FanFict “I Can’t Be With You or Say Goodbye” [ONESHOOT]


Kim-Do-Yeon-1_副本

I Can’t Be With You

Or

Say Goodbye

Author : Lee Arni a.k.a Kyo

Main cast :

  • Park Jiyeon T-ARA
  • Choi Minho SHINee
  • Kim Myungsoo Infinite

Other Cast :

  • Kim Doyeon Ulzzang
  • Etc

Genre : sad romance

Length : Oneshoot

Ost :

  • Davichi – Old Love
  • GD – In The End

Annyeonghaseyo yeoreobeun ~ Kyo comeback dengan membawakan FF squel dari “The Way We Can’t Turn Back” jadi biar ngerti jalan cerita FF ini mending baca dulu FF pertamanya ya ^^ ini judulnya panjang ye kayak babaranjang :v kkkkk XD dari judul aje pasti udah tau lah gimana ceritanya… yang mau silahkan baca mumpung gratis 😀 Happy Reading ^^

Ruangan kerja yang tertata dengan apik, aroma pengharum ruangan mewah, serta furniture berkelas yang ditata sedemikian rupa agar tidak mengurangi kenyamanan. Di balik meja kerja yang lumayan besar seorang lelaki muda yang menjabat sebagai Manager Periklanan dan Distributor di perusahaan itu sedang asik berkencan dengan dokumen yang ia tangani.

Sedari tadi seorang wanita cantik mondar-mandir di dalam ruangan. Wanita tersebut tampak anggun dengan balutan dress biru muda. Entah sudah berapa kali ia membaca majalah-majalah yang ada di meja tamu ruangan itu. Di jari manis tangan kanannya melingkar sebuah cincin silver dengan permata kecil menjadi hiasannya. Sangat cocok dengan kulit putih wanita itu.

Bosan membaca majalah, ia lantas berdiri dan mendekati pelebab ruangan yang terletak di meja kecil sudut ruangan. “mengapa benda ini sangat menyebalkan”. Seru nya lalu menekan tombol Turn-off. Seketika pelembab ruangan itu mati. Ia mengembungkan pipinya. Udara Seoul siang ini cukup dingin karna sebentar sudah memasuki musim salju. Sedari pagi hanya awan hitam yang menghiasi langit Seoul.

Srekk! Lelaki yang sedari tadi sibuk dengan dokumen di mejanya menutup map dokumennya. Perawakannya tinggi dan cukup berisi, tatapan matanya tajam, dan senyuman menawan. “kau sebal dengan benda itu atau aku, hm?”. Tanyanya pada wanita yang tadi mematikan pelembab ruangan. Ia memeluk wanita itu dari belakang. Di jari yang sama ia mengenakan cincin yang sama dengan wanita muda dalam pelukannya sekarang.

“keduanya aku sebal”. Jawab wanita itu dengan ketus. “yya! Choi Minho, tidakkah kau sadar aku sudah menunggumu berjam-jam disini?”. Tanya nya lagi dengan ketus. Bibir tipisnya kini mengerucut karna bosan.

Lelaki bernama Minho itu malah terkekeh melihat kelakuan istrinya ini. “arayo, Jiyeonie. Mianhae ~ kan sudah ku bilang, lebih baik kau dirumah menungguku. Seperti inilah aku. Suami mu ini sangat sibuk”. Jawab Minho dengan lembut. Ia sudah biasa menghadapi sikap istrinya. Jiyeon, wanita yang Minho nikahi sejak 1 tahun lalu. Wanita polos yang ia temukan saat menghadiri acara di hotel. Bukan cinta pandangan pertama, namun sejak pertemuan pertama selanjutnya ia malah sering bertemu dengan Jiyeon.

Jiyeon membalikan tubuhnya. “ya ya ya. Arayo, kau mengejar target agar bisa naik jabatan”. ujar Jiyeon yang sudah hafal sekali apa yang akan dikatakan suaminya saat ia bosan menunggu Minho bekerja.

Minho tersenyum. “bagus kalau kau mengerti. Nanti jika aku naik jabatan maka aku akan mengajakmu berlibur”. Balas Minho.

“jinjja? Kau sudah berjanji padaku. Baiklah, aku akan menuruti apa katamu. Dan – “. Kata Jiyeon dengan bersemangat tetapi ia menggantung perkataannya yang terakhir.

Minho menyipitkan matanya. “Dan – ?”. tanya Minho.

Jiyeon tersenyum jahil. “berlututlah”. Titahnya. Minho membelalak mendengar titah istri tercintanya itu. “palli~”. Pinta Jiyeon dengan manjanya bergelayut pada lengan jas hitam Minho.

Apa boleh buat, Minho berlutut di depan Jiyeon, sedangkan Jiyeon menekan pinggangnya dengan tangan kiri. “lalu apa lagi, chagi?”. Tanya Minho. Raut wajahnya seperti orang yang sangat tersiksa.

Jiyeon mengeluarkan senyuman evilnya. “dengarkanlah, disini”. Jawab Jiyeon, jari telunjuknya menunjuk pada perutnya.

“mwoya?”. Minho keheranan atas perintah Jiyeon. Perlahan ia mendekatan telinganya pada perut datar Jiyeon. “kau lapar?”. Tanya Minho selesai mendengarkan perut Jiyeon.

Tatapan membara keluar dari mata Jiyeon membuat Minho bergidik ngeri. “kau memang sangat menyebalkan Minho”. Jawab Jiyeon. Minho memasang tampang bodohnya sembari berpikir.

“Jiyeonie my sweetie cuttie evil dino ~ kau – benarkan?”. Goda Minho. Tangan jahilnya mencolek-colek lengan Jiyeon.

“aku tidak lapar!”. Bentak Jiyeon. Drap drap drap… Jiyeon menghentak-hentakan kakinya secara dibuat-buat pada lantai berlapis ambal dengan corak bunga mawar.

Minho mengejar Jiyeon. “yya ~ kau begitu sekali. Aku mengerti maksudmu chagi”. Minho bergelayutan memeluk tubuh mungil Jiyeon. “ayo kita pastikan ke dokter”. Ajaknya. Jiyeon tersenyum dan mengangguk. Siang itu gerimis mengguyur kawasan Seoul. Sepasang suami istri ini belum di karuniai anak setelah setahun lamanya menikah.

~oOo~

“hasil apa yang kalian inginkan Tuan dan Nyonya Choi?”. Tanya dokter kandungan di rumah sakit tempat mereka memeriksakan Jiyeon.

Minho dan Jiyeon saling pandang. Seolah memberi tanda ‘kau saja yang jawab’ dan mereka saling melemparkan lirikan pada dokter yang berada di depan mereka. Setiap 3 bulan sekali mereka datang kemari untuk memeriksa kehamilan, tapi selama ini hasilnya masih negatif.

Minho berdehem, menarik jas nya sedikit. “tentu saja hasil yang mengembirakan kami, uisa”. Jawab Minho. Sebenarnya ia ragu untuk berharap seperti itu. ya, mereka berdua sudah cukup kecewa.

“arayo”. Balas dokter itu dengan menyunggingkan senyum. Ia membaca hasil pemeriksaan. Minho dan Jiyeon saling berpegangan tangan dan menunduk. Bagaimana jika hasilnya negatif? Batin Jiyeon. “hasilnya, seperti yang kalian harapan selama ini, sudah lebih dari 2 bulan”. Jawab dokter dengan enteng.

Minho dan Jiyeon melepas genggaman mereka dan tertawa aneh. “ya, sudah ku duga hasilnya seperti itu”. ujar Jiyeon.

“nde chagi. Kita harus mencoba lagi”. Timbal Minho.

Hening sesaat. Kemudian mereka berdua saling memutar ulang rekaman yang terdengar oleh telinga mereka tadi. Perkataan dokter itu adalah seperti yang kalian harapkan.

“uisa, benarkah itu?”. tanya Minho dengan sangat antusias setelah berhasil mencerna perkataan dokter yang sama sekali tidak ditela’ah oleh nya ataupun Jiyeon.

Dokter mengangguk. “ye, Tuan Choi. Chukkahamnida”. Jawab dokter tersebut menyalami Minho yang masih ternganga begitupun dengan Jiyeon.

“oppa? Apa maksudnya aku positi?”. Tanya Jiyeon. Wajahnya seperti orang yang ditipu anak kecil.

Minho mengangguk cepat. “nde chagiya”. Jawab Minho kemudian. Mereka berdua tersenyum lebar. Setelah sekian lama mereka menanti hasil positif, hari inilah mereka mendapat jawabannya.

Jiyeon menggandeng tangan Minho dengan senangnya. Minho pun merasakan hal yang sama. Sepanjang perjalanan, Jiyeon terus saja berceloteh tentang bayi. Bagaimana bentuk bayi saat berusia 5 bulan dalam kandungan, kaki kecilnya sudah terlihat, lalu menanti untuk mengetahui jenis kelaminnya, dan merasakan melahirkan anak secara normal. Minho dengan bahagia melebarkan telinga nya untuk mendengarkan celotehan istrinya ini.

“kita akan membesarkan anak kita bersama-sama oppa”. Seru Jiyeon. Ia sungguh bahagia. Tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Minho meladeni perkataan Jiyeon. “oppa, kau ingin anak laki-laki atau perempuan?”. Tanya Jiyeon.

Minho tersenyum simpul. Digenggamnya erat tangan Jiyeon. “laki-laki atau perempuan aku akan menerimanya chagi. Karna dia anakku”. Jawab Minho kontan membuat semburat merah di pipi putih Jiyeon.

~oOo~

Malam tanggal 24 Desember. Lantunan lagu Jingle Bell terdengar dimana-mana. Etalase toko tampak mewah meriah dengan lampu kecil warna-warni yang berkelap-kelip. Suara tawa gembira setiap orang yang merayakan malam Natal menambah keramaian. Minho dan Jiyeon tengah menuju ke Hotel Samjung untuk memebuhi undangan makan bersama dari perusahaan tempat Minho bekerja.

Jiyeon tampak sangat cantik. Rambut panjangnya di sanggul tinggi sehingga menunjukan leher jenjangnya, aksesoris sederhana yang ia kenakan tak mengurangi kecantikannya, dengan di balut oleh dress merah selutut dan manik-manik hitam di bagian dada dress tersebut. Sungguh, ia tampak seperti seorang putri, heels hitam yang Jiyeon gunakan tidak terlalu tinggi dan nyaman. Karna keadaannya sekarang, Minho melarangnya memakai heels lagi. Sangat serasi dengan Minho yang mengenakan tuxedo hitam dan kemeja merah sebagai dalamannya.

Suasana di Hotel Samjung sudah cukup ramai. Pukul 9 malam, Minho dan Jiyeon bergandengan masuk ke ruangan yang sudah di tentukan oleh menyelenggara acara tersebut.

“chagi, sebaiknya kita duduk di sebelah sana. Pasti sebentar lagi akan ramai”. Ajak Minho. Mereka berdua memilih meja di dekat jendela kaca, tak jauh dari panggung kecil tempat orang yang ingin memberikan hiburan sejenak dengan menyanyi atau yang lainnya. Meja dengan 4 kursi yang sudah di siapkan. Jiyeon mengambil posisi di dekat jendela agar tidak bosan, ia memandangi pemandangan Seoul di malam hari.

“chagi, aku kesana sebentar ya?”. Minho berpamitan pada Jiyeon. Hanya mendapat anggukan dari Jiyeon, Minho bergegas pergi untuk menemui rekan kerjanya di kantor. Sekedar untuk memamerkan bahwa sebentar lagi ia akan menjadi ayah.

Jiyeon terus memandangi pemandangan lampu dari atas sini. Pikirannya sedikit mengembalikannya pada saat ia dan seorang lelaki yang sampai saat ini masih ia cintai, Kim Myungsoo. Ia bahkan tak mendengar suara Myungsoo untuk terakhir kalinya sebelum ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Myungsoo. Namun, Myungsoo menghadiri pernikahannya dan Minho tahun lalu.

“chagi, kau melamun?”. Minho mengagetkan Jiyeon yang sedang memutar kembali memorynya bersama lelaki itu, Myungsoo.

“ohh, aniyo”. Jawab Jiyeon. Minho kembali duduk di samping Jiyeon. Tak ada yang memulai pembicaraan lagi setelah itu. Minho yang sibuk dengan handphonenya dan Jiyeon kembali melihat keluar.

“Minho’ssi?”. Sapa seseorang. Minho yang merasa terpanggil pun menoleh dan mendapati seorang wanita cantik yang memanggilnya barusan.

Minho berdiri. “ohh? Doyeon’ssi? Kau kah itu? wahh… tak ku sangka akan bertemu disini”. Minho mengenali sosok wanita yang memanggilnya tadi. Doyeon, Kim Doyeon dan keluarga kecilnya.

Doyeon tersenyum lebar. “nde, wahh… boleh kah kami bergabung disini?”. tanya Doyeon. Minho mengiyakan permintaan Doyeon. Kini Doyeon dan suaminya Kim Myungsoo bersama putri kecilnya Kim Sooyeon duduk berhadapan dengan Minho dan Jiyeon.

Jiyeon yang tersadar ada orang lain yang duduk di kursi seberang mereka pun menoleh dan mendapati seorang Kim Myungsoo sedang memangku putrinya. Matanya hanya tertuju pada Myungsoo.

“Jiyeon’ssi? Annyeonghaseyo”. Sapa Doyeon. Mendengar sapaan Doyeon segera Jiyeon tersenyum dengan canggung.

“chagi, gwaenchana?’. Tanya Minho. Perubahan wajah Jiyeon yang tiba-tiba membuat Minho khawatir. “ah, mianhae. Istri ku sedang tidak enak badan”. Ujar Minho.

Doyeon mengangguk. “mungkinkah dia sedang – “. Doyeon ingin bertanya namun ia menggantung pertanyaannya.

Minho mengerti maksud Doyeon. “yah, seperti yang kau duga”. Jawab Minho. Tangannya menggenggam tangan Jiyeon yang berada di atas meja. Memamerkan betapa mesranya mereka berdua.

“wahh… chukkae Minho’ssi”. Ucap Doyeon ikut. Tentu ia  bisa tahu karna pernah mengalami hal yang sama seperti Jiyeon sekarang ini. “yeobeo, tidakkah kau ingin mengucapkan selamat pada keluarga Choi?”. Doyeon menyiku lengan Myungsoo yang sedari tadi hanya diam.

“ohh? Nde. Chukkae Minho’ssi dan – “. Myungsoo melirik ke Jiyeon yang masih setia dalam diamnya. Di perhatikannya wajah cantik itu, ia sangat tahu jika Jiyeon sedang memendam kepedihan di balik wajahnya.

“Jiyeon, namanya Jiyeon”. Timbal Minho.

Myungsoo tersenyum. “mianhae, aku tidak tahu. Chukkae Jiyeon’ssi, aku turut berbahagia untuk kalian berdua”. Lanjutnya. Berpura-pura tidak mengenal, mungkin itu lah jalan yang terbaik untuk mereka saat ini ataupun selamanya.

“gomawoyo”. Jawab Jiyeon akhirnya. Jiyeon melirik ke arah Sooyeon. “kalau aku tidak salah, usia Sooyeon sudah memasuki tahun ke empat”. Lanjutnya dengan nada yang sangat halus. Betapa mirisnya dia melihat putri kecil Myungsoo yang sangat lucu itu.

“nde Jiyeon’ssi, aku berharap anakmu nanti akan terlahir dengan selamat  dan kau pun sama”. Ujar Doyeon. “oh ya, Minho’ssi, bagaimana dengan periklanan MD Shop kami? kami akan membuka MD Shop di Seoul”. Tanya Doyeon pada Minho.

Minho meminum red wine nya beberapa teguk. “emm… semuanya lancar Doyeon’ssi. Kau tenang saja, lagipula MD Shop sudah cukup terkenal”. Jawab Jiyeon.

Malam itu, mereka berbincang berbagai hal. Tetapi hanya Minho dan Doyeon yang mendominasi  perbincangan. Sedangkan Jiyeon dan Myungsoo hanya mengikuti sedikit-sedikit. Jiyeon berusaha menyembunyikan ketidaknyamanannya melihat Myungsoo. Ingin sekali rasanya ia menangis di dada bidang itu, tapi apa daya ia tak akan pernah bisa lagi melakukan hal itu.

~oOo~

“temui aku sore ini sore ini”. Pesan yang sampai di handphone Jiyeon. Dari nomor yang tidak di kenal. Jiyeon mengerutkan keningnya. Ia melirik Minho yang masih tertidur lelap di sebelahnya. Kemudian ia membalas pesan itu.

“nuguya?”. Tanya Jiyeon dalam pesannya. Tak sampai 2 menit, si pengirim pesan membalas pesan dari Jiyeon dan berhasil membuat Jiyeon membelalakan matanya. “baiklah, tapi aku tak punya waktu banyak”. Balasnya lagi. Setelah mengetahui tempat pertemuan, cepat-cepat Jiyeon menghapus pesan dari inbox dan sent item nya.

~oOo~

Sore ini, awal musim semi. Salju-salju mulai mencair. Jiyeon berjalan menuju ke restorant didekat sungai Han. Sesampainya disana, Jiyeon mengedarkan pandangannya mencari orang yang akan ia temui sore ini. Perutnya mulai membuncit, tapi ia tetap berusaha tampi stylish. Sebagai istri dari seorang Manager ia tak boleh tampil abal-abal walaupun dalam keadaan mengandung seperti sekarang.

“ada apa?”. Tanya nya begitu duduk di hadapan orang yang mengajaknya bertemu, Kim Myungsoo.

Myungso tersenyum hangat mengetahui Jiyeon telah berada di hadapannya hari ini. “minumlah ini dulu, Jiyeon’ah”. Myungsoo menyodorkan segelas teh hangat yang baru saja ia pesan tepat 5 menit sebelum kedatangan Jiyeon.

“katakan saja, ada apa?”. Tanya Jiyeon lagi. Ia tak sedikitpun menyenggol teh yang Myungsoo tawarkan.

“aku – aku merindukan mu Jiyeon’ah. Aku yang menyarankan agar Doyeon membuka cabang di Seoul, karna aku –“. Myungsoo menghentikan perkataannya saat Jiyeon menatapnya dengan tajam.

Bibir Jiyeon bergetar. “jangan bodoh Myungsoo’ssi. Jangan melakukan hal yang tak seharusnya kau lakukan”. ucapnya.

Myungsoo tertunduk. “jika hanya untuk menyampaikan itu, aku permisi”. Jiyeon beranjak dari tempat duduknya. Sebenarnya, ia sangat ingin menangis. Hatinya kembali bergetar, jantungnya berdegup kencang. Ingin sekali ia menangis sekencang-kencangnya.

Myungsoo meninggalkan uang di meja sebagai pembayaran. Lalu ia mengejar Jiyeon. Langkah Jiyeon yang tidak terlalu cepat membuat nya bisa mensejajarkan posisinya sekarang. “mobilku di sebelah sana, biar aku antar kau pulang”. Ujar Myungsoo. Jiyeon menatap nya, lagi dengan tatapan berlinang menahan airmata. “kumohon”. Pinta Myungsoo sekali lagi. Akhirnya Jiyeon mengiyakan permintaannya.

~oOo~

“Myungsoo’ssi, kau akan membawaku kemana?”. Tanya Jiyeon panik. “ini – ini bukan jalan menuju rumahku”. Serunya.

Myungsoo tersenyum kemenangan. “aku akan membawamu bersamaku Jiyeon’ah, kita akan hidup bahagia”. Jawab Myungsoo. Ia menginjak pedal gas, dengan kecepatan tinggi ia membawa Jiyeon menjauhi kota Seoul.

Jiyeon memegangi perutnya. Shock berat bisa membuatnya keguguran. “Myungsoo’ssi, kau gila! Hentikan!”. Teriak Jiyeon tertahan. Ia takut, sangat takut.

“aniya Jiyeon, naege shirreo!!”. Balas Myungsoo. Jiyeon semakin panik, ia menarik napas panjang lalu mengehembuskan perlahan. Berusaha agar tidak panik.

Jiyeon memejamkan matanya. “jangan membuatku panik Myungsoo’ssi, kumohon. Aakh”. Jiyeon merasakan sakit pada perutnya. “ku – mohon. Aku tak mau terjadi sesuatu pada anakku”. Lanjutnya.

Myungsoo melihat Jiyeon yang sepertinya sangat menderita. Keringat mulai membasahi wajah Jiyeon, napasnya juga tersenggal. “Jiyeon’ah? Gwaenchana?”. Tanya Myungsoo khawatir. Ia mengurangi kecepatan mobilnya.

~oOo~

Sudah pukul 10 malam. Myungsoo membawa Jiyeon ke tepi pantai. Di seberang sana adalah pulan Jaeju. Ia duduk di depan mobilnya, sedangkan Jiyeon berada di dalam mobil. Myungsoo menahan handphone Jiyeon. Sedari tadi, Minho berusaha menghubungi Jiyeon.

Brakk! Jiyeon menutup pintu mobil Myungsoo. Suara itu membuat Myungsoo tersadar dari lamunan tanpa pikiran. Jiyeon duduk di samping Myungsoo.

“Myungie, Myungie oppa”. Panggil Jiyeon dengan tatapan mata lurus ke depan. Matanya telah berlinang airmata.

Myungsoo menoleh. “Jiyeon’ah, mianhae. Aku pantas dihukum”. Ujar Myungsoo.

Jiyeon tersenyum simpul. “apa kau masih menjadikan ku simpananmu?”. Tanya Jiyeon. Myungsoo mengangguk. “tetaplah begitu. Myungsoo’ssi, berhentilah jadi orang bodoh. Jangan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Kau sudah cukup bahagia bersama Doyeon. Aku, aku belum tentu bisa membahagiakan mu seperti Doyeon membahagiakanmu”. Ucap Jiyeon dengan tetap mempertahankan senyumannya.

“Jiyeon’ah”. Lirih Myungsoo.

“kenapa kau curang sekali? Aku membiarkanmu hidup bahagia bersama Doyeon, seharusnya kau membiarkan aku bahagia bersama Minho”. Kini senyuman Jiyeon bercampur dengan tangisannya.

Myungsoo menyeka airmata Jiyeon. “aku tak suka kau menangis”.

Jiyeon mengangguk. “arayo. Aku berjanji tak akan menangis lagi, makadari itu biarkan aku mengukir hidupku bersama Minho”. Pinta Jiyeon. Myungsoo kembali tertunduk. “Myungie oppa, aku tetap mencintaimu. Aku tidak akan bisa bersama mu tapi aku juga tak mau mengucapkan perpisahan sampai disini”. lanjut Jiyeon.

Tiba-tiba tangan Myungsoo mengelus perut Jiyeon. “kau bahagia?”. Tanya nya. Jiyeon mengiyakan. “pada akhirnya, kita hanya bisa mencintai dalam hati masing-masing?”. Tanya Myungsoo.

“aku bahagia, sangat bahagia. Sampai sekarang kau masih menyimpan ku dalam hatimu. Myungie… 1tahun, 2 tahun ataupun selamanya tentu akan berbeda. Semuanya akan lebih sulit dari ini”. Jawab Jiyeon.

Myungsoo tersenyum. “kita tak akan bisa bersama, tapi kumohon jangan ucapkan ini perpisahan kita”. Myungsoo memegang pipi Jiyeon.

Jiyeon mengangguk. “hmm… aku masih seperti yang dulu, Jiyeon, tetap sebagai Jiyeon”. Ujar Jiyeon. Myungsoo memeluk Jiyeon sejenak, tak ada perlawanan ataupun balasan dari tubuh itu. malam itu juga mereka memutuskan untuk saling mencintai walaup hanya dalam hati masing-masing.

~oOo~

“chagiyaaa!!!”. Teriak Minho. Buru-buru Jiyeon berlari ke kamarnya dan Minho. Kamar ini kini berbeda. Ranjang berukuran king size yang ada di kamar itu kini memiliki teman yaitu ranjang baby Choi. Mainan baby Choi juga berserakan di atas ambal bulat yang menghiasi lantai di ujung ranjang king size tersebut.

“waeyo!!?”. Bentak Jiyeon. Telinga nya telah panas mendengar teriakan Minho.

Minho tersenyum kambing. “baby Choi buang air, aku tak bisa mengganti popoknya”. Ujar Minho.

“aigoo ~ kau ini, bukankah sudah ku ajarkan”. Jiyeon mengambil baby Choi. Anaknya bersama Minho yang mereka beri nama Choi Yeon Ho itu. bayi laki-laki yang sudah beumur 7 bulan. Waktu cepat sekali berjalan.

“mianhae eomma, appa tidak mencatatnya. Jadi appa tidak bisa”. Minho dengan manja memainkan rambut Jiyeon yang sedang sibuk mengganti popok baby Choi.

“ck! Jangan menggangguku oppa!’. Bentak Jiyeon. Namun Minho semakin menggoda Jiyeon, membuat Jiyeon dengan senangnya mendaratkan pukulan ke lengan Minho. Baby Choi tertawa, ia belum mengerti apapun yang terjadi. Yang ia tahu hanyalah ibu dan ayahnya bahagia dan senang menggendongnya mengajaknya berjalan-jalan.

“eomma ~ appa nya juga haus”. Minho berguling-guling disamping baby Choi. Bak seekor kucing yang meminta makan dengan manja.

Jiyeon menyumpal mulut Minho dengan dot mainan baby Choi lalu Jiyeon meletakkan baby Choi kepangkuannya. Minho menarik ujung lengan baju Jiyeon. “eomma ~ bogoppa”. Ucap nya dengan aegyo, membuat Jiyeon tak tahan untuk tidak menarik pipi Minho.

“tunggu baby Choi tertidur”. Jawab Jiyeon. Minho kegirangan mendengarnya. Terjadwal di dinding kamar mereka dekat lemari baby Choi, besok ulang tahun pernikahan Minho dan Jiyeon jadi mereka akan poto keluarga dengan baby Choi.

Kim Myungsoo…

Aku selalu mengingatmu, aku bahagia bersama Minho… aku menepati janjiku untuk tetap tersenyum…

Biarpun kita tak bisa bersama, tapi aku tak bisa mengucapkan kata perpisahan…

Tak pernah bisa…

THE END

End  yehh… kagak ada squel lagi #ngekk -..-

Kyo harap jangan pada benci sama Myungsoo ya readers ^^

hehe 😀 kayaknya FF ini nggak ada feel nya :v ohoho 😀

Thanks for read ^^ don’t forget to comment :*

Iklan

28 thoughts on “FanFict “I Can’t Be With You or Say Goodbye” [ONESHOOT]

  1. Yahhhhh oneshot pdhl pgn dipanjgin nih,, enak jg dbc. Ishhh si minong emg gtu tu klo ma jiyi,,, moment romantcnya minus,, mgkn author mw mnonjolkn konflik cnt masa lalu yg brlnjt antr si jiyi ma myungmyung,, ok d dtggu ff lainya

  2. deabak thor, 2 sejoli yg saling mencintai tp g’ mesti bersatu. Mereka mencoba bahagia dgn pasangan masing2.
    Membaca FF ne q jdi pengin nangis.
    Bikin FF jiyeon lg y thor.
    Ditunggu.

  3. OMG sm minho .wuah gpp deh . Soalnya penggantinya juga cakep .hoho
    Aduh jiyeon . Msh ajah cinta sm org yg udah ninggalin .d8em2 udh nikah lg sm doyong itu .
    Ayoo dong .minho lebih baik . Jgn liat kebelakang tapi tatap kedepan …
    Ih msh gedeg bgt sm myungsoo . Udh ninggalin jiyeon .udh nikah sm pny anak pula .masih ajah nawa kabur istri org .hahahah
    Aku suka squelnya m

  4. Ping-balik: Davichi “Cinta Lama” & Lee Hae Ri “Orang yang Ku Cinta” [Translate] | ♔ T-Ara FanFiction Indo ♔

  5. agh ternyata minho. padahal berharap daehyun –”
    ishhh myungsoo bikin deg”an kelakuannya. tak kirain jiyeon bkln sampe keguguran.. woles thor, aku gak benci kok ama myungsoo 😀
    ditunggu ff jiyeon nya lagi 😉

    • hehe 😀 kyo nggak tau Daehyun yg mana #ngekk
      nggak lah, kalo jiyi keguguran, ceritanya bakal panjang.. mulai dr Minho yg mau gebukin Myung trus si Doyok yg minta cerai… kan sinetron bgt itu :v sdgkan ini konsepnya Movie 😀
      yea… thanks for read ^^

  6. Buka2 lagi ternyata ada squelnya…..mwo ternyata yg jd nampyeon jiyeon adl minho, ehem ternyata myungso blum bs ngelepasin jiyeon begitu azha ^^ myungso rada bingung milih balas budi atau cintanya ama jiyeon, untung jiyeon gak balikan ama myungso, lebih dukung minji sich di ff ini, krn myungso disini sifatnya plinplan gak tetap pendirian…… Disini bisa terlihat jiyeon sdh mendapatkan kebahagiaannya….syukurlah….^^

  7. good job kyooo…. but aku gg gt suka myungji couple.. wkwkwkwk
    aku shipper apapun yg berhubungan sm minho xD
    ff nya keren deeh,, suka2… :3

  8. bagus eonn ff nya,
    cuman, yahhh agak kecewa sihh
    karna bukan myungyeon couple .
    Abis nya aku myungyeon shipper sihh . Hehe
    nah kok jadi curhan yaa .

    Tapi di ff ini emang jiyi pantes nya sama minho sihh, abis’nya myung plinplan sihh, kayak aku . Hehe

  9. Wow *-*/\ FFnya, o-em-jeh/? u,u Keren, thor :’D Padahal aku sukanya Jiyeon unnie ama Minho oppa aja, tapi di ff ini diceritakan kalo “Cinta itu tidak harus saling memiliki” 😀

    • eh, salah… maksudnya, padahal aku sukanya Jiyeon unnie sama Myungsoo oppa aja 😦 Duh, typo xD Kebanyakan pikirian, nih –“

  10. Klo aq mah ttp sebel sama myungsoo.egois,dy seenakny nikah ma ce lain tnpa mikirin prasaan jiyeon.trus saat jiyeon brusha bahgia ma org lain dy malh g sudi…tp untunglh jiyeon ttp brthan di sisi minho y wlaupun hatiny brkhianat.tp lmbat laun jg psti jiyeon jtuh cnta ma minho…

  11. Walau akhirnya jiyeon dan myungsoo tidak bisa hidup bersama,namun jiyeon hidup bersama dengan minho dan putranya.daebak thor ffnya.keren banget deh.author tetap semangat thor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s