FF : Am I Strange [Part 3]


part 3

Author            : Lee Yeon Sung(Kyo) a.k.a Queen’s Arni

Main Cast       :

1.  Park Jiyeon T-Ara

2. Cho Kyuhyun SuJu

Support cast :

  1. Moon Mason Baby Ullzang as Cho Mason *ganti bentar marganya eoh ._.v*
  2. Choi Sungmin as Park Sungmin *chagiya, marganya Kyo ganti bentar ya*
  3. You Can Find if You Read the Story ^^

Genre              : Romance, Family

Type                : Part

*Sudut Pandang Jiyeon*

Rasa senang yang teramat sangat kini aku rasanya. Bayi kecil nan lucu yang kini ada di pelukanku. Dia anak ku dan namja yang aku cintai. Dia mirip dengan appa nya. Airmata ku tak kuasa ku tahan saat dia menggenggam ibu jari ku.

“Jiyeon’ah?”. Sapa Suzy dan langsung masuk ke kamar ku. “uwahh… anakmu lucu sekali”. Ujarnya.

“gomawoyo, Suzy’ah”. Balasku.

“aiish, palli, kau ini lamban sekali”. Teriak IU dari luar.

“yakk! Mwoya?! Ini berat nunna’ya!”. Dibalas teriakan oleh Sungmin. Tak lama kemudian IU dan Sungmin dengan kardus besar dipelukannya masuk kekamarku.

“jangan dibanting!”. Teriak IU sebelum Sungmin melakukan hal yang tidak diinginkannya.

“arasseo”. Sungmin meletakkan kardus itu perlahan lalu duduk dan menyandarkan kepalanya di kardus itu. “haaaah… aku lelah”. Keluhnya. Kemudian supir IU datang membawakan tempat tidur bayi dan bathup plastik untuk bayi.

“yya… ige boya?”. Tanya ku heran melihat barang-barang yang di bawa IU dan Suzy.

“ige, untuk anakmu”. Jawab Suzy.

“hah? Semuanya, kalian, bagaimana kalian membeli ini semua?”. Tanya ku semakin heran.

“aishh, tak usah banyak bertanya. Terima saja, tak baik menanyakan hadiah dari orang, bukan?”. Jawab IU. “Sungmin, cepat buka kardus itu”. Suruh IU dan memberikan gunting untuk membuka kardus tersebut.

“kau cerewet sekali”. Umpat Sungmin dan lekas melaksanakan perintah IU. “uwahh… banyak sekali perlengkapan bayi nya”. Sungmin sedikit takjub.

Setelah mereka membereskan barang bawaan mereka. Tiba-tiba IU mengajak Sungmin keluar kamar dan berbicara empat mata.

“Suzy’ah, jinjja gomawo… semua ini akan sangat berguna bagi ku”. Ucapku.

“nde, Jiyeon’ah… kami senang bisa membantu mu”. Jawab Suzy.

“kau mau mencoba menggendong anak ku?”. Aku menawarkan Suzy untuk menggendong bayi mungil ini.

“ah, aniyo, aku takut Jiyeon… dia sangat kecil, kau kan tahu aku sangat kuat, bisa-bisa nanti bayimu remuk”. Kata Suzy dengan mimik muka konyol.

“kau ini, nanti kau juga akan menggendong anakmu bukan. Hmm”. Keluhku.

“Jiyeon’ah, ayo makan dulu. Energi mu pasti terkuras saat melahirkan”. Halmeoni datang membawakan bubur untuk ku.

“gomawo halmeoni’ah”. Ujar ku lalu halmeoni keluar lagi untuk menyiapkan makan malam.

“sini aku suapi”. Suzy segera mengambil mangkuk bubur dari meja.

Aku melongo “yakk… boya? Kau menggendong anak ku, dan aku akan makan”. Kataku lalu mengambil mangkuk bubur. Dengan sangat hati-hati, Suzy mengambil anak ku dari pelukan ku.

“bagaimana ini? Kepalanya di taruh kemana?”. Suzy panik.

“terserah kau mau menaruhnya di lengan kanan atau kiri”. Jawabku dan mulai menyendok bubur. Suzy mulai terbiasa. Tak lama kemudian IU dan Sungmin masuk kembali.

“yya…membicarakan apa kalian?”. Tanya Suzy intens. IU hanya tersenyum dan membantu Sungmin membereskan kamar. “Aigoo ~ ppimil”. Gumam Suzy.

*Sudut Pandang Kyuhyun*

Handphone ku berdering ‘IU calling’, aku segera mengangkat teleponnya. Semoga kabar baik.

“yeobeoseyo?”. Sapa ku terlebih dahulu.

“ah, nde, Kyuhyun’ssi, aku sudah memberikan amanat mu pada Jiyeon, kau tenang saja dia tidak tahu itu pemberian mu. Ohya, aku akan mengirimkan potonya dan anakmu ya? Annyeong”. IU mengoceh panjang lebar dan tidak membiarkan aku menjawab. Segera ia tutup teleponnya begitu saja. Tak lama kemudian ia mengirimkan poto Jiyeon dan anakku. Senyum manis Jiyeon yang telah lama ku rindukan, ia memeluk anakku. Tanpa sadar airmata ku jatuh, ku usap layar handphone ku.

BRAAKK!! Suara pintu kamarku terbuka dengan kerasnya. Segera ku sembunyikan handphoneku.

“Oppa, ayo temani aku jalan-jalan, aku bosan dirumah”. Teriak Kyuhyun.

“aishh…aku lelah”. Keluhku dan langsung bergulingria diatas tempat tidur.

“yakk! Palli ~ em…ige boya?”. Seohyun menemukan handphone ku dibawah selimut.

“yya! Andwae!”. Cegah ku segera ku rampas handphone ku “arasseo, keluarlah, aku mau ganti baju dulu. Apa kau mau melihat, eum?”. Goda ku. Seohyun langsung keluar dengan riang. Fyuuh ~ untung dia tidak melihatnya. Aku pun berganti baju, dan ku pindahkan poto itu ke dalam laptop ku.

#6 year later

*Sudut Pandang Jiyeon*

Aku tak pernah membayangkan kehidupan ku akan kacau seperti ini. semua gara-gara Kyuhyun, namja yang aku Cintai, dulu. betapa bodohnya aku mempercayai kata-kata nya. Tuhan, apakah aku kuat untuk ini semua?

“eomma?”. seorang namja kecil memanggilku seperti itu.

“nde, chagi?”. timpal ku.

“apa yang eomma pikirkan? Aku harus segera berangkat ke sekolah”. ujarnya sambil memakai sepatu.

“ohh, nde, kajja”.

Mason, hanya dialah semangat hidupku. Aku harus tetap hidup untuk nya, dan dia harus hidup untukku. Aku tak membenci Kyuhyun, hanya saja aku sangat amat kecewa sekali padanya. Dan menyesali kebodohanku. Aku sedih melihat Mason yang tumbuh dengan orang tua tunggal, tapi aku harus kuat untuk Mason, menjadi eomma sekaligus appa untuknya. Untunglah ada Sungmin yang membantu ku. Halmeoni meninggal dunia saat Mason berusia 3 tahun, Halmeoni, aku juga sangat berterima kasih pada nya yang telah membantuku dan memberikan aku, Sungmin dan Mason tempat tinggal.

“sudah sampai, kajja masuk, Mason’ah. Ingat pesan eomma, arratji?”. Ujar ku saat sampai di depan sekolah Mason.

“arasseo eomma”. Jawab nya.

“good, boboga?”. Pinta ku padanya. Mason mencium pipi kiri kanan ku. “yeoggido”. Pinta ku lagi sambil menunjuk kening. Mason mencium kening ku. “kkodo?”. Pinta ku lagi.

“shirreo. Aku harus segera ke sekolah, eomma?”. Tolak nya.

“aishh kau ini, arasseo masuklah. Belajar yang benar ya, chagi?!”. Aku selalu berpesan seperti ini sebelum dia sekolah.

“em…”. Mason mengangguk mengerti. Kyeopta~

Aku memandanginya sampai dia masuk ke kelas. Seharusnya Mason dapat bersekolah di sekolah yang lebih layak, dia anak pintar, aku sangat bangga padanya. Walaupun aku sangat sedih terkadang melihat nya. Aku menghela napas ku lalu pergi untuk bekerja.

*Sudut Pandang Author*

“uwahh…kita akan kedatangan tamu hari ini, anak-anak tolong tertib ya?”. Kata seorang seongsaenim di depan kelas. Sekolah tempat Mason bersekolah akan kedatang donatur dari Seoul.

“Mason’ah”. Panggil Yogeun dari belakang.

“nde?”. Jawab Mason singkat.

“kau beruntung, sekolah kita akan kedatangan tamu dari Seoul, kau tau? Kau pasti akan terlebih dahulu disebutkan karna kau anak yang pintar”. Jelas Yogeun.

“wae geurraetji?”. Mason bertanya polos.

“aishh…geurrae ~ kau anak yang pintar. Apa kau sangat suka aku menyebut mu pintar? Sehingga kau pura-pura tidak mengerti?”. Yogeun mulai kesal.

“eumm…aniyo, kau dan teman-teman yang lain juga pintar, hanya saja kalian kurang rajin belajar”. Jawab Mason lalu merapikan bukunya.

Yogeun mengeluarkan PSP nya dari tas “daripada belajar aku lebih baik main PSP”. Lalu Yogeun mulai bermain.

“apa itu?”. Tanya Mason sambil berusaha melihat.

“ini PSP, sangat seru bermain ini sampai kita lupa waktu. Sudahlah, aku mau bermain dulu”. Yogeun tak mempedulikan Mason lagi.

“aku juga suka bermain. Aku selalu bermain dengan eomma dan ahjussi ku, lebih baik daripada bermain dengan benda itu”. Gumamnya menghilangkan rasa iri nya.

*Sudut Pandang Kyuhyun*

Entah kenapa appa tiba-tiba menyuruhku untuk menyumbangkan seperempat harta yang dimilikinya pada sekolah ataupun panti asuhan. Ada-ada saja appa ku ini. Tak bisa ditebak pikirannya. Dasar orang tua. Aku terus saja bergumam sepanjang jalan. Aku dan asistan ku berangkat ke sebuah desa di pinggir kota Seoul. Asistan ku lah yang mencarikan lokasinya. Setelah 3 jam perjalanan akhirnya kami tiba di sebuah sekolah yang tidak terlalu besar seperti yang ada di Seoul.

“ini tempatnya?”. Tanya ku saat turun dari mobil dan memperhatikan sekolah itu.

“ye, sajangnim”. Jawab asistan ku.

“arasseo, kajja”. Aku melangkah masuk ke sekolah itu dan segera menuju kantor gurunya. Setelah berbincang –bincang akhirnya menyerahan dana untuk sekolah ini dan penandatanganan surat terima. Guru disini kebanyakan masih muda dan ramah.

“sajangnim, kalau mau berkeliling kami persilahkan. Itu pun kalau anda mau, saya tau sajangnim sangat sibuk”. Tawar Lee Seongsaenim.

“ah, nde, itu ide bagus”. Aku pun menerimanya. Agar ada alasan untuk tidak bertemu Seohyun hari ini. Aku dan asistan ku keluar dari kantor guru dan melihat-lihat  anak-anak di sekolah ini. Anak ku, pasti sekarang dia juga sudah bersekolah. Aku kehilangan kontak dengan IU dan Suzy setelah wisuda karna Seohyun menghapus semua kontak di handphone ku. Bahkan aku belum sempat menanyakan siapa nama anak ku. Yang aku punya hanya lah poto Jiyeon dan anakku saat baru lahir.

“Yogeun’ah, bolehkah aku meminjam PSP mu sebentar, aku hanya ingin melihat”. Pinta seorang anak lelaki pada temannya yang ia panggil Yogeun itu.

“shirreo, ini sedang seru. Kapan-kapan mungkin aku akan meminjamkannya padamu”. Jawab temanya itu lalu membelakanginya. Aku pun menghampiri mereka.

“annyeong”. Sapa ku.

Anak itu langsung berdiri dan membungkuk sopan “annyeong sajangnim”. Jawabnya.

Aku pun membungkuk setara dengan nya “kenapa kalian bertengkar?”. Tanya ku.

“aniyo, kami tidak bertengkar sajangnim”. Elaknya.

“em… jinjja? Arasseo, bisakah kau memperkenalkan dirimu?”. Pintaku.

“ye sajangnim, jhoineun Mason imnida, saya murid kelas 3”. Katanya dengan sopan.

“Mason? Margamu apa?”. Tanya ku heran.

“emm… Park, mungkin”. Jawabnya ragu.

“wae geurratji?”. Aku semakin heran.

“mollaseoyo, aku tidak tahu siapa appaku. Eomma dan ahjussi ku bermarga Park”. Jawabnya lugas.

“ohh, kau kelas 3? Berapa usia mu?”. Tanya ku lagi.

“7 tahun, sajangnim. Aku sekolah lenih cepat dan aku melewatkan kelas 2, kata seongsaenim nilai ku ‘daebak’. Tapi aku yakin jika aku bersekolah di kota aku tidak bisa seperti itu”. Jawabnya lagi-lagi dengan lugas dan cepat.

“oh, kalu begitu itu keberuntunganmu”. Candaku.

Aku mengobrol dengan Mason, seperti orang dewasa yang sedang membicarakan proyek baru. Cara bicara nya seperti orang yang sangat aku rindukan. Entah mengapa, tapi aku merasa ada yang berbeda saat Mason tersenyum ataupun tertawa. Bibirnya, mirip dengan seseorang. Jiyeon, Park, tanpa appa, apakah dia anakku? Ahh, tidak mungkin, IU bilang Jiyeon tinggal jauh dari Seoul. Mungkin hanya kebetulan.

“sajangnim, apakah anda akan menginap disini?”. tanya nya tiba-tiba.

“em, molla, waeyo?”. Timbal ku.

Mason menggeleng “sebenarnya, jika anda akan menginap disini, aku ingin mengajak anda ke kedai baso ikan. Sangat enak”. Jawab nya dengan mimik muka heboh dan lucu.

“aigoo…mungkin lain kali Mason, kau panggil aku dengan ‘Kyu ahjussi’ saja ya?”. Pinta ku.

“arasseo, jika itu mau sajangnim, eh, ahjussi”. Balasnya. Aku memberi nya hadiah kecil sebagai tanda perkenalan.

Iklan

14 thoughts on “FF : Am I Strange [Part 3]

  1. Waah mason sdh besar dan pintar, msh 7thn sdh kelas 3 🙂 omong2 apa kyu sdh menikah sm seohyun?
    Suka ceritanya. Lanjut baca lagi 🙂

  2. wahh .. Senengnya mason dh ketemu appa nya .. Anak nya jiyi pintar bnget kaianya.. Seohyun ih . Msa kontak yang ada di hp nya kyuppa di hps semua .. Keterlaluan .. Next read

  3. Huhuhu….appa and adeul…
    Itu ktanya kontak diponsel kyu oppa dihapusin sma seohyun. Trus Iu sma Suzy gak ada yang ngabarin duluan gtu #Bingung_garuk”pala
    But ovelàll oke koq…buat authornya HWAITING^^

  4. Kyuhyun bertemu dengan mason anaknya,tapi kyhyun tidak tau kalo mason itu anaknya,begitu pula dengan moson.lanjut baca aja deh thor.penasaran nih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s