agar anak buahnya tidak curiga. “kumohon, kau pasti akan sangat membantu dalam pernyergapan kali ini. Jiyeon, ini demi Jiyeon dan juga Eunjung noona. Aku akan menanggung sanksinya”. Balas Minho dengan nada sangat pelan.

 

Taecyeon berpikir sejenak. “baiklah”. Jawab Taecyeon pelan. Ia memasukan senjata api itu ke dalam saku jaket nya dan Minho memberikan 6 peluru pada Taecyeon.

 

“yya! kalian membuatku cemburu”. Rajuk Eunjung dari belakang kedua lelaki yang sedang saling merangkul itu. Taecyeon menoleh dan melepaskan rangkulannya pada Minho, begitupun dengan Minho. “kajja, Jiyeon menunggu kita”. Seru Eunjung.

###

Wahhh >.< apa ini??!!! Kyaaa ~ makin gaje aja pan yak? :v

Ok, tubikontinyu yaaaa ~ #bow

Iklan

6 thoughts on “FanFict “Reminds of Love” [Chapter 6]

  1. Sebelum kesini aku nyasar dulu di WP eunjung… Trus dapat semua part kecuali part7 di PW ya,,, Maaf komen hanya disini semoga masuk syaratnya…

    Dikira eunjung mau balas dendam AMA tae tapi sifatnya keren banget penyabar gak emosian… Si penjahat ternyata Ada lagi… Jiyeonnya kasian diculik hiks… Hyo AMA jiyi Lucu banget… IU Dan woyo juga hahaha…. Semoga penasaran sama part terakhirnya.. Semoga happy ending semua sama masing2 pasangannya.

  2. Makin seru aja thor.semoga jiyeon dan eunjung baik2 saja dan juga selamat dari penjahat soohyun.lanjut baca thor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s