FanFict “Troubled Marriage” [ONESHOOT]


9

Troubled Marriage

Author : Lee Arni a.k.a Kyo

Main cast :

  • Park Jiyeon T-ARA
  • Choi Minho SHINee

Other cast :

  • Find by yourself

Genre : nilai sendiri aja yahh ^^

Length : Oneshoot

 

Annyeonghaseyo ~ Kyo imnida #bow nde, Kyo datang lagi membawakan FanFict MinJi., yeayy!! Semoga pada suka ya ^^ happy reading readers tersayong :*

 

*Sudut Pandang Author*

angin pagi berhembus menyegarkan. Matahari mulai menampakan cahayanya. Sebagian orang telah di sibukan oleh pekerjaan masing-masing untuk menyiapkan hari ini. Hari yang cerah sangat baik untuk memulai aktifitas. Suasana berbeda terdapat pada rumah keluarga Choi, tak ada nampak kehidupan disana padahal jam sudah menunjukan pukul 8 pagi.

 

“eungh…”. suara lenguhan berasal dari salah satu kamar dirumah minimalis keluarga Choi. Nampak seorang perempuan muda nan cantik berusaha bangun dari tidurnya. Rambut panjangnya berantakan, begitu juga dengan kamar itu, baju-baju beresakan. Sepertinya perempuan itu kesusahan untuk bergerak karna ada lengan kekar yang memeluknya.

 

*Sudut Pandang Jiyeon*

Kepala ku sakit sekali. Di luar sana sudah terdengar suara orang. Berarti ini sudah pagi. Ku coba membuka mataku, aku masih mengantuk dan lelah. Ku rasakan ada sesuatu yang aneh. Ini bukan kamarku. Aigoo ~ aku dimana? Aku berusaha bangun, namun ada lengan kekar yang memeluku erat. Lengan siapa ini? Rasa panik mulai meliputi pikiranku.

 

Ku gerak-gerakan tubuhku agar bisa terlepasa dari pelukan lengan ini. “emmh…”. lenguh nya. Suara lelaki? Omo ~ apa aku tidur dengannya semalam? Oh Tidak!! Batinku. Saat aku benar-benar sadar, aku yakin sekali jika sekarang aku tidak memakai baju ku hanya bad cover biru muda ini yang menutupi tubuhku. Apa yang telah terjadi?

 

Dengan sekuat tenaga, ku singkiran lengan kekar itu. dan berhasil. Aku duduk dan menarik napas lega. Apa aku harus berteriak seperti di film? Tidak, ini bukan film. Ku kuatkan hati ku untuk menoleh pada lelaki itu. ternyata kami memang tidur dan melakukan ‘itu’ semalam. Hancurlah masa depanku.

 

Aku menoleh. Ku dapati sosok Choi Minho tertidur pulas, dada bidang nya terlihat karna bad cover di ranjangnya ku pakai untuk menutupi tubuh ku. wajahnya lucu sekali saat sedang tidur. Ku tatap lekat pada wajahnya yang sedang tidur. Tampan. Tidak, tidak, Jiyeon, dia telah melakukan ‘itu’ padamu.

 

“yya!! Choi Minho!! Terkutuk lah kau!!”. Teriak ku langsung menyerangnya dengan pukulan mautku. Bukk bukk bukk! Suara pukulan ku pada tubuhnya.

 

Minho terbangun sadar jika dirinya sedang dipukuli. “aaakh!! Yya! Chagi! Mengapa kau memukuliku! Akkh! Appo!”. Ringisnya. Kini ia pun duduk, memegangi tanganku berusaha menghentikan aksi brutal ku di pagi yang cerah ini.

 

“apa yang kau lakukan padaku semalam?”. Tanya ku sambil berteriak dan berusaha menangis. Bagaimana tidak? Dia telah mengambil sesuatu yang berharga dariku.

 

“yya! geumanhae!!”. Teriaknya. Begitu saja aku langsung berhenti melakukan aksiku. “apa kau gila hah!?”. Lanjutnya.

 

“kau yang gila!! Aku tidak mau tahu, secepatnya kau harus menikahi ku atau aku akan – “. Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Minho memamerkan tangan kanannya yang melingkar sebuah cincin silver pada jari manisnya. “kau bahkan sudah menikah. Hoooaaa”. Lanjutku setelah melihat cincin itu. ige boya?! Aku tidur dengan suami orang.

 

Minho juga tampak frustasi. Ia menunduk dan memijit kepalanya. Aku tersedu-sedu tanpa airmata sembari memeluk kaki ku sendiri. Masa depan hancur karnanya.

 

“babo!”. Seru nya akhirnya. “kau benar-benar pikun Jiyeon. Sepertinya aku harus membawa mu ke rumah sakit jiwa”. Minho menggelengkan kepalanya.

 

Ku jitak kepalanya. Geram sekali rasanya. “dan kau akan ku bawa ke panti rehabilitasi karna kau maniac”. Balas ku tak mau kalah.

 

“ck! Aigoo ~ kenapa aku mencintai mu Jiyeon. Wanita pikun seperti mu, mengapa bisa jadi istriku”. Ujar nya. Di wajahnya yang tampan tergambar sebuah senyuman khas Minho.

 

“a – apa maksudmu?”. Tanya ku heran dengan perkatannya barusan. Aku sungguh tak mengerti.

 

Minho terkekeh. “kau lucu sekali chagi. Aku mandi dulu. Siapkan bajuku ya, sayang”. Minho mencubit pipiku pelan. Apa maksudnya? Ku tarik tangan kanan ku, benar saja. Terdapat cincin yang sama pada jari yang sama dengan Minho terpasang indah menghiasi jariku. Jadi, sekarang aku adalah istri dari seorang Choi Minho. Mengapa aku bisa lupa.

 

Penyakit lupa ku memang sudah tingkat akut. Aku pernah lupa meletakkan SIM ku dan harus mengitari kampus yang sangat besar itu untuk mencari nya, dan ternyata saat itu aku tidak membawa motor. Lalu aku lupa jika ada kencan dengan Minho hingga Minho harus menunggu sampai 3 jam. Haah ~ tapi ini sudah benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa aku lupa jika kemarin aku telah mengucapkan ikrar pernikahan bersamanya diatas altar di bimbing oleh seorang bapa dan disaksikan ratusan tamu.

 

Dia menyuruhku menyiapkan pakaiannya. Baiklah, sebagai istri yang baik aku akan melakukannya. Aku pun turun dari ranjang, mengambil dress malam ku yang terkapar di lantai. Pertama, membereskan tempat tidur. Kedua, membereskan pakaian yang berserakan. Terakhir menyiapkan pakaian untuk suami ku. aku sedikit malu jika membayangkan hal yang terjadi semalam.

~oOo~

*Sudut Pandang Author*

Minho keluar dari kamar mandi. ia hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah sehingga menunjukkan otot perut nya yang sedikit terbentuk. Jiyeon memberikan pakaian untuk Minho lalu ia masuk ke kamar mandi.

 

“yak! Kau tidak menyiapkan sarapan untukku?”. Tanya Minho terperangah melihat Jiyeon yang meninggalkannya.

 

Jiyeon mengintipdari dalam kamar mandi. “untuk hari ini kau dulu yang siapkan, kau kan tahu tadi aku baru bangun juga sama sepertimu”. Jawabnya lalu menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.

 

Mulut Minho ternganga mendengar jawaban istrinya. “yah, apa boleh buat. Aku sudah memutuskan untuk menikahi mu Jiyeon!”. Seru Minho. Ya, Park Jiyeon, seorang gadis manja dan pelupa yang telah di pacari nya selama 3 tahun itu menjadi dari Choi Minho.

 

Setelah selesai memakai pakaian yang disiapkan oleh Jiyeon, Minho pun keluar kamar untuk menyiapkan sarapan pagi bagi mereka berdua. Memanfaatkan apa yang ada di dalam kulkas, hanya itu yang Minho bisa pergunakan untuk memasak. Memang sebenarnya Jiyeon tidak bisa memasak, sebelum ia menikah dengan Minho, ibu mertuanya pernah mengajarinya memasak namun Minho belum pernah mencicipi masakan yang dibuat Jiyeon.

 

“oppa, kau masak apa?”. Tanya Jiyeon. Ia telah selesai mandi. Kini ia duduk manis di kursi meja makan, memegang sumpit dan sendok.

 

“hanya masakan biasa”. Jawab Minho. Ia telah selesai, meletakkan makanan di hadapan Jiyeon. “ingat, besok kau harus menyiapkan ini semua. Bangunlah lebih pagi”. Pesan Minho.

~oOo~

*Sudut Pandang Minho*

Pagi ini semuanya berbeda, itu sih harapanku. Ternyata bidadariku –Park Jiyeon- bisa melupakan peristiwa sacral kemarin. Aigoo ~ penyakit lupa nya memang sudah keterlaluan. Bahkan ia menyuruhku untuk menyiapkan sarapan. Jika saja aku tidak menyukainya pasti besok sudah ku ceraikan dia.

 

“eumm… mashitta”. Puji nya saat mulai menyumpit makanan yang aku buat. Ekspresi wajahnya yang cantik itu sangat membuatku gemas. Bibirnya memerah karna memakan makanan yang masih panas. “oppa, kau tidak makan? Ini enak”. Serunya.

 

“melihatmu makan dengan lahap aku rasanya sudah kenyang Jiyeonnie”. Jawabku. Ku pangku dagu ku dengan tangan kiri sembari melihatnya.

 

Jiyeon menarik mangkuk makanan yang tadinya berada di tengah menuju ke hadapannya. “ohh, kalau begitu biar aku yang habiskan”. Ujarnya dengan santai.

 

“yakk! Aishh… apa kau tak mengerti jika tadi aku hanya menggodamu”. Seru ku frustasi. “mengapa aku bisa mencintaimu Jiyeon, mengapa?”. Tanya ku entah pada siapa.

 

Jiyeon beralih memelukku dari belakang. “pukpuk ~ kau ini memang bodoh Minho’ah, kau mencintaiku tentu saja karna aku cantik”. Jawabnya. Setelah mengatakan itu ia kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan makan. “buka mulutmu, mulai sekarang kita harus bertingkah layaknya sepasang suami istri”. Jiyeon menyodorkan sendok berisi makanan padaku. Ku buka mulutku dan makan.

 

Sudahlah, gadis ini memang tidak bisa membuatku marah. Tingkahnya yang lucu selalu berhasil membuat ku menarik sudut bibirku melengkung ke atas, menggambarkan sebuah senyum, senyuman bahagia karna memilikinya. Park Jiyeon.

~oOo~

*Sudut Pandang Jiyeon*

“oppa! Aku ingin semangka”. Perintahku pada Minho oppa. Ku suruh dia membelikanku semangka sepulang kerja nanti. Rasanya waktu cepat sekali berlalu, kini aku tengah mengandung anak Minho sudah 7 bulan. Aishh… rasanya senang sekali, Minho selalu memerhatikan keadaanku dan menuruti keinginanku. Hah ~ sekarang aku tinggal menunggunya pulang.

 

Aku mulai malas pergi keluar sendirian dan mulai susah berjalan membawa perut yang besar ini. Makanya aku lebih baik dirumah, menonton sambil makan. Berat badanku tentu saja bertambah sangat pesat, namun ibu bilang nanti aku harus rajin merawat diri agar tidak gemuk seperti sekarang.

 

Klek! Pintu terbuka, wahh… itu pasti Minho oppa. Aku segera berlari kecil menuju ke pintu. “oppa, kau pulang – “. Seketika itu juga raut wajah ku berubah. Bukan sosok Minho yang ku temui. Melainkan seorang perempuan bertubuh seksi. “nuguya?”. Tanya ku. Aku tidak mengenalnya atau mungkin aku lupa siapa dia.

 

“ohh, kau Jiyeon kan? Aku, Bae Suzy. Kau ingat?”. Jawabnya dengan nada datar.

 

Ku kerutkan keningku berusaha mengingat orang ini. “aniyo. Memangnya kau siapa minta di ingat olehku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”. Tanya ku tak kalah sinis darinya.

 

Ia masuk begitu saja tanpa permisi. “ternyata Minho benar, kau memang pelupa”. Ejeknya. Suzy masuk dan duduk di kursi tempat dudukku tadi. Gayanya bak sang pemilik rumah, dengan santai ia memakan camilanku.

 

“yya!! Kau ini seenaknya dirumah orang. Itu makananku!”. Teriakku tak terima, dengan kasar ku rebut kembali camilanku dari pangkuannya.

 

“kau kasar sekali. Baiklah, aku tak mau berlama-lama”. Ujarnya dengan nada yang sangat sombong. “kau sebaiknya memperhatikan Minho. Dia tersiksa karna tingkahmu, lihatlah kau bahkan tak secantik dulu”. Lanjut nya. Suzy berjalan mendakat sedangkan aku menjauh. Tatapannya itu menakutkan. “aku, wanita simpanan Minho”. Katanya dengan bangganya.

 

Terasa seperti tertimpa beban yang sangat berat. “maldo andwae! Geotjimariya! Geotjimariya!!”. Teriakku.

 

Suzy tersenyum miring. “aku hanya memberitahumu. Bukankah aku sangat baik Jiyeon’ssi? Baiklah, aku pergi sekarang”. Suzy pun berlalu. Kepala ku sangat sakit mengetahui itu. Tidak, aku tidak boleh mempercayai perempuan itu tanpa menyelidiki terlebih dahulu.

 

Ini tidak mungkin. Minho selalu ada disaat aku membutuhkannya. Tidak mungkin dia bisa berselingkuh dengan perempuan bernama Suzy itu. tapi, tapi Suzy, kenapa ia bisa tahu beberapa hal tentangku? Apakah itu benar? Oh Tuhan ~

~oOo~

*Sudut Pandang Author*

Minho pulang ke rumahnya, di tangannya terdapat kantung plastic berwarna putih. Ya, itu pesanan Jiyeon, istrinya. Sunyi, tak ada suara televisi seperti biasa, lampu tengah juga tidak menyala. Ah, mungkin Jiyeon sudah tidur. Pikirnya. Minho masuk mengendap-endap seperti pencuri.

 

“kenapa kau berlagak seperti salah masuk rumah?”. Tanya Jiyeon yang sudah berdiri di dekat pintu kamar mereka. “mana pesananku?”. Serunya seperti seorang penodong.

 

“aigoo ~ chagi, kau mengagetkanku”. Minho tersenyum manis pada Jiyeon. Tanpa ia sadari jika tadi seorang Suzy datang menemui Jiyeon. “mumumu”. Minho memanyunkan bibirnya tanda meminta kissue seperti biasa. Tapi Jiyeon malah melengos dan merebut kantung plastic dari tangan Minho.

 

Jiyeon berjalan menuju rak piring, mengambil piring dan memindahkan semangka pesanannya ke dalam piring. “kau kenapa chagi?”. Minho memeluk Jiyeon dari belakang. Jiyeon hanya diam, berjalan menuju meja makan dan mulai memakan semangka yang sudah di potong-potong dadu.

 

“kau makan terus. Lihatlah, kau semakin gemuk”. Ejek Minho. Jiyeon menatapnya sinis, tidak seperti biasanya. “katakana ada apa?”. Tanya Minho lagi.

 

Ting! Jiyeon membanting garpunya ke piring hingga menimbulkan suara. “jika kau tak suka punya istri gemuk, carilah wanita lain yang lebih seksi”. Jawab Jiyeon. Ia berdiri dan masuk kamar, pintu kamar pun menjadi korban amukan Jiyeon.

~oOo~

*Sudut Pandang Minho*

Kenapa Jiyeon aneh sekali? Tidak biasanya dia seperti itu. Bahkan ia tidur memunggungiku. Ia menyingkirkan tanganku saat aku akan memeluknya. Hmm… apa dia sakit? Mengapa sangat senang sekali membuat ku khawatir.

 

Aku masih ingat saat dia menari-nari diatas meja. Lalu pergi ke kolam renang tanpa sepengetahuanku. Aigoo ~ jika aku melarangnya dia pasti akan bilang ‘oppa, aku ini wanita kuat’ ujarnya sambil mengepalkan kedua tangan kecilnya itu.

 

Drrrtt… handphone ku bergetar. Sudah tengah malam begini, siapa yang masih menhubungi ku. Ku raih handphone ku yang ku letakan di samping bantal ku. Sebuah pesan singkat.

 

From : Suzy

 

Bogoshipeo ~ kapan kau menemuiku lagi, eumm? Aku kedinginan L

Reply? Yes

To : Suzy

Nado ~ secepatnya, makanya jangan pakai pakaian yang seksi terus agar hangat. Jiyeon merajuk malam ini.

Send? Yes

 

Ku sunggingkan senyuman saat mendapat sms dari Suzy. Suzy adalah wanita simpananku, aku bertemu dengannya saat melakukan pertemuan di Busan tahun lalu. Jiyeon juga pernah bertemu dengannya saat ulang tahun kantor ku. Kami sering pergi bersama. Jiyeon, mianhae. Aku memang sering dibuat kesal oleh Jiyeon, dan Suzy datang disaat yang tepat lalu kami pergi bersama untuk minum di sebuah club.

 

Jiyeon merajuk? Apa mungkin dia sudah tahu tentang hubunganku dan Suzy? Ah, tapi tidak mungkin. Dia kan selalu di rumah. Aku juga tidak mungkin menanyakannya, bisa-bisa dia curiga.

~oOo~

*Sudut Pandang Author*

Satu minggu setelah kedatangan Suzy kerumah Minho, Jiyeon terus melakukan penyelidikan terhadap suaminya sendiri untuk membenarkan perkataan Suzy. Dan hasilnya tidak seperti yang ia harapkan karna memang benar Minho ada main dengan Suzy. Pagi-pagi sekali Minho sudah bangun. Menyiapkan makanan untuknya sendiri dan kemudian pergi sementara Jiyeon masih tertidur. Ia hanya mengirimi pesan singkat untuk Jiyeon. Alarm berbunyi, Jiyeon terbangun dari tidur nya dan mendapati Minho sudah tidak ada.

 

Jiyeon berdiri di depan cermin yang menempel di lemari pakaiannya. “wanita hamil yang gemuk juga jelek. Apa Minho sudah tidak mencintaiku lagi karna sekarang aku sudah jelek?”. Rutuknya. Disisirnya rambut panjang miliknya itu secara perlahan. “baiklah, aku tidak akan makan agar tidak gemuk”. Lanjutnya.

 

Setelah itu Jiyeon mandi, berganti pakaian dan hanya minum air putih sebagai sarapan. “baby, mianhae, eomma harus diet”. Ujar Jiyeon. Dielusnya perut besar itu. Benar saja, Jiyeon tidak makan sedikitpun. Ia hanya duduk dan menonton.

~oOo~

“MWO?? Kau memberitahu Jiyeon tentang hubungan kita?”. Teriak Minho. Saat ini ia berada di rumah Suzy.

 

Suzy bergelayutan di lengan Minho yang hendak pergi. “waeyo? Lambat laun dia akan tahu bukan? Kkajima~”. Jawab Suzy dengan manja.

 

“menyingkirlah Bae Suzy!!”. Minho mendorong Suzy hingga pelukan Suzy pada lengan Minho terlepas. “mengapa kau melakukan ini padaku, Suzy”. Jerit Minho frustasi

 

Suzy melipat tangannya di bawah dada. “wae? Kau bilang kau tak suka pada Jiyeon bukan? Aku berbaik hati memberitahunya, Minho. Harusnya kau berterima kasih”. Balas Suzy. Tanpa banyak bicara lagi Minho pergi dari rumah Suzy. Meninggalkan Suzy sendirian tanpa berbiaca apapun.

~oOo~

Aishh… bodohnya aku mau berhubungan dengan gadis licik itu. Jiyeon, pasti dia marah karna itu. Tapi kenapa dia tidak berkata apapun padaku. Ku pukul-pukul setir mobil ku, haruskah aku pulang ke rumah sekarang? Aku benar-benar bingung. Bagaimana jika Jiyeon meminta cerai karna dia sudah tahu aku berselingkuh. Tidak, itu tidak boleh terjadi, dia pasti akan membawa anakku jika kami bercerai.

 

Ku putuskan untuk pulang kerumah. Tidak apa-apa jika Jiyeon memukuli ku sampai babak belur, yang harus aku lakukan adalah minta maaf padanya. Seperti biasa, rumah kami sangat sepi. Tapi tidak akan lama lagi rumah ini akan disibukan oleh suara tangisan bayi. Yah, anakku dan Jiyeon.

 

Klek! Ku buka pintu rumah ku ternyata tidak terkunci. Jiyeon ceroboh sekali sampai lupa mengunci pintu. Ku rasa jam seperti ini dia sedang tidur siang. Aku tidak pernah tahu apa yang ia lakukan saat aku tak ada di rumah. Dulu dia sering mengunjungi kantor ku, namun sejak awal kehamilannya dia sering datang ke tempat ibu-ibu hamil. Dan saat itu aku sering bertemu dengan Suzy. Aishh.. kenapa membahas dia lagi.

 

“chagiya?”. Aku memanggil Jiyeon karna ia tak berada di ruang tengah. Tak ada jawaban. Aku pun masuk kamar dan ku dapati Jiyeon dengan duduk dilantai, tubuhnya bersandar pada ranjang, dan menatap ke luar. Langsung saja ku hampiri dia. “chagi, kau sedanga apa, hm?”. Tanya ku.

 

Jiyeon menoleh dan menatapku. “neo? Neon nuguya?”. Jiyeon balik bertanya. Lelucon apa lagi ini.

 

“jangan bercanda chagiya. Ini aku Minho, suamimu”. Jawab ku sedikit serius. Jiyeon menggeleng-gelengkan kepala.

 

“beraninya kau mengaku sebagai suami ku!”. serunya. “pergilah, jangan ganggu aku”. Titahnya.

 

Aku sangat terkejut. Benar-benar, Jiyeon marah padaku. “yya! kau kenapa chagi? Apa pelupa mu semakin parah?”. Ku raba kening nya, panas. Jiyeon demam.

 

Jiyeon menepis tanganku dengan kasar. “jangan sentuh aku! Kau bukan suami ku!”. teriaknya. Terlihat dengan jelas raut wajahnya memerah karna emosi, deru napasnya juga sangat tampak.

 

“chagi, jangan berteriak seperti itu”. nasihatku dengan lembut agar Jiyeon tidak semakin marah. Ia diam saja. Aku pun diam. Beberapa menit diantara kami hanya saling menatap.

 

“aku sedang menunggu suami ku pulang, pulang dari rumah perempuan simpanannya”.ujar Jiyeon akhirnya. Ia memilin-milin rambut nya. Darahku rasanya naik sampai ke ubun-ubun mendengar perkataan Jiyeon. Ia berdiri dengan susah payah.

 

Ku peluk ia dari belakang. “Jiyeon’ah, mianhae ~ cheongmal mianhae”. Pintaku.

 

“kenapa kau yang minta maaf? Aku menunggu suami ku dengan setia. Dia pasti tidak menyukai ku lagi, aku hanya wanita gemuk jelek”. Jawabnya sambil terkekeh.

 

“geumanhae! Pukuli aku saja Jiyeonnie, tapi kau maafkan aku!”. Pintaku sekali lagi. Jiyeon tak berkata apapun.

 

“aakh! Appo ~ jinjja appo!!”. Seru nya.

 

“Ji – Jiyeonnie, kau kenapa??”. Tanya ku khawatir. Matanya sampai terpejam menahan sakit. Segera ku bopong tubuhnya menuju mobil. Takut terjadi sesuatu yang lebih parah dari ini. Ku bawa Jiyeon ke rumah sakit. Wajah nya tampak sangat menderita.

 

Sesampainya di rumah sakit, dengan gesit para perawat membawakan brankar dan mendorong Jiyeon menuju UGD. Jiyeon mulai kehilangan kesadarannya. Terus ku genggam tangan Jiyeon.

~oOo~

*Sudut Pandang Author*

Minho mondar-mandir menunggu dokter yang memeriksa Jiyeon keluar dari ruangan. Sudah 15 menit ia menunggu. Dalam hatinya terus berdoa agar Jiyeon dan anaknnya selamat.

 

Krett! ~ Dokter kandungan yang menangani Jiyeon keluar dari ruangan periksa. “bagaimana, uisa?”. Tanya Minho panik.

 

“harus di lakukan operasi caesar. Keadaan istri anda lemah, bisa berbahaya jika melahirkan normal”. Jawab dokter tersebut. “emm… itu jika anda menyetujui, dan bicarakan pada istri anda”. Lanjut nya. Minho mengangguk.

 

Minho masuk diam-diam ke dalam ruangan Jiyeon. Dia mendapati istri kesayangannya itu sedang berbaring namun tidak tidur. Minho berjalan perlahan mendekati Jiyeon. Menarik sebuah kursi dan duduk di samping Jiyeon.

 

“chagiya ~ mianhae”. Lirih Minho. Jiyeon hanya diam. “chagi, gwaenchana? Apa yang kau rasakan saat ini?”. Tanya Minho dengan hati-hati.

 

“appo”. Jawab Jiyeon pelan. “semua nya terasa sakit saat ini”. Lanjut Jiyeon.

 

Minho meraih tangan Jiyeon dan menggenggamnya erat. “gwaenchana, aku akan selalu menemanimu”. Minho berusaha menenangkan Jiyeon.

 

Jiyeon tersenyum simpul. “kau hanya menginginkan anak ini kan? Kalau begitu akan ku berikan padamu. Lalu setelah itu kau pergilah bersama Suzy”. Suara Jiyeon terdengar serak. Sakit rasanya.

 

“Jiyeonnie, jangan berkata seperti itu. mianhae, jebal”. Timbal Minho.

 

“aku tahu kau tak menyukai sikap ku yang aneh, kau juga tidak suka karna aku gemuk, aku tidak cantik. Jadi, pergilah”. Jiyeon memalingkan wajahnya.

 

“tidak akan”. Tolak Minho. Jiyeon menarik tangannya, berbaring menghadap ke kiri, dan menekuk kaki kirinya, begitulah yang ia ketahui dari tempat berkumpulan calon ibu. “Jiyeon’ah, jawab aku”. Hening. “uisa bilang, kau harus melakukan operasi caesar”. Lanjut Minho.

 

“lakukanlah. Apapun agar aku bisa cepat melahirkan”. Jawab Jiyeon seolah tak peduli keselamatannya dan anaknya. Dengan kecewa, Minho melangkah pergi untuk menemui dokter yang akan menangani proses persalinan Jiyeon.

~oOo~

“Tuan Choi, anda tahu kan jika usia kandungan istri anda baru 7 bulan?”. Tanya dokter. Minho mengangguk. “menurut hasil pemeriksaan, istri anda terkena radang lambung. Mungkin dia melakukan diet selama beberapa hari ini”. Lanjut dokter. Minho sangat terkejut mendengarnya.

 

“lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri dan anakku, uisa”. Ujar Minho lemah. Setelah mendapat penjelasan dari dokter Minho pun menandatangani berkas-berkas penting untuk keperluan operasi Jiyeon.

 

Pukul 7 malam, 1 jam lagi operasi akan dilaksanakan. Minho terlihat gugup, sedangkan Jiyeon hanya diam menerawang ke langit-langit.

 

“chagi, kau pasti akan baik-baik saja. Ne?”. Minho menggenggam erat tangan Jiyeon yang kini telah berganti pakaian khas rumah sakit.

 

“wae?”. Tanya Jiyeon. Minho mengerutkana keningnya pertanda tak mengerti maksud Jiyeon. “kenapa kau mengkhianatiku? Apa kau tak suka aku mengandung anakmu?”. Lanjut Jiyeon.

 

“ani – aniyo, chagi, jangan berpikir macam-macam dulu saat ini”. Minho tak tahu harus menjawab apa lagi. Yang terpenting sekarang adalah Jiyeon dan anaknya selamat. Tibalah saatnya Jiyeon akan di operasi. Yang bisa Minho lakukan hanyalah berdoa.

~oOo~

*Sudut Pandang Minho*

Aku duduk di kursi tunggu. Pukul 8 malam, operasi baru saja di laksanakan. Oh Tuhan ~ bagaimana ini? Jiyeon pasti sangat membenciku. Semoga operasi nya berjalan lancar. 15 menit kemudian orang tua ku dan mertua ku –ibunya Jiyeon- datang bersamaan. Mereka sangat khawatir, apalagi mertua ku. jika mereka tahu Jiyeon seperti ini karna ku pasti aku langsung di gantung oleh ayah. Dan lagi, ini adalah cucu pertama mereka. Ya, aku anak pertama. Adik laki-laki ku masih melanjutkan kuliah. Sedangkan Jiyeon anak simatawayang.

 

Terdengar suara tangisan bayi dari dalam sana. Aku menarik napas lega. Kemudian dua orang perawat membawa seorang bayi di dalam nampan khusus. Dapat ku lihat dengan jelas bayi itu, laki-laki dan masih sangat kecil.

 

“changkkaman, apa ini bayiku?”. Tanya ku pada perawat yang membawa bayi itu.

 

“ne, Tuan Choi”. Jawab nya. Lalu bergegas membawa bayi ku dengan terburu-buru. Sangat senang rasanya. Tapi bagaimana dengan keadaan Jiyeon. Aku kembali mondar-mandir di depan ruang operasi.

 

“aigoo ~ Minho’ah, chukkae. Kau tenanglah, Jiyeon pasti baik-baik saja”. Ujar ibuku. Aku hanya mengangguk berusaha tenang. Semua ini gara-gara aku. Aku akan sangat bersalah jika sampai terjadi sesuatu pada Jiyeon.

 

Brakk! Pintu ruang operasi terbuka. Rambut panjang Jiyeon yang kecoklatan terurai begitu saja. Perawat mendorong brankarnya menuju ruang perawatan. Aku lega, sangat. Tapi Jiyeon masih belum sadarkan diri karna pengaruh obat bius.

 

“tolong jangan masuk dulu”. Pesan seorang perawat. Lalu menutup ruangan tempat Jiyeon berada sekarang rapat-rapat. Dan akhirnya kami menunggu lagi diluar.

 

“Minho’ah, akan kalian beri nama siapa anak kalian itu?”. tanya ibuku. Aku diam. Nama? Kami bahkan belum pernah membicarakan tentang nama.

 

“emm… molla eomma, biar Jiyeon saja yang memberinya nama”. Jawabku berusaha tersenyum, walaupun saat ini aku sangat khawatir. 10 menit kemudian dokter dan para asistan nya keluar dari ruangan Jiyeon. “eotteohke uisa?”. Tanya ku langsung menghampiri dokter itu.

 

“Nyonya Choi keadaannya tiba-tiba saja drop. Mungkin 3-4 jam lagi ia akan sadar”. Jawab dokter tersebut. Kali ini aku benar-benar di buat khawatir olehnya. Setelah di ijinkan, kami masuk untuk menemani Jiyeon hingga sadar. Ku pandangi wajahnya saat ia tak sadarkan diri. Yeppeoda ~ sama seperti saat aku mengenalnya. Gadis idiot yang sangat pelupa ini menarik perhatianku karna kemampuan menarinya yang luar biasa. Saat aku memintanya menjadi kekasihku bahkan dia menjawanya dengan sangat konyol. Jiyeon, selalu membuatku tertawa dan terkadang kesal karna ia pelupa. Tapi aku telah mengkhinatinya. Babogatteun!

 

Sudah 4 jam aku menunggu, aku tidak bisa tidur saat seperti ini. Menunggu bidadari ku membuka mata nya dan kembali tersenyum. Perlahan, Jiyeon mulai membuka matanya. Tatapannya kosong.

 

“chagi? Kau sudah sadar”. Ujarku bersemangat. Jiyeon mengerjabkan matanya, mungkin sinar lampu terlalu menusuk matanya yang indah itu.

 

“Minho’ah, nae aegy eoddisseo?”. Tanya nya, suaranya serak dan berat.

 

“dia ada di ruang bayi, chagiya. Beri dia nama agar kita bisa memanggilnya”. Jawab ku.

 

Jiyeon diam sejenak. “aku ingin melihatnya”. Pinta Jiyeon.

 

“tapi chagi – “.

 

“kumohon”. Pintanya lagi. Sungguh, aku tak bisa untuk menolaknya. Setelah meminta ijin pada dokter anak, akhirnya bayi ku diperbolehkan untuk dibawa menemui ibunya sebentar. Bayi laki-laki, sangat kecil karna terlahir prematur. Dan kami harus mejaganya dengan kangguru care agar ia tetap sehat.

 

“chagi, lihatlah ini. Anak kita”. Ujarku. Walaupun bukan aku yang menggendong bayi ku melainkan seorang perawat. Jiyeon tersenyum simpul, sudut matanya menitikan airmata bahagia.

 

“mianhae”. Lirihnya. Di usapnya kepala bayi kami. “Choi Yeon Ho”. Lanjutnya. Jiyeon mengangguk.

 

“jhoahae. Choi Yeon Ho”. Balas ku. terlihat Jiyeon sangat lemas, wajahnya pucat. Ia meletakkan tangannya disamping tubuhnya mungkin karna sudah sangat lelah. Perlahan matanya tertutup. “chagiya?”. Panggilku. Ku usap kepalanya. Ia diam saja. “chagi, kau lelah, eum?”. Suaraku mulai bergetar karna Jiyeon tidak merespon.

 

Perawat yang menggendong bayiku tadi meletakkan bayiku di dalam keranjang bayi yang sudah di siapkan dan ia langsung berlari keluar untuk menemui dokter. Tidak, tidak boleh seperti ini. “chagiya ~ kau bilang ingin merawat anak kita bersama kan? Irreona”. Panggilku sekali lagi. Aku sadar airmataku mulai jatuh. Jiyeon masih tidak merespon.

 

“Jiyeonnie, irreona! Ige eomma”. Ibu mertua ku mendekati kami, mengetahui ada sesuatu yang tidak beres. Aku tahu, Jiyeon pelupa tapi ia tidak mungkin melupakan cara bangun dari tidurnya. Tangisan mulai tumpah. Tak ada respon sedikitpun dari Jiyeon.

 

Dokter dan para asistan nya datang dengan tergesa. Ayah menarikku menjauh dari Jiyeon karna dokter ingin memeriksa keadaannya. “chagiya ~ buka matamu”. Seruku.

 

“kami telah berusaha”. Ujar dokter akhirnya. Alat bantu napas juga telah terpasang untuk membantu Jiyeon. “mianhamnida”. Dokter itu membungkuk.

 

“andwae!! Jangan menyerah begitu saja. Kalian harus selamatkan istriku!”. Jeritku. Sungguh, ini terlalu menyakitkan bagiku. Bahkan aku tidak tahu, apakah Jiyeon telah memaafkan ku atau ia masih membenciku. Dokter hanya diam, menggeleng. “andwae!! Andwae!”. Teriakku lagi. Ku hampiri tubuh istri ku yang masih terbaring tak bergerak itu. “Jiyeon’ah, palli irreona”. Aku tertunduk lemas, ku letakan dagu ku di ranjangnya.

 

Ku genggam erat tangan Jiyeon. “yya! bangunlah, atau aku akan sangat marah padamu”. Ku mainkan jari lentik Jiyeon. Ia tetap diam. Secepat inikah? Aku tidak bisa, Jiyeon. Aku tidak bisa. “chagiya ~ irreona”. Bisikku.

 

Tiba-tiba, bayiku menangis. Entah karna apa. Perawat yang menanganinya segera menimang bayiku agar diam. “kau dengar itu kan? Eumm… anakmu, anak kita. Ia menangis karna ibunya tak mau melihatnya lebih lama”. Ku tarik perawat itu agar mendekat pada Jiyeon.

 

“eungh ~ “. Terdengar lenguhan dari mulut Jiyeon. Matanya seakan terbuka.

 

“chagi? Irreonajwo”. Terus ku bisikan kalimat itu pada Jiyeon. Kali ini dia merespon dengan menggerakan pelupuk matanya untuk terbuka. “uisa, uisa, lihatlah”. Panggilku. Dengan segera dokter mendekat dan kembali memeriksa Jiyeon.

 

“ini ajaib, keadaannya kembali normal”. Kata dokter setelah yakin akan pemeriksaannya. Walaupun Jiyeon belum membuka matanya, tetapi aku dapat merasakan denyut nadinya kembali bergerak.

Sudah kubilang, aku ini wanita kuat, Choi Minho. Jangan meremehkan ku lagi. Aratji?

Tangan Jiyeon kembali hangat. Tuhan, terima kasih telah mengembalikan istriku, Cheongmal gansahamnida. Choi Yeon Ho, kau membuat ibumu kembali sadar. Jadilah anak yang baik kelak.

~oOo~

“oppa! Kau jahat sekali. Kau bahkan lebih mempedulikan anak kita daripada aku”. Rajuk Jiyeon. Kini keadaan kembali normal. Meskipun Jiyeon hanya diam saat ditanya oleh Minho apa ia masih marah atau tidak tentang perselingkuhannya dengan Suzy.

 

“aigoo, kau bahkan cemburu dengan anakmu sendiri”. Ledek Minho. Jiyeon hanya memanyunkan bibirnya.

 

“malam ini tidurlah diluar”. Sungut Jiyeon. Ia mengambil alih Yeon Ho dari pangkuan Minho. Dengan cepat ia membawa Yeoh Ho ke dalam kamar dan mengunci pintu.

 

“yya! begitu saja marah. Buka pintu nya chagi, ayolah”. Pinta Minho dari luar.

 

“shirreo”. Teriak Jiyeon yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.

 

“kalau begitu akan kembali pada Suzy”. Balas Minho. Diam. Minho sedikit gugup, karna kata-katanya barusan.

 

Jiyeon membuka pintu nya. “sakali lagi kau menyebutkan nama itu, maka tamatlah riwayatmu”. Seru Jiyeon. Minho tersenyum kambing mendapatkan ancaman dari Jiyeon.

Iklan

44 thoughts on “FanFict “Troubled Marriage” [ONESHOOT]

  1. lucu,, jiyeon rada2 pikun gitu. waktu minho selingkuh reaksi jiyeon mlah gitu dy mkirny minho gk suka wanita gendut keke. tpi ne jiyeon msih mrah gk minho selingkuh tpi kya ny enggak. happy end next ff ^^

  2. Wah….parah bnget ini Jiyeon, pelupa bnget. Tapi lucu deh liat dia pelupa gitu.
    Aihh….Choi Minho kau jahat sekali, keterlaluan.
    Untung akhirnya happy ending, lucu bnget ih Jiyeon, gemes pengen nyubit. Nyubit authornya aja boleh ga?

  3. dasar namja!! sekalinya bosen selingkuh, nnt di akhir sok menyesal. untung jiyeon gak jd meninggal u.u
    suka karakter jiyeon yg pelupa kek gitu pasti unyu” 😀 kyeopta jinja 😀

  4. salam kenal ‘thor…aku reader baru^^

    wah…ff minji again^^
    berasa ada yg kurang sich dari cerita d’ats…tapi yach yang penting minji baikan!!

    sumpah pikun’a jiyeon udah tingkat akut…masa lupa juga klu udah nikah #geleng”
    yg bikin senyum thu pas ada kalimat intix blng ‘jiyeon emang pelupa…tapi ngak mgkin dia lupa cara bangun dr tidur’a”^^

    poko’a aku suka ff autor…^^

  5. rrr ngeselin sumpah si Minho apalagj cabecabeannya rrr
    awalnya kirain jiyeon kena alzheimer wk ternyata cuman pelupa tapi parah banget wak sama kayak aku wks
    Yeay happy ending ‘-‘)/

  6. annyeong kyo eonni .
    Aku new reader .

    Ff nya keren eonni .
    Tapi kesel banget nihh aku sama minho .
    Huhh, kirain bkalan sad ending .
    Tapi untung lahh, enggak .

  7. Wakakakakakaka
    Minho masa gara gara jiyeon gendut selingkuh..
    Untung jiyeon hidup lagi coba kalo enggak nyusul seumur hidup dah

  8. Aku suka ff ini !! Ada konflik trus ngena bgt gitu xD tp maap ya thor,, ff nya kek sinetron indo(maap kalo tersinggung) mm trus alur kecepetan rada slow aja ya thor 😀 tanda baca jg tlng diperhatikan biar enak bacanya.. Tp keseluruhan bagus kok !! Ditunggu ff slanjutnya 😀

  9. Kupikir jiyeon kena alzaimer ternyata gak wakakakakakaka
    Suzy jahat
    Minho juga sempet2nya selingkuh
    Tapi akhirnya jiyeon hidup lagi dan hidup bahagia
    Saya suak suka

  10. enak banget dah selingkuh lagsung di maafin lagi…huh..kesel sama c minhonya.. bkin mewek pas jiyeon di hianati….

  11. Untunglah jiyeon mau nerima minho lagi.sempet dag dig dug waktu jiyi mau meninggal tp untungx enggk.

  12. Gak nyangka minho tega berselingkuh dengan suzy,pdhal jiyeon tengah hamil, kasian jiyeon.namun akhirnya minho dan jiyeon hidup bersama lagi,baby choi happy ending deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s