FanFict “Special Love” [ONESHOOT]


0d0aa0692a22abacba64f5f0d16e5aa9_XPDdyXHd2EsmyP5r_副本_副本

Author : Lee Arni a.k.a Kyo

Main cast :

  • Lee Qri T-ARA
  • Lee Donghae SuJu

Other cast :

  • Find by your self ^^

Genre : romance *dari judulnya aja udah ketahuan :v

Length : oneshoot

Annyeonghaseyo ~ ngiahaha 😀 tiada hari tanpa menuangkan khayalan dalam bentuk tulisan #lebeeh hoho :v ini squel dari FF “Princess Jihyun” semoga pada suka yaa ~ Happy Reading readers tersayong :*

NB : PoV nya Qri semua ^^

“kyaaaa!!”. Teriak ku saat terbangun dari tidur. Sudah jam 7 pagi, omo! Aku harus segera bersiap atau bisa terlambat. Tanpa babibu aku langsung saja meloncat dari tempat tidur yang masih berantakan. Sungguh! Kenapa aku bisa telat bangun. Aigoo ~

Aku berlari menuju kamar mandi dan mandi pun dengan terburu-buru. Setelah selesai aku kembali ke kamar, memakai baju kemeja dan celana jeans. Tak lupa aku membawa tas gendongku yang sudah ku persiapkan sejak semalam.

Drap drap brukk! “aakh!”. Aku meringis. Tangga sialan, apa dia tidak tahu jika aku terburu-buru? Heuh ~ kenapa tiba-tiba anak tangga nya bertambah di saat seperti ini.

“Qri’ah? Suara apa itu??”. teriak ibuku dari ruang makan. Aku bangkit dengan sedikit meringis lututku sakit karna mencium lantai.

“uugh… eomma! Kenapa anak tangga menuju lantai dua bertambah. Aduhh… lututku sakit”. Ujar ku saat tiba di meja makan. Sungguh! Itu membuat ku kesal, sangat.

Ibuku malah terkekeh. “makanya berhati-hatilah”. Jawab ibu. Mwo? Dia malah menertawaiku. “kau mau kemana? Sudah rapi dan cantik seperti ini?”. Tanya ibu. Ia meletakkan susu coklat di hadapanku.

“untuk apa kau menanyakan itu yeobeo? Qri kita sudah besar, dan tentu saja di hari minggu ini dia akan berkencan dengan pacarnya. Lee Donghae”. Sekarang ayah yang angkat bicara.

“appa ~ tidak seperti itu”. sungut ku, ayah melirik ku dengan tatapan aneh. “aku akan melihat Universitas eomma, ya, bersama Donghae. Lagipula, aku tidak berpacaran dengannya”. Jawab ku. memang kami tidak berpacaran. Masalah aku memeluknya dikelas setelah kejadian waktu itu. entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa seperti itu.

Ibu mencolekku. “yya! kalaupun kau berpacaran dengannya, eomma merestui kalian. Dia anak yang baik”. goda ibu. Aigoo ~ kenapa jadi seperti ini urusannya.

“sudahlah eomma, appa, aku pergi dulu”.  Aku berdiri, mengecut pipi ibuku dan pergi. Jika lama-lama mengobrol dengan mereka bisa-bisa aku terus digoda oleh kedua orangtua ku itu. mengapa mereka menyebalkan hari ini. Ck! Donghae belum menjemputku. Sebaiknya aku ke rumahnya saja. Rumah ku dan Donghae hanya berbeda blok saja, jadi bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Saat sekolah juga kami sering berangkat dan pulang bersama.

~oOo~

Sekarang aku sudah berada di depan pagar rumah Donghae. Aku mauk atau tidak ya? Aku malu, sangat malu karna waktu itu aku memeluknya di kelas tanpa seijinnya. Masalah dia pernah hampir memperkosaku, itu kan karna dia sedang kerasukan roh Dongju.

Baiklah, aku akan masuk. Ku putuskan untuk masuk. Cklekk! Suara pintu rumahnya terbuka. Aigoo ~ aku terlonjak karna kaget. Ku urungkan niat ku untuk membuka pagar rumahnya yang setinggi kira-kira 2 meter ini.

“eomma! Aku berangkat!”. Teriak Donghae. Aku tersenyum dan lebih memilih agar dia yang membuka pagar. Ini akan jadi kejutan, pikirku.

Kreet ~ pagar rumah Donghae terbuka. Aku langsung memasang senyum termanis ku di wajahku yang cantik ini. “ohh, Qri’ah? Kau sudah datang, padahal aku ingin menjemputmu”. Ujarnya saat melihatku yang sudah berada di depan pagar rumahnya ini.

“gwaenchana”. Jawab ku. Donghae sangat tampan hari ini. Kemeja bergaris warna biru tua yang di pasangkan dengan jeans, tas nya ia biarkan menggantung di satu lengan. Keren.

Seorang gadis kecil muncul dari belakang tubuh Donghae yang tinggi. Jangan berpikir bahwa itu adalah anak kami. wajahnya sangat imut, matanya besar seperti boneka, tubuhnya kecil dan pendek. Siapa dia? Tanya ku dalam hati. Gadis itu menggandeng lengan Donghae. Apa-apaan dia?

“ohh? Donghae’ah, siapa dia?”. Aku reflek bertanya. Aissh… Qri apa yang kau lakukan? aku yakin wajah ku sangat merah sekarang.

Donghae merangkul pundak gadis yang berada di sampingnya. “ah, aku lupa memberitahumu. Ini Boram, dia sepupuku, anak dari adik lelaki ibu ku”. jawab Donghae.

Aku mengangguk. “ohh begitu. Lalu apa kau akan mengajaknya bersama kita? Dia seperti siswa elementary”. Ujarku sedikit sewot.

“yakk! Apa kau bilang?”. Teriaknya. Ah, aku lupa namanya Boram ya. Bagaimana tidak, penampilannya sangat childist. Tubuhnya yang kecil, ia mengenakan rok mini yang agak mekar, baju kemeja putih lengan panjang, dan juga wajahnya yang seperti anak kecil.

“sudah-sudah. Jangan ribut”. Lerai Donghae. Boram memanyunkan bibirnya. “Qri’ah, iya kita akan pergi bertiga. Boram seumuran dengan kita”. Jawab Donghae. Mwo!? Bagaimana bisa Boram seumuran dengan kami? aku tidak percaya. Sudahlah. Akhirnya kami bertiga berjalan bersama menuju stasiun kereta bawah tanah. Dalam perjalananpun aku tak banyak bicara, entah kenapa aku tiba-tiba kehilangan mood untuk mengobrol. Anak kecil –Boram maksudku- bisa saja menguping.

~oOo~

Kami tiba di Universitas yang kami inginkan. Tahun ini aku akan masuk Universitas dan berganti status menjadi Mahasiswi. Aku berharap bisa masuk ke Universitas ini bersama Donghae, semoga saja. Tapi, setelah kehadiran Boram. Aku rasanya sedikit tersaingi. Walaupun dia hanya sepupu Donghae, sikapnya seperti dia lah pacar Donghae. Ya Tuhan, kenapa aku berpikir seperti itu?

“Qri’ah, gwaenchana?”. Donghae menepuk pundakku. Aku sedikit terkejut, memalukan sekali aku malah emlamun karna anak kecil itu. “kau sakit, hm?”. Tanya Donghae. Aku menggeleng. “kalau kau sakit, lebih baik kau duduk disana dulu”. Donghae menunjuk ke arah kursi di dekat mading. Tidak akan kubiarkan. Jika aku duduk disana, berarti memberikan dia kesempatan untuk berduaan dengan Boram.

“ah, aniyo. Ayo kita lanjutkan. Aku ingin melihat perpustakaannya”. Ajak ku. sedikit ku sunggingkan senyuman miring pada Boram. Perasaan cemburu itu langsung muncul dan tumbuh dengan subur. Aishh. Apa aku gila?

Kami berjalan mencari perpustakaan. Universitas ini fasilitasna cukup lengkap. Sepertinya ide bagus jika bisa berkuliah disini. bersama Donghae. Aku ingat, waktu itu Donghae pernah mengatakan bahwa dia ingin menjadi pengganti Dongju. Aku tidak tahu apakah itu serius atau karna pengaruh obat bius yang masih menempel pada tubuhnya. Tanpa menjawab aku memeluknya. Oh Tuhan. Sudah berapa kali aku selalu mengingat kejadian itu.

“wahh… perpustakaannya dibuka. Kita bisa masuk dan melihat-lihat”. Seru Donghae. Ya, perpustakaannya terbuka dan ada beberapa orang di dalam. Tempat ini adalah tempat yang nyaman bagiku.

“aku tidak mau masuk, aku akan berkeliling”. Tolak Boram. Ya, pergilah sana. Aku malah bersyukur jika dia meninggalkan aku berdua saja dengan Donghae. Boram berbalik ingin pergi, namun Donghae menahannya.

“kau bisa sendiri kan?”. Tanya Donghae khawatir. Ck! Mereka malah bermesraan di depan ku. tanpa berkata apapun aku langsung masuk ke dapan perpustakaan meninggalkan mereka berdua.

~oOo~

Rak buku yang tinggi dan besar berjejer rapi di ruangan perpustakaan berukuran kira-kira 13 x 10 meter ini. Wangi khas buku-buku tua tercium ketika aku berjalan mendekati rak buku ang berada di sudut ruangan. Hanya ada aku di sisi ini, tempat ini memang jarang ramai. Sunyi, sepi, tenang, hanya ada aku dan buku-buku yang tersusun di rak penyimpanannya.

Tuk tuk tuk. Terdengar suara heels ku yang menghentak lantai marmer hitam di ruangan ini. Ku perhatikan label pada rak. Ada berbagai macam buku tentunya. Aku tak tahu mencari buku jenis apa. Hmm.. mataku terbumbuk pada sebuah buku yang terdapat di susunan ke 4, cukup tinggi dan susah untuk ku raih. Darisini aku dapat melihat judul disisi samping buku itu adalah sejarah tahun 1300. Ku jinjitkan kaki kecilku demi meraih buku itu.

Huufth ~ bukk! Buku itu terjatuh di kaki ku dan terbuka. Untung saja penjaga perpus tidak melihatnya. Ku pungut buku itu, sedikit lusuh, warnanya juga sudah kekuningan. Anak jaman sekarang memang lebih suka membaca tabloid, komik dan sejenisnya daripada membaca buku sejarah. Hihi… aku juga begitu sebenarnya hanya saja sejak aku tahu bahwa aku adalah reinkarnasi dari seorang Putri di masa lalu, aku jadi sering mencari buku sejarah. Mungkin untuk mengetahui bagaimana aku di masa itu.

Ku buka buku itu dari halaman pertama. Hah ~ membosankan. Tidak ada gambarnya. Yah, walaupun sudah cukup sering aku membaca buku sejarah tanpa gambar tetap saja aku berharap ada buku sejarah bergambar. Aku mulai membolak-balik buku tersebut. Setelah akhirnya aku membaca halaman tentang Kaisar Kegelapan yang berkuasa pada masa itu. yah, dialah suami ku di masa 1300. Ku baca semua nya sangat serius.

“Qri’ah”. Donghae menepuk pundakku. Aku terkaget dan langsung menutup buku yang ada di tanganku.

“ah, nde?”. Tanya ku gagap. Aduh… kenapa aku jadi gerogi sih. Ku gigit bibir bawahku mengurangi perasaan gerogi.

Donghae berdiri disampingku. Ia memiringkan kepalanya ingin melihat buku apa yang sedang ku baca. “apa ini? Wahh… kau membaca buku sejarah”. Serunya. “mengapa kau sangat serius?”. Pandangannya beralih padaku. Tepat didepanku dengan jarak yang sangat sempit.

“i – ini, buku tentang tahun 1300, yah, tahun 1300”. Jawab ku gugup. Aigoo ~ mengapa aku jadi seperti ini.

Donghae merampas buku itu dari tanganku. “jinjja? Wah, berarti disini tertulis tentang kau dimasa itu”. serunya lagi dengan antusias.

“sssstt! Jangan keras-keras”. Peringat ku. “jadi, kau masih mengingat tentang kejadian itu?”. tanya ku pada Donghae. Ya, aku penasaran apa dia masih mengingat itu. karna saat itu Donghae bukanlah Donghae.

“tentu saja”. Jawabnya. Hening sejenak. “kau, belum menjawab pertanyaanku waktu itu”. lanjutnya. Aaa ~ wajahku terasa panas. Bagaimana ini? Haruskah aku mengulang adegan itu? memeluknya begitu saja. “kau kenapa?”. Tanya nya lagi.

Tenggorokan ku rasanya sangat sakit. “emm…”. hanya itu yang dapat keluar dari mulutku. Haruskah??

“oppa!”. Teriak seseorang. Kami berdua menoleh kearah suara itu. Boram, ya, siapa lagi kalau bukan anak kecil itu. ia berjalan mendekat. “kalian sedang apa?”. Tanya nya. Sejak kapan ia ingin tahu segalanya. Isshh..

“aniyo”. Jawab Donghae. “kau sudah selesai?”. Tanya Donghae kemudian, di kembalikannya buku itu padaku. Benar-benar aku merasa tersaingi. Ku letakkan kembali buku itu pada tempatnya lalu mengekor pada mereka –Donghae dan Boram- yang mulai berjalan keluar dari perpustakaan.

~oOo~

“banana milk?”. Donghae menawari ku banana milk. Aku suka, tapi kenapa Boram juga harus meminum banana milk. Ku ambil banana milk tersebut dan segera meminumnya. “sepertinya kau lelah”. Ujar Donghae. Diusapnya pucuk kepalaku. Aku mengangguk pelan.

Aku ingin cepat pulang dan tidur. Lelah sekali rasanya. Aku pikir bisa berkencan dengan Donghae sekaligus mengatakan yang sebenarnya bahwa ia boleh menjadi pengganti Dongju.

“aku berharap bisa berkuliah disini. oppa, kau akan selalu menjagaku kan jika aku satu universitas denganmu?”. Tanya Boram.

Donghae tersenyum. “tentu saja”. Jawabnya singkat. Aigoo ~ kurasa aku terlalu lama menggantung pertanyaan Donghae waktu itu. bagaimana jika dia ternyata sudah berpindah hati. Apalagi Boram yang sangat childist itu.

~oOo~

Sudah pukul 6 sore. Sekarang kami berada di dalam perjalanan pulang dengan KRL. Aku sedikit mengantuk. Mataku berat sekali.

“hey, nona Qri. Kita sudah sampai”. Seru Donghae. Aku berdiri, tak mau kalah ku gandeng juga tangannya dan bersama-sama mendekati pintu KRL. Kemana Boram? Anak kecil itu bisa saja hilang ditengah kerumunan. Merepotkan sekali jika harus mencarinya.

Kereta berhenti, lekas aku dan Donghae keluar dari kereta. Benar saja, Boram tidak ada. Bagaimana ini? Apa Donghae tidak menyadarinya?

“Donghae’ah, Boram eoddie?”. Tanya ku.

“ohh, dia? Tentu saja pulang. Kau tenang saja, dia sudah biasa pergi sendirian. Dia bilang jika tadi dia bertemu dengan kekasihnya Ryeowook. Jadi mereka akan pulang bersama”. Jawab Donghae sedikit panjang lebar.

Kekasih? Jadi dia sudah punya kekasih? “Ryeowook? Kenapa aku tidak melihatnya tadi?”. Tanya ku lagi.

“kau tertidur. Ternyata kau bisa tidak menyadari jika kau tertidur”. Donghae mengejekku. Kini kami sampai di halte bus. Boram, sudah punya kekasih. Berarti aku salah telah menganggapnya saingan ku.

“kenapa kau tak bilang jika dia sudah punya kekasih”. Desisku.

“mwo?”. Hah!! Donghae mendengar perkataanku. “apa maksudmu, Qri’ah?”. Tanya nya. Aku harus jawab apa? Babo Qri. Maki ku pada diri sendiri.

“aku – aku cemburu. Mungkin”. Lirihku. Donghae terbahak mendengar jawaban ku. memangnya kenapa. Apa aku salah? Ishh.

“hmm… kenapa kau cemburu, eum?”. Tanya Donghae. Sekarang aku harus menjawab dengan jujur.

Ku tarik napas ku dalam-dalam. “emm.. ini mengenai pertanyaan mu waktu itu. di kelas setelah kejadian di tempat penggalian ayahmu”. Jawab ku belum pada point yang terpenting.

Donghae mengangguk. “lalu?”. Ujarnya.

“kau – bisa menjadi perngganti Dongju”. Kata itu keluar dengan mulus dari mulutku. Tak ada lagi yang berbicara di antara kami. hanya terdengar suara orang yang sedang menunggu bus di halte tempat kami sekarang dan suara kendaraan yang lewat.

“mari kita berkencan”. Serunya. Berkencan? Aku belum siap.

“ta – tapi…”. Donghae menarik tanganku begitu saja. Kami berlari kecil menuju tempat untuk berkencan. Omo ~ benarkah ini? Sahabatku sejak kecil dan kejadian dari masa lalu itu, membawa kami pada hubungan yang seharusnya tidak boleh. Sahabat menjadi Kekasih itu sangat biasa bukan? Tapi ini berbeda.

~oOo~

“Donghae’ah ~ sampai kapan kau akan terus mengabaikanku”. Rengekku. Ku tatapi wajahnya yang sedang serius dengan laptop nya.

Dialihkannya pandangan padaku. “sebentar lagi. Tugasku pasti selesai”. Jawabnya. Ini sudah memasuki tahun ke 3 hubungan kami. akhir-akhir ini ia selalu sibuk dengan tugas-tugas-dan tugas. Padahal kan aku sudah membeli tiket untuk menonton bersama.

“baiklah, aku pergi sendiri saja”. Rajukku. Dia menyebalkan sekali. Teganya mengabaikan aku selaku kekasihnya.

“yya! yya! baiklah, aku akan menemani mu”. Di genggamnya erat pergelangan tanganku. Kami berdua keluar dari ruangan kelas. Setelah ini aku tidak ada mata kuliah ataupun kegiatan lain, berbeda dengan Donghae yang punya seribu kegiatan dikampus. Berlebihan memang, namun begitulah dia. Selalu sibuk.

“kau harus mentraktirku makan”. Pintaku.

Ia mengangguk. “baiklah, semua yang kau inginkan Putri Jihyun”. Ejeknya.

“yakk!”. Ku pukul lengannya keras. Ia meringis. “ahh, mian mian ~ apakah sakit?”. Aku tiba-tiba mengkhawatirkannya. Apa aku memukulnya terlalu keras.

“tidak!”. Seru nya lalu menghambur berlari meninggalkanku. Dia membohongiku.

Kejadian pada masa lalu tetaplah masa lalu. Jika benar Donghae adalah Dongju, maka aku akan menepati janji ku dulu untuk hidup bahagia bersamanya. Sudah terbayang di benakku sebuah bukit berbunga dengan semilir angin. Aku dan Donghae duduk berdua sambil berpelukan dan mengobrol. Yah, seperti itu lah kemesraanku dan Dongju. Aku akan mencapainya.

Tahun depan kami akan wisuda. Setelah itu mungkin aku akan bertunangan dengannya. Donghae pernah mengatakan itu pada ibu dan ayahku. Mereka berdua sangat bahagia mengetahui aku dan Donghae menjalin hubungan.

“apa kau bahagia bersamaku?”. Tanya Donghae saat film tengah di putar.

Aku mengangguk. “tentu saja, memangnya kenapa?”. Aku balik bertanya.

“aku akan terus membahagiakan mu”. Jawab nya. Sejak kapan dia belajar romantis. Aku yakin sekarang pipi ku sudah memerah. Semoga begitu Donghae’ah. Semoga.

THE END

Iklan

7 thoughts on “FanFict “Special Love” [ONESHOOT]

  1. kyaaaa qri cmburu gr2 ada boram cie cie qri skarang trgla2 ma donghae dlu aja klo d ejek pcaran ma donghae bilang x enggak ska….hehehe tp lucu jg sih qri cmburu ma boram kbayang bngt pas qri sbel boram ikut mreka….kekekke

  2. Aigoo…..romantis banget sih,”aku akan terus membahagiakan mu”.bagus thor ffnya,apalagi happy endingnya,so sweet banget.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s